Jumat, 22 Maret 2013

pinus of love


GUNCANGAN ITU MASIH TERASA

Babak baru dimulai. Kedua pasang tangan itu bergandengan. Mereka saling memiliki. Kiena tak akan merasa menjadi kambing congek lagi sekarang. Begitu juga dengan Dany, sahabatnya kini telah ada yang menjaga. Billy, yang ikut tersenyum dalam hati setelah rentetan kejadian yang berjalan begitu cepat sehingga mengubah semuanya.
Pagi itu seperti biasa Dany dan Kiena berangkat sekolah dengan sepeda masing-masing. Pagi yang cerah.
“Nih,”
Billy segera membuka buku secret yang mereka buat setiap minggu.
“Jangan dibuka sekarang! Malu tahu…” Dany merebut buku dari tangan Billy dan segera menutupnya kembali.
“Ya udah, aku buka nanti tengah malam kalau kamu udah tidur.”
“Ya nggak usah malam-malam banget kali.”
Billy spontan mengacak-acak rambut Dany dan Danypun berteriak kecil. Dibelakangnya Kiena ikut tersenyum.
“Ehmm, gue duluan deh. Lama-lama disini, jadi gigit jari nih.” Kiena mempercepat langkahnya dan melambaikan tangan kepada keduanya ala putri Indonesia.
“Eh eh eh…” Billy menarik tangan Kiena.
“Kenapa? Lo mau gue ngacir disini lihatin kalian berdua?”
Billy yang tersenyum dengan ekspresi marah Kiena kemudian juga mengacak-acak rambut Kiena tanpa rasa bersalah.
“Aduh Dan, pacar siapa sih ini usil banget!”
Dany tertawa melihat keakraban mereka berdua. “Kalau gue peratiin, kalian cocok juga tuh pacaran.”
Kalimat yang mengejutkan telinga Kiena juga Billy. Keduanya saling pandang. Hanya kisaran detik.
“Gue? Pacaran sama dia? Bisa tiap hari gue makan gombalan gitarnya.” Kiena segera membela diri dan pergi berlalu.
v   
Apakah harus setiap bertemu seperti ini. Berpura-pura akrab untuk sahabat. Tapi sampai kapan. Semakin sering bertemu semakin pula ingin menghindar. Ingin menyatakan bahwa perasaan itu salah. Rasa yang setiap saat datang mengejutkan. Atau hanya akan terus seperti ini sampai nanti.
“Na, minggu depan anak teater mau ada pertemuan dengan SMA 4.”
“Hhhh?”
“Kamu mau ikut?”
“Jurnalis juga?”
“Enggak sih. Tapi Billy nawarin buat ikut. Kan ada Dany juga. Nanti disana kita bisa sharing sama anak teater dan ketemu sama anak jurnalisnya.”
“Boleh, udah lama nggak ada kegiatan jadi lupa sama jurnalis.”
“Kalau sama ketuanya?”
“Hah?”
“Lupa juga?”
“Rolan apaan sih? Nggak lucu.”
Satu semester berpacaran kedua pasangan itu nampak baik-baik saja. Terutama Dany dan Rolan.
“Na, ntar pulang sekolah mampir kerumah ya.”
“Tumben banget, ada apa nih.”
“Mama buat kue. Dany sama Billy sekalian biar rame.”
“Wah, kacau tuh kalau ada Dany. Dia pemakan segala. Hahaha…”
“Asal nggak makan kamu aja…”
v   
“Siang tante!!!” Ketiga suara cempreng itu terdengar kencang di telinga mama Rolan.
“Wah, Rolan bawa pasukan ya. Kebetulan tante bikin kue percobaan. Ayo sini,masuk dulu.”
“Pada langsung masuk ke kamar gue aja.”
“Permisi tante…” dua perempuan dan satu laki-laki itu mengikuti langkah Rolan.
Diruang tengah mamanya telah menyiapkan kue serta minuman untuk mereka. “Rolan! Jangan lama-lama di dalam kamarnya ya. Makanannya mama taruh meja.” Teriak mama pada Rolan yang masih berada di dalam kamar dengan ketiga temannya.
“Udah lo semua nggak usah sungkan.”
