PINUS OF LOVE
Aku tak pernah mengerti, kenapa dalam persahabatan selalu berakhir dengan
perpisahan ketika keduanya mengagumi hati yang sama. Tak lebih dengan setiap
kesempatan yang pernah ku alami. Meskipun akhirnya, tak ada salah satu dari
kami yang memilikinya. Dan, kami dengan sendirinya memutuskan persahabatan
indah itu. Bukan maksudku, namun, kini terjadi lagi. Dan entah akan ber ending
dengan bagaimana.
Aku bukanlah sahabat yang jahat dan sok egois ketika dalam hal apapun
seperti tokoh antagonis di dalam sebuah cerita. Namun, apakah itu artinya aku juga
harus mengalah ketika cinta itu benar-benar datang dan aku tenggelam di
dalamnya? Bukankah, setiap kita berhak untuk merasakan jatuh cinta? Atau memang
inikah pasangan cerita yang begitu mendalam? Antara persahabatan dan cinta…
Ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Sekolah vaforit yang ku
idam-idamkan bersama Danya dan juga Revina, sahabat dekatku ketika masih duduk
di bangku SMP dulu. Namun, itu dulu. Ketika kami masih bersahabat erat. Dan sudah
tidak ada cerita lagi ketika konflik percintaan itu datang. Kini, aku hanya tinggal
berdua dengan Danya. Revina memutuskan untuk tidak satu sekolah lagi dengan
kami. Dan melanjutkan SMA nya di sekolah lain.
“Ehm, tas baru nih.” Kiena berdeham ketika melihat tas kinclong berwarna
silver yang terselempang di tubuh Danya.
“Iya dong. Sekolah baru, semuanya baru lah. Dari pada punya lo, udah
kucel gitu masih juga di pakek.” Danya tak mau kalah omongan.
“Inikan kado ulangtahun dari Rere. Gue bakal terus make sampe tas ini
udah benar-benar nggak bisa di pakek lagi.” Kiena memegangi tas itu dengan
setengah mengingat kenangan-kenangan mereka ketika masih bersama dulu.
“Udah lah Ki, lagian juga dia yang udah mutusin buat ninggalin kita.”
“Enggak, sebelum masalah itu datang.” Kiena tampak menyesali apa yang
sudah terjadi dua tahun yang lalu.
Dulu ketiganya bersahabat dekat. Bahkan selalu bersama kemanapun mereka
pergi. Mengikuti ekskul yang sama, nongkrong bareng, mempunyai tempat vaforit
ketika akan menggosipkan berita terhangat, makan di kantin bersama, mempunyai
kemampuan yang hampir sama di seluruh mata pelajaran, meskipun ketiganya di
pisahkan dengan kelas yang berbeda. Sampai dengan menyukai cowok yang sama.
Namun tidak untuk Danya. Karena waktu itu dia sudah memiliki pacar terlebih
dahulu ketimbang kedua sahabatnya itu. Kienanti, Kiena dan Revina atau biasa di
panggil Rere.
“Hello, lo nggak mau masuk kelas? Udah bel tuh.” Danya menggamit lengan
Kiena dan membawanya menuju kelas.
Kali ini keduanya dipersatukan dengan kelas yang sama juga bangku yang
bersebelahan. Merangkai kekompakan yang begitu membuat para siswa lain iri
dengan kepandaian keduanya. Namun kali ini, mereka tak mengikuti ekskul yang
sama. Dany lebih memilih untuk mengikuti ekskul teater sedangkan Kiena tertarik
dengan ekskul jurnalis yang selalu menuangkan ide-ide brilian untuk
menginspirasi para pembaca dengan imajinasinya dalam bentuk tulisan.
Seperti siang ini, keduanya berpisah untuk mengikuti ekskul
masing-masing dan akan bertemu kembali untuk pulang bersama nanti sore.
Kiena sudah menunggu di parkiran terlebih dahulu ketika Dany melambaikan
tangannya yang Nampak baru saja keluar dari kelas teater.
“Gimana sama kelas baru lo Dan? Asyik nggak?” Kiena menaik-turunkan kedua
alisnya kearah Dany.
“Oke sih. Cuman belum terlalu akrab aja satu sama lain. Lo tau nggak Ki,
tadi pas perkenalan kita pada di suruh berekspresi lepas gitu.”
“Maksudnya?”
“Jadi gini, masing-masing itu diharuskan memperkenalkan diri dengan
kemampuan yang kita bisa. Kayak puisi, vocal, ada yang dance juga lo, ada satu
yang bikin gue berkesan Ki.”
“Apa coba?”
Ketika keduanya tengah menaiki sepeda masing-masing dan masih asyik
menceritakan pengalaman pertamanya, orang yang dimaksud Dany lewat didepan
mereka.
“Dan, apa Dan?”
“Woey, Dany…!” Kiena terus memanggil sahabat yang ada di sebelahnya itu
seketika terhenti bercerita.
“Kiya? Belum pulang?” Sapa seorang lelaki yang lewat didepan Dany dan
Kiena.
“Ini baru mau pulang sama teman gue.” Sambil Dany menoleh kearah Kiena.
“Duluan ya.” Lelaki itu kemudian meninggalkan mereka berdua.
“Iya, Rond.” Dany melambaikan tangan pada lelaki itu.
“Kiya? Sejak kapan nama lo jadi Kiya?” Kiena kebingungan sendiri melihat
sahabatnya, calon pemain teater itu.
“Gue belum selesai cerita nih. Jadi setiap anggota itu diharuskan
mempunyai nama kecil yang akan di pakai ketika kita lagi latihan teater. Kiya
itu nama kecil gue, bagus kan?” Dany senyum-senyum sendirian.
“Nama jelek gitu apa bagusnya sih?” Kiena mencibir dan berusaha meledek
Dany.
“Kiya itu kepanjangan dari Kiena dan Danya. Coba, lo masih mau bilang
nama lo juga jelek?” Dany mulai mengayuh sepedanya dan keduanya berjalan menuju
pulang beriringan.
Kiena hanya manggut-manggut mengiyakan omongan Dany.
“Kalo yang barusan nyapa gue itu namanya Billy. Tapi kalo di teater dia
di panggil Arond. Yang tadi mau gue certain ke lo ya dia itu Ki.”
“Emangnya si Billy atau si Aron atau siapalah itu namanya, kenapa sama
dia?” Kiena masih sok cuek.
Billy adalah salah satu anggota klub teater yang akan menjadi teman baru
Dany. Dia anak kelas X5 sedangkan mereka, Dany dan Kiena berkelas di X2. Kocak,
ramah dan senang membawakan situasi dengan ending yang mengesankan. Itu juga
salah satu yang telah dilakukannya di kelas teater siang tadi. Bermodal gitar
dan suara yang mendukung, dia tidak menyanyikan sebuah lagu. Melainkan hanya
memetik-metik senar gitarnya agar berbunyi asal-asalan. Kemudian di tengah
petikan senar gitar itu dia menyelipkan kata-kata yang lebih terangkai menjadi
sebuah syair lagu yang berisikan nama seluruh teman barunya yang ada di klub
teater sambil menghafalnya satu per satu. Dan dengan sendirinya applause yang
serempak menyambut berakhirnya perkenalan Billy. Sejak itulah nama Billy mulai
banyak di bicarakan oleh para fans yang mengidolakannya.
Siang itu pada jam istirahat pertama
Dany dan Kiena menghabiskan waktunya untuk mengisi perut di kantin. Tanpa di
duga hampir seluruh meja yang berisikan cewek-cewek popular di sekolah itu
sedang membicarakan satu nama, yaitu Billy.
“Ki, lo dengar nggak tuh. Masak
semua lagi pada ngomongin Billy.” Dany berusaha cuek dan menyantap bakso yang
ada di depannya.
“Emangnya kenapa Dan? Wajar kali.
Namanya juga ngefans. Bentar lagi kita pasti juga bakal kayak gitu. Gue jadi
ingat sama Rere nih Dan…” Mimiknya seketika berubah menjadi sedih mengingat
sahabatnya yang tak pernah ada kabarnya sampai sekarang.
“Ki, sampai kapan sih lo mau ngerasa
bersalah terus? Udah deh lupain Rere, ok.”
Kiena hanya membalasnya dengan
tatapan yang begitu dalam kepada sahabat satu-satunya itu.
“Lagian ya Ki, nggak Cuma mereka kok
yang mulai ngefans sama Billy. Kayaknya gue juga deh.” Dany merasa pipinya
mulai memerah setelah mengutarakan isi hatinya pada Kiena.
“Huuuuuu, pantas aja lo sirik sama
mereka. Udah yuk cabut, jangan sampai lo malu-maluin gue kayak dayang-dayang
itu.” Kiena menarik lengan Dany dan keduanya meninggalkan kantin.
“Eits, sialan lo. Emang gue cewek apaan???” Dany pura-pura marah.
“Hahahaha, becanda kali.”
Seluruh lorong tampak ramai ketika jam istirahat berlangsung. Dany dan
Kiena duduk di taman tak jauh dari kelasnya agar keduanya tak kesulitan masuk
ke kelas ketika jam istirahat usai nanti. Alasan lain adalah karena mereka
belum menemukan tempat vaforit yang bisa di jadikan sebagai tempat nongkrong
seperti di SMP dulu.
Dari kejauhan Nampak gerombolan anak-anak kelas X juga yang hendak masuk
kelas dimana ruangan mereka berada di lantai 2. Termasuk Billy. Dan kini
langkah itu semakin dekat dengan posisi Dany dan Kiena yang tengah berdiri
hendak memasuki kelas mereka.
“Danya, nggak masuk kelas?” Sapa Billy kepada Dany sambil tetap
meneruskan langkahnya pelan.
“Eh, ini mau masuk.” Dany menunjuk ruang kelas yang ada di depannya
dengan sedikit grogi.
Dany masih terkesima hingga setelah gerombolan itu berlalu. Dia
mengelus-elus tembok kelasnya. “Aduh Ki, kok gue jadi salting gini sih.”
“Iya gue tau. Orang lo aja sampe hampir jatuh gara-gara nggak lihat
jalan.” Kiena menertawakan kekonyolan sahabatnya itu. “Emang, segitunya ya lo
terobsesi sama Billy?”
“Lo belum pernah lihat dia sih Ki kalo lagi acting. Jago banget deh.”
Dany masih memperkuat argumennya.
“Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa Ki?”
“Ki, apaan sih?”
“Jangan-jangan, dia kayak gitu juga Cuma acting lagi.”
“Ah, Kiena!!! Lo ada-ada aja. Ya beda lah.”
“Iya-iya, tapi nggak usah kenceng gitu kali ngomongnya. Udah yuk ah masuk
kelas. Lam-lama gue timpuk lo nanti pake sepatu.
“Yeeee, Kiena…”
Minggu kedua
“Kalo lo nggak percaya dengan kehebatan Billy, lo boleh kok buktiin
sendiri. Datang aja nanti ke kelas teater gue. Kelas lo kan selalu selesai
duluan dari kelas gue.” Dany masih tetap berusaha meyakinkan Kiena.
Gue
boleh aja nih sok cuek di depan Dany. Tapi lama-lama jadi penasaran juga sih
melihat anak-anak yang pada heboh ngomongin Billy. Apa lagi kehebohan Dany yang
nyata banget di depan gue. Kyak apa sih dia, perasaan juga kalo ketemu Cuma
biasa aja gitu.
“Boleh, terus kalo gue udah lihat
dia habis itu apa?”
“Maksud lo?”
“Yaaa, gimana kalo setelah lihat Billy di teater gue jadi ikutan suka
sama dia.”
“Aaaah, Kiena. Lo apaan sih? Becanda kan?”
“Hahahahaha, gue bakal jadi saingan lo buat ngedapetin Billy, Dan.”
“Ah, udah deh. Gue tunggu elo di kelas. Jangan sampe nggak lihat! Rugi lo
nanti.”
“Well students, go on to the next chapter. We are going to discuss about
narrative text. Have you ever hear?” Suasana kelas menjadi begitu tenang
seketika mendengar Bu Dewanti memberikan pertanyaan kepada mereka.
“Ya, Kienanti. Can you tell me about narrative text?”
“Yes, I can. Maybe it is about a funny story, mom.”
“Good. Then, what is the different with recount text, Danya?”
“In generic structure mom.”
“Ok, good answer.”
“Excuse me, Mom. May I go to toilet?”
“Yes, please. Kienanti.”
Lagi-lagi keduanya bersaing secara sehat di kelas untuk mengambil hati
para guru dengan kepandaian masing-masing.
Sebenarnya Kiena tak sepenuhnya ingin pergi ke toilet. Dia malah naik ke
lantai 2 dan menuju ke kelas Billy. Hanya ingin melihat seperti apa
akitivitasnya di kelas tanpa di ketahui oleh yang bersangkutan. Suasana kelas
Billy sedikit ramai karena guru yang seharusnya mengajar baru saja meninggalkan
ruang kelas mereka.
Pelan-pelan Kiena melewati ruang kelas itu dan berlagak seolah hanya
sekedar lewat agar tak ada yang mencurigainya. Dia mendapati Billy tengah
bergerombol dengan teman-teman lelakinya di deretan bangku paling belakang.
Sekilas, ada seorang siswa perempuan yang nampaknya hendak mendekatinya dengan
menyodorkan sebuah buku. Entah apa maksudnya. Namun, sepertinya Billy hanya menanggapi
dengan biasa-biasa saja.
Gagal deh usaha gue buat cari
kejelekan Billy.
Kiena kembali ke kelas tanpa membawa hasil apapun. Meskipun Dany tidak
mengetahui itu.
“Lo ke toilet lama banget sih.” Bisik Dany setelah Kiena kembali duduk di
sebelahnya.
“Iya nih, gue kesasar. Hehehe…”
“Dasar lo!!!”
Bel pulang sekolah membuyarkan konsentrasi seluruh siswa. Termasuk Dany
dan Kiena yang lagi-lagi membahas tentang Billy.
“Aduh Dan, bisa nggak sih sekalii aja lo nggak ngomongin Billy.”
“Yaa, Kiena. Hmmm, gue punya ide deh. Gimana kalo kita taruhan?”
“Taruhan apa maksud lo?”
“Ya taruhan. Kalo setelah lihat Billy latihan teater lo nggak ada
perasaan apa-apa berarti lo menang. Tapi kalo lo jadi suka sama dia, lo kalah.
Dan yang kalah harus traktir makan bakso selama seminggu. Gimana? Bagus banget
nggak tuh usul gue?
“Itu sih namanya enak di elo nggak enak di gue dong!”
“Dimana bagian nggak enaknya sih? Jadi, lo takut nih bakalan suka beneran
sama Billy? Hahaha.”
“Ah, norak banget sih lo. Oke! Gue mau. Tapi kalo ternyata gue nggak suka
sama dia, elo dong berarti yang kalah. Dan yang kalah harus antar jemput gue ke
sekolah selama seminggu. Gimana? Oke nggak tuh? Hahaha”
“Dil”
Keduanya bersalaman seperti baru saja menyetujui perjanjian renville.
Klub jurnalis lebih dulu selesai 20 menit dari klub teater. Saatnya Kiena
membuktikan bahwa apa yang selalu di idolakan Dany itu tak seperti
kenyataannya. Dia berjalan melewati lima ruang dari ruang jurnalisnya. Ruang
itu Nampak masih gaduh. Kelas teater memang belum selesai. Jendela kelas yang
memang disusun tak begitu tinggi sehingga tidak menghalangi pandangannya masuk
dan melihat kegiatan yang sedang berlangsung saat itu. Nampak salah satu dari
mereka berusaha melambaikan tangan kearah Kiena. Siapa lagi kalau bukan Dany.
Kiena berdiri di balik pintu dan membiarkan sebagian dari tubuhnya
terlihat oleh para anggota klub teater. Dan merekapun tak merasa terganggu
dengan kehadirannya disana. Tapi yang paling mengejutkan adalah, ketika giliran
Billy menampilkan hasil karyanya yang entah kapan ia buat, entah ngawur atau
tidak, sehingga seluruh isi ruang menjadi begitu kaget. Terlebih Kiena. Nampaknya
dia memang sangat berbakat menjadi seorang actor. Suasana begitu hening ketika
Billy atau yang akrab di panggil Arond mulai memetik senar gitarnya seperti
waktu itu.
Tak pernah ragu untuk menggerakkan
jemariku
A b c…
Dan begitu seterusnya
Tapi tiba-tiba
Jari ini terasa membeku
Apakah karena kehadiranmu
Wahai bidadari yang berselimut di
balik pintu
Sudikah kau mengijinkanku melihat wajahmu
Billy beranjak dari kursi yang di kelilingi oleh para anggota teater
lainnya. Entah kapan proses itu berjalan. Dengan sekejab pemilik gitar itu
sudah berada di hadapan Kiena. Dan tanpa ragu mempersilakannya untuk masuk dan
bergabung bersama anggota yang lain. Kiena yang masih membatu tanpa sadar telah
menjatuhkan tasnya ke lantai. Ketika sadar akan kebodohan itu sesegera ia
mengambil. Namun, ia terlambat karena tasnya sudah berada di tangan Billy.
“Lain kali hati-hati ya…”
Adegan singkat yang mengundang tatapan sinis para anggota cewek yang
tentunya menjadi iri dan begitu cemburu kepada Kiena.
“Eh, sorry. Gue cuman mau nunggu Dany kok.” Kiena yang merasa
sangat malu menarik mundur kakinya dan segera berlalu dari tatapan banyak mata
yang seolah ingin mencekik lehernya saja.
“Ki, sialan lo. Belum apa-apa udah berhasil aja tuh nyuri perhatiannya
Billy.” Protes Dany.
“Gue? Apa tuh maksud lo? Gue malu banget nih gara-gara tadi.” Kiena
memegangi lehernya dan kelihatan salah tingkah dengan kehadiran Dany.
“Jadi gimana nih? Kayaknya gue bakal dapat bakso deh selama seminggu.”
Dany berjalan setengah meninggalkan Kiena yang masih tercengang.
“Iya deh terserah lo aja, meskipun alasannya bukan karena gue suka sama
Billy. Tapi lebih pada kasihan sama teman gue satu ini. Mau beli bakso aja pake
minta-minta.” Kiena berusaha memenangkan adu mulutnya.
“Eittt, sialan lo.” Dany hendak berbalik kearah Kiena ketika seseorang
memanggilnya dari belakang.
“Ki!!!”
“Iya”
“Iya”
Spontan kedua kepala yang merasa memiliki nama itu menoleh.
“Eh, sorry. Maksud gue Kiya, Danya.” Billy merasa canggung dengan situasi
tak mengenakkan.
“Ada apa Bill? Dany menoleh kearah Kiena lalu beralih menatap Billy.
“Gue barusan di kasih bocoran katanya bulan depan kita mau ada outdoor
gabung sama anak jurnalis.”
“Serius? Terus kita mau perform apa?” Dany mendadak berubah mimic
mendengar apa yang baru saja Billy sampaikan.
“Kalo masalah itu masih mau di rapatin bareng sama anak jurnalis
sekalian.”
“Waaah, keren banget tuh Bill.”
“Iya, nanti lo maukan jadi partner gue Dan?”
“Partner apa?”
Billy hanya melemparkan senyum kemudian berlalu meninggalkan Dany juga
Kiena yang berjarak satu jengkal dengan tempat dimana Dany berdiri.
“Ada yang nggak bisa bobok nih nanti malam…” Kiena sengaja menabrak bahu
Dany pelan.
“Eh, lo buyarin lamunan gue aja!”
“Jangan ketinggian. Entar sakit lo kalo jatuh.”
“Kayaknya nggak bakal kerasa deh kalo ada Billy.”
“Dan, Billy naksir lo tuh.”
“Iya, gue masih kesetrum aja dari tadi. Magnetnya kerasa banget Ki.”
“Kebanyakan ngayal lo!”
“Lo sendiri, gimana?”
“Gimana apanya maksud lo?”
“Kapan tuh mau naksir cowok idaman lo?”
Kiena baru menyadari bahwa telah lama dirinya tak merasakan yang namanya
jatuh cinta. Lagi-lagi semenjak putusnya persahabatan mereka, Kiena dan Rere.
Dahulu, mungkin itu adalah cinta pertama Kiena. Ketika sebuah ekskul
mempertemukan keduanya. Dari situ, Kiena dan Kizza mulai saling mendekatkan
diri. Di usia mereka yang masih begitu belia namun itu adalah cerita terindah
yang pernah terukir dalam album memori Kiena. Yang tak pernah terlupakan adalah
ketika Kiena pernah mengikuti lomba baca puisi dan tiba-tiba ia lupa dengan
syair di bait ketiga. Saat itu ia kebingungan melanjutkan deklamasi. Namun Kizza
telah menyelamatkannya dari demam panggung yang sedang di alami. Ia berdiri dan
berusaha menggerak-gerakkan kedua tangannya yang menggambarkan isi dari bait
penggalan puisi Kiena. Berkat Kizza, Kiena pun meraih juara satu dari sekian
banyak siswa yang mengikuti lomba baca puisi.
Mengetahui kedekatan mereka, Rere yang diam-diam juga menyukai Kizza
berusaha mengambil hatinya dan mulai membenci Kiena. Sejak itulah Kiena tak
lagi ingin jatuh cinta. Apalagi jika ada seseorang yang ingin berusaha dekat
dengannya. Ia langusng abaikan begitu saja. Tak lebih karena ia takut kehilangan
sahabat-sahabat yang dimilikinya.
“Kienaaa!!! Gue seneng banget nih.” Dany berteriak histeris dan memeluk
erat sahabatnya.
“Lo kenpa sih? Kesambet setannya Billy ya?”
“Iya nih, nanti siang Billy ngajak gue pulang bareng.” Dany yang masih
kegirangan tanpa sadar begitu erat memeluk Kiena sehingga kesulitan menghirup
udara segar.
“Hah, lo lupa ya? Hari ini kan jadwal lo nganterin gue pulang? Terus gue
gimana dong?!” Kiena seketika protes mendengar pernyataan mengejutkan Dany.
“Lo bawa sepeda gue juga nggak apa-apa kok, yah, please Ki… inikan
pertama kalinya Billy ngajak gue pulang bareng dia. Masak mau gue lewatin gitu
aja???”
“Gini nih, korban teman makan cinta.”
“Ki, dari sekian banyak cewek yang berusaha deketin dia, baru gue lo yang
dapat respon balik. Lo harusnya senang dong sahabat lo ini bisa dapat pacar
baru lagi.”
“Iya iya, blab la bla…”
“Ki lo baik banget, besuk gue traktir deh.”
Walaupun kedengarannya menjengkelkan tapi di mata Kiena Dany tetaplah
sahabatnya yang begitu dia sayangi. Mungkin disinilah awal mula cerita di
mulai.
“Hai, Ki…”
“Eh, iya, kamu, Kiena maksud gue.”
“Oh, hai…”
Billy sudah berada di parkiran ketika Dany dan Kiena hendak mengambil
sepeda Dany.
“Lhoh, Kiena gimana Dan?”
“Hmmm, Kiena biar bawa sepeda gue aja. Nggak apa-apa kok.”
“Dia mau pulang sendirian? Ikut kita aja sekalian. Jadikan ntar plangnya
tetap bisa barengan.”
“Iya juga sih, Ki, lo nggak apa-apa naik sepeda gue?”
“Gue langsung pulang aja deh. Masak iya ada orang pacaran gue ikutin?”
“Hahaha, siapa yang mau pacaran Ki? Gue cuman mau kasih liat suatu tempat
aja kok ke Dany. Yuk, kalo lo mau ikut.”
“Iya, Ki. Lo ikut aja deh. Ntar kalo lo ilang gimana? Gue dong yang
disuruh tanggung jawab sama nyokab lo, hahaha.”
Akhirnya Kiena menerima ajakan mereka yang dengan berat hati harus
melihat sahabatnya itu berakrab-akraban dengan Billy. Cowok yang dia ingin
mengetahui kejelekannya, namun belum pernah berhasil. Sampai sekarang. Bahkan,
dia tampak semakin baik saja. Dia berusaha tak menghiraukan dua orang
didepannya dan lebih asyik menikmati suasana jalan yang tengah di lewatinya. Ia
baru sadar, belum pernah melewati jalan ini. Jalan yang tampak lurus, rindang
dengan banyak pepohonan juga sawah membentang di kanan-kirinya. Kendaraan juga
tak banyak lewat di jalan ini. Sehingga membuatnya sangat menikmati keindahan
panoramanya. Sesekali ia berdiri dari sepeda, sambil melepaskan kedua tangannya
dari setir dan berteriak. Tempat indah itu telah membuatnya jatuh cinta.
Ternyata Billy orangnya romantis
juga. Kayaknya gue udah salah menilai dia selama ini. Eh, kenpa tiba-tiba gue
jadi mikirin dia, hhh…
Kiena berhenti di salah satu tempat yang rindang dan sebentar kemudian
mengeluarkan kamera digital dari dalam tasnya. Pemandangan didepannya Nampak
begitu lepas. Sejauh matanya memandang hanya ada hamparan sawah yang hijau.
Sesekali ia menghirup udara yang tak pernah Ia dapatkan di tengah kota yang
padat akan pemukiman itu. Kemudian duduk di bawah pohon besar dan mengeluarkan
beberapa benda lagi. “The secret of life” adalah tulisan sampul depan dari buku
itu. Yang selalu di bawanya kemanapun ia pergi. Dan ketika ia menemukan hal
baru yang dinamainya dengan sebutan “pinus”. Pinus adalah kata yang ia dapat
dari Kizza yang sangat menyukai pohon pinus. Dulu, Kizza selalu mengatakan
bahwa dirinya ingin sekali berkemah di tengah pepohonan yang menyejukkan itu.
Bahkan, dia telah dengan sengaja memberikan nama itu kepada Kiena. Hanya Kiena
yang memiliki nama unik itu. Dan hanya Kizza yang boleh memanggilnya dengan sebutan
pinus. Iapun tak keberatan untuk setiap hari membiarkan Kizza memanggilnya
dengan nama pinus.
Love
Pinus…
Hijau yang sedang ada di hadapanku
saat ini, sama dengan apa yang kamu angankan dulu. Meskipun aku belum pernah
merasakan hijaunya, sejuknya, rindangnya pohon pinus yang selalu kamu sebut
itu…
Namun, ini membuatku kembali mengingatmu
Dany yang tengah asyik
memperbincangkan teater dengan Billy kemudian berhenti di tepi jalan. Dengan
panorama yang tak jauh berbeda seperti apa yang di lihat oleh mata Kiena.
Kemudian keduanya baru menyadari bahwa Kiena tak ada di belakang mereka.
“Bill, Kiena mana?” Dany kaget
melihat sahabatnya tak bersamanya.
“Lhoh, gue kira tadi lo ngawasin
dia.”
“Iya, sih. Tapi udah enggak lagi setelah gue keasyikan ngobrol sama lo.”
“Lo gimana sih? Kalo dia nyasar
gimana? Gue yakin dia belum pernah lewat jalan sini. Ya udah sekarang kita
balik lagi aja.”
“Yuk, agak cepat Bill. Ntar dia
keburu ilang lagi.” Dany panic mencari Kiena yang ternyata malah asyik dengan
dunianya sendiri.
“Nah, tuh. Kiena bukan Bill?”
“Kayaknya.”
Dany dan Billy segera menemukan
Kiena yang tengah duduk di tepi jalan. Masih dengan memangku buku secretnya.
“Ki…Kiena. Lo ngapain disini? Gue
panic nyariin lo. Sorry yah, gue keasyikan ngobrol sama Billy tadi.” Dany
nyerocos mengkhawatirkan sahabatnya itu.
“Kalian berdua ini kenapa sih?
Kompak banget. Gue nggak apa-apa kok.”
“Iya Ki. Sorry ya, harusnya tadi
kita barengan aja biar lo nggak ketinggalan.” Billy merasa bersalah karena
telah meninggalkan Kiena.
“Hmmm, gue nggak apa-apa, serius.
Ini udah selesai kok.” Kiena melemparkan senyum kegembiraan kepada dua orang
yang berdiri didepannya lalu memasukkan kembali kamera digital dan buku
secretnya kedalam tas.
“Maksudnya?” Billy tak mengerti apa
yang sedang di omongkan Kiena.
“Ooooh, gitu tuh Bill kalo jadi
jurnalis. Kemana-mana selalu dapat inspirasi buat nulis. Lo tahu nggak, Kiena
ini jago banget nulis. Dulu aja waktu SMP dia juara satu tuh lomba bikin
cerpen.” Dany menjelaskan tentang Kiena secara gamblang.
“Kiena anak jurnalis?”
“Iya, masak lo nggak tahu sih? Dan
pastinya dia juga bakal ikut dalam acara outdoor bareng kita bulan depan.” Dany
yang masih dengan bangga menjadi menejer dadakan Kiena.
“Heh, kalian berdua. Udah belum
ngomognya?! Ngapain sih dari tadi ngomongin gue terus? Cabut ah, yuk.”
“Eh, kayaknya asyik nih naik sepeda
lo, Dan.” Billy melirik kearah sepeda Dany yang dipakai Kiena.
“Hah, naik sepeda gue? Terus gue
sama Kiena gimana?”
“Ki, gue pinjam sepedanya Dany, ya.
Elo pakai motor gue aja. Biar Dany boncengan sama gue.”
Dany terpana mendengar kalimat yang
baru saja keluar dari mulut Billy.
Billy
mau bonceng gue naik sepeda. Dan gue duduk di depan??? Oh my God…
“Ki, lo bisa kan nyetir motor?”
Kiena hanya mengangguk heran.
Pikiran itu kembali terpecah. Ada sedikit rasa iri yang muncul dalam benak
Kiena ketika melihat sahabatnya tengah asyik di mabuk cinta. Ya, Billy.
Lagi-lagi dia begitu baik dan mempesona di hadapan semua orang termasuk
dirinya.
Entah ia menjadi begitu kesal.
Dinaik-turunkan kaca helm milik Billy yang di pakainya karena ukuran helmnya
terlalu besar di kepala Kiena. Dia juga jadi kurang konsen nyetir. Lebih baik
dia di tinggal saja dari pada harus melihat orang lain berpacaran.
Sementara Billy dan Dany tengah
asyik menikmati perbincangan mereka. Sesekali keduanya tertawa bersamaan.
Menghindari kebosanan, Kiena
menemukan ide untuk mengeluarkan kamera digitalnya dan merekam sepanjang
perjalanannya. Sesekali ia menangkap Billy dan Dany dalam rekamannya. Keduanya
tampak narsis dan kompak.
“Gue bikinin kalian video klip yah.
Buat kenang-kenangan kalo kita pernah lewat jalan ini bertiga, hahaha.” Kiena
berteriak kegirangan seperti baru menemukan harta karun.
Kalau
di lihat sih keduanya memang serasi. Dan cepat sekali akrab. Ketika ngobrol
berduapun juga tetap nyambung. Jadi, harusnya gue nggak ada alasan buat nggak
suka Dany dekat sama Billy.
Kiena kembali memasukkan kamera
digitalnya. Namun hal itu membuatnya kesulitan dalam mengendalikan
keseimbangan. Kameranya telah berhasil dimasukkan. Namun, karena ia terlalu
berkonsentrasi mengobok-obok tasnya sampai-sampai tak melihat ada bagian jalan
yang rusak ketika di lewatinya dan mengakibatkan motor yang di kendarai menjadi
berbelok tak karuan.
Brugggg!!!
“Awww”
Kiena terjatuh dari motor. Billy dan
Dany yang berboncengan di depannya seketika menengok ke belakang mendengar
suara Kiena yang tengah mengaduh kesakitan.
“Kiii, Kiena!!!” Lagi-lagi Dany
berteriak kaget melihat sahabatnya telah tersungkur dari atas motor. Dan
sekarang terselonjor di tepi jalan.
“Ki, mana yang sakit? Sorry yah,
gara-gara gue lo jadi jatuh kayak gini. Gue anterin pulang yah.” Dany panic
bukan main.
Begitu halnya dengan Billy. Ia hanya
terdiam namun rasa bersalahnya seolah melebihi rasa bersalah Dany.
“Dan, gimana kalo lo naik sepada
aja? Kiena biar gue yang bonceng pake motor. Nanti kita sama-sama anter dia
pulang.”
“Iya deh, yang penting Kiena nggak
kenapa-napa, Bill.”
“Eh, nggak usah! Gue nggak apa-apa
kok. Cuman lutut aja nih rada lecet. Masih bisa kok naik motor sendiri.” Kiena
berusaha menguatkan diri.
Namun tanpa seizin Kiena, Billy
langsung mengangkatnya untuk naik ke atas motor Billy.
“Eh, lo mau ngapain???”
“tenang aja Ki, gue anter lo sampe rumah sama Dany. Janji!”
“Iya, Ki. Gue ikutin kalian dari belakang yah.” Dany segera mengambil
sepedanya dan mengekori arah motor Bill melaju.
“Bill,”
“Ya”
“Sorry ya, gue udah ngerusak acara lo sama Dany…”
“Lo tu ngomong apa sih? Kan gue udah bilang kalau kita mau lihat lokasi
ke suatu tempat.”
“Ya, tetap aja. Gara-gara gue jatuh acaranya jadi batal.”
“Kalo gue nggak nyuruh lo buat naikin motor gue, lo nggak bakal jatuh
kan?”
“Eh, tapi motor lo nggak kenapa-napa tuh? Coba liat lagi ntar yang
sebelah kiri. Kayaknya tadi ada yang lecet deh.”
“Iya, nanti aja. Oya, lo anak jurnalis ya ternyata?”
“Iya”
“Baru tahu nih gue”
“Ya itu karena lo tahunya cuman Dany, hahaha.”
“Serius lo, gue suka sama anak yang suka nulis. Pasti lo punya banyak
cerita tuh di buku lo yang the… apa? The spirit of life?”
“The secret of life…eh tunggu-tunggu. Lo ngintip buku gue ya???”
“Hehehe, cuman sempat lihat sampul depannya aja tadi. Warnanya ijo, ada
gambar pohonnya satu di pinggir. Benar nggak?”
“Nggak boleh lo nyuri-nyuri kayak gitu.”
“Gue kan nggak nyuri, tapi lo yang udah ngebiarin sesuatu milik lo itu
terlihat di mata gue…”
Seketika keduanya terdiam. Dan suasana menjadi canggung.
“Eeee, rumah gue di belokan yang kedua…”
“Oh, iya”
Teras rumah yang tak begitu luas itu sudah terbiasa menjadi lahan parkir.
Dan disana motor Billy berhenti. Begitu juga dengan Dany yang memarkir
sepedanya tepat di sebelah kanan motor Billy.
“Gue bantu Ki”
“Iya, makasih”
Billy hanya berdiri didepan rumah ketika Dany mengantarkan Kiena masuk
kedalam. Dan Kiena hanya menoleh kearah Billy, sebentar. Kemudian membiarkan
dirinya dituntun oleh Dany memasuki rumahnya.
“Bill, masuk aja. Gue tinggal nganter Kiena dulu ke kamar ya.” Dany
berteriak kepada Billy seraya masuk ke ruang tamu.
Billy hanya menganggukkan kepala. Tak lama setelah keduanya masuk, ia
menyusul. Dan menunggu di ruang tamu.
Ia mengamati seisi ruangan itu. Dan sedikit menengok ke dalam ruang
keluarga. Ada beberapa foto Kiena bersama keluarganya. Ia juga melihat ada satu
foto mungil bertuliskan nama Kienanti Prawira Dinadja saat sedang mengikuti
lomba puisi ketika dia masih berumur lima tahun. Di sisi tembok yang lain, ada
foto Kiena yang masih sangat lugu ketika dia berumur belasan tahun. Foto itu
terbingkaikan dengan unik, yang sepertinya terbuat dari kain. Di salah satu
bingkainya di tempeli satu bentuk pohon. Ia coba mengingat bentuk pohon itu.
Seperti sudah pernah melihat sebelumya. Dan ya, ia baru ingat gambar pohon itu
juga yang ada di buku yang dilihatnya berada di tangan Kiena tadi. Tidak salah
lagi, pasti bingkai itu juga buatan dari tangan Kiena.
Kreatif juga dia…
Tanpa berpikir panjang Billy mengambil bingkai beserta foto Kiena dan
segera memasukkannya ke dalam tas. Tak lama Dany dan Kiena keluar dari kamar.
Kemunculan keduanya menimbulkan reaksi kaget pada Billy. Dan sedikit
menimbulkan rasa curiga. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dany mempersilakan
Billy untuk duduk.
“Gue ambilin minum dulu ya. Lo duduk sini aja Ki. Tenang deh, gue udah
biasa kok di rumah lo.”
Suasana kembali kaku ketika Dany melangkah ke dapur Kiena. Billy yang
memulai obrolanpun juga cuman sebatas basa-basi.
“Rumah lo sepi, ya?”
“Iya, jam segini masih pada kerja semua. Kakak gue juga masih kuliah.
Maklum, nggak ada pembantu. Ya jadi apa-apa di kerjain sendiri.” Kiena yang
juga menjadi kaku.
“Ehhhhhh, foto-foto kamu, lucu yah…”
Kiena hanya tersenyum dengan sedikit tersipu.
“Ini minumnya, lhoh, kok pada diem-dieman sih?” melihat tak ada reaksi
dari kedua orang itu, Dany kembali mengoceh.
“Gue hampir tiap hari lo Bill, main kerumah Kiena. Ya gini, bantuin dia
habisin stok makanan di kulkas, hehehe.”
“Gue minum ya. Billy berusaha menghilangkan rasa canggungnya.
“Dan, Ki, gue pamit pulang ya. Udah kesorean nih kayaknya. Lo nggak
apa-apa kan Dan pulang sendirian?”
“Iya, nggak apa-apa kok. Lagian rumah gue juga nggak jauh dari sini.”
“Hmmm, lihat lokasinya lain waktu aja ya.”
“Ok, Bill. Santai aja masih banyak waktu.”
Tak lama Billy bersama motornya menghilang dari teras rumah Kiena. “Ki,
sumpah gue pengen pingsan!!!” Tiba-tiba Dany yang baru saja berada di teras
depan sudah muncul di hadapan Kiena dengan mimiknya yang penuh emosi
kegembiraan.
“Iyaaa, gue tahu kok.” Kiena hanya tersenyum sambil memegangi siku tangan
kirinya yang lecet.
“Hmmm, tapi Ki, kok kayaknya dia biasa-biasa aja gitu ya sama gue?
Menurut lo gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Ya, iya sih kita emang deket banget pas tadi boncengan bareng. Cuman itu
juga sebatas ngomongin teater aja. Nggak lebih…”
“Masak iya baru kenal terus dia langsung ngungkapin perasaannya sama lo.”
“Hmmm, iya juga sih. Gue tunggu aja deh, makasih ya Kiena… lo emang
sahabat gue yang paling baik. Mana ada tuh sahabat yang mau temenin sahabatnya
pacaran? Kalo bukan lo, hahaha…”
“Udah ah, nggak usah lebay gitu. Pulang sana gih. Tiba-tiba gue jadi
bosen lihat muka lo. Hahaha”
“Yeee Kiena…ya udah gue pulang. Lo nggak apa-apa gue tinggal sendirian?
Bonyok lo kan belum pada pulang.”
“Sejak kapan lo mesti nungguin mereka pulang? Dasar!!!”
“Iya deh, iyaaa Kiena cantik gue pulang dulu yah. Daaa”
Satu hari pertama seperti ada yang janggal di hati Kiena. Mulai dari
obrolannya dengan Billy diatas motor, buku secretnya yang tanpa dia ingin telah
di ketahui oleh Billy. Juga rasa canggung yang baru saja dia rasakan.
“Ki, tangan lo udah nggak apa-apa tuh?” Dany berusaha membolak-balik
lengan Kiena yang sebenarnya malah membuat Kiena kesakitan.
“Kalo lo diam aja pasti bakal cepat sembuh!” Kiena seolah menegaskan
kata-katanya.
“Ah, Kiena apaan sih? Sini gue bantuin. Oya, entar pulang sekolah ada
rapat anak jurnalis sama teater. Lo gimana?”
“Gimana apanya? Ya gue ikutlah.”
“Tapi luka lo? Nggak apa-apa tuh?”
“Asal lo nggak heboh aja!”
“Class, how many kinds of…”
Suara lantang Bu Dewanti yang terdengar hingga keluar ruangan. Seluruh
siswa sedang focus memperhatikan penjelaskan dari beliau ketika seorang guru
lewat didepan kelas mereka bersama dengan seorang siswa laki-laki.
Keduanya sedikit membuyarkan konsentrasi para siswa dikelas karena
jendela yang di buat dengan ukuran yang sedang juga tak terlalu tinggi itu sangat
mudah di jangkau pandangan mata dari dalam ruangan meskipun pintu telah
ditutup.
Siswa laki-laki itu menoleh kedalam kelas dan memanggil Dany dengan
siulan lirih.
“Ssssssst…”
Kontak-kontakan isyarat itu terjadi dalam waktu singkat. Billy yang sok
tahu menirukan gaya Bu Dewanti yang tengah mengajar. Danypun tertawa kecil
kemudian ia menyenggol tangan Kiena agar sahabatnya bisa ikut menyaksikan
tontonan gratis ala Billy sang idolanya. Namun tanpa sengaja tangan Dany
menyentuh sikunya yang sedang di balut dengan perban. Karena terkejut, Kiena
mengaduh dengan sedikit berteriak sehingga membuat Bu Dewanti menoleh.
“Any questions?” Pertanyaan yang lebih ditujukan pada Dany dan Kiena. Dan
keduanya hanya geleng kepala.
Bu Dewanti kemudian melanjutkan penjelasannya. Kiena yang berlagak marah
atas kecerobohan Dany segera meraih pensil kesayangannya. Di luar sana Billy
yang tengah beranjak dengan langkah sedikit lebih cepat mengkode kearah Dany
untuk meminta maaf pada Kiena sambil tetap berlagak menirukan aksi Bu Dewanti
saat menegur mereka berdua. Lagi-lagi Dany tertawa cekikikan melihat tingkah
aneh Billy. Tanpa sadar, Kiena melirik kearah laki-laki yang nyaris menghilang
itu dan tersenyum kecil.
Siang itu sudah ada beberapa naskah yang terkumpul sebelum rapat dimulai.
Salah satu diantaranya adalah milik Kiena. panas terik meskipun diluar sana,
namun dengan penghuni yang berkisar duapuluh kepala diruang rapat membuat
suasana menjadi begitu riuh.
“Saya sudah membaca keseluruhan dari naskah yang telah ada. Ada tiga
naskah yang menurut saya ada hal menarik didalamnya. Jadi saya akan beri waktu
teman-teman semua untuk membaca ketiga naskah itu kemudian pilih salah satu
dari naskah yang menurut anda itu adalah yang terbaik.” Ucap seorang yang
tengah memimpin jalannya rapat, Rolan sang ketua jurnalis.
Suasana seketika hening karena masing-masing tertuju pada ketiga naskah
yang akan menjadi pilihan dari mereka.
Merdeka jiwaku, hening, pinus…
Pinus…pinus…
Pinus? (gambar pohon tinggi dan
rindang)
Kiena???
Melihat satu judul terakhir itu Billy tertarik untuk segera membacanya.
Dengan khidmat ia cermati isi dari cerita. Awalnya sedikit rumit baginya. Namun
setelah membaca keseluruhan, akhirnya ia paham dengan apa yang dimaksudkan si
penulis didalamnya.
“Saya lebih tertarik dengan pinus. Isinya lebih mengarah pada cerita yang
sedikit menggunakan unsur teka-teki namun tetap tidak menyimpang dari jenis
cerita romance yang mengundang berbagai perasaan bagi kawula muda untuk
mengekspresikan apa itu cinta”. Billy sangat antusias dengan satu naskah itu.
Setelah diadakan voting, ternyata ada dua judul naskah yang memiliki
perolehan nilai seimbang. Yaitu naskah dengan judul merdeka jiwaku dan pinus.
“Ada yang ingin berargumen untuk memperkuat pilihan masing-masing?” Rolan
memberikan kesempatan kepada para anggota rapat.
“Bolehkah saya mencoba untuk memainkan salah satu tokoh didalamnya?”
“Silakan Arond.”
Billy dengan cepat berpindah tempat duduk disebelah Kiena dan memintanya
untuk membacakan penggalan puisi yang ada dalam naskahnya. Kiena yang masih
kebingungan hanya mengiyakan tangannya diseret oleh Billy dan beranjak dari
kursi.
Seluruh mata tertuju pada dua orang yang tengah berdiri berhadap-hadapan
dengan jarak yang sedikit jauh, didepan mereka semua.
Hembusan nafas Kiena terdengar pelan
Hhhhh…
Dan kubiarkan merasuk kalbu
Wahai jiwa nan hijau
Kesejukanmu merenggut sedihku
Mengeram aku dalam amarah
Meredam aku dalam lelah
Tak secuilpun tergores dibenakku
Kau
Hijaulah dalam tandus
Wahai pinus…
Billy yang dengan
kreativitasnya sendiri mencoba menjadi tokoh dalam naskah tersebut ketika si
pembaca puisi yang tak lain adalah Kiena yang melupakan bait ketiganya. Tak
disangka keduanya memainkan tokoh masing-masing dengan nyaris sempurna.
Kienapun kaget Billy mampu membawakan tokoh yang ditulisnya yang tak lain
adalah gambaran dari Kizza. Berakhirnya adegan singkat dari keduanya
menghasilkan sambutan yang sangat bagus dari para anggota dan semuanya sepakat
untuk menggunakan naskah Kiena sebagai pembuatan drama outdoor bulan depan.
“Ki, lo perfect banget barusan. By the way itu tadi tulisan lo yang mana
sih? Kok gue belm pernah dengar?” Dany begitu bangga dengan sahabatnya.
Kemudian ia juga menghampiri Billy untuk memberikan selamat.
“Lo keren banget Bill, seneng deh kalo sahabat-sahabat gue pada
pinter-pinter gini. Jadi gue bisa ketularan pinternya ntar. Hahaha…”
“Semoga aja gue bisa jadi pemeran utamanya ntar, Dan.” Ucap Billy dengn
sangat antusias.
“Yakin penulisnya bakal setuju?” Kiena berlagak sok dengan naskahnya yang
telah terpilih.
“Hahahahaha…”
Minggu ketiga
Ketiganya menjadi semakin akrab dan lebih sering bertemu entah untuk
mengerjakan tugas-tugas bersama atau hanya sekedar menghabiskan waktu. Seperti
siang ini mereka akan kembali ketempat yang minggu lalu pernah ketiganya
lewati.
“Lets go!!! Huuuuuuu…”
Meskipun kedengarannya janggal namun Kiena tetap menikmati persahabatan
mereka bertiga. Walaupun dia tahu bahwa nantinya ini akan terpecah karena pasti
sebentar lagi Billy akan menyatakan cintanya pada Dany, dan keduanya jadian. Ia
juga tak kuasa menyalahkan Dany karena bagaimanapun dia adalah sahabat
terbaiknya. Tak pernah sekalipun berprasangka buruk atau cemburu terhadapnya
ketika terkadang Billy Nampak lebih dekat dengannya. Dan ia memutuskan untuk
selalu menyayangi keduanya sebagai seorang sahabat tanpa merusaknya dengan
perasaan lain.
Kiena kembali menaiki sepeda Dany dan seperti biasa Dany dan Billy akan
terlebih dahulu meninggalkan Kiena dengan jarak yang tak begitu jauh dan masih
terjangkau pandangan mata mereka. Jalan yang begitu lurus tersebut tak mampu
menghalangi ketiganya.
Di belakang sana Kiena Nampak terengah-engah mengayuh sepeda. Dan
sesekali dia lambaikan tangan sebagai kode bahwa ia ingin posisinya segera
digantikan. Ia berhenti ditepi jalan dan mengambil botol minum untuk segera
membasahi tenggorokannya meskipun pepohonan rindang melindunginya dari terik.
“Gue juga mau!” Dengan paksa Billy mengambil botol minum Kiena dan ikut
meminumnya.
“Jangan dihabisin! Jalannya masih panjang tau.” Kiena berlagak mengomel.
Sedang Dany hanya tertawa melihat aksi kedua sahabatnya yang tengah berebut air
minum.
“Aku aja yang gantiin Kiena Dan…” Billy turun dari motor dan menggantikan
Kiena menaiki sepeda Dany.
“Awas kamu Bill, sadelnya bau pantat Kiena, hahaha”
“Apaan sih Dan!”
“Hahaha”
“Nggak apa-apa, anget kok, hahaha”
v
“Eh, gue kayak dengar ada yang manggil aku kamu nih.” Kiena menyindir
Dany yang sedang konsentrasi menyetir.
“Jangan biarin muka merah gue ketahuan Billy, Ki!” Dany teriak
kegirangan.
“Kalian berdua? Udah?”
“Sayangnya belum tuh Ki. Gimana dong?”
“Tenang aja, pasti bentar lagi. Mungkin tunggu momen yang tepat.”
“Hahaha, asal lo juga doain Ki.”
“Iyalah, pastinya. Secara ceweknya udah ngebet banget nih.”
“Ah, Kiena…”
“Hahaha…”
Terik siang itu tak menghalangi ketiganya untuk menghabiskan waktu disepanjang
jalan yang telah mereka lantik untuk menjadi jalan keabadian milik mereka
bertiga. Kiena yang menikmati istirahatnya diboncengan Dany tersenyum melihat
gaya Billy naik sepeda yang hampir mirip katak loncat saja. “Dan, Billy udah
lambaikan tangan tuh.”
“Ya udah kita berhenti dulu.”
Kiena langsung menyodorkan botol minum yang dari tadi sudah berada
ditangannya. Billy segera mengambil dan meminumnya. Merasa begitu kepanasan
sisa air minum dituangkan diatas kepalanya.
“Eits! ah kenapa dibuang sih?” Kiena seketika turun dari boncengan Dany
dan bermaksud mengambil botol minumnya karena takut Billy akan menghabiskan air
minum tanpa sisa. Namun, Billy malah tampak menikmatinya dan berusaha menggoda
Kiena. “Balikin nggak!”
Tanpa sengaja Billy memegang tangan Kiena. Sentuhan itu membuat keduanya
menjadi tegang. “Nih, udah habis airnya. Hahaha…” Botol itu segera di berikan
kepada Kiena dan ia kembali menaiki sepeda.
Billy dan Dany terpilih menjadi pasangan pemeran utama dalam acara
outdoor mereka. Tak ketinggalan Kiena sang narrator yang dengan setia
mendampingi keduanya berlatih dengan lebih intens apalagi adanya chemistry
antara mereka pasti akan membuat keduanya lebih menjiwai peran masing-masing.
Kiena juga yang membuatkan buku diary yang akan digunakan sebagai buku
secret Billy yang memerankan tokoh Kizza. Dia juga melengkapi penggalan puisi
yang akan dideklamasikan oleh Dany atau Kayra.
Ditengah-tengah kesibukan masing-masing, disela-sela break latihan Billy
dan Dany bermaksud menemui Kiena yang berada dilain tempat. Namun, keterbatasan
waktu tak memungkinkan keduanya. Tanpa disadari Billy merindukan sifat Kiena
yang selalu berusaha tegar didepan semua orang. Berusaha tenang meskipun
didalam hatinya sangat ingin berteriak, dan berusaha tersenyum ketika mereka
sedang bersama bertiga.
Dimana dia sekarang? Kenapa nggak
muncul juga dihadapan gue?
“Bill, kamu lihatin apa sih?” Dany memecahkan bayangan kosong Billy.
“Kiena, kemana sih dia? Dari tadi nggak kelihatan?”
“Oooh, diakan lagi bikin buku diary kamu di ruang sebelah. Katanya nggak
boleh ada yang ganggu biar dia bisa dapat feel yang pas.”
Feel yang pas? Feel kalau dia cemburu
liat gue sama Dany?
“Yuk ah, anak-anak udah ngumpul lagi tuh.” Dany mengajak Billy untuk
kembali latihan.
Ditengah-tengah latihan itu, ketika Billy dan Dany memainkan adegan
mereka yang paling secret menurut Kiena. Ditengah-tengah hijaunya pohon pinus
Kizza menggantungkan papan kecil yang masing-masing sisi dihiasi oleh daun
pinus dengan ditengahnya bertuliskan kalimat indah.
Meskipun ada bait yang tertinggal,
dia tetap memikatku
Di tanggal 10 mei 2010 dia terjatuh
dari sepeda, pipinya yang chubby memar
Namun senyumnya tak berubah
Senin itu dia tampil dengan rambut
baru, mungkin poninya terlihat sedikit kependekan
Membuat mukanya semakin bulat
membingkai, aku tetap suka
Aku pernah diam-diam mengambil
fotonya dari binder temanku
Masih memakai seragam olahraganya,
rambut di ikat tinggi-tinggi
Membawa botol minum kesayangannya
lengkap dengan sedotan
Wajahnya Nampak kucel dan berkeringat
Dia lebih mempesona
Pinus…
Bolehkah aku mengusap keringatmu
ketika kau sedang terlelah?
Kayra tengah membaca tulisan itu ketika langkah pelan Kizza membuatnya
menoleh kebelakang.
“Pinus…”
Ketika adegan itu hampir mencapai puncak pada happy ending, kedatangan
Kiena yang tengah berdiri didepan pintu membuyarkan konsentrasi Billy. Kiena
yang membawa sebuah buku dalam dekapannya, dengan rambut yang di ikat
tinggi-tinggi tak beraturan dan membiarkan beberapa helai terjatuh sehingga
sedikit menghiasi wajahnya yang lelah lusuh.
Adegan itu terhenti. Billy terpana dengan tatapan tanpa jeda kearah
Kiena.
“Pi…pinus…”
“Sorry, gue Cuma mau ngasih buku ini.” Kiena menyodorkan buku diary
tersebut kepada Roland dan beranjak pergi. Namun spontan Billy memanggilnya,
“Pinus!”
Seketika Kiena menoleh. Namun ia memberikan tatapan tajam pada Billy.
Kemudian dengan langkah cepat pergi meninggalkan ruangan.
Berani-beraninya dia manggil gue
dengan sebutan pinus! Cuma Kizza yang boleh manggil gue kayak gitu. Gue benci
sama Billy!
Kenapa Kiena marah sama gue? Padahal
gue cuman manggil dia tadi…
“Eh, ada yang mau es krim nggak? Pengen yang dingin-gingin nih!” Dany
memecah keheningan Billy dan Kiena.
“Boleh…” Billy menjawab singkat.
“Elo Ki?”
Kiena hanya mengangguk. Dany segera menuju seberang jalan ketempat
penjual es krim.
“3!!!”
“Hah?”
“Gue mau es krim 3!!!”
Billy dan Dany menatap kearah Kiena secara bersamaan. “Ok.”
Halte yang biasa ramai akan para siswa di jam-jam pulang sekolah kini
mulai sepi. Hanya ada Billy, Kiena juga dua orang siswa perempuan yang entah
menunggu jemputan atau sedang menunggu angkutan umum.
Keduanya terdiam. Billy juga tak berani menanyakannya pada Kiena. Hanya
mematung disampingnya.
“Ki…”
Kiena hanya menoleh.
Seketika suasana menjadi sangat hening seolah tak ada dua orang perempuan
disamping mereka.
“Gue…”
Gue…”
Kiena hanya memandang kearah Billy dengan tatapan kosong. Namun karena
sikap Billy yang berubah menjadi semakin tegang, Kiena berubah menatapnya
dengan sangat lembut.
“Lo kenapa?”
“Gue…”
“Gue suka sama…”
“Dany…”
Kiena lega dengan pernyataan yang baru saja didengarnya dari mulut Billy.
“Ooh, gue juga udah tahu kali…”. Senyum tipis menghiasi wajah Kiena seketika.
Billy yang ketegangannya kembali meredup menjadi sangat menyesal
mengatakan itu kepada Kiena. Karena bukan itu yang sebenarnya ingin dia
ucapkan.
“Ki, tadi kenapa lo marah sama gue?” Billy kembali memulai percakapan.
“Bill, jangan lagi panggil nama gue dengan sebutan pinus!” Kiena
menjawabnya dengan sengit.
“Kenapa?”
“Karena…”
“Karena apa?”
“Karena… lo nggak ngerti Bill…”
“Makanya gue pengen ngerti Ki…”
“Cuma dia yang boleh manggil gue dengan sebutan pinus.”
“Dia? Siapa?”
“Please, jangan tanya lebih dalam lagi soal itu…” Kiena menundukkan
kepalanya seperti hendak meneteskan air mata.
Billy yang tadinya sangat antusias mengorek keterangan dari Kiena
seketika terdiam. Lagi-lagi keduanya membisu.
Pi, berani-beraninya dia ngembarin
nama panggilan kamu. Geluduk yang sedari dulu nyaris tak terdengar akan adanya
tanda hujan namun petirnya mulai menyambar kini. Perasaan aneh yang entah sejak
kapan muncul dengan tiba-tiba mengusik memoriku tentangmu. Padahal aku sudah
bertekat untuk memendamnya dalam-dalam bersama seluruh cerita secret kita.
Pi, atau…ku buang saja semua ini
bersama buku kumuh itu? Karena mengingatmu sama halnya menamparku dengan tangan
Rere. Aku telah kehilangan satu sahabat. Apa harus ku ulangi? Setiap kali ku
cegah, setiap kali pula sebaliknya. Aku hanya ingin mengagumimu sebagai
inspirator terbaikku. Sebagai pemenuh buku secret ini yang kamu tak akan pernah
tahu isi di dalamnya. Dan aku tak ingin menggesernya dengan bayangan aneh yang
akhir-akhir ini begitu mengganggu konsentrasiku tentangmu.
v
Pinus, apa sebenarnya arti dari kata
itu. Aku hanya tahu itu adalah karangan cerita Kiena. Atau itu adalah…
Billy meraih lembaran naskah yang
ada di mejanya. Dibacanya berulang-ulang. Ini memang cerita tentang kisah cinta
seseorang. Namun, ia tak yakin dengan apa yang tengah ditebaknya. Ia kembali
membuka buku lain. Buku secret yang dibuat oleh Kiena. Kenapa isinya sangat
menyatu dengan naskah. Seperti benar-benar nyata dan telah terkonsep sejak
lama. Memang, Dany pernah mengatakan bahwa Kiena sangat jago dalam membuat
karangan cerita. Ia juga bilang Kiena tak mau diganggu ketika ia sedang membuat
isi dari buku secret, yang sekarang berada di hadapannya.
Berulang kali Billy memandangi buku
secret itu, membukanya, membaca isinya, kemudian menutupnya kembali. Memang ada
bagian yang sedikit membuatnya janggal. Jika ini adalah cerita tentang Kiena, disitu
digambarkan bahwa dia memiliki dua orang sahabat. Namun nyatanya sahabat dekat
Kiena hanya Dany. Atau… ini mungkin memang hanya karangan Kiena.
“Dan,”
“Hmm?”
“Kamu temenan sama Kiena udah lama,
ya?”
“Kiena itu sahabat aku dari SMP. Dan
yang paling baik menurut aku.”
“Pantesan.”
“Pantesan? Apanya?”
“Pantesan kayak orang kembar aja,
hahaha.”
“Yaaa, banyak orang bilang gitu.
Dulu, malah kita kembar bertiga.”
“Bertiga? Sama siapa?”
“Rere, kita dulu sahabatan bertiga.
Sampai akhirnya Rere ninggalin kita karena Kiena dekat sama Kizza, cowok yang
juga disukai Rere. Kiena berusaha jauhin Kizza biar Rere mau kembali sama kita.
Tapi semua udah terlambat. Rere nggak mau lagi ketemu sama aku dan Kiena.
Padahal, Kiena udah benar-benar menjauh dari Kizza.
“Kizza? Nama cowok yang ada di
naskah itu???”
“Iya, sejak saat itu Kiena nggak
lagi mau dekat sama cowok. Karena dia lebih takut kehilangan sahabat.”
“Tapikan, itu namanya dia menghakimi
diri sendiri Dan. Bagaimana bisa dia menutup diri selama ini? Mau sampai kapan
dia kayak gitu?”
“Sampai Rere balik lagi ke kita,
katanya…”
“Terus, kamu diam aja?”
“Bil, aku udah coba dengan banyak
cara. Tapi kamu tahu sendiri Kiena itu seperti apa orangnya kan?”
“Kalau Rere nggak akan pernah
kembali? Lalu apa?”
“Yaa, kamu tahu sendiri jawabannya.”
“Jadi dia nggak akan membuka hatinya
buat orang lain, gitu maksud kamu?”
“Mungkin, tapi selama ini
keyakinannya begitu kuat. Dia sangat yakin suatu saat nanti entah kapan, Rere
akan kembali. Setelah itu dia janji akan kembali seperti dulu.”
“Terus, sekarang Rere dimana?”
“Dia sekolah di SMA 3. Satu sekolah
sama Kizza juga. Tapi mereka berdua nggak pacaran. Karena aku tahu Kizza
sebenarnya juga suka sama Kiena dan dia sakit hati karena mendadak Kiena
menjauhinya waktu itu.”
“Aku nggak bisa nebak dia itu
seperti apa. Cewek angkuh, galak, sombong, ternyata…”
“Makanya kenapa aku selalu ngajak
dia kemanapun kita pergi, biar dia nggak nganggap kita itu sahabat yang jahat
dan ninggalin dia. Aku nggak mau Kiena terus-terusan dihantui rasa bersalah.
Aku sayang banget sama dia, karena dia juga begitu.”
Satu jawaban mewakili seluruh
pertanyaan Billy yang dalam beberapa waktu memenuhi pikirannya. Sekarang dia
tahu apa alasan Kiena seolah menghindar darinya. Dan ia tak perlu mencari-cari
jawaban dari teka-teki ini lagi. Memang sulit berada di posisinya. Kiena adalah
sosok perempuan yang menjunjung tinggi persahabatan dan itu nyata.
Ki,
kalau memang kamu tidak ingin kita memulainya, maka biarkan waktu dan seluruh
cerita yang telah kamu buat mengungkap yang sebenarnya kita rasakan, atau
mungkin hanya aku…
v
“Pagi kembaaar,”
“Heh, Around, Billy, Kizza, kamu
ngagetin aku deh.”
“Sejak kapan gue sama Dany dapat
panggilan kayak barusan?”
“Yaaa, barusan. Emang kalian berdua
tuh kembar. Kemana-mana bareng, cuma beda rumah aja. Hahaha…”
“Hmmm asyik juga tuh nama baru.
Serasa kembar beneran sama Kiena. Secara, lo lebih pintar dari gue.” Dany
menaik turunkan alisnya kearah Kiena.
“Eh, lo apa-apaan sih Dan? Ingat ya,
hari ini hari terakhir lo sama Billy latihan. Jadi, gue sebagai sutradara punya
wewenang dong buat ngomelin lo berdua.” Kiena yang sok galak di depan Dany dan
Billy.
“Aduuh takut nih…hahaha”
“Sejak kapan lo jadi sutradara Ki?
Bukannya cuman jadi bawahan gue sama Dany, yang kerjaannya buatin kita naskah
dan buku diary yang super khayal itu.
Kiena seketika kaget. Bisa-bisanya
Billy mengeluarkan kalimat seperti itu dan…membuatnya tertawa mendadak.
“Heh, kurang ajar lo ya! Awas lo! Mana
diary buatan gue! Balikin!” Kiena berlagak marah dan memukuli pundak Billy.
Entah apa yang terjadi, namun rasanya dia dan Billy telah kembali seperti
semula. Kembali menjadi dua orang sahabat yang sangat menyenangkan. Mungkin
sebentar lagi dia akan benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Dany. Mungkin,
karena itu sikapnya begitu berubah.
Latihan singkat itu berjalan dengan
lancar. Semua anggota pulang lebih awal untuk mempersiapkan diri besuk pagi.
Mereka akan menjalani perkemahan selama tiga hari dua malam seperti jadwal.
Seperti anggota lainnya, Billy, Dany
dan Kiena mengepak barang-barang pribadi mereka serta perlengkapan yang
diperlukan selama diperkemahan. Kiena, yang tak akan ketinggalan dengan kamera
digitalnya serta buku secret yang beberapa waktu lalu ia inginkan untuk
membuangnya. Nyatanya masih saja ada di tas Kiena sampai hari ini.
Pi,
besuk aku berangkat kesuatu tempat yang mungkin akan sangat menyenangkan
buatku. Ku harap kamu juga begitu. Tetaplah menyertaiku lewat buku ini. Dan aku
akan tetap mengenangmu. Mungkin jika lelah datang, akan kutinggalkan semuanya
ditempat itu. Tempat dimana tak seorangpun tahu, sekalipun kamu.
Dany yang juga sibuk dengan segala
perlengkapannya, karena dia adalah orang yang paling tidak tahan merasakan
dinginnya malam diluar sana. Berbagai baju penghangat ia keluarkan dari
gantungan. Segala macam obat-obatan juga telah siap untuk diangkut. Lagi-lagi,
mama yang selalu mengingatkan dan mempersiapkan segala keberangkatannya.
“Besuk papa nggak bisa ikut nganter
Dany, sama mama saja ya.” Papa tiba-tiba datang dan mengelus bahu Dany.
“Beres paa, doain aja Dany sukses.”
Dua jempol diacungkan kearah papa.
“Oiya, sama Kiena juga kan? Dia
siapa yang antar? Kata kamu setiap pagi papa mamanya selalu sudah berangkat
kerja.
“Di antar kak Lody katanya ma.”
“Ya sudah, jangan sampai besuk kamu
telat bangun dan gagal berangkat.” Papa tersenyum kepada Dany.
“Papa apaan sih…”
Malam itu Dany hanya terduduk disisi
ranjangnya. Mengingat-ingat moment demi moment yang dia lewati dengan Kiena,
juga Billy. Mereka adalah dua orang dia ingin untuk selalu berada disisinya. Kiena,
yang selalu membuatnya tegar dibalik kerapuhannya. Billy, laki-laki misterius
yang telah berhasil merenggut hati dan jiwanya. Dia mengambil album foto dan
membukanya halaman demi halaman. Foto terindah mereka bertiga ketika masih SMP,
Kiena dan Rere. Keduanya adalah sahabat yang energik. Kizza, seorang pendiam
namun penuh kejutan. Sampai-sampai tak banyak orang yang tahu bahwa dia sangat
mengagumi Kiena. Rade, cinta monyetnya dimasa lalu. Lucu, imut, dan dengan
sifatnya yang masih lugu membuatnya jatuh cinta monyet kala itu. Di beberapa
lembar terakhir, hanya ada dirinya, Kiena dan Billy. Satu semester telah
membuat ketiganya sangat akrab satu sama lain. Dan besuk, ketiganya akan
kembali mengukir kisah remaja mereka dengan penuh kejutan.
Kututup
lembar ukiran ini dengan membukanya kembali di hari yang lebih berwarna.
Ternyata, Kiena sama jeleknya ketika
dia sedang tertidur. Billy telah dengan bangga mengambil kamera Kiena yang
dikalungkan dilehernya kemudian mengambil gambarnya dengan pose yang sangat
menggelitik perutnya. Tak tahan untuk tidak tertawa. Tak kalah dengan Kiena,
Dany berpose dengan lebih aneh. Suhu didalam bus yang membuatnya sangat
kedinginan sehingga kostumnya sudah seperti orang Eskimo saja. Bibirnya maju
kedepan, saking beratnya rasa kantuk membuatnya tak mampu menahan kepalanya
sehingga ambruk dan tersandar dibahu Kiena.
Dengan sadar Billy mengamati kedua
sahabatnya itu bergantian. Tanpa sadar ia telah jatuh hati kepada keduanya,
Dany dan Kiena. Yang memiliki keunikan yang berbeda namun sangat menguatkan
karakter masing-masing untuk tak dapat mengelak bahwa dirinya telah…
Ia kembali kekursi paling belakang
bersama dengan teman-teman laki-lakinya untuk lebih bergerombol dan meramaikan
isi bus. Billy akan memainkan gitarnya dan yang lain akan bernyanyi seenaknya.
Kiena terkejut bukan main ketika dirinya terbangun dan mendapati
sekeliling bus bukanlah seperti tempat yang disepakati untuk mereka datangi
sebelumnya. Semuanya membiarkan Kiena menjadi orang pertama yang keluar dari
bus. Dia masih terkagum, kaget, aneh dan perasaan lainnya bercampur. Baru yang
lain menyusulnya turun.
“Surprise!!!!!”
Kiena masih saja tak mengerti. “Ini, ada apa sebenarnya?”
“Selamat penulis scenario.” Rolan mengulurkan tangan dan menjabat tangan
Kiena dengan penuh semangat.
“Ok…terus? Ini? Apa?”
“Kamu telah berhasil membuat naskah untuk kita mainkan. Alangkah lebih
menjiwainya jika para pemain peran juga kita beri kesempatan untuk benar-benar
berperan dalam seting yang sesuai.”
“Terus? Hubungannya sama gue? Apa?”
“Kamu adalah penulis scenario terhebat kami. Saya tahu, kamu sangat ingin
berada disini.”
“Jadi?”
“Jadi kejutan ini kami berikan untuk kamu, Kienanti Prawira Dinadja.”
Tak menyangka akan mendapatkan kejutan gila, Kiena sangat antusias untuk
segera memasuki daerah hutan pinus yang terletak di Imogiri, Jawa Tengah.
“Rolan, ini benar-benar gila. Gue
nggak nyangka bakal beneran berada ditempat ini sekarang.”
“Kamu suka?”
“Banget. Makasih, ya.”
Setidaknya Rolan adalah laki-laki yang baik. Dia akan sangat menjaga
Kiena selama diperkemahan. Dan Billy, mau tak mau harus melepaskan
kekhawatirannya. Meskipun, mungkin ia sebenarnya tengah cemburu.
Semua anak masuk ketenda untuk mengistirahatkan diri sejenak karena nanti
malam akan ada serangkaian acara yang menanti mereka. Kecuali Kiena, yang sudah
terlepas jauh dari tenda. Tak disangka dia benar-benar berada ditengah-tengah
hutan pinus yang selalu disebut-sebut oleh Kizza dulu. Pohonnya yang rimbun dan
menjulang tinggi serta desiran angin yang berhembus laksana music alami sama
persis seperti yang diangankannya.
Pi, kamu tahu aku sekarang berada
dimana? Akhirnya aku sampai pada sebuah tempat yang selama ini kamu impikan.
Aku sangat ingin berbagi kesenangan ini bersamamu. Tahukah kamu bahwa sedari
tadi aku hanya memandangi sekeliling tempat ini. Begitu damai rasanya meskipun
tanpa sosok misterius sepertimu. Langit disore hari yang tampak meskipun
terselimuti sebagian kabut memaksa mengarahkan pandanganku untuk terus menatap
kesana. Dalam tenang aku terdiam, dalam sunyi aku berbagi. Secret of life akan
bersaksi, entah kemana rasa ini akan terbawa. Ataukah mega didepan sana akan
mengajakku tenggelam bersamanya…
“Ada yang lihat Kiena nggak sih? Dari tadi dia belum balik ketenda lo.”
Dany cemas mengkhawatirkan sahabatnya.
“Sebentar lagi dia bakal kegelapan lihat jalan.”
“Iya nih, coba kamu cari deh Bill. Sebelum perasaanku semakin nggak
enak.”
Billy dan Rolan menelusuri sekitar perkemahan. Akhirnya keduanya
berpencar untuk menyingkat waktu. Sementara Kiena masih menikmati keeksotikan
matahari tenggelam diujung sana. Hanya terdiam dan memandangi langit yang
semakin lama semakin meredupkan cahayanya. Dari kejauhan Billy melihat punggung
Kiena. Ia segera berlari akan menghampirinya dan ingin mengomeli panjang lebar.
Namun, setelah berjarak lebih dekat rupanya Rolan telah lebih dulu sampai
ditempat Kiena.
“Ki, ngapain disini? Banyak harimau.”
“Kamu harimaunya?” kiena setengah terkejut kemudian tertawa kecil.
“Balik yuk.”
Ketiganya kembali keperkemahan tanpa bersamaan.
“Kamu, segitu sukanya sama tempat ini?”
“Siapa yang nggak bakal suka, kagum, sama tempat yang…ya seperti kamu
lihat. Ini sumpah, gue suka banget.”
“Banget?”
“Hehehe, iya.”
“Ki!!! Lo kemana aja sih? Tahu-tahu ngilang gitu aja. Nggak ngajak-ngajak
gue lagi.” Dany yang berteriak melihat Kiena datang bersama Rolan.
“Lo tahu nggak Dan?”
“Enggak.”
“Gue baru lihat sunset. Sumpah, keren banget.”
“Lo mentang-mentang lihat barang bagus terus lo pikir bisa seenaknya
tinggalin gue disini? Gitu? Gue kan juga mau lihat Kiena!!!”
“Hehehe, iya iyaaa sorry Dan…”
“Bentar, by the way Billy mana?”
“Billy?”
“Iya Billy. Tadi dia sama Rolan kok yang berangkat nyari lo.”
“Billy ikut nyari gue???”
“Gue disini semua…” Billy yang tanpa rasa bersalah membiarkan kedua
sahabatnya panic terlebih dahulu.
“Tadi kita mencar nyari Kiena biar lebih cepat. Gue tahu Billy pasti tahu
jalan. Makanya gue tinggal aja sama Kiena.”
“Oooh, ya udah. Tuh anak-anak pada…” Mata Dany menuju kearah teman-teman
lain yang tengah menyantap mie kuah dengan lahap karena kelaparan. Di ikuti
oleh Rolan, Kiena dan Billy mereka serentak menyerbu area api unggun.
“Tadi, ceritanya nyari gue? Takut? Kalau dimakan harimau?”
“Lo harusnya terimakasih sama Rolan. Kalau nggak ada dia pasti gue udah
ngomelin lo sepanjang jalan!”
“Gitu?”
Kiena sengaja ingin membuat Billy marah. “Rolan!!!”
“Iya?”
“Makasih ya tadi.”
Rolan mengacungkan jempolnya tanda setuju. Dia masih sibuk menata kayu
untuk tambahan api unggun. Kiena melirik kearah Billy sambil menaikkan kedua
alisnya. “Udah?”
Billy sangat ingin marah dan mengomeli Kiena. Saking marahnya dia tak
kuasa menahan tawa. Diapun tertawa terbahak-bahak. Kiena yang tak mengerti
maksud tawa Billy hanya mengikutinya dan ikut tertawa dengan lebih keras.
“Tuh, nenek sihir khawatir dari tadi.”
“Tapi sukakan?”
Billy yang gemas dengan tingkah konyol Kiena memaksanya untuk meminum
sisa kuah mie yang ada dimangkuknya. “Nih, minum kuah. Biar kenyang. Biar nggak
bawel!”
“Bil, apaan sih? Dany!!! Sahabat lo butuh pertolongan!!! Ada harimau mau
nerkam gue!!!”
Dany hanya tertawa melihat aksi kedua sahabatnya. Keduanya begitu dekat.
Bahkan dia tak sekalipun terpikir bahwa Billy sebenarnya…
Rombongan yang berjumlah tiga puluh dua orang itu menghabiskan waktunya
dengan permainan-permainan ala anak SMA umumnya. Jika ada yang kalah akan
dihukum, entah dengan bernyanyi, bermain gitar, membaca puisi bahkan ada yang
mencoba merayu salah satu perempuan satu kelas dengan Dany dan Kiena, Ligsi
namanya. Menurut gossip dari teman-teman lain, Rannan memang sudah menyukai
Ligsi semenjak keduanya dipertemukan dalam ekskul teater. Dan itu adalah hal
wajar yang umumnya dialami oleh kebanyakan remaja. Rannan yang sudah siap
memulai aksinya dengan bantuan Billy dia membacakan puisi yang dibuatnya
sendiri untuk Ligsi.
…
Disaksikan desiran angin malam ini
Aku memujamu
Sejak dulu
Ligsi
Menyebut kata terakhir, Ligsi mendongak. Sangat terkejut pastinya. Rannan
yang malu-malu berjalan mendekati Ligsi. Dan…
Semuanya berlalu. Ligsi yang telah membuka hatinya untuk Rannan. Namun
Billy belum memberanikan diri untuk lebih membiarkan kemana hatinya akan
condong. Larutnya malam tak menghentikan ramainya perkemahan. Billy, yang tetap
dengan gitarnya mencoba memainkan isi hati yang entah dia tengah bingung atau
malah ingin melarikan diri. Tiba-tiba Kiena datang menghampirinya. “So, kapan
Kizza mau tembak Kayra?” Bisiknya.
Seketika Billy menghentikan petikan gitarnya. Dia memandang kearah Kiena
dalam-dalam. Desiran itu muncul kembali. Padahal ,angin tak sedang
mengitarinya. Bahkan hanya dingin menusuk tulang yang terasa. Kiena yang
menjadi kaku karena Billy semakin mendekat, begitu dekat. Tepat dihadapannya
sekarang.
“Pentasnya baru besuk.” Billy merasa menang karena mampu membuat jengkel
Kiena. Dia menyaringkan suara gitarnya tepat didekat telinga Kiena yang pasti
membuatnya lebih marah lagi.
Persiapan pagi itu telah mencapai kata sempurna. Billy, Dany dan para
pemain yang lain juga telah mempersiapkan dirinya untuk terjun dalam dunia
naskah yang telah dibuat Kiena. Mereka akan lebih mengutamakan adegan dihutan
pinus karena lokasi itu adalah seting yang tepat adegan pemeran utama Billy dan
Dany.
“Ki, lo ngerasa ada yang aneh nggak sih?”
“Apanya Dan?” Kiena sedikit kaget ketika Dany bertanya tiba-tiba padanya.
“Gue ngerasa kalau…”
“Kalau? Apa sih? Ngomong apa lo?” Kiena tambah panic. Dia takut yang
dimaksud Dany adalah Billy.
“Dia, ki.” Dany menunjuk kearah seorang laki-laki yang tengah duduk
bersama Billy.
“Dia kenapa?” Kiena lebih kaget karena dia mengira Dany menunjuk kearah
Billy.
“Dia…kayaknya…sama lo. Dia suka sama lo Ki.”
“Hah, diakan hari ini mau nembak lo!”
Dany lebih kaget dengan pernyataan Kiena. “Nembak? Rolan mau nembak gue?”
Kiena lega karena yang disebutnya bukanlah Billy. “Eeee, iya! Dia bakal
nembak lo.” Kiena diam sesaat. Kemudian membisikkan kata-kata ketelinga Dany.
“Tapi lewat Billy.” Dan dia tersenyum.
“Ah Kiena lo apa-apaan sih?” Dany yang tak kuasa menahan rasa merah
dipipinya langsung meremas lengan Kiena.
“Pinus… maukah kau…” Kiena belum sempat menyelesaikan cuplikan kalimat
tersebut namun mulutnya dusah dibungkam kuat-kuat oleh Dany sehingga Kiena
menjerit kecil, membuat Billy dan Rolan menoleh seketika.
“Kenapa Dan?” Rolan bertanya pada Dany.
“Lagi latihan intens sama penulis scenario!” Teriak Dany.
Billy dan Rolan hanya mengangguk-angguk keheranan. Dan mereka melanjutkan
perbincangan kembali.
“Kiena itu cewek unik. Dia smart, meskipun kelihatan sedikit cuek. Kalau
nggak dekat sama Dany gue juga nggak bakal tahu keunikan dia. Jadi. Lo maju
aja. Semoga berhasil.”
“Thanks ya Rond, gue jadi tahu banyak tentang Kiena dari lo. Sekarang,
gue optimis buat maju. Lo juga, semangat buat penembakan yang walaupun numpang
diskenario. Hahaha, nggak nggak gue bercanda.”
Keduanya bersalaman untuk ingin segera menjalankan rencana masing-masing.
Dan adeganpun dimulai.
Dany terlihat cantik dengan kostum kunonya. Lebih mirip peri penghuni
hutan. Suasana sangat bersahabat pagi itu. Desiran angin pelan mengiringi step
demi step adegan yang dimainkan. Billy dengan pembawaan santai, begitu
menikmati detik demi detik tujuan yang ingin dicapainya. Sebelum memulai
adegannya dengan Dany dia sempat berbincang singkat dengan Kiena. Tiba-tiba
duduk disampingnya, tanpa memandang kearah lawan bicara. Keduanya tetap fokus
pada teman-teman lain yang tengah bermain peran.
“Seandainya ada yang mengutarakan perasaan hatinya sama kamu hari ini,
maka dia adalah orang yang benar-benar tulus mengagumi kamu.”
Kiena hanya menoleh pelan. Bingung, namun dia tetap menganggukkan
kepalanya juga dengan pelan.
“Kamu juga. Jangan kecewakan perasaan sahabat…” Kiena menunjuk dadanya
dengan pasti. “Satu-satunya…”
Keduanya tersenyum. Ada perasaan tak enak muncul kembali. Namun, Billy
memilih untuk segera pergi dari samping Kiena dan dia mempersiapkan diri untuk
adegan berikutnya. Adegan yang mungkin ditunggunya. Mungkin juga tidak.
Dan kubiarkan merasuk kalbu
Wahai jiwa nan hijau
Kesejukanmu merenggut sedihku
Mengeram aku dalam amarah
Meredam aku dalam lelah
Tak secuilpun tergores dibenakku
Kau
Hijaulah dalam tandus
Wahai pinus…
Kayra yang melihat sosok lelaki berdiri didepannya membelakanginya. Ia
ragu bahwa yang dilihatnya adalah lelaki yang diinginkannya. Ia berlari
menjauhi sosok itu dan bersembunyi dibalik salah satu pohon pinus yang begitu
besar. Sayangnya, dibalik pohon itu tertuliskan pengakuan seseorang yang sangat
mengaguminya yang tak lain adalah lelaki yang masih berdiri disana.
Meskipun ada bait yang tertinggal,
dia tetap memikatku
Di tanggal 10 mei 2010 dia terjatuh
dari sepeda, pipinya yang chubby memar
Namun senyumnya tak berubah
Senin itu dia tampil dengan rambut
baru, mungkin poninya terlihat sedikit kependekan
Membuat mukanya semakin bulat
membingkai, aku tetap suka
Aku pernah diam-diam mengambil
fotonya dari binder temanku
Masih memakai seragam olahraganya,
rambut di ikat tinggi-tinggi
Membawa botol minum kesayangannya
lengkap dengan sedotan
Wajahnya Nampak kucel dan berkeringat
Dia lebih memesona
Pinus…
Bolehkah aku mengusap keringatmu
ketika kau sedang terlelah?
Perlahan lelaki itu membalikkan badan. Kayra yang telah yakin bahwa dia
adalah seseorang yang hadir yang dia inginkan untuk membawa hatinya.
Pelan-pelan dia menampakkan diri dari balik pohon. Keduanya berpandangan…
Dan…
Selesai…
Applause yang begitu semangat mengakhiri adegan Billy dan Dany. Namun,
rupanya adegan itu dilanjutkan secara spontan oleh Billy. Dia mengambil
gitanya, berjalan pelan menghampiri Dany yang masih tertegun dihadapannya.
“Pinus…” Billy menoleh kearah Kiena untuk memastikan perasaannya.
Kiena dengan senyum melembut penuh kepastian ditujukan untuk Billy.
Anggukan yang ditunggu Billy dari Kiena juga telah ia dapatkan.
“Kayra, Kiya, Dany, Danya Fitra Regana… Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika
kau sedang terlelah? Tertanda Erthein Deliuska Billy.”
Dany masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Billy didepan
semua orang. Meskipun itu adalah yang sebenarnya dia harapkan selama ini. Dia
hanya mengangguk, tanpa suara. Kali ini bukanlah adegan, bukan juga latihan.
Namun, Billy benar-benar telah menyatakan perasaannya pada Dany. Semua orang
masih tersipu dengan pengakuan romantis Billy. Sementara Kiena yang dengan
senyum perihnya menelan semua rasa pahit yang tampak jelas didepan mata. Entah
kenapa rasanya begitu nyilu. Ia coba redam dan terus meredam. Dany adalah
sahabat yang baik. Dia berhak mendapatkan yang terbaik pula. Pelan-pelan ia
meninggalkan sekerumunan itu. Mengundurkan diri secara perlahan. Sampai Billy
tak dapat melihat sosoknya lagi ketika ia tengah memeluk erat Dany.
Kiena menjauhi perkemahan. Ia kembali mendatangi tempat indah yang
baginya sangat nyaman untuk mengadu pada pepohonan yang berdesir pelan. Terik
matahari yang terhalang oleh rindangnya daun-daun serta kabut tebal diatas sana
sesekali menyoroti tubuh Kiena.
Pi, mungkin ini saat yang tepat aku
melupakan semuanya. Aku memang harus membuka mata bahwa kamu tak pernah ada dan
tak akan pernah ada untukku. Mengingatmu, hanya akan membuat sesak dadaku. Dan
aku tak mau terus menerus terpenjara dihutan pinus ini. Aku ingin lepas, dan
membiarkan hatiku terbawa oleh desiran angin yang akan datang menghembusku.
Akan kukubur namamu atas nama cinta yang pernah singgah dan berarti tiga tahun
lamanya.
Kiena begitu berkonsentrasi dengan secret of life sampai ia tak mendengar
langkah kaki seseorang yang mendekat dari belakang.
“Kamu disini?”
Kiena kaget dan sontak menoleh kebelakang. “Rolan?” Ia cepat-cepat
menutup bukunya.
“Lucu ya?”
“Hhhh…”
“Melihat pemain yang jatuh cinta dengan lawannya.”
“Iya…”Kiena mengangguk pelan. “Itu hal yang wajar.”
“Lalu, bagaimana menurut kamu dengan ketua Jurnalis yang mengagumi
penulis skenarionya sendiri?”
Kiena menoleh cepat.
“Apa itu juga wajar?”
Kiena, kamu baru saja melepas segala
kenangan tentang pinus. Sekarang desiran angin datang untuk menghembus hatimu
yang beku sekian tahun. Bukan dia, bukan juga dia…
“Aku memang bukan Billy, yang mampu membuat semua orang terkesima. Aku
juga bukan satu dari bagian pohon pinus disini yang membuat kamu jatuh cinta
dengannya untuk berlama-lama menikmatinya. Akau hanyalah seorang yang mampu
melihatmu dari jauh dan menunggu kesempatan itu tiba hingga detik ini.”
“Tapi…aku hanya seorang penulis biasa. Aku bukan orang yang special.”
“Dimataku, special itu adalah jika seseorang mampu memberikan banyak
kejutan bagi orang lain. Dan itu kamu. Kamu telah memberikan kejutan bagi kami.
Semuanya Ki. Semua orang kagum sama kamu. Termasuk aku,”
“Kamu yakin?”
“Beri aku keyakinan itu, agar aku benar-benar yakin.”
Kiena tersenyum pelan dan menganggukkan kepalanya.
“Jadi?”
“Iyaaa.” (karena aku tak pernah yakin dia ada dan siapa…)
To be continue,