Selasa, 02 April 2013

this novel is dedicated to someone who gives me spirit of life


PINUS OF LOVE

Aku tak pernah mengerti, kenapa dalam persahabatan selalu berakhir dengan perpisahan ketika keduanya mengagumi hati yang sama. Tak lebih dengan setiap kesempatan yang pernah ku alami. Meskipun akhirnya, tak ada salah satu dari kami yang memilikinya. Dan, kami dengan sendirinya memutuskan persahabatan indah itu. Bukan maksudku, namun, kini terjadi lagi. Dan entah akan ber ending dengan bagaimana.
Aku bukanlah sahabat yang jahat dan sok egois ketika dalam hal apapun seperti tokoh antagonis di dalam sebuah cerita. Namun, apakah itu artinya aku juga harus mengalah ketika cinta itu benar-benar datang dan aku tenggelam di dalamnya? Bukankah, setiap kita berhak untuk merasakan jatuh cinta? Atau memang inikah pasangan cerita yang begitu mendalam? Antara persahabatan dan cinta…
Ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Sekolah vaforit yang ku idam-idamkan bersama Danya dan juga Revina, sahabat dekatku ketika masih duduk di bangku SMP dulu. Namun, itu dulu. Ketika kami masih bersahabat erat. Dan sudah tidak ada cerita lagi ketika konflik percintaan itu datang. Kini, aku hanya tinggal berdua dengan Danya. Revina memutuskan untuk tidak satu sekolah lagi dengan kami. Dan melanjutkan SMA nya di sekolah lain.
“Ehm, tas baru nih.” Kiena berdeham ketika melihat tas kinclong berwarna silver yang terselempang di tubuh Danya.
“Iya dong. Sekolah baru, semuanya baru lah. Dari pada punya lo, udah kucel gitu masih juga di pakek.” Danya tak mau kalah omongan.
“Inikan kado ulangtahun dari Rere. Gue bakal terus make sampe tas ini udah benar-benar nggak bisa di pakek lagi.” Kiena memegangi tas itu dengan setengah mengingat kenangan-kenangan mereka ketika masih bersama dulu.
“Udah lah Ki, lagian juga dia yang udah mutusin buat ninggalin kita.”
“Enggak, sebelum masalah itu datang.” Kiena tampak menyesali apa yang sudah terjadi dua tahun yang lalu.
Dulu ketiganya bersahabat dekat. Bahkan selalu bersama kemanapun mereka pergi. Mengikuti ekskul yang sama, nongkrong bareng, mempunyai tempat vaforit ketika akan menggosipkan berita terhangat, makan di kantin bersama, mempunyai kemampuan yang hampir sama di seluruh mata pelajaran, meskipun ketiganya di pisahkan dengan kelas yang berbeda. Sampai dengan menyukai cowok yang sama. Namun tidak untuk Danya. Karena waktu itu dia sudah memiliki pacar terlebih dahulu ketimbang kedua sahabatnya itu. Kienanti, Kiena dan Revina atau biasa di panggil Rere.
“Hello, lo nggak mau masuk kelas? Udah bel tuh.” Danya menggamit lengan Kiena dan membawanya menuju kelas.
Kali ini keduanya dipersatukan dengan kelas yang sama juga bangku yang bersebelahan. Merangkai kekompakan yang begitu membuat para siswa lain iri dengan kepandaian keduanya. Namun kali ini, mereka tak mengikuti ekskul yang sama. Dany lebih memilih untuk mengikuti ekskul teater sedangkan Kiena tertarik dengan ekskul jurnalis yang selalu menuangkan ide-ide brilian untuk menginspirasi para pembaca dengan imajinasinya dalam bentuk tulisan.
Seperti siang ini, keduanya berpisah untuk mengikuti ekskul masing-masing dan akan bertemu kembali untuk pulang bersama nanti sore.


Kiena sudah menunggu di parkiran terlebih dahulu ketika Dany melambaikan tangannya yang Nampak baru saja keluar dari kelas teater.
“Gimana sama kelas baru lo Dan? Asyik nggak?” Kiena menaik-turunkan kedua alisnya kearah Dany.
“Oke sih. Cuman belum terlalu akrab aja satu sama lain. Lo tau nggak Ki, tadi pas perkenalan kita pada di suruh berekspresi lepas gitu.”
“Maksudnya?”
“Jadi gini, masing-masing itu diharuskan memperkenalkan diri dengan kemampuan yang kita bisa. Kayak puisi, vocal, ada yang dance juga lo, ada satu yang bikin gue berkesan Ki.”
“Apa coba?”
Ketika keduanya tengah menaiki sepeda masing-masing dan masih asyik menceritakan pengalaman pertamanya, orang yang dimaksud Dany lewat didepan mereka.
“Dan, apa Dan?”
“Woey, Dany…!” Kiena terus memanggil sahabat yang ada di sebelahnya itu seketika terhenti bercerita.
“Kiya? Belum pulang?” Sapa seorang lelaki yang lewat didepan Dany dan Kiena.
“Ini baru mau pulang sama teman gue.” Sambil Dany menoleh kearah Kiena.
“Duluan ya.” Lelaki itu kemudian meninggalkan mereka berdua.
“Iya, Rond.” Dany melambaikan tangan pada lelaki itu.
“Kiya? Sejak kapan nama lo jadi Kiya?” Kiena kebingungan sendiri melihat sahabatnya, calon pemain teater itu.
“Gue belum selesai cerita nih. Jadi setiap anggota itu diharuskan mempunyai nama kecil yang akan di pakai ketika kita lagi latihan teater. Kiya itu nama kecil gue, bagus kan?” Dany senyum-senyum sendirian.
“Nama jelek gitu apa bagusnya sih?” Kiena mencibir dan berusaha meledek Dany.
“Kiya itu kepanjangan dari Kiena dan Danya. Coba, lo masih mau bilang nama lo juga jelek?” Dany mulai mengayuh sepedanya dan keduanya berjalan menuju pulang beriringan.
Kiena hanya manggut-manggut mengiyakan omongan Dany.
“Kalo yang barusan nyapa gue itu namanya Billy. Tapi kalo di teater dia di panggil Arond. Yang tadi mau gue certain ke lo ya dia itu Ki.”
“Emangnya si Billy atau si Aron atau siapalah itu namanya, kenapa sama dia?” Kiena masih sok cuek.
Billy adalah salah satu anggota klub teater yang akan menjadi teman baru Dany. Dia anak kelas X5 sedangkan mereka, Dany dan Kiena berkelas di X2. Kocak, ramah dan senang membawakan situasi dengan ending yang mengesankan. Itu juga salah satu yang telah dilakukannya di kelas teater siang tadi. Bermodal gitar dan suara yang mendukung, dia tidak menyanyikan sebuah lagu. Melainkan hanya memetik-metik senar gitarnya agar berbunyi asal-asalan. Kemudian di tengah petikan senar gitar itu dia menyelipkan kata-kata yang lebih terangkai menjadi sebuah syair lagu yang berisikan nama seluruh teman barunya yang ada di klub teater sambil menghafalnya satu per satu. Dan dengan sendirinya applause yang serempak menyambut berakhirnya perkenalan Billy. Sejak itulah nama Billy mulai banyak di bicarakan oleh para fans yang mengidolakannya.


            Siang itu pada jam istirahat pertama Dany dan Kiena menghabiskan waktunya untuk mengisi perut di kantin. Tanpa di duga hampir seluruh meja yang berisikan cewek-cewek popular di sekolah itu sedang membicarakan satu nama, yaitu Billy.
            “Ki, lo dengar nggak tuh. Masak semua lagi pada ngomongin Billy.” Dany berusaha cuek dan menyantap bakso yang ada di depannya.
            “Emangnya kenapa Dan? Wajar kali. Namanya juga ngefans. Bentar lagi kita pasti juga bakal kayak gitu. Gue jadi ingat sama Rere nih Dan…” Mimiknya seketika berubah menjadi sedih mengingat sahabatnya yang tak pernah ada kabarnya sampai sekarang.
            “Ki, sampai kapan sih lo mau ngerasa bersalah terus? Udah deh lupain Rere, ok.”
            Kiena hanya membalasnya dengan tatapan yang begitu dalam kepada sahabat satu-satunya itu.
            “Lagian ya Ki, nggak Cuma mereka kok yang mulai ngefans sama Billy. Kayaknya gue juga deh.” Dany merasa pipinya mulai memerah setelah mengutarakan isi hatinya pada Kiena.
            “Huuuuuu, pantas aja lo sirik sama mereka. Udah yuk cabut, jangan sampai lo malu-maluin gue kayak dayang-dayang itu.” Kiena menarik lengan Dany dan keduanya meninggalkan kantin.
“Eits, sialan lo. Emang gue cewek apaan???” Dany pura-pura marah.
“Hahahaha, becanda kali.”
Seluruh lorong tampak ramai ketika jam istirahat berlangsung. Dany dan Kiena duduk di taman tak jauh dari kelasnya agar keduanya tak kesulitan masuk ke kelas ketika jam istirahat usai nanti. Alasan lain adalah karena mereka belum menemukan tempat vaforit yang bisa di jadikan sebagai tempat nongkrong seperti di SMP dulu.
Dari kejauhan Nampak gerombolan anak-anak kelas X juga yang hendak masuk kelas dimana ruangan mereka berada di lantai 2. Termasuk Billy. Dan kini langkah itu semakin dekat dengan posisi Dany dan Kiena yang tengah berdiri hendak memasuki kelas mereka.
“Danya, nggak masuk kelas?” Sapa Billy kepada Dany sambil tetap meneruskan langkahnya pelan.
“Eh, ini mau masuk.” Dany menunjuk ruang kelas yang ada di depannya dengan sedikit grogi.
Dany masih terkesima hingga setelah gerombolan itu berlalu. Dia mengelus-elus tembok kelasnya. “Aduh Ki, kok gue jadi salting gini sih.”
“Iya gue tau. Orang lo aja sampe hampir jatuh gara-gara nggak lihat jalan.” Kiena menertawakan kekonyolan sahabatnya itu. “Emang, segitunya ya lo terobsesi sama Billy?”
“Lo belum pernah lihat dia sih Ki kalo lagi acting. Jago banget deh.” Dany masih memperkuat argumennya.
“Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa Ki?”
“Ki, apaan sih?”
“Jangan-jangan, dia kayak gitu juga Cuma acting lagi.”
“Ah, Kiena!!! Lo ada-ada aja. Ya beda lah.”
“Iya-iya, tapi nggak usah kenceng gitu kali ngomongnya. Udah yuk ah masuk kelas. Lam-lama gue timpuk lo nanti pake sepatu.
“Yeeee, Kiena…”


Minggu kedua
“Kalo lo nggak percaya dengan kehebatan Billy, lo boleh kok buktiin sendiri. Datang aja nanti ke kelas teater gue. Kelas lo kan selalu selesai duluan dari kelas gue.” Dany masih tetap berusaha meyakinkan Kiena.
            Gue boleh aja nih sok cuek di depan Dany. Tapi lama-lama jadi penasaran juga sih melihat anak-anak yang pada heboh ngomongin Billy. Apa lagi kehebohan Dany yang nyata banget di depan gue. Kyak apa sih dia, perasaan juga kalo ketemu Cuma biasa aja gitu.
            “Boleh, terus kalo gue udah lihat dia habis itu apa?”
“Maksud lo?”
“Yaaa, gimana kalo setelah lihat Billy di teater gue jadi ikutan suka sama dia.”
“Aaaah, Kiena. Lo apaan sih? Becanda kan?”
“Hahahahaha, gue bakal jadi saingan lo buat ngedapetin Billy, Dan.”
“Ah, udah deh. Gue tunggu elo di kelas. Jangan sampe nggak lihat! Rugi lo nanti.”


“Well students, go on to the next chapter. We are going to discuss about narrative text. Have you ever hear?” Suasana kelas menjadi begitu tenang seketika mendengar Bu Dewanti memberikan pertanyaan kepada mereka.
“Ya, Kienanti. Can you tell me about narrative text?”
“Yes, I can. Maybe it is about a funny story, mom.”
“Good. Then, what is the different with recount text, Danya?”
“In generic structure mom.”
“Ok, good answer.”
“Excuse me, Mom. May I go to toilet?”
“Yes, please. Kienanti.”
Lagi-lagi keduanya bersaing secara sehat di kelas untuk mengambil hati para guru dengan kepandaian masing-masing.
Sebenarnya Kiena tak sepenuhnya ingin pergi ke toilet. Dia malah naik ke lantai 2 dan menuju ke kelas Billy. Hanya ingin melihat seperti apa akitivitasnya di kelas tanpa di ketahui oleh yang bersangkutan. Suasana kelas Billy sedikit ramai karena guru yang seharusnya mengajar baru saja meninggalkan ruang kelas mereka.
Pelan-pelan Kiena melewati ruang kelas itu dan berlagak seolah hanya sekedar lewat agar tak ada yang mencurigainya. Dia mendapati Billy tengah bergerombol dengan teman-teman lelakinya di deretan bangku paling belakang. Sekilas, ada seorang siswa perempuan yang nampaknya hendak mendekatinya dengan menyodorkan sebuah buku. Entah apa maksudnya. Namun, sepertinya Billy hanya menanggapi dengan biasa-biasa saja.
Gagal deh usaha gue buat cari kejelekan Billy.
Kiena kembali ke kelas tanpa membawa hasil apapun. Meskipun Dany tidak mengetahui itu.
“Lo ke toilet lama banget sih.” Bisik Dany setelah Kiena kembali duduk di sebelahnya.
“Iya nih, gue kesasar. Hehehe…”
“Dasar lo!!!”


Bel pulang sekolah membuyarkan konsentrasi seluruh siswa. Termasuk Dany dan Kiena yang lagi-lagi membahas tentang Billy.
“Aduh Dan, bisa nggak sih sekalii aja lo nggak ngomongin Billy.”
“Yaa, Kiena. Hmmm, gue punya ide deh. Gimana kalo kita taruhan?”
“Taruhan apa maksud lo?”
“Ya taruhan. Kalo setelah lihat Billy latihan teater lo nggak ada perasaan apa-apa berarti lo menang. Tapi kalo lo jadi suka sama dia, lo kalah. Dan yang kalah harus traktir makan bakso selama seminggu. Gimana? Bagus banget nggak tuh usul gue?
“Itu sih namanya enak di elo nggak enak di gue dong!”
“Dimana bagian nggak enaknya sih? Jadi, lo takut nih bakalan suka beneran sama Billy? Hahaha.”
“Ah, norak banget sih lo. Oke! Gue mau. Tapi kalo ternyata gue nggak suka sama dia, elo dong berarti yang kalah. Dan yang kalah harus antar jemput gue ke sekolah selama seminggu. Gimana? Oke nggak tuh? Hahaha”
“Dil”
Keduanya bersalaman seperti baru saja menyetujui perjanjian renville.


Klub jurnalis lebih dulu selesai 20 menit dari klub teater. Saatnya Kiena membuktikan bahwa apa yang selalu di idolakan Dany itu tak seperti kenyataannya. Dia berjalan melewati lima ruang dari ruang jurnalisnya. Ruang itu Nampak masih gaduh. Kelas teater memang belum selesai. Jendela kelas yang memang disusun tak begitu tinggi sehingga tidak menghalangi pandangannya masuk dan melihat kegiatan yang sedang berlangsung saat itu. Nampak salah satu dari mereka berusaha melambaikan tangan kearah Kiena. Siapa lagi kalau bukan Dany.
Kiena berdiri di balik pintu dan membiarkan sebagian dari tubuhnya terlihat oleh para anggota klub teater. Dan merekapun tak merasa terganggu dengan kehadirannya disana. Tapi yang paling mengejutkan adalah, ketika giliran Billy menampilkan hasil karyanya yang entah kapan ia buat, entah ngawur atau tidak, sehingga seluruh isi ruang menjadi begitu kaget. Terlebih Kiena. Nampaknya dia memang sangat berbakat menjadi seorang actor. Suasana begitu hening ketika Billy atau yang akrab di panggil Arond mulai memetik senar gitarnya seperti waktu itu.
Tak pernah ragu untuk menggerakkan jemariku
A b c…
Dan begitu seterusnya
Tapi tiba-tiba
Jari ini terasa membeku
Apakah karena kehadiranmu
Wahai bidadari yang berselimut di balik pintu
Sudikah kau mengijinkanku melihat wajahmu
Billy beranjak dari kursi yang di kelilingi oleh para anggota teater lainnya. Entah kapan proses itu berjalan. Dengan sekejab pemilik gitar itu sudah berada di hadapan Kiena. Dan tanpa ragu mempersilakannya untuk masuk dan bergabung bersama anggota yang lain. Kiena yang masih membatu tanpa sadar telah menjatuhkan tasnya ke lantai. Ketika sadar akan kebodohan itu sesegera ia mengambil. Namun, ia terlambat karena tasnya sudah berada di tangan Billy.
“Lain kali hati-hati ya…”
Adegan singkat yang mengundang tatapan sinis para anggota cewek yang tentunya menjadi iri dan begitu cemburu kepada Kiena.
“Eh, sorry. Gue cuman mau nunggu Dany kok.” Kiena yang merasa sangat malu menarik mundur kakinya dan segera berlalu dari tatapan banyak mata yang seolah ingin mencekik lehernya saja.


“Ki, sialan lo. Belum apa-apa udah berhasil aja tuh nyuri perhatiannya Billy.” Protes Dany.
“Gue? Apa tuh maksud lo? Gue malu banget nih gara-gara tadi.” Kiena memegangi lehernya dan kelihatan salah tingkah dengan kehadiran Dany.
“Jadi gimana nih? Kayaknya gue bakal dapat bakso deh selama seminggu.” Dany berjalan setengah meninggalkan Kiena yang masih tercengang.
“Iya deh terserah lo aja, meskipun alasannya bukan karena gue suka sama Billy. Tapi lebih pada kasihan sama teman gue satu ini. Mau beli bakso aja pake minta-minta.” Kiena berusaha memenangkan adu mulutnya.
“Eittt, sialan lo.” Dany hendak berbalik kearah Kiena ketika seseorang memanggilnya dari belakang.
“Ki!!!”
“Iya”
“Iya”
Spontan kedua kepala yang merasa memiliki nama itu menoleh.
“Eh, sorry. Maksud gue Kiya, Danya.” Billy merasa canggung dengan situasi tak mengenakkan.
“Ada apa Bill? Dany menoleh kearah Kiena lalu beralih menatap Billy.
“Gue barusan di kasih bocoran katanya bulan depan kita mau ada outdoor gabung sama anak jurnalis.”
“Serius? Terus kita mau perform apa?” Dany mendadak berubah mimic mendengar apa yang baru saja Billy sampaikan.
“Kalo masalah itu masih mau di rapatin bareng sama anak jurnalis sekalian.”
“Waaah, keren banget tuh Bill.”
“Iya, nanti lo maukan jadi partner gue Dan?”
“Partner apa?”
Billy hanya melemparkan senyum kemudian berlalu meninggalkan Dany juga Kiena yang berjarak satu jengkal dengan tempat dimana Dany berdiri.
“Ada yang nggak bisa bobok nih nanti malam…” Kiena sengaja menabrak bahu Dany pelan.
“Eh, lo buyarin lamunan gue aja!”
“Jangan ketinggian. Entar sakit lo kalo jatuh.”
“Kayaknya nggak bakal kerasa deh kalo ada Billy.”
“Dan, Billy naksir lo tuh.”
“Iya, gue masih kesetrum aja dari tadi. Magnetnya kerasa banget Ki.”
“Kebanyakan ngayal lo!”
“Lo sendiri, gimana?”
“Gimana apanya maksud lo?”
“Kapan tuh mau naksir cowok idaman lo?”
Kiena baru menyadari bahwa telah lama dirinya tak merasakan yang namanya jatuh cinta. Lagi-lagi semenjak putusnya persahabatan mereka, Kiena dan Rere. Dahulu, mungkin itu adalah cinta pertama Kiena. Ketika sebuah ekskul mempertemukan keduanya. Dari situ, Kiena dan Kizza mulai saling mendekatkan diri. Di usia mereka yang masih begitu belia namun itu adalah cerita terindah yang pernah terukir dalam album memori Kiena. Yang tak pernah terlupakan adalah ketika Kiena pernah mengikuti lomba baca puisi dan tiba-tiba ia lupa dengan syair di bait ketiga. Saat itu ia kebingungan melanjutkan deklamasi. Namun Kizza telah menyelamatkannya dari demam panggung yang sedang di alami. Ia berdiri dan berusaha menggerak-gerakkan kedua tangannya yang menggambarkan isi dari bait penggalan puisi Kiena. Berkat Kizza, Kiena pun meraih juara satu dari sekian banyak siswa yang mengikuti lomba baca puisi.
Mengetahui kedekatan mereka, Rere yang diam-diam juga menyukai Kizza berusaha mengambil hatinya dan mulai membenci Kiena. Sejak itulah Kiena tak lagi ingin jatuh cinta. Apalagi jika ada seseorang yang ingin berusaha dekat dengannya. Ia langusng abaikan begitu saja. Tak lebih karena ia takut kehilangan sahabat-sahabat yang dimilikinya.


“Kienaaa!!! Gue seneng banget nih.” Dany berteriak histeris dan memeluk erat sahabatnya.
“Lo kenpa sih? Kesambet setannya Billy ya?”
“Iya nih, nanti siang Billy ngajak gue pulang bareng.” Dany yang masih kegirangan tanpa sadar begitu erat memeluk Kiena sehingga kesulitan menghirup udara segar.
“Hah, lo lupa ya? Hari ini kan jadwal lo nganterin gue pulang? Terus gue gimana dong?!” Kiena seketika protes mendengar pernyataan mengejutkan Dany.
“Lo bawa sepeda gue juga nggak apa-apa kok, yah, please Ki… inikan pertama kalinya Billy ngajak gue pulang bareng dia. Masak mau gue lewatin gitu aja???”
“Gini nih, korban teman makan cinta.”
“Ki, dari sekian banyak cewek yang berusaha deketin dia, baru gue lo yang dapat respon balik. Lo harusnya senang dong sahabat lo ini bisa dapat pacar baru lagi.”
“Iya iya, blab la bla…”
“Ki lo baik banget, besuk gue traktir deh.”
Walaupun kedengarannya menjengkelkan tapi di mata Kiena Dany tetaplah sahabatnya yang begitu dia sayangi. Mungkin disinilah awal mula cerita di mulai.


“Hai, Ki…”
“Eh, iya, kamu, Kiena maksud gue.”
“Oh, hai…”
Billy sudah berada di parkiran ketika Dany dan Kiena hendak mengambil sepeda Dany.
“Lhoh, Kiena gimana Dan?”
“Hmmm, Kiena biar bawa sepeda gue aja. Nggak apa-apa kok.”
“Dia mau pulang sendirian? Ikut kita aja sekalian. Jadikan ntar plangnya tetap bisa barengan.”
“Iya juga sih, Ki, lo nggak apa-apa naik sepeda gue?”
“Gue langsung pulang aja deh. Masak iya ada orang pacaran gue ikutin?”
“Hahaha, siapa yang mau pacaran Ki? Gue cuman mau kasih liat suatu tempat aja kok ke Dany. Yuk, kalo lo mau ikut.”
“Iya, Ki. Lo ikut aja deh. Ntar kalo lo ilang gimana? Gue dong yang disuruh tanggung jawab sama nyokab lo, hahaha.”
Akhirnya Kiena menerima ajakan mereka yang dengan berat hati harus melihat sahabatnya itu berakrab-akraban dengan Billy. Cowok yang dia ingin mengetahui kejelekannya, namun belum pernah berhasil. Sampai sekarang. Bahkan, dia tampak semakin baik saja. Dia berusaha tak menghiraukan dua orang didepannya dan lebih asyik menikmati suasana jalan yang tengah di lewatinya. Ia baru sadar, belum pernah melewati jalan ini. Jalan yang tampak lurus, rindang dengan banyak pepohonan juga sawah membentang di kanan-kirinya. Kendaraan juga tak banyak lewat di jalan ini. Sehingga membuatnya sangat menikmati keindahan panoramanya. Sesekali ia berdiri dari sepeda, sambil melepaskan kedua tangannya dari setir dan berteriak. Tempat indah itu telah membuatnya jatuh cinta.
Ternyata Billy orangnya romantis juga. Kayaknya gue udah salah menilai dia selama ini. Eh, kenpa tiba-tiba gue jadi mikirin dia, hhh…
Kiena berhenti di salah satu tempat yang rindang dan sebentar kemudian mengeluarkan kamera digital dari dalam tasnya. Pemandangan didepannya Nampak begitu lepas. Sejauh matanya memandang hanya ada hamparan sawah yang hijau. Sesekali ia menghirup udara yang tak pernah Ia dapatkan di tengah kota yang padat akan pemukiman itu. Kemudian duduk di bawah pohon besar dan mengeluarkan beberapa benda lagi. “The secret of life” adalah tulisan sampul depan dari buku itu. Yang selalu di bawanya kemanapun ia pergi. Dan ketika ia menemukan hal baru yang dinamainya dengan sebutan “pinus”. Pinus adalah kata yang ia dapat dari Kizza yang sangat menyukai pohon pinus. Dulu, Kizza selalu mengatakan bahwa dirinya ingin sekali berkemah di tengah pepohonan yang menyejukkan itu. Bahkan, dia telah dengan sengaja memberikan nama itu kepada Kiena. Hanya Kiena yang memiliki nama unik itu. Dan hanya Kizza yang boleh memanggilnya dengan sebutan pinus. Iapun tak keberatan untuk setiap hari membiarkan Kizza memanggilnya dengan nama pinus.
Love
Pinus…
Hijau yang sedang ada di hadapanku saat ini, sama dengan apa yang kamu angankan dulu. Meskipun aku belum pernah merasakan hijaunya, sejuknya, rindangnya pohon pinus yang selalu kamu sebut itu…
Namun, ini membuatku kembali mengingatmu


            Dany yang tengah asyik memperbincangkan teater dengan Billy kemudian berhenti di tepi jalan. Dengan panorama yang tak jauh berbeda seperti apa yang di lihat oleh mata Kiena. Kemudian keduanya baru menyadari bahwa Kiena tak ada di belakang mereka.
            “Bill, Kiena mana?” Dany kaget melihat sahabatnya tak bersamanya.
            “Lhoh, gue kira tadi lo ngawasin dia.”
“Iya, sih. Tapi udah enggak lagi setelah gue keasyikan ngobrol sama lo.”
            “Lo gimana sih? Kalo dia nyasar gimana? Gue yakin dia belum pernah lewat jalan sini. Ya udah sekarang kita balik lagi aja.”
            “Yuk, agak cepat Bill. Ntar dia keburu ilang lagi.” Dany panic mencari Kiena yang ternyata malah asyik dengan dunianya sendiri.


            “Nah, tuh. Kiena bukan Bill?”
            “Kayaknya.”
            Dany dan Billy segera menemukan Kiena yang tengah duduk di tepi jalan. Masih dengan memangku buku secretnya.
            “Ki…Kiena. Lo ngapain disini? Gue panic nyariin lo. Sorry yah, gue keasyikan ngobrol sama Billy tadi.” Dany nyerocos mengkhawatirkan sahabatnya itu.
            “Kalian berdua ini kenapa sih? Kompak banget. Gue nggak apa-apa kok.”
            “Iya Ki. Sorry ya, harusnya tadi kita barengan aja biar lo nggak ketinggalan.” Billy merasa bersalah karena telah meninggalkan Kiena.
            “Hmmm, gue nggak apa-apa, serius. Ini udah selesai kok.” Kiena melemparkan senyum kegembiraan kepada dua orang yang berdiri didepannya lalu memasukkan kembali kamera digital dan buku secretnya kedalam tas.
            “Maksudnya?” Billy tak mengerti apa yang sedang di omongkan Kiena.
            “Ooooh, gitu tuh Bill kalo jadi jurnalis. Kemana-mana selalu dapat inspirasi buat nulis. Lo tahu nggak, Kiena ini jago banget nulis. Dulu aja waktu SMP dia juara satu tuh lomba bikin cerpen.” Dany menjelaskan tentang Kiena secara gamblang.
            “Kiena anak jurnalis?”
            “Iya, masak lo nggak tahu sih? Dan pastinya dia juga bakal ikut dalam acara outdoor bareng kita bulan depan.” Dany yang masih dengan bangga menjadi menejer dadakan Kiena.
            “Heh, kalian berdua. Udah belum ngomognya?! Ngapain sih dari tadi ngomongin gue terus? Cabut ah, yuk.”
            “Eh, kayaknya asyik nih naik sepeda lo, Dan.” Billy melirik kearah sepeda Dany yang dipakai Kiena.
            “Hah, naik sepeda gue? Terus gue sama Kiena gimana?”
            “Ki, gue pinjam sepedanya Dany, ya. Elo pakai motor gue aja. Biar Dany boncengan sama gue.”
            Dany terpana mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Billy.
            Billy mau bonceng gue naik sepeda. Dan gue duduk di depan??? Oh my God…
            “Ki, lo bisa kan nyetir motor?”
            Kiena hanya mengangguk heran. Pikiran itu kembali terpecah. Ada sedikit rasa iri yang muncul dalam benak Kiena ketika melihat sahabatnya tengah asyik di mabuk cinta. Ya, Billy. Lagi-lagi dia begitu baik dan mempesona di hadapan semua orang termasuk dirinya.
            Entah ia menjadi begitu kesal. Dinaik-turunkan kaca helm milik Billy yang di pakainya karena ukuran helmnya terlalu besar di kepala Kiena. Dia juga jadi kurang konsen nyetir. Lebih baik dia di tinggal saja dari pada harus melihat orang lain berpacaran.
            Sementara Billy dan Dany tengah asyik menikmati perbincangan mereka. Sesekali keduanya tertawa bersamaan.
            Menghindari kebosanan, Kiena menemukan ide untuk mengeluarkan kamera digitalnya dan merekam sepanjang perjalanannya. Sesekali ia menangkap Billy dan Dany dalam rekamannya. Keduanya tampak narsis dan kompak.
            “Gue bikinin kalian video klip yah. Buat kenang-kenangan kalo kita pernah lewat jalan ini bertiga, hahaha.” Kiena berteriak kegirangan seperti baru menemukan harta karun.
            Kalau di lihat sih keduanya memang serasi. Dan cepat sekali akrab. Ketika ngobrol berduapun juga tetap nyambung. Jadi, harusnya gue nggak ada alasan buat nggak suka Dany dekat sama Billy.
            Kiena kembali memasukkan kamera digitalnya. Namun hal itu membuatnya kesulitan dalam mengendalikan keseimbangan. Kameranya telah berhasil dimasukkan. Namun, karena ia terlalu berkonsentrasi mengobok-obok tasnya sampai-sampai tak melihat ada bagian jalan yang rusak ketika di lewatinya dan mengakibatkan motor yang di kendarai menjadi berbelok tak karuan.
            Brugggg!!!
            “Awww”
            Kiena terjatuh dari motor. Billy dan Dany yang berboncengan di depannya seketika menengok ke belakang mendengar suara Kiena yang tengah mengaduh kesakitan.
            “Kiii, Kiena!!!” Lagi-lagi Dany berteriak kaget melihat sahabatnya telah tersungkur dari atas motor. Dan sekarang terselonjor di tepi jalan.
            “Ki, mana yang sakit? Sorry yah, gara-gara gue lo jadi jatuh kayak gini. Gue anterin pulang yah.” Dany panic bukan main.
            Begitu halnya dengan Billy. Ia hanya terdiam namun rasa bersalahnya seolah melebihi rasa bersalah Dany.
            “Dan, gimana kalo lo naik sepada aja? Kiena biar gue yang bonceng pake motor. Nanti kita sama-sama anter dia pulang.”
            “Iya deh, yang penting Kiena nggak kenapa-napa, Bill.”
            “Eh, nggak usah! Gue nggak apa-apa kok. Cuman lutut aja nih rada lecet. Masih bisa kok naik motor sendiri.” Kiena berusaha menguatkan diri.
            Namun tanpa seizin Kiena, Billy langsung mengangkatnya untuk naik ke atas motor Billy.
“Eh, lo mau ngapain???”
“tenang aja Ki, gue anter lo sampe rumah sama Dany. Janji!”
“Iya, Ki. Gue ikutin kalian dari belakang yah.” Dany segera mengambil sepedanya dan mengekori arah motor Bill melaju.
“Bill,”
“Ya”
“Sorry ya, gue udah ngerusak acara lo sama Dany…”
“Lo tu ngomong apa sih? Kan gue udah bilang kalau kita mau lihat lokasi ke suatu tempat.”
“Ya, tetap aja. Gara-gara gue jatuh acaranya jadi batal.”
“Kalo gue nggak nyuruh lo buat naikin motor gue, lo nggak bakal jatuh kan?”
“Eh, tapi motor lo nggak kenapa-napa tuh? Coba liat lagi ntar yang sebelah kiri. Kayaknya tadi ada yang lecet deh.”
“Iya, nanti aja. Oya, lo anak jurnalis ya ternyata?”
“Iya”
“Baru tahu nih gue”
“Ya itu karena lo tahunya cuman Dany, hahaha.”
“Serius lo, gue suka sama anak yang suka nulis. Pasti lo punya banyak cerita tuh di buku lo yang the… apa? The spirit of life?”
“The secret of life…eh tunggu-tunggu. Lo ngintip buku gue ya???”
“Hehehe, cuman sempat lihat sampul depannya aja tadi. Warnanya ijo, ada gambar pohonnya satu di pinggir. Benar nggak?”
“Nggak boleh lo nyuri-nyuri kayak gitu.”
“Gue kan nggak nyuri, tapi lo yang udah ngebiarin sesuatu milik lo itu terlihat di mata gue…”
Seketika keduanya terdiam. Dan suasana menjadi canggung.
“Eeee, rumah gue di belokan yang kedua…”
“Oh, iya”
Teras rumah yang tak begitu luas itu sudah terbiasa menjadi lahan parkir. Dan disana motor Billy berhenti. Begitu juga dengan Dany yang memarkir sepedanya tepat di sebelah kanan motor Billy.
“Gue bantu Ki”
“Iya, makasih”
Billy hanya berdiri didepan rumah ketika Dany mengantarkan Kiena masuk kedalam. Dan Kiena hanya menoleh kearah Billy, sebentar. Kemudian membiarkan dirinya dituntun oleh Dany memasuki rumahnya.
“Bill, masuk aja. Gue tinggal nganter Kiena dulu ke kamar ya.” Dany berteriak kepada Billy seraya masuk ke ruang tamu.
Billy hanya menganggukkan kepala. Tak lama setelah keduanya masuk, ia menyusul. Dan menunggu di ruang tamu.
Ia mengamati seisi ruangan itu. Dan sedikit menengok ke dalam ruang keluarga. Ada beberapa foto Kiena bersama keluarganya. Ia juga melihat ada satu foto mungil bertuliskan nama Kienanti Prawira Dinadja saat sedang mengikuti lomba puisi ketika dia masih berumur lima tahun. Di sisi tembok yang lain, ada foto Kiena yang masih sangat lugu ketika dia berumur belasan tahun. Foto itu terbingkaikan dengan unik, yang sepertinya terbuat dari kain. Di salah satu bingkainya di tempeli satu bentuk pohon. Ia coba mengingat bentuk pohon itu. Seperti sudah pernah melihat sebelumya. Dan ya, ia baru ingat gambar pohon itu juga yang ada di buku yang dilihatnya berada di tangan Kiena tadi. Tidak salah lagi, pasti bingkai itu juga buatan dari tangan Kiena.
Kreatif juga dia…
Tanpa berpikir panjang Billy mengambil bingkai beserta foto Kiena dan segera memasukkannya ke dalam tas. Tak lama Dany dan Kiena keluar dari kamar. Kemunculan keduanya menimbulkan reaksi kaget pada Billy. Dan sedikit menimbulkan rasa curiga. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dany mempersilakan Billy untuk duduk.
“Gue ambilin minum dulu ya. Lo duduk sini aja Ki. Tenang deh, gue udah biasa kok di rumah lo.”
Suasana kembali kaku ketika Dany melangkah ke dapur Kiena. Billy yang memulai obrolanpun juga cuman sebatas basa-basi.
“Rumah lo sepi, ya?”
“Iya, jam segini masih pada kerja semua. Kakak gue juga masih kuliah. Maklum, nggak ada pembantu. Ya jadi apa-apa di kerjain sendiri.” Kiena yang juga menjadi kaku.
“Ehhhhhh, foto-foto kamu, lucu yah…”
Kiena hanya tersenyum dengan sedikit tersipu.
“Ini minumnya, lhoh, kok pada diem-dieman sih?” melihat tak ada reaksi dari kedua orang itu, Dany kembali mengoceh.
“Gue hampir tiap hari lo Bill, main kerumah Kiena. Ya gini, bantuin dia habisin stok makanan di kulkas, hehehe.”
“Gue minum ya. Billy berusaha menghilangkan rasa canggungnya.


“Dan, Ki, gue pamit pulang ya. Udah kesorean nih kayaknya. Lo nggak apa-apa kan Dan pulang sendirian?”
“Iya, nggak apa-apa kok. Lagian rumah gue juga nggak jauh dari sini.”
“Hmmm, lihat lokasinya lain waktu aja ya.”
“Ok, Bill. Santai aja masih banyak waktu.”
Tak lama Billy bersama motornya menghilang dari teras rumah Kiena. “Ki, sumpah gue pengen pingsan!!!” Tiba-tiba Dany yang baru saja berada di teras depan sudah muncul di hadapan Kiena dengan mimiknya yang penuh emosi kegembiraan.
“Iyaaa, gue tahu kok.” Kiena hanya tersenyum sambil memegangi siku tangan kirinya yang lecet.
“Hmmm, tapi Ki, kok kayaknya dia biasa-biasa aja gitu ya sama gue? Menurut lo gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Ya, iya sih kita emang deket banget pas tadi boncengan bareng. Cuman itu juga sebatas ngomongin teater aja. Nggak lebih…”
“Masak iya baru kenal terus dia langsung ngungkapin perasaannya sama lo.”
“Hmmm, iya juga sih. Gue tunggu aja deh, makasih ya Kiena… lo emang sahabat gue yang paling baik. Mana ada tuh sahabat yang mau temenin sahabatnya pacaran? Kalo bukan lo, hahaha…”
“Udah ah, nggak usah lebay gitu. Pulang sana gih. Tiba-tiba gue jadi bosen lihat muka lo. Hahaha”
“Yeee Kiena…ya udah gue pulang. Lo nggak apa-apa gue tinggal sendirian? Bonyok lo kan belum pada pulang.”
“Sejak kapan lo mesti nungguin mereka pulang? Dasar!!!”
“Iya deh, iyaaa Kiena cantik gue pulang dulu yah. Daaa”
Satu hari pertama seperti ada yang janggal di hati Kiena. Mulai dari obrolannya dengan Billy diatas motor, buku secretnya yang tanpa dia ingin telah di ketahui oleh Billy. Juga rasa canggung yang baru saja dia rasakan.


“Ki, tangan lo udah nggak apa-apa tuh?” Dany berusaha membolak-balik lengan Kiena yang sebenarnya malah membuat Kiena kesakitan.
“Kalo lo diam aja pasti bakal cepat sembuh!” Kiena seolah menegaskan kata-katanya.
“Ah, Kiena apaan sih? Sini gue bantuin. Oya, entar pulang sekolah ada rapat anak jurnalis sama teater. Lo gimana?”
“Gimana apanya? Ya gue ikutlah.”
“Tapi luka lo? Nggak apa-apa tuh?”
“Asal lo nggak heboh aja!”

“Class, how many kinds of…”
Suara lantang Bu Dewanti yang terdengar hingga keluar ruangan. Seluruh siswa sedang focus memperhatikan penjelaskan dari beliau ketika seorang guru lewat didepan kelas mereka bersama dengan seorang siswa laki-laki.
Keduanya sedikit membuyarkan konsentrasi para siswa dikelas karena jendela yang di buat dengan ukuran yang sedang juga tak terlalu tinggi itu sangat mudah di jangkau pandangan mata dari dalam ruangan meskipun pintu telah ditutup.
Siswa laki-laki itu menoleh kedalam kelas dan memanggil Dany dengan siulan lirih.
“Ssssssst…”
Kontak-kontakan isyarat itu terjadi dalam waktu singkat. Billy yang sok tahu menirukan gaya Bu Dewanti yang tengah mengajar. Danypun tertawa kecil kemudian ia menyenggol tangan Kiena agar sahabatnya bisa ikut menyaksikan tontonan gratis ala Billy sang idolanya. Namun tanpa sengaja tangan Dany menyentuh sikunya yang sedang di balut dengan perban. Karena terkejut, Kiena mengaduh dengan sedikit berteriak sehingga membuat Bu Dewanti menoleh.
“Any questions?” Pertanyaan yang lebih ditujukan pada Dany dan Kiena. Dan keduanya hanya geleng kepala.
Bu Dewanti kemudian melanjutkan penjelasannya. Kiena yang berlagak marah atas kecerobohan Dany segera meraih pensil kesayangannya. Di luar sana Billy yang tengah beranjak dengan langkah sedikit lebih cepat mengkode kearah Dany untuk meminta maaf pada Kiena sambil tetap berlagak menirukan aksi Bu Dewanti saat menegur mereka berdua. Lagi-lagi Dany tertawa cekikikan melihat tingkah aneh Billy. Tanpa sadar, Kiena melirik kearah laki-laki yang nyaris menghilang itu dan tersenyum kecil.


Siang itu sudah ada beberapa naskah yang terkumpul sebelum rapat dimulai. Salah satu diantaranya adalah milik Kiena. panas terik meskipun diluar sana, namun dengan penghuni yang berkisar duapuluh kepala diruang rapat membuat suasana menjadi begitu riuh.
“Saya sudah membaca keseluruhan dari naskah yang telah ada. Ada tiga naskah yang menurut saya ada hal menarik didalamnya. Jadi saya akan beri waktu teman-teman semua untuk membaca ketiga naskah itu kemudian pilih salah satu dari naskah yang menurut anda itu adalah yang terbaik.” Ucap seorang yang tengah memimpin jalannya rapat, Rolan sang ketua jurnalis.
Suasana seketika hening karena masing-masing tertuju pada ketiga naskah yang akan menjadi pilihan dari mereka.
Merdeka jiwaku, hening, pinus…
Pinus…pinus…
Pinus? (gambar pohon tinggi dan rindang)
Kiena???
Melihat satu judul terakhir itu Billy tertarik untuk segera membacanya. Dengan khidmat ia cermati isi dari cerita. Awalnya sedikit rumit baginya. Namun setelah membaca keseluruhan, akhirnya ia paham dengan apa yang dimaksudkan si penulis didalamnya.
“Saya lebih tertarik dengan pinus. Isinya lebih mengarah pada cerita yang sedikit menggunakan unsur teka-teki namun tetap tidak menyimpang dari jenis cerita romance yang mengundang berbagai perasaan bagi kawula muda untuk mengekspresikan apa itu cinta”. Billy sangat antusias dengan satu naskah itu.
Setelah diadakan voting, ternyata ada dua judul naskah yang memiliki perolehan nilai seimbang. Yaitu naskah dengan judul merdeka jiwaku dan pinus.
“Ada yang ingin berargumen untuk memperkuat pilihan masing-masing?” Rolan memberikan kesempatan kepada para anggota rapat.
“Bolehkah saya mencoba untuk memainkan salah satu tokoh didalamnya?”
“Silakan Arond.”
Billy dengan cepat berpindah tempat duduk disebelah Kiena dan memintanya untuk membacakan penggalan puisi yang ada dalam naskahnya. Kiena yang masih kebingungan hanya mengiyakan tangannya diseret oleh Billy dan beranjak dari kursi.
Seluruh mata tertuju pada dua orang yang tengah berdiri berhadap-hadapan dengan jarak yang sedikit jauh, didepan mereka semua.
Hembusan nafas Kiena terdengar pelan
Hhhhh…
Dan kubiarkan merasuk kalbu
Wahai jiwa nan hijau
Kesejukanmu merenggut sedihku

Mengeram aku dalam amarah
Meredam aku dalam lelah
Tak secuilpun tergores dibenakku

Kau
Hijaulah dalam tandus
Wahai pinus…
            Billy yang dengan kreativitasnya sendiri mencoba menjadi tokoh dalam naskah tersebut ketika si pembaca puisi yang tak lain adalah Kiena yang melupakan bait ketiganya. Tak disangka keduanya memainkan tokoh masing-masing dengan nyaris sempurna. Kienapun kaget Billy mampu membawakan tokoh yang ditulisnya yang tak lain adalah gambaran dari Kizza. Berakhirnya adegan singkat dari keduanya menghasilkan sambutan yang sangat bagus dari para anggota dan semuanya sepakat untuk menggunakan naskah Kiena sebagai pembuatan drama outdoor bulan depan.
“Ki, lo perfect banget barusan. By the way itu tadi tulisan lo yang mana sih? Kok gue belm pernah dengar?” Dany begitu bangga dengan sahabatnya. Kemudian ia juga menghampiri Billy untuk memberikan selamat.
“Lo keren banget Bill, seneng deh kalo sahabat-sahabat gue pada pinter-pinter gini. Jadi gue bisa ketularan pinternya ntar. Hahaha…”
“Semoga aja gue bisa jadi pemeran utamanya ntar, Dan.” Ucap Billy dengn sangat antusias.
“Yakin penulisnya bakal setuju?” Kiena berlagak sok dengan naskahnya yang telah terpilih.
“Hahahahaha…”


Minggu ketiga
Ketiganya menjadi semakin akrab dan lebih sering bertemu entah untuk mengerjakan tugas-tugas bersama atau hanya sekedar menghabiskan waktu. Seperti siang ini mereka akan kembali ketempat yang minggu lalu pernah ketiganya lewati.
“Lets go!!! Huuuuuuu…”
Meskipun kedengarannya janggal namun Kiena tetap menikmati persahabatan mereka bertiga. Walaupun dia tahu bahwa nantinya ini akan terpecah karena pasti sebentar lagi Billy akan menyatakan cintanya pada Dany, dan keduanya jadian. Ia juga tak kuasa menyalahkan Dany karena bagaimanapun dia adalah sahabat terbaiknya. Tak pernah sekalipun berprasangka buruk atau cemburu terhadapnya ketika terkadang Billy Nampak lebih dekat dengannya. Dan ia memutuskan untuk selalu menyayangi keduanya sebagai seorang sahabat tanpa merusaknya dengan perasaan lain.
Kiena kembali menaiki sepeda Dany dan seperti biasa Dany dan Billy akan terlebih dahulu meninggalkan Kiena dengan jarak yang tak begitu jauh dan masih terjangkau pandangan mata mereka. Jalan yang begitu lurus tersebut tak mampu menghalangi ketiganya.
Di belakang sana Kiena Nampak terengah-engah mengayuh sepeda. Dan sesekali dia lambaikan tangan sebagai kode bahwa ia ingin posisinya segera digantikan. Ia berhenti ditepi jalan dan mengambil botol minum untuk segera membasahi tenggorokannya meskipun pepohonan rindang melindunginya dari terik.
“Gue juga mau!” Dengan paksa Billy mengambil botol minum Kiena dan ikut meminumnya.
“Jangan dihabisin! Jalannya masih panjang tau.” Kiena berlagak mengomel. Sedang Dany hanya tertawa melihat aksi kedua sahabatnya yang tengah berebut air minum.
“Aku aja yang gantiin Kiena Dan…” Billy turun dari motor dan menggantikan Kiena menaiki sepeda Dany.
“Awas kamu Bill, sadelnya bau pantat Kiena, hahaha”
“Apaan sih Dan!”
“Hahaha”
“Nggak apa-apa, anget kok, hahaha”
v   
“Eh, gue kayak dengar ada yang manggil aku kamu nih.” Kiena menyindir Dany yang sedang konsentrasi menyetir.
“Jangan biarin muka merah gue ketahuan Billy, Ki!” Dany teriak kegirangan.
“Kalian berdua? Udah?”
“Sayangnya belum tuh Ki. Gimana dong?”
“Tenang aja, pasti bentar lagi. Mungkin tunggu momen yang tepat.”
“Hahaha, asal lo juga doain Ki.”
“Iyalah, pastinya. Secara ceweknya udah ngebet banget nih.”
“Ah, Kiena…”
“Hahaha…”
Terik siang itu tak menghalangi ketiganya untuk menghabiskan waktu disepanjang jalan yang telah mereka lantik untuk menjadi jalan keabadian milik mereka bertiga. Kiena yang menikmati istirahatnya diboncengan Dany tersenyum melihat gaya Billy naik sepeda yang hampir mirip katak loncat saja. “Dan, Billy udah lambaikan tangan tuh.”
“Ya udah kita berhenti dulu.”
Kiena langsung menyodorkan botol minum yang dari tadi sudah berada ditangannya. Billy segera mengambil dan meminumnya. Merasa begitu kepanasan sisa air minum dituangkan diatas kepalanya.
“Eits! ah kenapa dibuang sih?” Kiena seketika turun dari boncengan Dany dan bermaksud mengambil botol minumnya karena takut Billy akan menghabiskan air minum tanpa sisa. Namun, Billy malah tampak menikmatinya dan berusaha menggoda Kiena. “Balikin nggak!”
Tanpa sengaja Billy memegang tangan Kiena. Sentuhan itu membuat keduanya menjadi tegang. “Nih, udah habis airnya. Hahaha…” Botol itu segera di berikan kepada Kiena dan ia kembali menaiki sepeda.


Billy dan Dany terpilih menjadi pasangan pemeran utama dalam acara outdoor mereka. Tak ketinggalan Kiena sang narrator yang dengan setia mendampingi keduanya berlatih dengan lebih intens apalagi adanya chemistry antara mereka pasti akan membuat keduanya lebih menjiwai peran masing-masing.
Kiena juga yang membuatkan buku diary yang akan digunakan sebagai buku secret Billy yang memerankan tokoh Kizza. Dia juga melengkapi penggalan puisi yang akan dideklamasikan oleh Dany atau Kayra.
Ditengah-tengah kesibukan masing-masing, disela-sela break latihan Billy dan Dany bermaksud menemui Kiena yang berada dilain tempat. Namun, keterbatasan waktu tak memungkinkan keduanya. Tanpa disadari Billy merindukan sifat Kiena yang selalu berusaha tegar didepan semua orang. Berusaha tenang meskipun didalam hatinya sangat ingin berteriak, dan berusaha tersenyum ketika mereka sedang bersama bertiga.
Dimana dia sekarang? Kenapa nggak muncul juga dihadapan gue?
“Bill, kamu lihatin apa sih?” Dany memecahkan bayangan kosong Billy.
“Kiena, kemana sih dia? Dari tadi nggak kelihatan?”
“Oooh, diakan lagi bikin buku diary kamu di ruang sebelah. Katanya nggak boleh ada yang ganggu biar dia bisa dapat feel yang pas.”
Feel yang pas? Feel kalau dia cemburu liat gue sama Dany?
“Yuk ah, anak-anak udah ngumpul lagi tuh.” Dany mengajak Billy untuk kembali latihan.
Ditengah-tengah latihan itu, ketika Billy dan Dany memainkan adegan mereka yang paling secret menurut Kiena. Ditengah-tengah hijaunya pohon pinus Kizza menggantungkan papan kecil yang masing-masing sisi dihiasi oleh daun pinus dengan ditengahnya bertuliskan kalimat indah.
Meskipun ada bait yang tertinggal, dia tetap memikatku
Di tanggal 10 mei 2010 dia terjatuh dari sepeda, pipinya yang chubby memar
Namun senyumnya tak berubah
Senin itu dia tampil dengan rambut baru, mungkin poninya terlihat sedikit kependekan
Membuat mukanya semakin bulat membingkai, aku tetap suka
Aku pernah diam-diam mengambil fotonya dari binder temanku
Masih memakai seragam olahraganya, rambut di ikat tinggi-tinggi
Membawa botol minum kesayangannya lengkap dengan sedotan
Wajahnya Nampak kucel dan berkeringat
Dia lebih mempesona
Pinus…
Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika kau sedang terlelah?
Kayra tengah membaca tulisan itu ketika langkah pelan Kizza membuatnya menoleh kebelakang.
“Pinus…”
Ketika adegan itu hampir mencapai puncak pada happy ending, kedatangan Kiena yang tengah berdiri didepan pintu membuyarkan konsentrasi Billy. Kiena yang membawa sebuah buku dalam dekapannya, dengan rambut yang di ikat tinggi-tinggi tak beraturan dan membiarkan beberapa helai terjatuh sehingga sedikit menghiasi wajahnya yang lelah lusuh.
Adegan itu terhenti. Billy terpana dengan tatapan tanpa jeda kearah Kiena.
“Pi…pinus…”
“Sorry, gue Cuma mau ngasih buku ini.” Kiena menyodorkan buku diary tersebut kepada Roland dan beranjak pergi. Namun spontan Billy memanggilnya, “Pinus!”
Seketika Kiena menoleh. Namun ia memberikan tatapan tajam pada Billy. Kemudian dengan langkah cepat pergi meninggalkan ruangan.
Berani-beraninya dia manggil gue dengan sebutan pinus! Cuma Kizza yang boleh manggil gue kayak gitu. Gue benci sama Billy!


Kenapa Kiena marah sama gue? Padahal gue cuman manggil dia tadi…
“Eh, ada yang mau es krim nggak? Pengen yang dingin-gingin nih!” Dany memecah keheningan Billy dan Kiena.
“Boleh…” Billy menjawab singkat.
“Elo Ki?”
Kiena hanya mengangguk. Dany segera menuju seberang jalan ketempat penjual es krim.
“3!!!”
“Hah?”
“Gue mau es krim 3!!!”
Billy dan Dany menatap kearah Kiena secara bersamaan. “Ok.”
Halte yang biasa ramai akan para siswa di jam-jam pulang sekolah kini mulai sepi. Hanya ada Billy, Kiena juga dua orang siswa perempuan yang entah menunggu jemputan atau sedang menunggu angkutan umum.
Keduanya terdiam. Billy juga tak berani menanyakannya pada Kiena. Hanya mematung disampingnya.
“Ki…”
Kiena hanya menoleh.
Seketika suasana menjadi sangat hening seolah tak ada dua orang perempuan disamping mereka.
“Gue…”
Gue…”
Kiena hanya memandang kearah Billy dengan tatapan kosong. Namun karena sikap Billy yang berubah menjadi semakin tegang, Kiena berubah menatapnya dengan sangat lembut.
“Lo kenapa?”
“Gue…”
“Gue suka sama…”
“Dany…”
Kiena lega dengan pernyataan yang baru saja didengarnya dari mulut Billy. “Ooh, gue juga udah tahu kali…”. Senyum tipis menghiasi wajah Kiena seketika.
Billy yang ketegangannya kembali meredup menjadi sangat menyesal mengatakan itu kepada Kiena. Karena bukan itu yang sebenarnya ingin dia ucapkan.
“Ki, tadi kenapa lo marah sama gue?” Billy kembali memulai percakapan.
“Bill, jangan lagi panggil nama gue dengan sebutan pinus!” Kiena menjawabnya dengan sengit.
“Kenapa?”
“Karena…”
“Karena apa?”
“Karena… lo nggak ngerti Bill…”
“Makanya gue pengen ngerti Ki…”
“Cuma dia yang boleh manggil gue dengan sebutan pinus.”
“Dia? Siapa?”
“Please, jangan tanya lebih dalam lagi soal itu…” Kiena menundukkan kepalanya seperti hendak meneteskan air mata.
Billy yang tadinya sangat antusias mengorek keterangan dari Kiena seketika terdiam. Lagi-lagi keduanya membisu.


Pi, berani-beraninya dia ngembarin nama panggilan kamu. Geluduk yang sedari dulu nyaris tak terdengar akan adanya tanda hujan namun petirnya mulai menyambar kini. Perasaan aneh yang entah sejak kapan muncul dengan tiba-tiba mengusik memoriku tentangmu. Padahal aku sudah bertekat untuk memendamnya dalam-dalam bersama seluruh cerita secret kita.
Pi, atau…ku buang saja semua ini bersama buku kumuh itu? Karena mengingatmu sama halnya menamparku dengan tangan Rere. Aku telah kehilangan satu sahabat. Apa harus ku ulangi? Setiap kali ku cegah, setiap kali pula sebaliknya. Aku hanya ingin mengagumimu sebagai inspirator terbaikku. Sebagai pemenuh buku secret ini yang kamu tak akan pernah tahu isi di dalamnya. Dan aku tak ingin menggesernya dengan bayangan aneh yang akhir-akhir ini begitu mengganggu konsentrasiku tentangmu.
v   
Pinus, apa sebenarnya arti dari kata itu. Aku hanya tahu itu adalah karangan cerita Kiena. Atau itu adalah…
            Billy meraih lembaran naskah yang ada di mejanya. Dibacanya berulang-ulang. Ini memang cerita tentang kisah cinta seseorang. Namun, ia tak yakin dengan apa yang tengah ditebaknya. Ia kembali membuka buku lain. Buku secret yang dibuat oleh Kiena. Kenapa isinya sangat menyatu dengan naskah. Seperti benar-benar nyata dan telah terkonsep sejak lama. Memang, Dany pernah mengatakan bahwa Kiena sangat jago dalam membuat karangan cerita. Ia juga bilang Kiena tak mau diganggu ketika ia sedang membuat isi dari buku secret, yang sekarang berada di hadapannya.
            Berulang kali Billy memandangi buku secret itu, membukanya, membaca isinya, kemudian menutupnya kembali. Memang ada bagian yang sedikit membuatnya janggal. Jika ini adalah cerita tentang Kiena, disitu digambarkan bahwa dia memiliki dua orang sahabat. Namun nyatanya sahabat dekat Kiena hanya Dany. Atau… ini mungkin memang hanya karangan Kiena.
            “Dan,”
            “Hmm?”
            “Kamu temenan sama Kiena udah lama, ya?”
            “Kiena itu sahabat aku dari SMP. Dan yang paling baik menurut aku.”
            “Pantesan.”
            “Pantesan? Apanya?”
            “Pantesan kayak orang kembar aja, hahaha.”
            “Yaaa, banyak orang bilang gitu. Dulu, malah kita kembar bertiga.”
            “Bertiga? Sama siapa?”
            “Rere, kita dulu sahabatan bertiga. Sampai akhirnya Rere ninggalin kita karena Kiena dekat sama Kizza, cowok yang juga disukai Rere. Kiena berusaha jauhin Kizza biar Rere mau kembali sama kita. Tapi semua udah terlambat. Rere nggak mau lagi ketemu sama aku dan Kiena. Padahal, Kiena udah benar-benar menjauh dari Kizza.
            “Kizza? Nama cowok yang ada di naskah itu???”
            “Iya, sejak saat itu Kiena nggak lagi mau dekat sama cowok. Karena dia lebih takut kehilangan sahabat.”
            “Tapikan, itu namanya dia menghakimi diri sendiri Dan. Bagaimana bisa dia menutup diri selama ini? Mau sampai kapan dia kayak gitu?”
            “Sampai Rere balik lagi ke kita, katanya…”
            “Terus, kamu diam aja?”
            “Bil, aku udah coba dengan banyak cara. Tapi kamu tahu sendiri Kiena itu seperti apa orangnya kan?”
            “Kalau Rere nggak akan pernah kembali? Lalu apa?”
            “Yaa, kamu tahu sendiri jawabannya.”
            “Jadi dia nggak akan membuka hatinya buat orang lain, gitu maksud kamu?”
            “Mungkin, tapi selama ini keyakinannya begitu kuat. Dia sangat yakin suatu saat nanti entah kapan, Rere akan kembali. Setelah itu dia janji akan kembali seperti dulu.”
            “Terus, sekarang Rere dimana?”
            “Dia sekolah di SMA 3. Satu sekolah sama Kizza juga. Tapi mereka berdua nggak pacaran. Karena aku tahu Kizza sebenarnya juga suka sama Kiena dan dia sakit hati karena mendadak Kiena menjauhinya waktu itu.”
            “Aku nggak bisa nebak dia itu seperti apa. Cewek angkuh, galak, sombong, ternyata…”
            “Makanya kenapa aku selalu ngajak dia kemanapun kita pergi, biar dia nggak nganggap kita itu sahabat yang jahat dan ninggalin dia. Aku nggak mau Kiena terus-terusan dihantui rasa bersalah. Aku sayang banget sama dia, karena dia juga begitu.”
            Satu jawaban mewakili seluruh pertanyaan Billy yang dalam beberapa waktu memenuhi pikirannya. Sekarang dia tahu apa alasan Kiena seolah menghindar darinya. Dan ia tak perlu mencari-cari jawaban dari teka-teki ini lagi. Memang sulit berada di posisinya. Kiena adalah sosok perempuan yang menjunjung tinggi persahabatan dan itu nyata.
            Ki, kalau memang kamu tidak ingin kita memulainya, maka biarkan waktu dan seluruh cerita yang telah kamu buat mengungkap yang sebenarnya kita rasakan, atau mungkin hanya aku…
v   
            “Pagi kembaaar,”
            “Heh, Arond, Billy, Kizza, kamu ngagetin aku deh.”
            “Sejak kapan gue sama Dany dapat panggilan kayak barusan?”
            “Yaaa, barusan. Emang kalian berdua tuh kembar. Kemana-mana bareng, cuma beda rumah aja. Hahaha…”
            “Hmmm asyik juga tuh nama baru. Serasa kembar beneran sama Kiena. Secara, lo lebih pintar dari gue.” Dany menaik turunkan alisnya kearah Kiena.
            “Eh, lo apa-apaan sih Dan? Ingat ya, hari ini hari terakhir lo sama Billy latihan. Jadi, gue sebagai sutradara punya wewenang dong buat ngomelin lo berdua.” Kiena yang sok galak di depan Dany dan Billy.
            “Aduuh takut nih…hahaha”
            “Sejak kapan lo jadi sutradara Ki? Bukannya cuman jadi bawahan gue sama Dany, yang kerjaannya buatin kita naskah dan buku diary yang super khayal itu.
            Kiena seketika kaget. Bisa-bisanya Billy mengeluarkan kalimat seperti itu dan…membuatnya tertawa mendadak.
            “Heh, kurang ajar lo ya! Awas lo! Mana diary buatan gue! Balikin!” Kiena berlagak marah dan memukuli pundak Billy. Entah apa yang terjadi, namun rasanya dia dan Billy telah kembali seperti semula. Kembali menjadi dua orang sahabat yang sangat menyenangkan. Mungkin sebentar lagi dia akan benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada Dany. Mungkin, karena itu sikapnya begitu berubah.
            Latihan singkat itu berjalan dengan lancar. Semua anggota pulang lebih awal untuk mempersiapkan diri besuk pagi. Mereka akan menjalani perkemahan selama tiga hari dua malam seperti jadwal.
            Seperti anggota lainnya, Billy, Dany dan Kiena mengepak barang-barang pribadi mereka serta perlengkapan yang diperlukan selama diperkemahan. Kiena, yang tak akan ketinggalan dengan kamera digitalnya serta buku secret yang beberapa waktu lalu ia inginkan untuk membuangnya. Nyatanya masih saja ada di tas Kiena sampai hari ini.
            Pi, besuk aku berangkat kesuatu tempat yang mungkin akan sangat menyenangkan buatku. Ku harap kamu juga begitu. Tetaplah menyertaiku lewat buku ini. Dan aku akan tetap mengenangmu. Mungkin jika lelah datang, akan kutinggalkan semuanya ditempat itu. Tempat dimana tak seorangpun tahu, sekalipun kamu.
            Dany yang juga sibuk dengan segala perlengkapannya, karena dia adalah orang yang paling tidak tahan merasakan dinginnya malam diluar sana. Berbagai baju penghangat ia keluarkan dari gantungan. Segala macam obat-obatan juga telah siap untuk diangkut. Lagi-lagi, mama yang selalu mengingatkan dan mempersiapkan segala keberangkatannya.
            “Besuk papa nggak bisa ikut nganter Dany, sama mama saja ya.” Papa tiba-tiba datang dan mengelus bahu Dany.
            “Beres paa, doain aja Dany sukses.” Dua jempol diacungkan kearah papa.
            “Oiya, sama Kiena juga kan? Dia siapa yang antar? Kata kamu setiap pagi papa mamanya selalu sudah berangkat kerja.
            “Di antar kak Lody katanya ma.”
            “Ya sudah, jangan sampai besuk kamu telat bangun dan gagal berangkat.” Papa tersenyum kepada Dany.
            “Papa apaan sih…”
            Malam itu Dany hanya terduduk disisi ranjangnya. Mengingat-ingat moment demi moment yang dia lewati dengan Kiena, juga Billy. Mereka adalah dua orang dia ingin untuk selalu berada disisinya. Kiena, yang selalu membuatnya tegar dibalik kerapuhannya. Billy, laki-laki misterius yang telah berhasil merenggut hati dan jiwanya. Dia mengambil album foto dan membukanya halaman demi halaman. Foto terindah mereka bertiga ketika masih SMP, Kiena dan Rere. Keduanya adalah sahabat yang energik. Kizza, seorang pendiam namun penuh kejutan. Sampai-sampai tak banyak orang yang tahu bahwa dia sangat mengagumi Kiena. Rade, cinta monyetnya dimasa lalu. Lucu, imut, dan dengan sifatnya yang masih lugu membuatnya jatuh cinta monyet kala itu. Di beberapa lembar terakhir, hanya ada dirinya, Kiena dan Billy. Satu semester telah membuat ketiganya sangat akrab satu sama lain. Dan besuk, ketiganya akan kembali mengukir kisah remaja mereka dengan penuh kejutan.
            Kututup lembar ukiran ini dengan membukanya kembali di hari yang lebih berwarna.


            Ternyata, Kiena sama jeleknya ketika dia sedang tertidur. Billy telah dengan bangga mengambil kamera Kiena yang dikalungkan dilehernya kemudian mengambil gambarnya dengan pose yang sangat menggelitik perutnya. Tak tahan untuk tidak tertawa. Tak kalah dengan Kiena, Dany berpose dengan lebih aneh. Suhu didalam bus yang membuatnya sangat kedinginan sehingga kostumnya sudah seperti orang Eskimo saja. Bibirnya maju kedepan, saking beratnya rasa kantuk membuatnya tak mampu menahan kepalanya sehingga ambruk dan tersandar dibahu Kiena.
            Dengan sadar Billy mengamati kedua sahabatnya itu bergantian. Tanpa sadar ia telah jatuh hati kepada keduanya, Dany dan Kiena. Yang memiliki keunikan yang berbeda namun sangat menguatkan karakter masing-masing untuk tak dapat mengelak bahwa dirinya telah…
            Ia kembali kekursi paling belakang bersama dengan teman-teman laki-lakinya untuk lebih bergerombol dan meramaikan isi bus. Billy akan memainkan gitarnya dan yang lain akan bernyanyi seenaknya.


Kiena terkejut bukan main ketika dirinya terbangun dan mendapati sekeliling bus bukanlah seperti tempat yang disepakati untuk mereka datangi sebelumnya. Semuanya membiarkan Kiena menjadi orang pertama yang keluar dari bus. Dia masih terkagum, kaget, aneh dan perasaan lainnya bercampur. Baru yang lain menyusulnya turun.
“Surprise!!!!!”
Kiena masih saja tak mengerti. “Ini, ada apa sebenarnya?”
“Selamat penulis scenario.” Rolan mengulurkan tangan dan menjabat tangan Kiena dengan penuh semangat.
“Ok…terus? Ini? Apa?”
“Kamu telah berhasil membuat naskah untuk kita mainkan. Alangkah lebih menjiwainya jika para pemain peran juga kita beri kesempatan untuk benar-benar berperan dalam seting yang sesuai.”
“Terus? Hubungannya sama gue? Apa?”
“Kamu adalah penulis scenario terhebat kami. Saya tahu, kamu sangat ingin berada disini.”
“Jadi?”
“Jadi kejutan ini kami berikan untuk kamu, Kienanti Prawira Dinadja.”
Tak menyangka akan mendapatkan kejutan gila, Kiena sangat antusias untuk segera memasuki daerah hutan pinus yang terletak di Imogiri, Jawa Tengah.
 “Rolan, ini benar-benar gila. Gue nggak nyangka bakal beneran berada ditempat ini sekarang.”
“Kamu suka?”
“Banget. Makasih, ya.”
Setidaknya Rolan adalah laki-laki yang baik. Dia akan sangat menjaga Kiena selama diperkemahan. Dan Billy, mau tak mau harus melepaskan kekhawatirannya. Meskipun, mungkin ia sebenarnya tengah cemburu.


Semua anak masuk ketenda untuk mengistirahatkan diri sejenak karena nanti malam akan ada serangkaian acara yang menanti mereka. Kecuali Kiena, yang sudah terlepas jauh dari tenda. Tak disangka dia benar-benar berada ditengah-tengah hutan pinus yang selalu disebut-sebut oleh Kizza dulu. Pohonnya yang rimbun dan menjulang tinggi serta desiran angin yang berhembus laksana music alami sama persis seperti yang diangankannya.
Pi, kamu tahu aku sekarang berada dimana? Akhirnya aku sampai pada sebuah tempat yang selama ini kamu impikan. Aku sangat ingin berbagi kesenangan ini bersamamu. Tahukah kamu bahwa sedari tadi aku hanya memandangi sekeliling tempat ini. Begitu damai rasanya meskipun tanpa sosok misterius sepertimu. Langit disore hari yang tampak meskipun terselimuti sebagian kabut memaksa mengarahkan pandanganku untuk terus menatap kesana. Dalam tenang aku terdiam, dalam sunyi aku berbagi. Secret of life akan bersaksi, entah kemana rasa ini akan terbawa. Ataukah mega didepan sana akan mengajakku tenggelam bersamanya…
“Ada yang lihat Kiena nggak sih? Dari tadi dia belum balik ketenda lo.” Dany cemas mengkhawatirkan sahabatnya.
“Sebentar lagi dia bakal kegelapan lihat jalan.”
“Iya nih, coba kamu cari deh Bill. Sebelum perasaanku semakin nggak enak.”
Billy dan Rolan menelusuri sekitar perkemahan. Akhirnya keduanya berpencar untuk menyingkat waktu. Sementara Kiena masih menikmati keeksotikan matahari tenggelam diujung sana. Hanya terdiam dan memandangi langit yang semakin lama semakin meredupkan cahayanya. Dari kejauhan Billy melihat punggung Kiena. Ia segera berlari akan menghampirinya dan ingin mengomeli panjang lebar. Namun, setelah berjarak lebih dekat rupanya Rolan telah lebih dulu sampai ditempat Kiena.
“Ki, ngapain disini? Banyak harimau.”
“Kamu harimaunya?” kiena setengah terkejut kemudian tertawa kecil.
“Balik yuk.”
Ketiganya kembali keperkemahan tanpa bersamaan.
“Kamu, segitu sukanya sama tempat ini?”
“Siapa yang nggak bakal suka, kagum, sama tempat yang…ya seperti kamu lihat. Ini sumpah, gue suka banget.”
“Banget?”
“Hehehe, iya.”
“Ki!!! Lo kemana aja sih? Tahu-tahu ngilang gitu aja. Nggak ngajak-ngajak gue lagi.” Dany yang berteriak melihat Kiena datang bersama Rolan.
“Lo tahu nggak Dan?”
“Enggak.”
“Gue baru lihat sunset. Sumpah, keren banget.”
“Lo mentang-mentang lihat barang bagus terus lo pikir bisa seenaknya tinggalin gue disini? Gitu? Gue kan juga mau lihat Kiena!!!”
“Hehehe, iya iyaaa sorry Dan…”
“Bentar, by the way Billy mana?”
“Billy?”
“Iya Billy. Tadi dia sama Rolan kok yang berangkat nyari lo.”
“Billy ikut nyari gue???”
“Gue disini semua…” Billy yang tanpa rasa bersalah membiarkan kedua sahabatnya panic terlebih dahulu.
“Tadi kita mencar nyari Kiena biar lebih cepat. Gue tahu Billy pasti tahu jalan. Makanya gue tinggal aja sama Kiena.”
“Oooh, ya udah. Tuh anak-anak pada…” Mata Dany menuju kearah teman-teman lain yang tengah menyantap mie kuah dengan lahap karena kelaparan. Di ikuti oleh Rolan, Kiena dan Billy mereka serentak menyerbu area api unggun.
“Tadi, ceritanya nyari gue? Takut? Kalau dimakan harimau?”
“Lo harusnya terimakasih sama Rolan. Kalau nggak ada dia pasti gue udah ngomelin lo sepanjang jalan!”
“Gitu?”
Kiena sengaja ingin membuat Billy marah. “Rolan!!!”
“Iya?”
“Makasih ya tadi.”
Rolan mengacungkan jempolnya tanda setuju. Dia masih sibuk menata kayu untuk tambahan api unggun. Kiena melirik kearah Billy sambil menaikkan kedua alisnya. “Udah?”
Billy sangat ingin marah dan mengomeli Kiena. Saking marahnya dia tak kuasa menahan tawa. Diapun tertawa terbahak-bahak. Kiena yang tak mengerti maksud tawa Billy hanya mengikutinya dan ikut tertawa dengan lebih keras.
“Tuh, nenek sihir khawatir dari tadi.”
“Tapi sukakan?”
Billy yang gemas dengan tingkah konyol Kiena memaksanya untuk meminum sisa kuah mie yang ada dimangkuknya. “Nih, minum kuah. Biar kenyang. Biar nggak bawel!”
“Bil, apaan sih? Dany!!! Sahabat lo butuh pertolongan!!! Ada harimau mau nerkam gue!!!”
Dany hanya tertawa melihat aksi kedua sahabatnya. Keduanya begitu dekat. Bahkan dia tak sekalipun terpikir bahwa Billy sebenarnya…
Rombongan yang berjumlah tiga puluh dua orang itu menghabiskan waktunya dengan permainan-permainan ala anak SMA umumnya. Jika ada yang kalah akan dihukum, entah dengan bernyanyi, bermain gitar, membaca puisi bahkan ada yang mencoba merayu salah satu perempuan satu kelas dengan Dany dan Kiena, Ligsi namanya. Menurut gossip dari teman-teman lain, Rannan memang sudah menyukai Ligsi semenjak keduanya dipertemukan dalam ekskul teater. Dan itu adalah hal wajar yang umumnya dialami oleh kebanyakan remaja. Rannan yang sudah siap memulai aksinya dengan bantuan Billy dia membacakan puisi yang dibuatnya sendiri untuk Ligsi.
Disaksikan desiran angin malam ini
Aku memujamu
Sejak dulu
Ligsi
Menyebut kata terakhir, Ligsi mendongak. Sangat terkejut pastinya. Rannan yang malu-malu berjalan mendekati Ligsi. Dan…
Semuanya berlalu. Ligsi yang telah membuka hatinya untuk Rannan. Namun Billy belum memberanikan diri untuk lebih membiarkan kemana hatinya akan condong. Larutnya malam tak menghentikan ramainya perkemahan. Billy, yang tetap dengan gitarnya mencoba memainkan isi hati yang entah dia tengah bingung atau malah ingin melarikan diri. Tiba-tiba Kiena datang menghampirinya. “So, kapan Kizza mau tembak Kayra?” Bisiknya.
Seketika Billy menghentikan petikan gitarnya. Dia memandang kearah Kiena dalam-dalam. Desiran itu muncul kembali. Padahal ,angin tak sedang mengitarinya. Bahkan hanya dingin menusuk tulang yang terasa. Kiena yang menjadi kaku karena Billy semakin mendekat, begitu dekat. Tepat dihadapannya sekarang.
“Pentasnya baru besuk.” Billy merasa menang karena mampu membuat jengkel Kiena. Dia menyaringkan suara gitarnya tepat didekat telinga Kiena yang pasti membuatnya lebih marah lagi.


Persiapan pagi itu telah mencapai kata sempurna. Billy, Dany dan para pemain yang lain juga telah mempersiapkan dirinya untuk terjun dalam dunia naskah yang telah dibuat Kiena. Mereka akan lebih mengutamakan adegan dihutan pinus karena lokasi itu adalah seting yang tepat adegan pemeran utama Billy dan Dany.
“Ki, lo ngerasa ada yang aneh nggak sih?”
“Apanya Dan?” Kiena sedikit kaget ketika Dany bertanya tiba-tiba padanya.
“Gue ngerasa kalau…”
“Kalau? Apa sih? Ngomong apa lo?” Kiena tambah panic. Dia takut yang dimaksud Dany adalah Billy.
“Dia, ki.” Dany menunjuk kearah seorang laki-laki yang tengah duduk bersama Billy.
“Dia kenapa?” Kiena lebih kaget karena dia mengira Dany menunjuk kearah Billy.
“Dia…kayaknya…sama lo. Dia suka sama lo Ki.”
“Hah, diakan hari ini mau nembak lo!”
Dany lebih kaget dengan pernyataan Kiena. “Nembak? Rolan mau nembak gue?”
Kiena lega karena yang disebutnya bukanlah Billy. “Eeee, iya! Dia bakal nembak lo.” Kiena diam sesaat. Kemudian membisikkan kata-kata ketelinga Dany. “Tapi lewat Billy.” Dan dia tersenyum.
“Ah Kiena lo apa-apaan sih?” Dany yang tak kuasa menahan rasa merah dipipinya langsung meremas lengan Kiena.
“Pinus… maukah kau…” Kiena belum sempat menyelesaikan cuplikan kalimat tersebut namun mulutnya dusah dibungkam kuat-kuat oleh Dany sehingga Kiena menjerit kecil, membuat Billy dan Rolan menoleh seketika.
“Kenapa Dan?” Rolan bertanya pada Dany.
“Lagi latihan intens sama penulis scenario!” Teriak Dany.
Billy dan Rolan hanya mengangguk-angguk keheranan. Dan mereka melanjutkan perbincangan kembali.
“Kiena itu cewek unik. Dia smart, meskipun kelihatan sedikit cuek. Kalau nggak dekat sama Dany gue juga nggak bakal tahu keunikan dia. Jadi. Lo maju aja. Semoga berhasil.”
“Thanks ya Rond, gue jadi tahu banyak tentang Kiena dari lo. Sekarang, gue optimis buat maju. Lo juga, semangat buat penembakan yang walaupun numpang diskenario. Hahaha, nggak nggak gue bercanda.”
Keduanya bersalaman untuk ingin segera menjalankan rencana masing-masing. Dan adeganpun dimulai.
Dany terlihat cantik dengan kostum kunonya. Lebih mirip peri penghuni hutan. Suasana sangat bersahabat pagi itu. Desiran angin pelan mengiringi step demi step adegan yang dimainkan. Billy dengan pembawaan santai, begitu menikmati detik demi detik tujuan yang ingin dicapainya. Sebelum memulai adegannya dengan Dany dia sempat berbincang singkat dengan Kiena. Tiba-tiba duduk disampingnya, tanpa memandang kearah lawan bicara. Keduanya tetap fokus pada teman-teman lain yang tengah bermain peran.
“Seandainya ada yang mengutarakan perasaan hatinya sama kamu hari ini, maka dia adalah orang yang benar-benar tulus mengagumi kamu.”
Kiena hanya menoleh pelan. Bingung, namun dia tetap menganggukkan kepalanya juga dengan pelan.
“Kamu juga. Jangan kecewakan perasaan sahabat…” Kiena menunjuk dadanya dengan pasti. “Satu-satunya…”
Keduanya tersenyum. Ada perasaan tak enak muncul kembali. Namun, Billy memilih untuk segera pergi dari samping Kiena dan dia mempersiapkan diri untuk adegan berikutnya. Adegan yang mungkin ditunggunya. Mungkin juga tidak.
Dan kubiarkan merasuk kalbu
Wahai jiwa nan hijau
Kesejukanmu merenggut sedihku

Mengeram aku dalam amarah
Meredam aku dalam lelah
Tak secuilpun tergores dibenakku

Kau
Hijaulah dalam tandus
Wahai pinus…
Kayra yang melihat sosok lelaki berdiri didepannya membelakanginya. Ia ragu bahwa yang dilihatnya adalah lelaki yang diinginkannya. Ia berlari menjauhi sosok itu dan bersembunyi dibalik salah satu pohon pinus yang begitu besar. Sayangnya, dibalik pohon itu tertuliskan pengakuan seseorang yang sangat mengaguminya yang tak lain adalah lelaki yang masih berdiri disana.
Meskipun ada bait yang tertinggal, dia tetap memikatku
Di tanggal 10 mei 2010 dia terjatuh dari sepeda, pipinya yang chubby memar
Namun senyumnya tak berubah
Senin itu dia tampil dengan rambut baru, mungkin poninya terlihat sedikit kependekan
Membuat mukanya semakin bulat membingkai, aku tetap suka
Aku pernah diam-diam mengambil fotonya dari binder temanku
Masih memakai seragam olahraganya, rambut di ikat tinggi-tinggi
Membawa botol minum kesayangannya lengkap dengan sedotan
Wajahnya Nampak kucel dan berkeringat
Dia lebih memesona
Pinus…
Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika kau sedang terlelah?
Perlahan lelaki itu membalikkan badan. Kayra yang telah yakin bahwa dia adalah seseorang yang hadir yang dia inginkan untuk membawa hatinya. Pelan-pelan dia menampakkan diri dari balik pohon. Keduanya berpandangan…
Dan…
Selesai…
Applause yang begitu semangat mengakhiri adegan Billy dan Dany. Namun, rupanya adegan itu dilanjutkan secara spontan oleh Billy. Dia mengambil gitanya, berjalan pelan menghampiri Dany yang masih tertegun dihadapannya.
“Pinus…” Billy menoleh kearah Kiena untuk memastikan perasaannya.
Kiena dengan senyum melembut penuh kepastian ditujukan untuk Billy. Anggukan yang ditunggu Billy dari Kiena juga telah ia dapatkan.
“Kayra, Kiya, Dany, Danya Fitra Regana… Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika kau sedang terlelah? Tertanda Erthein Deliuska Billy.”
Dany masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Billy didepan semua orang. Meskipun itu adalah yang sebenarnya dia harapkan selama ini. Dia hanya mengangguk, tanpa suara. Kali ini bukanlah adegan, bukan juga latihan. Namun, Billy benar-benar telah menyatakan perasaannya pada Dany. Semua orang masih tersipu dengan pengakuan romantis Billy. Sementara Kiena yang dengan senyum perihnya menelan semua rasa pahit yang tampak jelas didepan mata. Entah kenapa rasanya begitu nyilu. Ia coba redam dan terus meredam. Dany adalah sahabat yang baik. Dia berhak mendapatkan yang terbaik pula. Pelan-pelan ia meninggalkan sekerumunan itu. Mengundurkan diri secara perlahan. Sampai Billy tak dapat melihat sosoknya lagi ketika ia tengah memeluk erat Dany.
Kiena menjauhi perkemahan. Ia kembali mendatangi tempat indah yang baginya sangat nyaman untuk mengadu pada pepohonan yang berdesir pelan. Terik matahari yang terhalang oleh rindangnya daun-daun serta kabut tebal diatas sana sesekali menyoroti tubuh Kiena.
Pi, mungkin ini saat yang tepat aku melupakan semuanya. Aku memang harus membuka mata bahwa kamu tak pernah ada dan tak akan pernah ada untukku. Mengingatmu, hanya akan membuat sesak dadaku. Dan aku tak mau terus menerus terpenjara dihutan pinus ini. Aku ingin lepas, dan membiarkan hatiku terbawa oleh desiran angin yang akan datang menghembusku. Akan kukubur namamu atas nama cinta yang pernah singgah dan berarti tiga tahun lamanya.
Kiena begitu berkonsentrasi dengan secret of life sampai ia tak mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat dari belakang.
“Kamu disini?”
Kiena kaget dan sontak menoleh kebelakang. “Rolan?” Ia cepat-cepat menutup bukunya.
“Lucu ya?”
“Hhhh…”
“Melihat pemain yang jatuh cinta dengan lawannya.”
“Iya…”Kiena mengangguk pelan. “Itu hal yang wajar.”
“Lalu, bagaimana menurut kamu dengan ketua Jurnalis yang mengagumi penulis skenarionya sendiri?”
Kiena menoleh cepat.
“Apa itu juga wajar?”
Kiena, kamu baru saja melepas segala kenangan tentang pinus. Sekarang desiran angin datang untuk menghembus hatimu yang beku sekian tahun. Bukan dia, bukan juga dia…
“Aku memang bukan Billy, yang mampu membuat semua orang terkesima. Aku juga bukan satu dari bagian pohon pinus disini yang membuat kamu jatuh cinta dengannya untuk berlama-lama menikmatinya. Akau hanyalah seorang yang mampu melihatmu dari jauh dan menunggu kesempatan itu tiba hingga detik ini.”
“Tapi…aku hanya seorang penulis biasa. Aku bukan orang yang special.”
“Dimataku, special itu adalah jika seseorang mampu memberikan banyak kejutan bagi orang lain. Dan itu kamu. Kamu telah memberikan kejutan bagi kami. Semuanya Ki. Semua orang kagum sama kamu. Termasuk aku,”
“Kamu yakin?”
“Beri aku keyakinan itu, agar aku benar-benar yakin.”
Kiena tersenyum pelan dan menganggukkan kepalanya.
“Jadi?”
“Iyaaa.” (karena aku tak pernah yakin dia ada dan siapa…)
To be continue,




GUNCANGAN ITU MASIH TERASA
Babak baru dimulai. Kedua pasang tangan itu bergandengan. Mereka saling memiliki. Kiena tak akan merasa menjadi kambing congek lagi sekarang. Begitu juga dengan Dany, sahabatnya kini telah ada yang menjaga. Billy, yang ikut tersenyum dalam hati setelah rentetan kejadian yang berjalan begitu cepat sehingga mengubah semuanya.
Pagi itu seperti biasa Dany dan Kiena berangkat sekolah dengan sepeda masing-masing. Pagi yang cerah.
“Nih,”
Billy segera membuka buku secret yang mereka buat setiap minggu.
“Jangan dibuka sekarang! Malu tahu…” Dany merebut buku dari tangan Billy dan segera menutupnya kembali.
“Ya udah, aku buka nanti tengah malam kalau kamu udah tidur.”
“Ya nggak usah malam-malam banget kali.”
Billy spontan mengacak-acak rambut Dany dan Danypun berteriak kecil. Dibelakangnya Kiena ikut tersenyum.
“Ehmm, gue duluan deh. Lama-lama disini, jadi gigit jari nih.” Kiena mempercepat langkahnya dan melambaikan tangan kepada keduanya ala putri Indonesia.
“Eh eh eh…” Billy menarik tangan Kiena.
“Kenapa? Lo mau gue ngacir disini lihatin kalian berdua?”
Billy yang tersenyum dengan ekspresi marah Kiena kemudian juga mengacak-acak rambut Kiena tanpa rasa bersalah.
“Aduh Dan, pacar siapa sih ini usil banget!”
Dany tertawa melihat keakraban mereka berdua. “Kalau gue peratiin, kalian cocok juga tuh pacaran.”
Kalimat yang mengejutkan telinga Kiena juga Billy. Keduanya saling pandang. Hanya kisaran detik.
“Gue? Pacaran sama dia? Bisa tiap hari gue makan gombalan gitarnya.” Kiena segera membela diri dan pergi berlalu.
v   
Apakah harus setiap bertemu seperti ini. Berpura-pura akrab untuk sahabat. Tapi sampai kapan. Semakin sering bertemu semakin pula ingin menghindar. Ingin menyatakan bahwa perasaan itu salah. Rasa yang setiap saat datang mengejutkan. Atau hanya akan terus seperti ini sampai nanti.
“Na, minggu depan anak teater mau ada pertemuan dengan SMA 4.”
“Hhhh?”
“Kamu mau ikut?”
“Jurnalis juga?”
“Enggak sih. Tapi Billy nawarin buat ikut. Kan ada Dany juga. Nanti disana kita bisa sharing sama anak teater dan ketemu sama anak jurnalisnya.”
“Boleh, udah lama nggak ada kegiatan jadi lupa sama jurnalis.”
“Kalau sama ketuanya?”
“Hah?”
“Lupa juga?”
“Rolan apaan sih? Nggak lucu.”
Satu semester berpacaran kedua pasangan itu nampak baik-baik saja. Terutama Dany dan Rolan.
“Na, ntar pulang sekolah mampir kerumah ya.”
“Tumben banget, ada apa nih.”
“Mama buat kue. Dany sama Billy sekalian biar rame.”
“Wah, kacau tuh kalau ada Dany. Dia pemakan segala. Hahaha…”
“Asal nggak makan kamu aja…”
v   
“Siang tante!!!” Ketiga suara cempreng itu terdengar kencang di telinga mama Rolan.
“Wah, Rolan bawa pasukan ya. Kebetulan tante bikin kue percobaan. Ayo sini,masuk dulu.”
“Pada langsung masuk ke kamar gue aja.”
“Permisi tante…” dua perempuan dan satu laki-laki itu mengikuti langkah Rolan.
Diruang tengah mamanya telah menyiapkan kue serta minuman untuk mereka. “Rolan! Jangan lama-lama di dalam kamarnya ya. Makanannya mama taruh meja.” Teriak mama pada Rolan yang masih berada di dalam kamar dengan ketiga temannya.
“Udah lo semua nggak usah sungkan.”
“Ya karena nggak punya sungkan, gue sama Dany laper nih. Kita keluar dulu yah.” Billy tiba-tiba menyeret tangan Dany dan mengajaknya keluar kamar.
Hanya tinggal Rolan dan Kiena berada di kamar. Keduanya saling diam. Kiena berusaha memecah suasana. Dia menuju ke meja belajar Rolan dan melihat-lihat komponen yang ada. Sementara Rolan masih menyibukkan dirinya dengan membereskan baju-baju yang terlihat sedikit berantakan.
“Na, aku sambil beresin baju-baju aku ya. Jadi nggak enak nih di lihat sama kamu.”
“Rolan, kamu bilang seperti itu, emang aku ini siapa kamu sih.” Kiena tersenyum.
Rolan reflek menjatuhkan baju-baju yang dipegangnya kemudian berjalan kearah Kiena dan memeluknya sangat erat.
“Dan, hp aku di kamu nggak?”
“Aku dari tadi nggak bawa kok. Di kamar Rolan kali.”
Billy berjalan menuju ke kamar Rolan. Pintu memang sengaja tidak di tutup sehingga aktivitas apapun di dalam kamar akan terlihat dari luar. Termasuk yang satu ini. Rolan masih memeluk erat Kiena ketika Billy tak sengaja telah sampai di depan pintu.
Rupanya Kiena mengetahui keberadaan Billy. Dia ingin segera melepaskan pelukan Rolan. Namun dari luar Billy seolah tak mengijinkan.
Tetap dekap erat Ki. Dia butuh kamu…
Kiena tersenyum kemudian Billy meninggalkannya tanpa mendapatlan hp yang ia cari.
“Rolan, keluar yuk. Kayaknya anak-anak pada nungguin kita tuh.”
Rolan yang merasa sangat malu karena terlalu lama memeluk perempuan yang selama ini dukaguminya. Sementara menunggu Rolan membersihkan baju-bajunya Kiena melihat satu kotak yang berada di laci meja belajar Rolan. Ia kaget karena menemukn fotonya ada di dalamnya.
“Rolan?”
“Hmm?”
“Kenapa bisa ada disini?”
“Oh, itu aku dapat dari Billy. Karena tahu aku suka sama kamu, dia kasih foto itu buat aku Na.”
Kapan Billy ambil foto itu?
“Billy itu bukan Cuma baik, tapi dia juga care. Bahkan, dia juga yang mengusulkan untuk kita camping ke hutan pinus karena tahu kamu sangat suka dengan tempat itu. Sehingga lebih sesuai dengan cerita kamu, Na. dia juga yang berhasil kasih support aku buat nembak kamu.”
“Na?”
“Na?”
Kiena tercengang dengan semua pernyataan yang baru saja di dengarnya.
“Na? Kamu kenapa?”
“Eh, iya. Billy itu orangnya baik. Sangat baik.”
Rolan merasa pikiran Kiena tak sedang berada disana dengannya. “Ya udah, gabung sama anak-anak yuk.”
Keluar dari kamar Rolan wajah Kiena tampak berbeda. Itu yang dilihat Billy. Tatapan tajam kearahnya membuat Billy penasaran.
“Yang baru dapat pelukan.”
“Bil, sini lo ikut gue!” Kiena menyeret Billy menjauhi ruang tamu. Dany yang sibuk dengan majalah yang asyik di bacanya. Rolan yang berbelok kearah dapur setelah keluar dari kamar.
“Kenapa?”
“Apa, Ki?”
“Kenapa foto gue ada di Rolan?”
“Ya, hal yang wajar kalau pacar kamu punya foto kamu.”
“Kenapa lo ambil foto gue dan lo kasih ke dia?”
“Ki, masalahnya apa sih?”
“Masalahnya, kenapa lo selalu ikut campur dalam hubungan gue sama Rolan. Lo itu siapa? Lo Cuma teman gue dan nggak lebih. Jadi lo nggak seharusnya campurin urusan gue sama dia!” Rasa amarah menguasai emosi Kiena.
Belum sempat mencicipi kue buatan mama Rolan Ia langsung pergi ke dapur dan berpamitan.


Sudah satu minggu Kiena dan Billy tak saling menyapa. Bahkan Rolan dan Dany tak tahu apa masalahnya. Mereka menjadi imbas dari permusuhan kedua sahabat juga pacar masing-masing. Segala cara dilakukan agar keadaan kembali seperti semula. Jika mereka bisa memutar waktu, akan di hapus kejadian permusuhan ini agar tak berdampak lebih panjang seperti sekarang. Bahkan hubungan keempatnya nyaris merenggang.
“Sebenarnya ada apa dengan mereka Dan?”
“Gue nggak ngerti…”
Dany hanya menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Kiena tak mau menemui Rolan dan Dany jika ada Billy. Begitu juga sebaliknya. Sehingga hampir dua minggu ini Rolan dan Dany hanya terlihat berdua. Bermaksud mencari solusi namun belum ada tanda membuahkan hasil. Bahkan pertemuan dengan SMA Empat tak berjalan semulus yang Rolan pikirkan. Jika Kiena ditanya, jawabnya “Tanya aja sama Billy”. Sebaliknya Billy, “Tanya Kiena aja.”
Ada apa sebenarnya dengan diriku. Aku telah menyakiti banyak orang. Rolan, pacarku sendiri. Dany, sahabat yang sekaligus telah ku anggap sebagai saudaraku. Kini keduanya bingung hanya karena aku marah dengan seseorang yang membuatku sangat benci padanya. Seperti marah pada tiga sekaligus. Maafkan aku…
Rolan dan Dany,
Maaf aku sembunyi dari kesalahan. Jangan anggap aku sebagai pacar dan sahabat yang egois. Sekembali nanti aku sudah siap untuk menerima semuanya.
Lovely
Kiena
Rolan dan Dany yang membacanya dengan rasa kecewa. Sahabat sekaligus pacar mereka harus pergi meninggalkan dua orang yang sangat menyayanginya. Billy juga lebih sulit untuk ditemui. Libur akhir semester menjauhkan jarak antara keempatnya. Hanya ada cerita Rolan dan Dany selama dua pekan terakhir.
“Sampai kapan mereka bunuh kita seperti ini?”
“Sampai persahabatan kita hancur? Dan tidak akan ada lagi cerita?”
“Dan, sekarang kita tinggal berdua. Jangan tinggalin gue karena gue belum siap kehilangan orang terakhir."
“Lo pikir ini gampang buat gue? Lebih baik gue kehilangan Billy dari pada Kiena harus pergi. Dia sahabat terbaik gue. Dulu dia pernah merasa kehilangan karena sahabat terbaik kita harus pergi. Bahkan sampai sekarang. Itu alasannya kenapa gue begitu peka sama Kiena. Dia nggak mau kejadian yang sama terulang lagi antara kita.” Air mata tak mampu terbendung membasahi pipi Dany.
“Gue mesti gimana sekarang, Lan?”
Rolan mengelus pundak Dany pelan. Teras yang tak begitu luas dengan rumput-rumput kecil memenuhinya. Dua kursi tanpa penghuni dengan satu meja di tengahnya terletak di samping kiri pintu masuk rumah Dany seolah hanya sebagai pelengkap. Di lantai depan pintu duduk dua orang yang tengah mengalami guncangan hati yang sama besar. Tanpa sadar Dany merebahkan kepalanya di pundak Rolan.
Adegan yang sangat singkat. Billy datang bersama motornya dengan laju pelan hendak memasuki halaman rumah Dany. Melihat dua orang yang tampaknya tengah menikmati suasana entah kesedihan atau sebaliknya. Dengan cepat ia memutar balikkan motornya. Tanpa berhenti dan mengucap apapun Billy menarik gas motornya sekencang mungkin.
Sementara Dany yang tak menduga kedatangan Billy sebenarnya merasa sangat senang. Namun kenapa harus terjadi hal tak mengenakkan seperti yang baru saja terjadi. Dia pergi begitu saja meninggalkan rasa rindunya karena tak ada kejelasan selama hampir dua minggu. Tanpa kabar yang jelas dari Billy. Ada apa sebenarnya dibalik semua ini. Kenapa Billy juga ikut menghilang bersamaan dengan tenggelamnya nama Kiena sejak awal liburan kemarin. Bahkan tanpa tahu alasannya. Dany bahkan berlari hendak menyusulnya, namun kecepatan laju motor Billy tak mungkin bisa di cegah oleh Dany. Kakinya melemas, wajahnya pucat dan dengan pelan ia membiarkan tubuhnya melunglai di tengah jalan depan rumahnya. Perumahan kecil itu jarang di lewati kendaraan sehingga tanpa berpikir apapun Dany tetap berlama-lama disana.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan mengajak Dany untuk kembali. Namun tak dihiraukannya. Bahkan ia tak mendengarkan perkataannya.
“Percuma tetap disini. Billy tidak akan kembali untuk sekarang.”
Tahu dany tak menghiraukan, Rolan mengalah untuk menekuk lututnya dan ikut duduk bersama Dany meskipun bukan tempat dan waktu yang tepat.
“Apa salah gue Lan?”
“Menurut lo? Gimana dengan gue?”
“Menurut gue mereka yang salah karena dengan sengaja telah buat kita jadi seperti ini.”
“Kalau begitu lo adalah orang yang egois.”
“Lalu bagaimana dengan mereka? Apa sebutan yang tepat untuk mereka?”
“Kita akan lebih egois jika memaksakan diri. Ingat Dan, cinta itu bukan untuk dipaksa. Mungkin mereka sedang ingin memecahkan masalah yang belum bisa mereka ceritakan sama kita.”
“Lalu apa gunanya kita? Bukankah jika kita telah berpasangan setiap masalah akan dihadapi bersama?”
“Nggak semuanya.”
“Terus apa?”
“Buktinya, mereka lebih memilih untuk pergi. Bukan berarti mereka tidak mau berbagi.”
“Sampai kapan?”
“Sampai mereka telah ingin kembali. Kamu tenang aja Dan. Billy pasti akan kembali. Tapi tidak untuk sekarang. Orang bilang cinta itu membingungkan. Dan aku baru saja mengalaminya.”
“Itu mah karena lo dodol. Hahaha…”
“Itu kau bisa ketawa. Kenapa nggak dari tadi?”
“Bodoh! Gue ngetawain lo yang nggak lucu tuh. Dasar, bisa-bisanya Kiena jatuh cinta sama lo.”
“Ya karena cinta itu membingungkan. Hahaha!”


Tempat pertama yang membuat Kiena merasa jatuh cinta dan ingin berlama-lama disana. Lagi-lagi pinus tak benar-benar terlepas dari catatan perjalanan hidupnya. Rupanya secret of life belum berakhir. Bahkan ini mungkin akan menjadi babak pertama penemuan cinta yang sesungguhnya. Disini cerita itu mulai dibuat. Dihutan pinus ini. Cerita tentang dua orang remaja yang menyatukan hatinya untuk cinta. Bahkan sejarah itu masih melekat di benaknya. Bahwa dia, Kiena, masih mengingat tokoh itu. Tokoh Kizza yang tadinya adalah cinta pertama bagi Kiena. Namun seiring berjalannya waktu dia telah berusaha untuk menghapus, mengubur kenangan yang tak akan mungkin lagi kembali. Mau tak mau, tokoh lain hadir dalam kehidupannya. Tokoh yang sempat membuatnya benci, bahkan hingga saat ini karena telah sering mengguncangkan hatinya dengan tiba-tiba.
Pergi!!! Pergilah rasa ini jauh-jauh dari hatiku! Aku benci setiap kali merasakan ini. Lagi-lagi aku telah menyakiti banyak orang yang menyayangiku. Benci karena aku tak kuasa membendungnya. Benci karena tak mampu berbuat apa-apa. Benci akan kehilangan semuanya. Enyahlah dari dalam diriku, wahai penyihir yang mengubahku menjadi seseorang yang jahat! Enyahlah…
Selama satu minggu terakhir dia menulis kalimat-kalimat itu dan di tempelkannya di pohon pinus sebanyak yang ia tulis. Jika hujan datang, kertas itu berubah melunak dan memburamkan tulisan-tulisannya. Bahkan sampai nyaris tak dapat terbaca. Sekalipun olehnya. Maka keesokan harinya dia akan menulis lebih banyak lagi dan berharap tak akan ada hujan yang menghapus isi hatinya. Atau memang ini adalah pertanda bahwa sekembali nanti dia tidak akan lagi membawa rasa sesak di dadanya karena telah hanyut terbawa oleh derasnya tetesan air hujan.
Tiga hari terakhir Kiena merasa ada yang aneh. Kenapa ada satu kertas yang sama sekali tidak terbasahi oleh air hujan. Padahal kertas itu di taruhnya dalam posisi yang sama dengan kertas-kertas yang lain meskipun di pohon yang berbeda. Bahkan setetespun tak ada. Kertas itu masih utuh seperti kemarin ia menempelkannya. Seharian ia coba menunggui. Tak ada hewan atau apapun yang dicurigainya. Dipindah kepohon yang lain, juga tetap kering dan rapi. Akhirnya dia beranikan diri untuk menungguinya malam-malam. Barang kali ada yang sedang berkemah di hutan ini. Di pos pendakian itu tak Nampak ada rombongan yang datang. Penjaga juga telah mengatakan tak ada yang naik beberapa hari terakhir.
“Tapi, saya ingat seminggu yang lalu ada yang naik sendirian mbak.”
“Orangnya seperti apa Pak?”
“Ya mana saya ingat. Wong yang naik itu banyak dan selalu bawa tas yang besar itu lo mbak.”
Akhirnya Kiena meminta tolong kepada penjaga pos pendakian Cemoro Sewu di Gunung Lawu, Solo Jawa Tengah. “Tolong temani saya menunggui hutan ini nanti malam ya, Pak.”
“Wah, saya ndak pernah naik mbak. Dingin sekali lo disata itu.”
“Saya bayar deh. Bapak Cuma temani saya. Tidur juga tidak apa-apa. Asal saya tidak sendirian.”
“Sampean ini kok aneh to mbak. Sudah seminggu lebih disini. Sendirian lagi. Apa ndak takut?”
“Saya punya misi rahasia, Pak.” Kata Kiena seraya bercanda.
“Ya sudah, nanti malam saya temani. Tapi besuk mbak harus pulang lo ya. Jangan disini lama-lama. Cewek kok keluruyan.” Kata Si penjaga khawatir.
“Siap! Terimakasih banyak Pak.”
Malam itu suasana begitu sunyi. Tampaknya cuaca bersahabat dengan Kiena. Sekitar jam sebelas malam Kiena masih melanjutkan obrolannya dengan penjaga hutan. Belum ada tanda-tanda orang lain seperti yang dimaksud lelaki paruh baya itu.
“Pak, biasanya bapak juga sendirian ya jaga di pos?”
“Ya iya mbak. Mau sama siapa lagi? Ya, kadang kalau ada warga sekitar yang ikut nonton TV, baru saya ada temannya ngobrol. Tapi sudah jam sepuluh mereka pada pulang. Takut istri mungkin.”
“Ah, bapak bisa saja bercanda.”
“Mbak ndak segera tidur? Ini sudah malam. Mau nunggu apa lagi to?”
“Saya belum ngantuk. Kalau bapak capek, istirahat dulu tidak apa-apa.”
“Ya sudah mbak, saya tidur dekat tenda sini ya. Mbak jangan malam-malam tidurnya. Nanti langsung masuk tenda saja. Kalau ada apa-apa saya pasti bangun.”
Kiena masih mengamati keadaan di sekelilingnya. Hanya ada kegelapan yang menemani. Api dihadapannya masih menganga. Mungkin, jika api sudah mulai memadam dia akan masuk ke tenda dan pergi tidur.
Laptopnya masih menyala. Karena tak tahan dengan rasa kantuknya Kiena pun merebahkan badan tepat di depan laptop hanya dengan alas tikar sekedarnya.
Ia terbangun pukul tiga pagi. Kaget karena dirinya tak mematuhi nasehat Si penjaga dan tertidur diluar tenda. Akhirnya hampir sekujur tubuhnya merah-merah karena serangan nyamuk hutan yang ganas. Ia membuka jaket yang menumpang menyelimuti tubuhnya.
“Pak, ini jam berapa ya?” Kiena berusaha membangunkan penjaga hutan dengan pelan.
“Kelihatannya sudah pagi mbak. Coba saya nyalakan apinya lagi. Mbak itu tangannya kok merah-merah?”
“Iya, semalam saya ketiduran disini. Jadi tidak sempat pindah ketenda Pak. Ini jaketnya Pak, terimakasih.”
“Lhoh, ini bukan jaket saya mbak. Saya saja semalam tidak terbangun. Dan ini juga Cuma bawa sarung.” Pernyataan penjaga hutan itu mengagetkan Kiena.
“Hah?? Lalu ini?” Kiena masih memegang jaket itu tercengang tak percaya.
Ia tak lagi mengeluarkan kata-kata. Hanya memandangi jaket itu lekat-lekat. Kalau bukan milik bapak penjaga? Jadi benar dugaanku. Pasti ada orang lain dihutan ini. Tapi kenapa dia tidak mau bertemu dengan kami? Tunggu tunggu, aku seperti merasa tidak asing dengan jaket ini. “Jaket baru Dan?” “Punya Billy, gue pake kemarin…”
Mustahil dia ada disini. Dan untuk apa? Suasana pagi petang itu menegangkan urat syaraf Kiena.
“Mbak, mbak…”
“Eh iya Pak…”
“Duduk sini biar ndak kedinginan, apinya sudah saya nyalakan lagi.”
Kiena hanya mengangguk seraya berjalan mendekati api unggun yang tinggal tersisa beberapa kayu saja. Pikirannya masih tertuju pada jaket itu.
“Pak, ini benar-benar bukan jaket saya. Lalu?”
“Mbak, saya kok jadi takut. Tapi kalau ada orang yang mau jahatin mbak, kenapa malah ngasih jaket? Harusnya dia ambil sesuatu atau yang lain begitu.”
“Saya tahu orangnya, Pak. Tapi dia tidak mau menemui saya, mungkin…”
“Karena kamu selalu sibuk untuk menghindar.” Suara yang tak begitu keras namun dengan jelas masuk ke telinga Kiena dan membuatnya segera menoleh kearah sumber suara.
Dilihatnya samar-samar sosok yang tengah berdiri dari balik salah satu pohon pinus tak jauh dari Kiena.
“Billy?” Kiena sangat kaget karena dugaannya tak meleset. Dan kini orang itu sudah berada dihadapannya.
“Mbak Kiena kenal dengan orang ini? Yang saya maksud kemarin itu ya, mas ini.”
“Dia… teman saya Pak.”
“Oh, syukurlah kalau begitu. Mas, cepat ajak temannya pulang. Mbak Kiena ini sudah dari seminggu yang lalu disini. Saya kasihan, perempuan dihutan ini sendirian.”
“Terimakasih sudah menjaga teman saya Pak. Pagi ini juga kami akan segera kembali.”
Kiena menatap Billy dengan tatapan yang sangat tajam. Masih seperti sebelumnya. Namun Billy membalasnya dengan tatapan yang lembut.
“Pakai jaket gue. Buat sekarang lupakan masalah kita dulu. Biarkan gue ngurusin lo sekarang. Please…”
Kiena tak berkata apa-apa. Hampir seluruh tangannya yang merah membuat Billy sangat panic. “Berapa lama kamu tahan donor darah disini?”
Senyum itu muncul juga perlahan. Dan Kiena membiarkan kedua tangannya di olesi dengan lotion oleh Billy. Telapak tangannya terasa begitu menghangatkan hati Kiena yang beku selama ini.
“Berapa lama kita marahan?”
“Satu bulan duabelas hari.”
“Hah? Sampai sedetail itukah?”
“Tapi kamu tidak pernah peduli.” Billy masih tetap mengoleskan lotion ke tangan Kiena.
“Kamu??? Lo barusan panggil gue, kamu?”
“Ki, izinkan aku bicara sebentar. Setelah ini meskipun kamu tetap marah, aku tidak peduli.”
Kiena terpaku dengan tatapan mata Billy yang penuh keseriusan.
“Aku tahu, kamu milik Rolan dan aku punya Dany. Tapi aku tahu, kalau kamu juga tahu bahwa kita memiliki perasaan yang sama. Perasaan yang selama ini selalu berusaha kamu tutupi karena takut akan kehilangan Dany. Kemanapun kamu menghindar, tidak akan bisa merubah perasaan. Bahwa kita, aku dan kamu, saling menyayangi.”
“Teman, juga bisa saling menyayangi…”
“Ki, sampai kapan kamu akan mengingkari? Kita saling menyanyangi bukan hanya sekedar sebagai teman, tapi lebih. Kita sama-sama egois. Aku biarkan kamu di peluk oleh laki-laki lain di depan kedua mataku. Dan aku harus terus berpura-pura bahwa itu semua biasa saja. Sampai kapan? Sampai Dany dan Rolan bosan dengan kita dan akhirnya kita bisa bersama?”
“Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersama, Bil. Karena kita sudah menentukan pilihan masing-masing. Dan aku memilih Dany dan Rolan. Bukan kamu…”
“Ok. Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan. Oya, satu lagi. Foto yang aku berikan ke Rolan, itu bukan foto yang aku ambil di rumah kamu. Dan foto yang asli, masih tetap tersimpan di kamarku.”
“Kamu gila? Bagaimana kalau Dany tahu? Cepat kamu buang atau Dany akan marah sama aku dan aku tidak akan pernah mau ketemu kamu lagi.”
“Apa setiap keputusan itu selalu kamu yang ambil? Aku juga berhak melakukan apa yang ingin atau tidak ingin aku lakukan. Dan aku memlilih untuk tetap mencintai kamu, Kiena.”
Pagi itu mereka berdua meninggalkan hutan pinus. Kiena yang masih dalam diam hanya mengikuti kemana arah motor Billy melaju. Kabut menyelimuti di sepanjang jalan yang mereka lewati. Dinginnya suasana pagi itu membuat kedua tangan Kiena mau tak mau melingkarkannya pada tubuh Billy. Dan tak lama kemudian pundak Billy terasa lebih berat karena tak kuasa menahan rasa kantuknya sehingga kepala Kiena tersandar di bahu Billy.
Billy berhenti di sebuah tempat. Dan Kiena masih tertidur. Ia sengaja tak membangunkannya agar Kiena tetap bersandar di bahunya. Rasanya ia tak ingin cepat-cepat pulang. Kedua tangan itu di pegangnya erat-erat. Sehingga membuat Kiena terbangun.
“Eh, sorry gue ketiduran.” Kiena segera menarik tangannya namun di cegah oleh Billy.
“Ki, apa aku boleh minta agar kamu tetap bersandar di bahuku?”
Kiena tak menjawab. Dia melemahkan genggaman tangannya dan membiarkan Billy tetap meremas lembut di sela-sela jemarinya. Sebentar kemudian dia memeluk erat Billy.
Billy kaget dengan reaksi Kiena. “Ki”
Kiena segera melepaskan pelukan itu. Dia turun dari motor dan menikmati suasana pagi hari di tempat sejuk yang ia tak tahu itu dimana.
“Wow!!! Tempat ini Bil.”
“Kenapa? Kamu suka?”
“Banget.”
Tak lama kemudian Billy ikut turun dari motornya dan menghampiri Kiena. “Tapi aku nggak suka.”
Kiena menurunkan kedua tangannya yang tadinya ia rentangkan. “Kenapa?”
“Karena kamu sebenarnya juga tidak suka dengan tempat ini. Aku yakin setelah ini kamu akan menghapusnya tanpa secuilpun kenangan yang tersisa.”
“Bil, aku suka tempat ini. Aku suka setiap tempat yang kamu tunjukkan ke aku. Aku suka bagaimana cara kamu menyayangi aku. Aku suka karena kamu sangat menghargai aku. Aku jatuh hati sejak pertama kali lihat kamu di parkiran waktu itu meskipun yang kamu sapa adalah Dany. Aku suka cara kamu menyampaikan perasaan kamu, lewat Rolan. Aku suka cara kamu buat aku cemburu, lewat Dany. Yang aku tidak pernah suka, ketika Rere sahabat dekatku meninggalkan aku dan Dany karena dia marah kita menyukai orang yang sama…” Mata Kiena berkaca-kaca. Dadanya mulai sesak menahan emosi yang begitu kuat.
“Ki, itu Rere. Bukan Dany. Aku sudah tahu semua cerita tentang kamu dari Dany. Aku juga tahu seberapa besar Dany sayang sama kamu. Dia pernah bilang, lebih baik dia kehilangan aku dari pada kehilangan satu-satunya sahabat dekatnya, kamu.”
“Apa setelah Dany bilang seperti itu aku akan dengan gampangnya rebut kamu dari dia? Dany itu cinta sama kamu, dia tulus.”
“Lalu bagaimana dengan ketulusanku, Ki? Sudahlah, aku tahu semua ini akan percuma. Ayo pulang!” Billy menarik tangan Kiena.
“Masih banyak tempat indah menungguku.”
“Sama aku?”
Kiena mengangguk. Mereka memutuskan untuk menunda kepulangan dan menjalankan rencana dadakan Kiena. Menghabiskan hari terakhir dan berharap hari itu tak akan pernah berakhir.
Jika ini adalah hari terakhir
Maka, aku akan berdoa
Hari ini tak akan pernah berakhir
Aku ingin terus hidup
Dihari ini
Denganmu
Meski ragu mengganggu pikiranku
Bahwa dia nyata tapi tak nyata
Bahwa dia ada tapi tak ada
Atau aku ingin
Rasa ini ikut berakhir
Bersama tenggelamnya mentari
 Di sore nanti

“Iiiiih Billy jangan jambakin rambut gue!”
“Gue atau aku, Ki?”
“Gue, gue, gue… nggak suka sama lo Bill!!!!!!!!!!!!!”
Billy tersenyum mendengar pernyataan Kiena yang terlihat sangat konyol. Dibawanya kaleng fanta itu kesana kemari dan dia berlari sekencang mungkin agar suara teriakannya tak terdengar. Nyatanya jarak antara keduanya tak begitu jauh. Keduanya terus berlari menjauhi tempat dimana motor Billy di parkir.
“Bill, ini kita dimana sekarang?”
Billy hanya geleng kepala. Dia tidak serius menanggapi pertanyaan Kiena.
“Aku serius. Kita dimana? Masih di Solo?”
Lagi-lagi billy hanya geleng kepala. Lalu Kiena melemparnya dengan kaleng fanta bekas sisa minumannya.
“Auw!!!”
Billy membalasnya dengan membuka kaleng fanta yang belum sempat diminumnya di dekat muka Kiena sehingga air fanta itu menyembur ke seluruh wajahnya.
“Billy!!! Kurang ajar.”
“Gue udah nggak pakai make up dari minggu kemarin nih.”
“Nggak apa-apa. Kelihatan kok.”
“Kelihatan jeleknya?”
“Pinteeer!”
“Bill”
“Ya?”
“Makasih”
“Tumben bisa bilang terimakasih. Biasanya aku Cuma dengar kamu marah-marah.”
“Itukan biasanya.”
“Sebenarnya ini juga masih marah.”
“Berarti yang tadi itu pura-pura?”
“Banget”
Keduanya mendekat. Sama-sama merasakan keindahan kebersamaan yang singkat namun sangat bermakna.
“Ki”
“Ya”
Billy mengulurkan kelingkingnya kepada Kiena. “Untuk sahabat”
Kiena tersenyum penuh kebahagiaan dan melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Billy. “Sahabat juga tetap bisa saling menjaga.”
Keindahan sore itu berakhir seiring tenggelamnya matahari di barat sana. Butiran debu bercampur keringat membuat sekujur tubuh mereka kucel tak berwujud. Sekembali nanti semua akan seperti sedia kala. Mereka kembali ke pemilik masing-masing. Dan itu adalah kesepakatan keduanya.
Jika rasa ini memang tak bisa di cegah, maka biarkan keduanya diberi kesempatan untuk saling menjaga sebagai sahabat.


“Kalau begitu kami permisi pulang dulu tante. Tolong sampaikan salam kami kalau Kiena sudah kembali.”
“Sering-sering main kesini seperti biasanya, Dan. Kemarin tante sudah telepon Budhe yang di Solo. Katanya Kiena baik-baik saja kok.”
“Iya, malam tante.”
Keduanya berpamitan dan beranjak meninggalkan rumah Kiena ketika suara deru motor pelan memasuki halaman mungil rumah itu. Jam memang masih menunjukkan pukul tujuh dan lampu-lampu juga masih menyala benderang. Malam itu memang belum larut. Keempat pasang mata yang saling bertemu pandang. Melihat secara bergantian.
“Dany…”
“Ki!!!!! lo kemana aja? Gue kangen lo Ki. hampir setiap hari gue kerumah lo sama Rolan.”
Kedua sahabat itu berpelukan. Nampak keharuan begitu mendalam menghiasi wajah mereka. Dany yang tak hentinya memanggil nama Kiena meskipun dia telah berada dalam dekapannya.
“Dan, gue minta maaf…”
“Enggak Ki, gue yang seharusnya minta…”
“Sssssst! Udah. Sekarang gue nggak akan kabur-kabur lagi. Dan gue udah siap di omelin sama lo berdua.”
“Oiya egois banget kalau gue meluk lo lama-lama. Ada yang lebih kangen dari gue Ki.”
“Gimana? Sudah siap dengan omelan kita?” Rolan mengelus setengah mengacak-acak rambut Kiena yang sebenarnya sudah terlihat seperti rambut singa.
Keduanya berpelukan. Kiena mengacungkan jempolnya kepada Billy dan tersenyum.
“By the way, kok kalian bisa barengan sih? Atau jangan-jangan kabur-kaburannya berdua? Hayo ngaku?”
“Sudahlah Ki, mereka sudah pulang. Lo nggak kangen sama Billy?”
“Yang harusnya kangen itukan tante. Sini nak, peluk mama Nak.”
“Mama…”
“Kemarin lusa mama telepon Budhe katanya kamu lagi keluar.”
“Maafin Kiena ya Ma.”
“Ayo semua pada masuk dulu tante buatkan minum.”
Suasana kembali mencair. Meskipun ada sedikit ketegangan yang sempat terjadi beberapa detik dengan kedatangan Kiena bersama Billy. Kini Billy mengerti kenapa Kiena begitu menyayangi Dany. Bahkan kecurigaan Dany terhadapnyapun hilang dalam sekejap setelah melihat sahabat setianya, Kiena akhirnya kembali. Dia baru sadar batapa dalam persahabatan keduanya. Bahkan dia tidak menanyakan apapun padanya. Hanya Kiena, hanya dia yang di khawatirkan. Maka kini Billy tak perlu mengkhawatirkan apapun. Keputusan yang mereka ambil sudah tepat. Memang keduanya harus kembali kepada pemilik hati masing-masing. Begitulah seharusnya tanpa ada yang tersakiti. Meskipun jauh didalam hatinya memberontak. Namun melihat Kiena yang begitu kuat menjalani, harusnya dia bisa jauh lebih dari itu.
Kedamaian persahabatan mereka telah kembali. Kedua pasang kekasih itu akan memulai kembali ukiran kisah keempatnya. Tak ada rasa cemburu. Mereka adalah satu. Meskipun ada hati yang mengikat di antara hati yang lain.
Hati ini telah kembali. Kedalam hati yang sesungguhnya tempat dimana dia ada. Sedangkan hati yang kumau, malah terlihat dengan jelas setiap detiknya dimataku. Dia tak pernah pergi kemana-mana. Hanya saja hati itu juga telah memasuki hati lain yang sepantasnya. Mungkin memang begini harusnya. Sakit, bukan karena pacar, bukan juga karena sahabat. Tapi sakit, karena kami selalu bersama namun tak mampu untuk saling memiliki. Sakit, karena masih saja merasakan hal yang aneh ketika berada didekatnya. Mungkin hati ini bukan untuk di jauhkan. Mungkin hati ini ada namun tak nyata. Atau mungkin juga, hati ini yang salah karena tak mampu mengungkapnya adanya…
“Ki, ikut gue.”
“Kemana?”
“Udah ikut aja.”
Tanpa basa-basi Dany menyeret tangan Kiena dan membawanya pergi ke suatu tempat dimana sudah ada Billy dan Rolan yang menunggu disana.
“Mulai sekarang, tempat ini menjadi tempat eksekutif kita berempat. Dan setiap harinya tanpa diminta kita akan berkumpul disini untuk menghabiskan waktu bersama.”
“Setuju”
“Setuju”
“Ayo Ki bilang setuju!”
“Okelah. Setuju, setuju, dan setuju. Terus, sekarang kita mau ngapain disini?”
“Main petak umpet.”
“Yang benar aja dong! Kenapa nggak sekalian main kelereng?”
“Kelereng? Boleh juga tuh.”
“Rolan!!! Apa-apaan sih?” Kiena protes dengan tanggapan serius Rolan.
“Kita kan sudah lama nggak main seperti kanak-kanak. Apa salahnya sekarang kita coba?” Ide yang lebih gila dari Billy.
“Oh no! enggak. Gue nggak ikutan.”
“Kiena!!! Nggak boleh ada yang menolak ajakan apapun dari kita berempat.”
“Peraturan dari mana lagi tuh?”
“Dari gue, barusan.”
“Yuk ah! Seru kali Ki.”
Tanpa sabar Billy menarik tangan Kiena dan mengajaknya duduk bersila membentuk lingkaran dan ditengahnya telah disiapkan empat kelereng yang akan mulai mereka mainkan.
“Bill, perasaan Kiena tuh Cuma sama kamu aja deh mau nurut.” Kalimat yang membuat telinga Billy dan Kiena sedikit panas.
“Yaaa, ya itu karena…”
“Gue ogah dengar omelan dia lama-lama Dan. Pacar lo tuh. Bawelnya super. Cuma lo doang tuh yang mau jadi pacarnya dia pasti. Gue yakin!” Kiena segera menyerobot dengan pernyataan yang membuat Dany dan Rolan percaya saja.
“Gue nggak seperti itu. Gue suka di omelin Billy lama-lama. Itu artinya dia perhatian sama gue, Ki.”
Itu artinya aku peduli sama kamu, Ki…


“Dan, jagain sepeda gue ya. Pengen beli minum didepan. Haus banget, bangett. Pada mau kan?”
“Ya kalau lo langsung beli empat pasti nggak ada yang nolak.” Lagi-lagi Billy menyerobot.
“Mau sama aku, Ki?” Rolan menawarkan dirinya untuk menemani Kiena.
“Alah, Cuma depan itu Lan. Nggak usah.”
Adegan dimulai. Kiena dengan santainya ingin segera menuju ke seberang jalan sana untuk cepat-cepat mendapatkan minuman yang dia inginkan. Ketika baru melangkahkan kaki ia tak melihat ada sepeda motor yang melaju dengan kencang dari arah utara. Dia sibuk melihat kearah selatan karena biasanya kendaraan banyak yang datang dari arah sana. Dengan cepat Billy menarik tangan Kiena dan tanpa sengaja badan Kiena terjatuh kedalam pelukan Billy karena terlalu kencangnya tarikan tangan Billy.
Dany dan Rolan yang tengah duduk di halte ikut histeris. Namun keduanya tak menyadari ada degupan yang begitu kencang antara kedua pasang bola mata yang kini masih saling pandang. Begitu menyadari rasa aneh itu, Kiena dengan cepat menendang kaki Billy.
“Cari kesempatan ya! Kurang ajar banget sih. Ini lagi, kenapa pakai pegang-pegang tanga segala! Dany!!!!! Pacar lo, ihhhhh!!!!!”
“Harusnya gue biarin aja lo ditabrak motor. Nih, pikir pakai otak.” Sambil Billy memukul-mukul kening Kiena dengan jarinya. “Jangan ditarukh dengkul!”
Dany dan Rolan tertawa melihat adegan konyol kedua sahabatnya itu meskipun tadi sempat cemas karena Kiena hampir saja terserempet motor jika Billy tak dengan cepat menariknya. Sedang Kiena, yang berusaha menyembunyikan rasa kakunya segera pergi menyeberang.
“Buk, teh botolnya empat. Yang paling dingin ya, Pak. Kalau perlu yang sudah beku.”
“Ya mana ada mbak teh botol yang sampai beku? Mbak ini ada-ada saja.”
Kiena malu sendiri dengan pernyataannya maskipun hanya kepada tukang penjual minuman.
Mereka duduk berderet di halte sambil menikmati teh botol dalam genggamannya masing-masing. Sedikit hening. Mungkin karena terlalu menikmati terik matahari pada jam dua siang yang membuat keeling wajah keempatnya.
Sementara Kiena menikmatinya dengan sangat. Hingga dia tak menyadari sedotan yang ada dimulutnya hampir saja patah jika Billy tak mengagetkan lamunannya. Dan pragggggggg!!!!!
“Hihhhhhhh, mau lo apa sih?”
“Heh?”
“Dany!!!!! Bawa jauh-jauh pacar lo dari gue! Gue marah, marah, marah!”
Baru saja Billy akan memberikan minumannya untuk Kiena. Tapi rupanya Rolan telah lebih dulu mengulurkan tangannya dan memberikan minumannya untuk Kiena.
“Sudah, jangan teriak-teriak Ki. Kenapa sih kalian berdua ini dari tadi ribut saja? Aku sama Dany sampai iri lo.”
Yang benar saja. Percekcokan seperti itu apa menariknya sih? Bahkan aku lelah setiap hari harus bertengkar dengan Billy. Aku lelah karena setiap kali pula jantung ini berasa aneh. Kenapa bukan kamu Rolan? Kenapa bukan kamu yang membuat jantungku selalu berdetak lebih kencang?
Ki, kenapa aku mulai cemburu jika kamu dekat dengan Billy? Padahal aku tahu ini salah. Harusnya aku tidak boleh merasakan hal ini. Kita berempat adalah sahabat, dan akan selamanya menjadi sahabat. Maaf aku menjadi sedikit menjauhkanmu dengan Billy. Agar kita baik-baik saja.


Ki, soryy gue udah tahu semuanya. Bagaimana bisa gue marah sama lo? Tapi untuk sekarang gue emang kecewa karena ternyata semua diluar dugaan. Kenapa gue nggak pernah respon dengan cerita-cerita yang ada di dalam buku secret lo dari dulu. Karena semuanya tergambar jelas disitu. Rere, gue, Kizza, dan semua cerita tentang Billy.  Gue harus apa? Gimana? Lo sahabat terbaik gue, selamanya. Tapi sekali lagi gue minta maaf. Sekarang ganti gue yang pergi dari kalian. Billy nggal tahu apa-apa soal ini. Sekembali nanti harapan yang pasti adalah bisa ketemu lo suatu saat nanti dan kita akan tetap sahabat selamanya.
Love,
dany
“Ma! Mama! Mama!”
“Kiena, ini masih pagi. Kenapa teriak-teriak?”
“Ada apa sih, Ki? Kakak masih ngantuk. Jangan berisik!” Bahkan Nanda kakak Kiena rela keluar kamar karena mendengar teriakan yang begitu kencangnya sepagi ini di kamar sebelah alias kamar adiknya sendiri.
“Sorry, Kak.”
“Hhhh.” Nanda yang hanya mengeluarkan separuh tubuhnya dari balik pintu kemudiana kembali melanjutkan mimpi terpenggalnya diranjang.
“Ma, minggu kemarin pas Kiena masih di Solo ada yang masuk ke kamar Kiena nggak selain mama, kak Nanda atau Papa?”
“Memangnya kenapa? Ada yang hilang?”
“Enggak sih. Aduh mama tinggal jawab aja, ada atau enggak Ma?”
“Ada kok. Dany, tapi kan dia sudah biasa masuk kamar kamu. Memangnya ada apa Na?”
“Eh, Dany?” Kiena sangat kaget mendengarnya.
“Iya, Dany. Biasanya juga dia masuk kamar kamu kan?”
Tanpa menghiraukan lagi omongan Mama, Kiena beranjak masuk ke kamar dan segera menelepon Dany.
Tuuuuuuuuttttt
Tuuuuuuuuutttt
Tuuuuuuuuutttt
Ayo Dan angkat teleponnya. Dan please gue mohon angkat teleponnya. Usaha Kiena rupanya sia-sia. Dia kemudia coba menelepon ke rumah Dany.
“Halo.”
“Halo, pagi tante. Ini Kiena, Dany ada tante?”
“Oh, Kiena. Dany kan lagi keluar kota. Dia tidak bilang Kiena ya?”
“Eeee, enggak tante. Mungkin Dany lupa. Keluar kota kemana tante?”
“Dia ke Bandung. Ada saudaranya disana.”
“Saya boleh minta alamatnya tante?”
“Iya, sebentar ya Kiena.”
Tanpa persiapan dan berpikir panjang Kiena langsung pergi ke Bandung hanya dengan modal alamat yang di berikan oleh Mama Dany.
Selama dua hari di Bandung usahanya tak membuahkan hasil. Bahkan dia sudah menemukan alamat itu tapi hasilnya nihil. Saudaranya bilang bahwa Dany tidak ada disana. Atau mungkin mereka bohong karena sengaja tidak ingin ada yang mengetahui keberadaan Dany. Ah, Dany tidak seperti itu. Atau jangan-jangan Dany berbohong pada Mamanya. Jadi dimana sebenarnya dia. Kiena pulang tanpa membawa hasil.
Seminggu dirumah ia tak menemukan jawaban itu. Jika dia bertanya lagi pada Mama Dany, Kiena takut keluarga Dany akan menghawatirkannya karena sebenarnya Dany tidak berada di Bandung.
Jadi, apakah kebersamaan selama hari-hari terakhir adalah yang terakhir pula pertemuannya dengan Dany? Apakah untuk yang kedua kalinya dia kehilangan sahabat? Dan, gue benar-benar minta maaf. Padahal gue sudah berusaha untuk tidak memiliki perasaan apapun dengan Billy. Namun rupanya sulit untuk mengingkari semua itu meskipun sudah sedemikian rupa gue sembunyikan dari lo dan Rolan. Atau mungkin sebenarnya kalian berdua sudah mengetahuinya? Dan, gue selalu berharap lo akan kembali. Kembali menjadi sahabat gue. Sampai kapanpun.gue tahu ini salah. Bahkan, lo sama sekali tidak menaruh rasa curiga ketika gue sama Billy. Apa gue ini sahabat yng jahat, Dan?
Berakhirnya ujian nasional, berakhir pula cerita antara mereka berempat. Rolan memutuskan untuk berpisah dengan Kiena secara baik-baik. Namun keduanya masih sering berkomunikasi. Terkadang, jika liburan semester datang Rolan masih menyempatkan diri untuk pulang kerumah dan datang kerumah Kiena. Rolan melanjutkan kuliahnya di Surabaya. Sedangkan Kiena di Solo. Tak ada kabar tentang Billy. Terlebih Dany.
“Belum ada kabar dari Dany?”
Kiena hanya menggeleng. Dia selalu menggeleng ketika semua orang menanyakan keberadaan Dany padanya. Terkadang dia merasa marah. Dulu dia adalah sahabat dekatnya yang kemanapun pergi selalu berdua. Dimana ada Dany disitu pasti ada Kiena. Begitulah kurang lebih. Namun tidak untuk satu tahun terakhir.
“Kalau Billy?”
Kiena tak menjawab. Rolan sudah tahu apa jawabannya. Kedua orang itu ganti menghilang.
“Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, Ki. Bagaimanapun juga kalian sudah berusaha untuk tetap mempertahankan persahabatan. Aku melihat itu semua waktu itu. Kalian menyukai orang yang sama. Mungkin memang Dany sempat merasakan kebahagiannya bersama Billy. Tapi dari yang aku lihat, Billy tidak benar-benar rela melihat kebersamaan kita.”
“Lan, dimanapun mereka sekarang aku selalu berharap keduanya baik-baik saja.”
“Pasti”
“Gimana kuliah kamu? Aman?”
“Yaaa, aku dapat kenalan perempuan cantik. Dia mirip kamu, Ki. Bukan wajahnya, tapi sifatnya. Kalau aku boleh jujuur, kebih cantik dia sih. Hahaha”
“Ya kenapa enggak, Lan? Mulai sekarang kita harus move on. Bukan berarti melupakan kedua sahabat dan kenangan yang telah kita jalani. Bukan begitu?”
“Setuju. Kamu sendiri?”
“Hhhh, aku sekarang lebih menyibukkan diri. Kakak ponakanku tawarin aku kerja di tempat temannya. Ya yang pasti nggak jauh-hauj dari hobi aku dulu.”
“Nulis?”
“Apa lagi? Cuma itu yang aku bisa.”
“Tapi berkat tulisan kamu semuanya menjadi lebih baik waktu itu.”
“Bagaikan hidup di negeri dongeng? Tapi sekaranglah hidup yang sebenarnya.”
Ya, hidup sebenarnya adalah tanpa Dany dan Billy. Karena mungkin aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Maka dari itu mereka pergi dariku. Aku ini apa? Siapa? Aku hanyalah seseorang yang selalu membohongi semua orang. Dan setelah sadar. Semua orang didekatku perlahan akan pergi meninggalkanku. Kuharap, kalian masih mau memberiku maaf…


“Ki, hari ini ada jadwal kumpul sama Mas Redian, jangan sampai lupa ya.”
“Beres mbak Karin, di tempat biasa kan?”
“Kayaknya, soalnya nanti aku juga mau nyusul. Ada perlu sama dia sebentar.”
“Ah, lama juga nggak apa-apa kok. Kalau aku lihat mbak Karin sama Mas Dian cocok juga lo.”
“Udah deh, kamu anak kecil nggak usah ikut-ikutan. Oiya, katanya nanti dia mau bahas tulisan kamu sama kenalin partner baru. Katanya sih ganteng. Boleh tuh Ki. Dari pada kamu mikirin Billy Billy yang kata kamu nggak jelas keberadaannya itu.”
“Apa sih Mbak? Oya Budhe bilang nanti mau pulang sore katanya. Jadi nggak usah di jemput.”
“Hmmm, ya sudah. Aku tinggal dulu ya, Ki.”
v   
“Sore, Mas.”
“Iya, gimana nih kabarnya kamu mau gabung dengan kami?”
“Ah, itukan juga karena Mas Dian yang minta saya. Eh, ngomong-ngomong kita Cuma berdua saja nih?”
“Enggak, nanti juga ada pertemuan dengan rekan-rekan yang lain. Cuma, yaaa belum pada datang. Oiya Del, saya masih penasaran kenapa kamu lebih memilih tulisan rekan saya kemarin dari pada yang lain? Terus terang saya memang kagum dengan hasil karyanya. Cuma saya ingin lebih memastikan kalau saya benar-benar kagum dengan tulisannya, bukan penulisnya.”
“Maksud Mas Dian?”
“Ah, lupakan saja. Sebentar lagi orangnya juga datang.”
“Oooh, yaa menurut saya tulisan itu memang layak untuk memenuhi halaman majalah yang akan terbit bulan depan. Karena, selain isinya yang unik, juga alur cerita yang sedikit sulit untuk ditebak (sama persis dengan penulisnya).”
“Apa kamu bilang, Del?”
“Oh, enggak Mas. Mas Dian sudah memilih tulisan yang tepat.”
“Iya, Del. Mudah-mudahan Si penulis juga setuju.”
“Pastinya, Mas.”
Sementara obrolan itu berlanjut, Kiena datang bersama kedua rekan kerjanya. Mereka sengaja tidak mengadakan rapat ditempat kerja karena ingin mencari suasana baru. Kafe yang mulai rame dengan para pengunjung itu memang sering dijadikan sebagai tempat untuk bersantai. Bahkan juga tempat bertemunya kembali dua cerita lama, seperti sore ini.
“Sore Mas, nggak telat kan?” Sapa dua orang yang datang bersama Kiena. Mereka memang tidak terlambat, hanya saja Mas Redian yang selalu datang lebih awal.
“Iya, ini aku kenalkan sekalian calon, calon rekan baru kita, Delius. Delius ini Maya, Praja, dan ini Kiena.”
Betapa kaget Si pemilik nama terakhir melihat seseorang bernama Delius yang tengah diperkenalkan padanya.
Billy?
Kedua tangan itu bersalaman, setelah satu tahun lebih saling menghilangkan diri tanpa jejak.
“Delius”
“Kiena”
“Ini penulis hebat yang aku ceritakan tadi, yang tulisannya sudah kamu baca. Bagaimana orangnya, Del?”
“Hmmm, diluar dugaan Mas.”
“Maksud kamu?”
“Yaaa, ternyata lebih unik dari yang saya bayangkan sebelumnya.”
“Mulai sekarang kita semua adalah rekan kerja, jadi Delius kamu jangan sungkan untuk bertanya apapun pada mereka. Oya, kamu harus lebih mendekati Kiena karena nantinya partner kamu adalah Si penulis hebat ini.”
“Apa Mas? Saya?” Kiena kaget dengan apa yang baru saja Mas Redian katakana.
“Iya, kamu Ki. Siapa lagi? Penulis yang aku maksud? Nantinya dia akan menjadi sumber ide dalam kamu menulis.”
“Wah, saya sangat tersanjung juga minder Mas.”
“Semoga kalian berdua bisa menjadi partner kerja yang solid.”
“Pasti Mas. Terimakasih atas kesempatannya.”
“Oya, pada nikmati makanannya dulu. Saya mau telepon orang sebentar.”
Sementara rekan yang lain menikmati beberapa menu dimeja makan, Kiena mencoba untuk terus menghindari laki-laki yang bernama Delius atau yang tidak lain adalah Billy.
“May, aku ke toilet dulu ya.”
“Oke Ki, jangan lama-lama nanti keburu habis.”
Kiena cepat-cepat meninggalkan meja makan. Dia mengusap-usap wajahnya dengan air hingga beberapa kali sampai membasahi sebagian kerah lehernya. Dia pandangi cermin lekat-lekat.
Untuk kesekian kali, aku memang berharap bisa bertemu kembali dengan Billy. Namun kenapa, setelah nama itu berada didepanku sekarang aku seolah tak sanggup untuk menghadapinya. Dia benar-benar nyata dihadapanku. Enggak Kiena, kamu harus bisa. Apapun yang terjadi dengan kalian berdua, itu adalah masa lalu. Kamu harus professional.
Kiena menarik nafas berkali-kali. Menunggu dirinya tenang kemudian kembali bersama dengan yang lain dimeja makan. Ketika keluar dari toilet, dengan sengaja ada yang menarik lengannya begitu kencang. Kiena kaget dan sontak menoleh. Dia hampir memukul orang itu kalau saja Kiena tidak melihat bahwa yang melakukannya adalah Billy.
“Billy?”
“Aku datang!!!!!”
Teriakan yang kencang itu membuat Kiena menyumbat kedua telinganya dalam-dalam. Ternyata Billy lebih tenang dari padanya.
“Iya, ngapain sih kamu nongol disini??? Nambahin kerjaan aku pasti.”
“Hmmm, begini ya rupanya Sang penulis yang hebat itu. Sombong dan tidak lagi mengenal sahabatnya dimasa lalu. Yakin nggak mau kenal aku lagi?”
“Billy!!! Ih, jangan dekat-dekat! Iya oke, mulai sekarang kita partner dan itu juga karena terpaksa. Mas Dian yang minta, oke. Aku harus apa?”
“Oooo jadi sebenarnya kamu tidak setuju dengan usul Mas Redian? Okeee.”
Lagi-lagi Billy dengan sengaja menarik lengan Kiena dan membawanya kembali bersama rekan-rekan yang lain.
Adegan itu disaksikan juga oleh Mas Redian. “Wah wah, rupanya sudah sejauh ini ya usaha kalian untuk menjadi partner?”
“Eh, enggak, Mas. Bukan begiu, tapi…”
“Oh iya Mas, saya mau menyampaikan sesuatu. Ini, dari Kiena, Mas. Katanya…”
Kiena ketakutan karena apa yang dikatakannya pada Billy tadi benar-benar akan disampaikan kepada Mas Dian. “Auw, aduhhh! Aduhhh!”
“Kamu kenapa Ki? Sakit?”
“Iya ini Mas sepertinya.”
“Oh, itu pasti Cuma sakit biasa, Mas. Nanti, Kiena juga pasti sembuh.”
“Oh, begitu. Kamu mau ngomong apa tadi, Del?”
“Begini, Mas Dian. Kiena baru saja menyampaikan sesuatu kepada saya. Hanya saja dia bilang, tidak enak jika harus menyampaikannya sendiri kepada Mas Dian. Lalu, bolehkan saya sebagai perwakilan Kiena?”
“Pasti, Del. Sampaikan saja, mungkin itu adalah ide yang bagus.”
“Kiena bilang, Kiena bilaaang kalau diaaa, dia tidak ingin…”
Dengan kencang Kiena menginjak kaki Billy. “auwww!”
“Tidak ingin apa Del?”
“Dia tidak ingin berpisah dari saya, Mas. Meskipun baru pertama kali bertemu, tapi dia sudah jath hati dengan saya. Bukan begitu, Kiena?”
“Benar Ki?”
“Hah???”
“Kiena?”
“Eh, i iya, Mas Dian.” Kata itu berat sekali keluar dari mulut Kiena namun dia terpaksa mengiyakan permainan konyol Billy.
“Waaah, rupanya aku kalah saingan ini. Belum apa-apa saja Kiena sudah memilih kamu. Hebat kamu Del. Padahal, selama bergabung disini saya belum pernah melihat Kiena bersama dengan laki-laki, kecuali saya.”
“Ah, Mas Dian tenang saja. Kiena akan aman dengan saya. Kalau saya macam-macam, pasti Kiena sendiri yang akan melaporkannya pada Mas Dian. Mana saya berani Mas. Hehehe.”
“Bagus lah, semoga kalian lebih dekat lagi agar menjadi partner kerja yang bisa aku handalkan.”
v   
“Heh, tahu dari mana kamu kalau aku kerja disini?”
“Aku nggak tahu kamu kerja disini.”
“Bohong!”
“Terserah kamu!” Billy tetap melahap es krim yang dibelinya bersama Kiena pulang dari pertemuan tadi.
“Harusnya kamu itu berterimakasih karena aku telah menyelamatkan hati kamu dari Mas Dian.”
“Menyelamatkan apanya??? Yang ada kamu itu malah bikin masalah baru!”
“Mas Dian itu suka sama kamu. Aku tahu karena dia yang memperlihatkan tulisan kamu ke aku. Siapa yang tidak tahu dengan ‘Pinus of Love’? tulisan hati Si penulis sendiri karena dia tidak mampu mengungkapkan perasaan hati yang sebenarnya, hingga semua orang yang dia sayangi pergi meninggalkan dia.”
Kiena berhenti menikmati es krimnya. “Kamu nggak tahu apa-apa soal perasaan aku, Bill.”
“Aku memang tidak tahu apa-apa tentang kamu Ki. Tapi aku selalu jujur dengan apa yang aku rasakan.”
“Jangan bahas masalah ini!”
“Kenapa? Karena kamu takut menerima kenyataan bahwa kamu telah kehilangan sahabat-sahabat yang dari dulu kamu banggakan? Ingat Ki, Dany sudah memutuskan untuk pergi dari kamu. Apa lagi yang kamu cari?”
“Dia tidak pernah pergi. Tapi dia pasti akan kembali.”
“Kapan? Sampai kamu akan lebih kehilangan orang yang kamu sayangi lagi?”
“Bill, bisa nggak kamu tidak membahas ini lagi? Aku minta.”
Billy yang selalu bisa mencairkan suasana. Dia memandang kearah Kiena lekat-lekat. Hampir tidak berkedip. Semakin lama semakin dekat. Membuat Kiena menjadi sedikit terganggu dan mempercepat debaran jantung didadanya.
“Eh, kamu mau apa?”
“Mau ikut aku nostalgia SMA?”
Kiena masih mematung karena tatapan Billy. Tanpa sadar lagi-lagi jemari itu telah memasuki sela-sela jarinya dan dengan cepat menyeretnya untuk pergi memulai cerita baru.
Malam itu terasa menjadi lebih panjang. Solo, yang dulu pernah mengukir kenangan antara keduanya. Di hutan pinus Cemoro Sewu, Gunung Lawu, juga disepanjang jalan yang entah dimana persisnya. Mereka kembali ketempat itu. Mengulang cerita yang dulu sempat terpenggal.
“Dulu aku pernah ketempat ini, sore itu suasana langit masih melekat dimemoriku.”
“Aku juga pernah, minum fanta bersama seseorang. Sampai seharian bau keringat.”
“Tapi aku tidak melihat keringatnya waktu itu.”
“Iiiih, Billy!!! Kamu selalu membuyarkan konsentrasiku.”
“Konsentrasi apa? Mau melanjutkan cerita lagi?”
“Cerita apa?”
“Kamu tidak menulis cerita tentang kita?”
“Itu cerita kita…”
“Hah?”
“Eh, maksudku. Ah, sudahlah. Lupakan saja.”
“Kalau itu cerita tentang kita, kenapa kita sudah bersatu dalam tulisan kamu?”
“Sok tahu.”
“Tadi kamu bilang itu cerita tentang kita. Nyatanya, belum.”
“Yaa, kan tidak semua cerita itu harus sesuai dengan aslinya.”
“Tapi akan lebih bagus jika apa adanya.”
“Itukan menurut kamu.”
“Iya, dan menurutku lagi kamu sangat berharap bisa bertemu denganku seperti sekarang ini.”
“Billy!”
“Iya juga nggak apa-apa kok Ki.”
“Pulang yuk, tadi aku nggak pamit mau pulang malam. Pasti Mbak Karin khawatir.”
“Teman kamu?”
“Anaknya Budhe, aku tinggal sama Budhe. Oiya, kamu kuliah disini juga? Dimana?”
“Aku satu kampus sama kamu.”
“No no no, nggak  mungkin. Aku nggak pernah lihat kamu.”
“Tapi aku selalu lihat kamu.”
“Bill, aku serius.”
“Aku juga serius Kiena, Kienanti Prawira Dinadja, mahasiswa sastra yang selalu menyibukkan dirinya dengan tulisan-tulisan yang tidak jelas. Apa lagi?”
“Bill, jangan bilang kalau selama ini kamu tahu aku.”
“Iya, aku tahu kamu. Aku ikutin kamu Ki. Cuma, memang baru kali ini aku bisa dapat alasan yang tepat agar bisa ketemu kamu langsung tanpa dikira mengekor.”
“Billy?”
“Aku juga tahu betul apa yang dikatakan Mas Dian itu memang benar. Kamu hampir tidak pernah bersama dengan laki-laki. Kalaupun iya, pasti dia adalah Si kutu buku yang biasanya sama kamu waktu di kampus.”
“Haris maksud kamu?”
“Siapa lagi?”
“Billy, apa saja yang kamu tahu tentang aku selama ini? Kamu curang. Kamu dekat sama aku, tapi, tapi kamu tidak pernah menemuiku.”
“Aku tahu Ki. Kalau kamu masih menunggu.”
“Menunggu?”
“Menunggu seseorang hadir kembali dalam kehidupan kamu.”
“Billy cukup! Stop kata aku!”
“Ki, jangan malu karena kamu masih mengharapkan aku ada. Sekarang aku ada disini, Ki. Didepan kamu.”
“Lalu apa? Kenapa?”
“Lalu aku akan ajak kamu menikmati kerasnya kehidupan dunia yang selama ini tertunda.”
“Sok puitis.”
“Dari seseorang aku belajar. Bahwa tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. Mungkin, karena memang belum waktunya. Tapi jika aku boleh menambahkan, semua yang kita inginkan itu tergantung dari bagaimana upaya kita untuk menjadikan itu nyata.”
“Sebesar harapanku menemukan kembali Dany disini bersamaku.”
“Setelah itu, apa?”
“Ehhhhh?”
“Setelah itu? Pulang!”
“Hhhh, ini anak dari dulu sampai sekarang…”
“Kenapa?”
“Sama saja.”
“Ayo pulang! Delius!”
Kiena menarik-narik tangan Billy dan mengajaknya untuk segera pulang. Kamu masih tetap sama, Ki. Mungkin itu yang membuatku enggan pergi.
v   
“Majalah kita akan segera terbit. Bagaimana dengan persiapan kamu, Ki?”
“Kalau untuk cerpen yang kemarin itu sudah siap , Mas. Sekarang saya mulai dengan cerita baru.”
“Iya, bagus. Nanti kamu bisa ajak Delius untuk pergi ke tempat-tempat yang mungkin bisa melancarkan imajinasi kamu untuk menulis.”
“Beres, Mas. Saya pasti laksanakan dengan senang hati mengawal Kiena.”
Lagi-lagi kalimat Billy memperkeruh suasana hati Kiena. Dia sangat tidak nyaman akan itu. Takut mimiknya seketika berubah dan semua orang akan mengetahuinya.
Selesai rapat Kiena dan rekan-rekan yang lain kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Termasuk Kiena. Dia sedang mencari konsep untuk bahan menulisnya. Dan yang pasti, Billy berada satu ruangan dengannya.
“Bill, stop mengeluarkan suara-suara aneh diruangan ini!”
“Kenapa Ki? Aku kan juga ingin bantu kamu cari insprasi.”
“Inspirasi apa? Yang ada kamu selalu buyarkan konsentrasiku, ngerti???”
“Kamu tahu, suara itu jika kita dengarkan dengan seksama maka dia akan terdengar seperti alunan music yang sangat menenangkan hati. Kamu saja yang belum mencobanya.”
Di tengah keheningan Kiena dalam mencari konsep, ada saja hal kecil yang dilakukan Billy sehingga membuatnya sangat terganggu. Bahkan kadang dia bertingkah sangat aneh didepan Kiena. Dia mengetuk-ngetuk bullpen yang dipegangnya ke meja sehingga menimbulkan bunyi yang terdengar sampai ke telinga Kiena. Sesekali dia akan berdiri dan mekukan gerakan yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh orang lain seperti yang selama ini Kiena jumpai.
Kiena tahu dulu waktu SMA Billy adalah anggota teater. Tapi apa harus seperti tingkah anak teater. Bahkan menurutnya sangat berlebihan. Billy menari-nari dengan gerakan seenaknya. Kesana-kemari, berjalan ala pragawati. Mau tak mau Kiena akan tertawa melihat tingkah konyolnya.
“Billy stop!”
“Oke. Sekarang kamu sudah tertawa, dan aku biarkan kamu melanjutkan kerjaanmu dengan senyum disitu. Di bibir kamu, Ki. Jadiapapun yang akan kamu tulis nantinya pasti akan membuat kamu tersenyum bangga.”
Bisa juga orang aneh ini mempermainkan perasaan Kiena sehingga hatinya terbawa.
“Makasih, Delius…”
Akhirnya berhenti juga Billy menjalankan aksinya. Dia membiarkan Kiena tenggelam dalam inspirasi yang pastinya mulai muncul perlahan.
Tulislah cerita baru tentang kita, Ki. Maka itu akan lebih indah…
Tulisan-tulisanku tak pernah lepas darimu. Kenapa? Sekarang kamu malah muncul dengan segala daya tarik yang tetap membuatku mengarah kepadamu. Satu tahun memang waktu yang singkat. Nyatanya, seperti baru kemarin kita mengukir indah kenangan di masa SMA. Meskipun sebenarnya itu salah.
“Bill,”
“Ya?”
“Aku nggak bisa…”
“Nggak bisa apa?”
“Aku nggak bisa…”
“Nggak bisa kenapa Ki? Nggak konsentrasi nulis?”
“Tulisanku nggak apa-apa.”
“Tapi?”
“Tapi aku nggak bisa…”
“Ki, bukan nggak bisa, tapi belum bisa. Beda artinya. Di balik kegagalan, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah.”
“Tapi aku nggak lagi bahas masalah tulisan.”
“Lalu apa?”
“Aku sudah coba berkali-kali tapi tetap nggak bisa.”
“Ki…lebih baik melakukan kesalahan terlebih dahulu agar kita bisa belajar dari kesalahan itu. Kalau kamu selalu benar, kapan salahnya? Kapan belajarnya? Kalau tidak belajar, kapan bisanya? Jangan selalu benar, tapi ketika memilih hal terpenting malah salah. Itu lebih fatal.”
“Kalau begitu, menurut kamu apa aku yang salah?”
“Enggak juga. Hanya saja, kalau memang waktunya belum tepat mau bagaimana lagi?”
“Tumben…”
“Tumben apanya?”
“Tumben bisa serius.”
“Karena aku tahu kamu juga serius,Ki.”
Keduanya tersenyum dengan dialog pendek namun penuh makna. Sama-sama tahu apa yang sebenarnya di bicarakan. Sangat membantu Kiena dalam melanjutkan kisah baru yang akan di publikasikan sebentar lagi. Dia tahu betul semuanya tentang Billy. Dan dia juga tahu bahwa Billy telah mengetahui semua itu.
Hari yang melelahkan. Namun kenapa rasa itu tak cukup menguatkan ketika pertama kali keduanya berada dalam satu ruangan. Serasa waktu berjalan begitu cepat, seolah apa yang di tulisnya berada tepat di hadapannya.
Bill, jangan pergi lagi. Maka aku akan bersedia untuk mengukir semua kisah tentang kita, disini. Melihatmu saja, semuanya tergambar jelas untuk aku dengan cepat memasuki dunia ceritaku.
Hari yang singkat. Sore itu Maya dan Praja berkemas terlebih dahulu karena mereka ada urusan diluar pekerjaan.
“Ki, kita buru-buru. Kamu ada Delius nggak apa-apa kan?”
“Beres! Kalian pulang duluan. Kiena lagi asyik nggak mau di ganggu tuh sepertinya.” Billy yang menyerobot dengan jawaban seenaknya.
“Lhoh, aku di tinggal nih ceritanya?”
“Sorry ya Ki. Hari ini aja kok…” keduanya melambaikan tangan dan pergi berlalu.
Sementara Mas Redian yang juga beranjak pulang berbelok ke ruangan Kiena dan Billy terlebih dahulu.
“Wah wah, benar-benar kompak kalian berdua ini.”
“Eh, Mas Dian. Ini sebentar lagi mau pulang kok Mas. Cuma lagi tanggung.”
“Nggak apa-apa. Cuma jangan malam-malam pulangnya ya Ki. Aku lebih sayang dengan kesehatan kamu. Dari pada Sang cerpenis sakit, aku juga yang repot.”
“Beres Mas.”
“Oiya, Delius sudah pulang?”
“Masih ke toilet tadi.”
“Ya sudah aku tinggak dulu Ki.”
“Oke Mas.”
Mas Redian hendak pergi meninggalkan ruangan Kiena seketika mengingat sesuatu dan menghentikan langkahnya kemudian berbalik lagi berjalan menuju ke meja Kiena.
“Oiya, aku sampai lupa. Tadi ada yang cari kamu waktu jam makan siang. Karena kamunya tidak ada di tempat, ya aku suruh datang lagi besuk.”
“Cari aku? Siapa Mas?”
“Hmmm namanya siapa tadi ya?” Mas Redian berusaha mengingat nama orang itu.
“Perempuan, seumuran kamu. Namanya…eeeee, Kia atau siapa ya tadi?”
“Kia? K I A ejaannya?”
“Aku nggak tahu persis. Dia juga langsung pergi setelah aku bilang kalau kamu masih keluar. Teman kamu mungkin.”
Kiena memutar-mutar kedua bola matanya. Dan mencari memori dengan inisial K I A. di mana letak nama itu. Bahkan sedikitpun dia tidak bisa mengingat.
Billy telah kembali dari toilet ketika Mas Redian baru saja meninggalkan ruangan mereka.
“Ada yang baru kesini ya?” Billy mengembang-kempiskan lubang hidungnya layaknya anjing pelacak.
“Ada bau parfum lain di dalam sini.”
“Mas Dian.”
Kiena hanya menjawab singkat. Pikirannya masih tertuju pada inisial K I A yang dikatakan Mas Redian baru saja.
“Oooo, pamit dulu ceritanya. Rajin banget.”
Billy berusaha menarik perhatian Kiena namun rupanya tak berhasil. Kemudian ia mendekatinya. Menyenggol sikunya dengan kencang.
“Heh, mikirin Mas Dian ya?”
“Apaan sih Bill??? Kamu tahu Kia nggak?”
“Kia? Apa itu?”
“Hmmm, aku salah orang. Kamu kan nggak ngerti apa-apa.”
“Sialan! Maksud aku Kia apa? Nama benda, hewan, orang atau alamat? Atau apa?”
“Kata Mas Dian tadi ada yang cari aku namanya Kia. Tapi Kia siapa? Aku nggak punya teman namanya aneh seperti itu.”
Kiena masih mengingat-ingat nama itu sambil memegangi dagunya dan matanya tertuju pada langit-langit diatas seolah jawaban itu ada disana.
“Kamu yakin? Aku yang bukan temannya saja tahu siapa pemilik nama itu.”
“Jangan ngawur kamu!”
“Bagaimana kalau aku benar-benar tahu siapa dia?”
“Oke, aku berani traktir kamu makan malam, mala mini juga. Tapi kalau enggak, berarti kamu yang ganti traktir aku.”
“Traktir apanya? Baru sehari bekerja disini sudah disambut dengan pilihan yang payah.”
“Nggak setuju? Ya udah.”
“Setuju. Karena aku benar-benar tahu siapa dia. Aku juga jadi ragu kamu sahabat yang baik.”
“Maksud kamu apa???”
“Bisa-bisanya kamu sama sekali tidak ingat dengan Kiya, K I Y A. sahabat yang selama ini kamu banggakan.”
“Maksud kamu? Dany?”
“Siapa lagi, Ki?”
“Tapi kenapa dia menyebutkan dengan nama Kiya?”
“Karena aku adalah Billy, Arond, Kizza. Dan Danya Fitra Regana atau Dany, Kiya, Kayra.”
“Dany??? Jadi yang tadi cari aku kesini adalah dany? Aku nggak percaya Biil itu benar-benar dia.”
“Baru ingat kan sekarang?”
“Besuk dia kesini lagi. Mudah-mudahan dia benar-benar Dany.” Mata Kiena berkaca-kaca dalam sekejap. Merasakan sedikit keharuan yang terasa begitu menyesakkan. Semoga dia memang Dany yang di tunggu selama ini.
v   
Jika memang takdir yang telah membuat keduanya bertemu, maka hari itu adalah getaran terhebat yang pernah terasa. Tersudut oleh belenggu sorotan mata yang begitu kuat manusuk relung. Masih melekat jelas di memori, bagaimana merubah mimic wajah yang di tata sedemikian rupa agar tak ada yang menyadari betapa berdebarnya dada ini bertatap mata kala itu. Cengiran andalan yang selalu menyipitkan mata sehingga tak seorangpun tahu itu adalah bagian dari senjata. Namun, ada yang salah dengan pertemuan itu, karena masih ada yang ketiga disana. Padahal rasa ini terlanjur terjun kedalamnya dan betapa indah menjalani detik demi detik bersama. Bukan salah siapapun, hanya waktu yang belum bersahabat. Dan kini pilihan itu jatuh kepada hati lain. Maka, hati ini akan mundur. Bukan untuk lari. Namun, mempersiapkan hati agar, jika nanti hati itu kembali, maka persatukan keduanya. Rasa ini bukan pergi. Rasa ini hanya tertunda. Untuk memberi kejutan yang lebih dari yang bisa terbayangkan.
Aku, menunggumu di episode lain…
“Ini, buat minggu depan kan Ki?”
“Iya, Mas. Masih belum ketata sih. Tapi pasti saya perbaiki lagi kok.”
“Menurut aku seperti ini saja sudah menarik. Apalagi jika sudah selesai nanti.”
“Tapi, Mas. Kalau menurut saya, mungkin akan lebih menarik lagi jika ditambahkan dengan konflik yang nyata.”
“Iya iya. Ide kamu aku terima. Tolong kamu jelaskan lagi Del.”
“Jadi begini Mas, Kiena bisa menambahkan konflik yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Misalnya, dia menyukai seseorang namun sampai sekarang belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya. Berarti masalah bukan datang dari pihak lain, melainkan perasaannya sendiri.”
“Boleh juga. Ki, coba kamu sharing dengan Delius soal ini. Nanti kamu tulis dilanjutan ceritanya.”
“Tapi Mas, apa semuanya harus dari Delius? Saya juga ingin mengeksplorasi pemikiran saya sendiri.” Sanggah Kiena protes.
“Selama ini kan kamu selalu memikirkan semuanya sendiri Ki. Tidak ada salahnya kalau kamu mencoba untuk membuatnya berdua. Delius hanya sekadar pemberi ide tambahan. Penulisnya tetap kamu.”
Tidak adakah alasan lain yang membuatku bisa sedikit jauh darinya…
“Bisa saya bertemu dengan Kienanti?”
“Dengan siapa Mbak?”
“Saya Gana”
“Silahkan ditunggu sebentar.”
Siang itu langit begitu mencerahkan isi bumi. Meskipun tidak untuk Kiena. Kali ini, kejutan besar tidak terduga datang melebarkan senyumnya.
“Orangnya dimana?”
“Di ruang tunggu.”
“Oke. Thanks ya.”
Kiena menuju ruang tunggu tak jauh dari meja resepsionis. Tampak dari belakang seorang wanita sebayanya tengah duduk sambil membolak-balik majalah yang ada di meja. Rambutnya terurai indah dengan penjepit poni mungil di samping kanan.
“Selamat siang…” Kiena menyapa wanita itu. Betapa terkejutnya melihat wajah yang tak asing kini berada tepat berdiri didepannya.
“Mbak Kienanti Prawira Dinadja, saya penggemar tulisan anda.”
“Ooooh, Dany. Suara Kiena melemah. Nyaris hilang ketika Dany segera memeluknya.
Bahkan pelukan itu tak mampu menghentikan isakan tangis Kiena. Dia hanya terdiam dalam pelukan hangat Dany. Sahabat yang selama ini dinantinya, dirindukannya. Akhirnya, kini dia kembali. Dengan sejuta senyum yang merekah. Langit kembali mencerahkan hati Kiena.
“Gue tahu itu tulisan lo Ki. Gue mau minta maaf…”
Kiena masih tetap terdiam. Sepatah katapun tak mampu terucap dari mulutnya. Tetesan air mata terus mengalir membasahi pipi.
“Sejak kapan sahabat gue cengeng seperti ini? Mbak Kienanti? Saya boleh minta tandatangannya?” Usaha Dany untuk membuat Kiena agar mau mengeluarkan suaranya.
Suasana haru masih tetap menyelimuti wajah dan perasaan Si penulis.
Apapun yang akan terjadi nanti, sekarang kamu sudah kembali, Dan. Satu per satu orang yang aku cintai kini bersamaku lagi.
“Dan, gue mau minta maaf sama lo. Pasti lo pergi karena baca tulisan gue kan?”
“Tulisan apa Ki?”
“Mama yang bilang. Kalau lo pernah masuk kamar gue dan…”
“Iya, gue memang sudah tahu semuanya waktu itu.” Jawaban Dany sinis.
“Karena itu kan lo marah, kecewa sama gue?”
Dany melepaskan genggaman tangannya pada Kiena. Mundur selangkah kemudian membalikkan badan membelakangi Kiena yang masih berdiri dengan penuh harap menunggu jawaban maaf dari Dany.
“Dan, gue sudah berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu kenapa gue lebih memilih diam. Agar lo nggak pergi ninggalin gue.”
“Tapi nyatanya? Gue tahunya bukan dari lo Ki. Gue malah tahu sendiri, dari buku secret yang selama ini lo tulis. Gue baru sadar bahwa isinya itu tentang gue, lo sama Billy.” Kenapa Ki?”
“Dany, gue benar-benar minta maaf. Gue salah. Jangan pergi lagi ya…” Kiena meraih tangan Dany namun dihempaskannya.
“Ki, semua sudah terlambat. Gue sudah mutusin untuk nggak sama Billy lagi.”
“Tapi Dan. Lo masih bisa lanjutin hubungan kalian lagi.”
“Hubungan apa? Billy dimana aja, gue sekarang nggak tahu.”
“Billy ada disini Dan.”
“Maksud lo?”
“Billy ada disini. Di tempat kerja gue. Di kantor ini.” Kiena menegaskan.
“Apa? Bahkan dia sudah satu kantor sama lo? Jadi kalian sudah sejauh ini?” Nada Dany semakin meninggi.
“Dan, maksud gue…”
“Iya, gue ada disini Dany.”
“Billy???”
Billy yang tiba-tiba muncul entah dari mana arahnya langsung memasuki ruang tunggu dan sekarang tengah berdiri diantara dua sahabat.
“Tadinya gue datang kesini mau minta maaf karena kesalahan gue setahun yang lalu Ki. Tapi ternyata sampai sekarang lo tetap nyakitin hati gue. Seperti saat ini.”
Air mata kembali mengalir di pipi Kiena. Ia sangat ingin menjelaskan semua yang salah dimata Dany. Namun rupanya mulut terdiam membisu. Kaku, sedih dan perasaan lain yang bercampur menjadi satu. Tubuhnya lemas, ia duduk dengan setengah membantingkan badannya ke kursi.
Dany yang masih terus memojokkan Kiena membuat Billy angkat bicara.
“Kalau kamu datang kesini untuk menyakiti hati Kiena, lebih baik kamu pergi jauh-jauh, Dan.”
“Ooo, jadi seperti ini kalian berdua sekarang? Ki, kenapa sih lo nggak mau ngaku? Bilang sama gue yang sebenarnya! Ayo bilang!”
Kiena yang tak henti dengan isak tangisnya mulai membuka suara untuk mengungkapkan seluruh isi hantinya, meskipun kedengarannya sedikit tidak jelas.
“Iya, gue ngaku. Gue jatuh cinta sama Billy sejak pertama kali kita ketemu di parkiran empat tahun yang lalu. Gue merasa aneh setiap kali ketemu sama dia dihari-hari selanjutnya. Tapi, tapi gue tahu lo juga tertarik sama Billy, Dan. Nggak mungkin gue rusak semua itu. Bahkan, gue jadian sama Roland, berharap bisa lupa dengan Billy. Nyatanya gue lebih jatuh cinta di setiap kebersamaan hari-hari kita berempat.”
“Good. Lo punya perasaan seperti itu tapi baru minta maaf sekarang? Telat, Ki!”
“Dan, tolong maafin gue. Gue lakukan semua ini agar persahabatan kita nggak hancur seperti kita kehilangan Rere dulu.”
“Lo samain gue sama Rere? Jadi lo pikir gue sahabat yang jahat seperti Rere? Gitu!”
“Dan, stop pojokin Kiena!”
“Bill, please jangan ikut campur masalah kita.”
“Kamu minta aku untuk nggak ikut campur sementara orang  yang kalian biacarakan itu ada disini. Kamu egois, Ki.”
“Bill, untuk kali ini tolong jangan tambah masalah gue…”
“Well, kompak banget sekarang. Gue jadi merasa seperti kambing congek disini. Gue nyesel karena sudah datang untuk melihat adegan kemesraan kalian!” Dany meraih tasnya dan beranjak pergi ketika Kiena segera berlari berusaha menghalangi langkah Dany.
“Dan, tolong jangan pergi. Gue nggak ada perasaan apa-apa sama Billy.”
“Apa lo bilang Ki? Nggak ada perasaan sama Billy?”
Kiena hanya mengangguk.
“Coba lo bilang sekali lagi dihadapan Billy!” Dany menunjuk kearah Billy yang juga masih berdiri tak jauh dari keduanya.
Ini adalah yang terberat buat gue. Tapi ini buat lo, Dan…
“Bill, untuk kesekian kali gue minta lo jauhin gue…”
“Enggak, Ki. Apa yang jadi permasalahannya?”
“Gue lebih milih persahabatan gue sama Dany. Gue nggak mau kehilangan Dany lagi.”
“Kamu nggak akan kehilangan dia lagi, Ki.”
“Lo juga nggak akan lagi kehilangan laki-laki yang selama ini lo cintai, Ki.”
“Maksud kalian?”
“Kita nggak akan pergi lagi,”
“Karena aku ingin kamu Ki.”
“Dan gue ingin kalian berdua, Ki.”
Kiena tak mengerti dengan apa yang mereka berdua katakan. Biily dan Dany kemudian mendekat.
“Ki, selama ini gue nggak pernah pergi dari lo. Kita selalu ada sama lo.”
“Kita?”
“Iya, gue sama Billy.”
“Kita bertiga itu satu kampus, Ki. Cuma kamu yang nggak tahu itu.”
“Lo nggak pernah sendiri Ki. Memang setelah baca buku secret lo, gue sempat kecewa. Tapi itu dulu. Nggak lebih setelah gue dengar sendiri pernyataan dari Billy.”
“Pernyataan? Apa?”
Dany menatap kerarah Billy bermaksud menyuruhnya untuk mengatakan sendiri apa yang dikatakan Dany.
“Pernyataan bahwa sebenarnya aku suka usil sama kamu. Aku suka lihat kamu marah-marah. Dari situ aku tahu, aku jatuh cinta sama Si penulis scenario.”
Kiena lebih, bahkan semakin kaget dengan pernyataan yang serta merta terus terucap dari dua mulut itu.
“Jadi?”
“Jadi, gue tahu kalian berdua itu sama-sama nakal dari dulu. Suka tapi dipendam sendiri.” Dany memulai guyonannya.
“Dan, gue…”
“Ki…, atas nama persahabatan kita yang terjalin mulai dari beberapa tahun lamanya, maukah lo terima perasaan Billy buat gue?”
Billy Sang actor hanya tersenyum.
“Jadi lo selama ini bohongin gue? Lo semua curang! Gue marah!”
Kiena melarikan diri berusaha untuk menghindari rasa malu karena pipinya mulai menghangat.
Aku tak pernah mengerti, kenapa dalam persahabatan selalu berakhir dengan perpisahan ketika keduanya mengagumi hati yang sama. Tak lebih dengan setiap kesempatan yang pernah ku alami. Meskipun akhirnya, tak ada salah satu dari kami yang memilikinya. Dan, kami dengan sendirinya memutuskan persahabatan indah itu. Bukan maksudku, namun, kini terjadi lagi. Dan entah akan ber ending dengan bagaimana.
Kini aku tahu, bagaimana endingnya…
Tak semua sahabat itu seperti yang kutuliskan diatas. Tak semua cerita pula akan berakhir sama. Mungkin Kizza memang bukan untukku. Namun rupanya TUHAN megirimkanku Kizza lain dalam diri Billy, meskipun kita dipertemukan di lain episode.
Pinus, kamu akan tetap menjadi bagian dari kenangan dalam cerita cintaku. Cinta, bukan rasa itu yang salah. Hanya dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk kejutan yang istimewa.


“Ki, sebelum kita masuk, gue ingin lo lihat siapa yang sedang berdiri disana.”
Dany menunjuk kearah empat orang yang tengah berdiri dibawah pohon besar di dekat pintu gerbang kampus. Tiga laki-laki dan satu perempuan, yang kini berjalan semakin mendekat. Semakin dekat, semakin masing-masing wajah terlihat dengan jelas. Dan sekarang lebih jelas. Kiena sangat yakin bahwa yang dia tidak sedang salah melihat.
Dua orang laki-laki dan perempuan yang bergandengan tangan. Serta dua orang laki-laki lagi.
“Rere???”
Nama pertama kali yang disebut Kiena.
“Iya, ini gue Ki.”
Tak ada kalimat lain yang menyertainya lagi. Keduanya berpelukan. Erat, sangat erat.
“Ki, gue sama Kizza…”
Kiena langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kizza, dia datang dengan Rere. Sahabat sekaligus seseorang dimasa lalunya. Namun itu dulu. Karena kini, Billy telah menjadi masa depan Kiena.
Tak disangka, rupanya Dany menjalin hubungan dengan Roland. Keenam remaja itu kemudian saling bergandengan.
Kini aku juga tahu, mereka semuanya tidak pernah pergi. Selalu ada dihatiku. Dan, persahabatan sampai kapanpun akan selalu kujunjung tinggi.
Apa sudah kuceritakan padamu bahwa persahabatan tidak pernah menghalangi kita untuk merasakan jatuh cinta. Aku sudah membuktikannya…