“Ya karena nggak punya sungkan, gue sama Dany laper nih. Kita keluar dulu yah.” Billy tiba-tiba menyeret tangan Dany dan mengajaknya keluar kamar.
Hanya tinggal Rolan dan Kiena berada di kamar. Keduanya saling diam. Kiena berusaha memecah suasana. Dia menuju ke meja belajar Rolan dan melihat-lihat komponen yang ada. Sementara Rolan masih menyibukkan dirinya dengan membereskan baju-baju yang terlihat sedikit berantakan.
“Na, aku sambil beresin baju-baju aku ya. Jadi nggak enak nih di lihat sama kamu.”
“Rolan, kamu bilang seperti itu, emang aku ini siapa kamu sih.” Kiena tersenyum.
Rolan reflek menjatuhkan baju-baju yang dipegangnya kemudian berjalan kearah Kiena dan memeluknya sangat erat.
“Dan, hp aku di kamu nggak?”
“Aku dari tadi nggak bawa kok. Di kamar Rolan kali.”
Billy berjalan menuju ke kamar Rolan. Pintu memang sengaja tidak di tutup sehingga aktivitas apapun di dalam kamar akan terlihat dari luar. Termasuk yang satu ini. Rolan masih memeluk erat Kiena ketika Billy tak sengaja telah sampai di depan pintu.
Rupanya Kiena mengetahui keberadaan Billy. Dia ingin segera melepaskan pelukan Rolan. Namun dari luar Billy seolah tak mengijinkan.
Tetap dekap erat Ki. Dia butuh kamu…
Kiena tersenyum kemudian Billy meninggalkannya tanpa mendapatlan hp yang ia cari.
“Rolan, keluar yuk. Kayaknya anak-anak pada nungguin kita tuh.”
Rolan yang merasa sangat malu karena terlalu lama memeluk perempuan yang selama ini dukaguminya. Sementara menunggu Rolan membersihkan baju-bajunya Kiena melihat satu kotak yang berada di laci meja belajar Rolan. Ia kaget karena menemukn fotonya ada di dalamnya.
“Rolan?”
“Hmm?”
“Kenapa bisa ada disini?”
“Oh, itu aku dapat dari Billy. Karena tahu aku suka sama kamu, dia kasih foto itu buat aku Na.”
Kapan Billy ambil foto itu?
“Billy itu bukan Cuma baik, tapi dia juga care. Bahkan, dia juga yang mengusulkan untuk kita camping ke hutan pinus karena tahu kamu sangat suka dengan tempat itu. Sehingga lebih sesuai dengan cerita kamu, Na. dia juga yang berhasil kasih support aku buat nembak kamu.”
“Na?”
“Na?”
Kiena tercengang dengan semua pernyataan yang baru saja di dengarnya.
“Na? Kamu kenapa?”
“Eh, iya. Billy itu orangnya baik. Sangat baik.”
Rolan merasa pikiran Kiena tak sedang berada disana dengannya. “Ya udah, gabung sama anak-anak yuk.”
Keluar dari kamar Rolan wajah Kiena tampak berbeda. Itu yang dilihat Billy. Tatapan tajam kearahnya membuat Billy penasaran.
“Yang baru dapat pelukan.”
“Bil, sini lo ikut gue!” Kiena menyeret Billy menjauhi ruang tamu. Dany yang sibuk dengan majalah yang asyik di bacanya. Rolan yang berbelok kearah dapur setelah keluar dari kamar.
“Kenapa?”
“Apa, Ki?”
“Kenapa foto gue ada di Rolan?”
“Ya, hal yang wajar kalau pacar kamu punya foto kamu.”
“Kenapa lo ambil foto gue dan lo kasih ke dia?”
“Ki, masalahnya apa sih?”
“Masalahnya, kenapa lo selalu ikut campur dalam hubungan gue sama Rolan. Lo itu siapa? Lo Cuma teman gue dan nggak lebih. Jadi lo nggak seharusnya campurin urusan gue sama dia!” Rasa amarah menguasai emosi Kiena.
Belum sempat mencicipi kue buatan mama Rolan Ia langsung pergi ke dapur dan berpamitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar