Babak baru dimulai. Kedua pasang tangan itu bergandengan.
Mereka saling memiliki. Kiena tak akan merasa menjadi kambing congek lagi
sekarang. Begitu juga dengan Dany, sahabatnya kini telah ada yang menjaga.
Billy, yang ikut tersenyum dalam hati setelah rentetan kejadian yang berjalan
begitu cepat sehingga mengubah semuanya.
Pagi itu seperti biasa Dany dan Kiena berangkat sekolah
dengan sepeda masing-masing. Pagi yang cerah.
“Nih,”
Billy segera membuka buku secret yang mereka buat setiap
minggu.
“Jangan dibuka sekarang! Malu tahu…” Dany merebut buku
dari tangan Billy dan segera menutupnya kembali.
“Ya udah, aku buka nanti tengah malam kalau kamu udah tidur.”
“Ya nggak usah malam-malam banget kali.”
Billy spontan mengacak-acak rambut Dany dan Danypun
berteriak kecil. Dibelakangnya Kiena ikut tersenyum.
“Ehmm, gue duluan deh. Lama-lama disini, jadi gigit jari
nih.” Kiena mempercepat langkahnya dan melambaikan tangan kepada keduanya ala
putri Indonesia.
“Eh eh eh…” Billy menarik tangan Kiena.
“Kenapa? Lo mau gue ngacir disini lihatin kalian berdua?”
Billy yang tersenyum dengan ekspresi marah Kiena kemudian
juga mengacak-acak rambut Kiena tanpa rasa bersalah.
“Aduh Dan, pacar siapa sih ini usil banget!”
Dany tertawa melihat keakraban mereka berdua. “Kalau gue
peratiin, kalian cocok juga tuh pacaran.”
Kalimat yang mengejutkan telinga Kiena juga Billy.
Keduanya saling pandang. Hanya kisaran detik.
“Gue? Pacaran sama dia? Bisa tiap hari gue makan gombalan
gitarnya.” Kiena segera membela diri dan pergi berlalu.
v
Apakah harus setiap bertemu seperti ini. Berpura-pura
akrab untuk sahabat. Tapi sampai kapan. Semakin sering bertemu semakin pula
ingin menghindar. Ingin menyatakan bahwa perasaan itu salah. Rasa yang setiap
saat datang mengejutkan. Atau hanya akan terus seperti ini sampai nanti.
“Na, minggu depan anak teater mau ada pertemuan dengan
SMA 4.”
“Hhhh?”
“Kamu mau ikut?”
“Jurnalis juga?”
“Enggak sih. Tapi Billy nawarin buat ikut. Kan ada Dany
juga. Nanti disana kita bisa sharing sama anak teater dan ketemu sama anak
jurnalisnya.”
“Boleh, udah lama nggak ada kegiatan jadi lupa sama
jurnalis.”
“Kalau sama ketuanya?”
“Hah?”
“Lupa juga?”
“Rolan apaan sih? Nggak lucu.”
Satu semester berpacaran kedua pasangan itu nampak
baik-baik saja. Terutama Dany dan Rolan.
“Na, ntar pulang sekolah mampir kerumah ya.”
“Tumben banget, ada apa nih.”
“Mama buat kue. Dany sama Billy sekalian biar rame.”
“Wah, kacau tuh kalau ada Dany. Dia pemakan segala.
Hahaha…”
“Asal nggak makan kamu aja…”
v
“Siang tante!!!” Ketiga suara cempreng itu terdengar
kencang di telinga mama Rolan.
“Wah, Rolan bawa pasukan ya. Kebetulan tante bikin kue
percobaan. Ayo sini,masuk dulu.”
“Pada langsung masuk ke kamar gue aja.”
“Permisi tante…” dua perempuan dan satu laki-laki itu
mengikuti langkah Rolan.
Diruang tengah mamanya telah menyiapkan kue serta minuman
untuk mereka. “Rolan! Jangan lama-lama di dalam kamarnya ya. Makanannya mama
taruh meja.” Teriak mama pada Rolan yang masih berada di dalam kamar dengan
ketiga temannya.
“Udah lo semua nggak usah sungkan.”
“Ya karena nggak punya sungkan, gue sama Dany laper nih.
Kita keluar dulu yah.” Billy tiba-tiba menyeret tangan Dany dan mengajaknya
keluar kamar.
Hanya tinggal Rolan dan Kiena berada di kamar. Keduanya
saling diam. Kiena berusaha memecah suasana. Dia menuju ke meja belajar Rolan
dan melihat-lihat komponen yang ada. Sementara Rolan masih menyibukkan dirinya
dengan membereskan baju-baju yang terlihat sedikit berantakan.
“Na, aku sambil beresin baju-baju aku ya. Jadi nggak enak
nih di lihat sama kamu.”
“Rolan, kamu bilang seperti itu, emang aku ini siapa kamu
sih.” Kiena tersenyum.
Rolan reflek menjatuhkan baju-baju yang dipegangnya kemudian
berjalan kearah Kiena dan memeluknya sangat erat.
“Dan, hp aku di kamu nggak?”
“Aku dari tadi nggak bawa kok. Di kamar Rolan kali.”
Billy berjalan menuju ke kamar Rolan. Pintu memang sengaja
tidak di tutup sehingga aktivitas apapun di dalam kamar akan terlihat dari
luar. Termasuk yang satu ini. Rolan masih memeluk erat Kiena ketika Billy tak
sengaja telah sampai di depan pintu.
Rupanya Kiena mengetahui keberadaan Billy. Dia ingin
segera melepaskan pelukan Rolan. Namun dari luar Billy seolah tak mengijinkan.
Tetap dekap
erat Ki. Dia butuh kamu…
Kiena tersenyum kemudian Billy meninggalkannya tanpa
mendapatlan hp yang ia cari.
“Rolan, keluar yuk. Kayaknya anak-anak pada nungguin kita
tuh.”
Rolan yang merasa sangat malu karena terlalu lama memeluk
perempuan yang selama ini dukaguminya. Sementara menunggu Rolan membersihkan
baju-bajunya Kiena melihat satu kotak yang berada di laci meja belajar Rolan.
Ia kaget karena menemukn fotonya ada di dalamnya.
“Rolan?”
“Hmm?”
“Kenapa bisa ada disini?”
“Oh, itu aku dapat dari Billy. Karena tahu aku suka sama
kamu, dia kasih foto itu buat aku Na.”
Kapan Billy
ambil foto itu?
“Billy itu bukan Cuma baik, tapi dia juga care. Bahkan,
dia juga yang mengusulkan untuk kita camping ke hutan pinus karena tahu kamu
sangat suka dengan tempat itu. Sehingga lebih sesuai dengan cerita kamu, Na.
dia juga yang berhasil kasih support aku buat nembak kamu.”
“Na?”
“Na?”
Kiena tercengang dengan semua pernyataan yang baru saja di
dengarnya.
“Na? Kamu kenapa?”
“Eh, iya. Billy itu orangnya baik. Sangat baik.”
Rolan merasa pikiran Kiena tak sedang berada disana
dengannya. “Ya udah, gabung sama anak-anak yuk.”
Keluar dari kamar Rolan wajah Kiena tampak berbeda. Itu
yang dilihat Billy. Tatapan tajam kearahnya membuat Billy penasaran.
“Yang baru dapat pelukan.”
“Bil, sini lo ikut gue!” Kiena menyeret Billy menjauhi
ruang tamu. Dany yang sibuk dengan majalah yang asyik di bacanya. Rolan yang
berbelok kearah dapur setelah keluar dari kamar.
“Kenapa?”
“Apa, Ki?”
“Kenapa foto gue ada di Rolan?”
“Ya, hal yang wajar kalau pacar kamu punya foto kamu.”
“Kenapa lo ambil foto gue dan lo kasih ke dia?”
“Ki, masalahnya apa sih?”
“Masalahnya, kenapa lo selalu ikut campur dalam hubungan
gue sama Rolan. Lo itu siapa? Lo Cuma teman gue dan nggak lebih. Jadi lo nggak
seharusnya campurin urusan gue sama dia!” Rasa amarah menguasai emosi Kiena.
Belum sempat mencicipi kue buatan mama Rolan Ia langsung
pergi ke dapur dan berpamitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar