PINUS OF LOVE
Aku tak pernah mengerti, kenapa dalam persahabatan selalu
berakhir dengan perpisahan ketika keduanya mengagumi hati yang sama. Tak lebih
dengan setiap kesempatan yang pernah ku alami. Meskipun akhirnya, tak ada salah
satu dari kami yang memilikinya. Dan, kami dengan sendirinya memutuskan
persahabatan indah itu. Bukan maksudku, namun, kini terjadi lagi. Dan entah
akan ber ending dengan bagaimana.
Aku bukanlah sahabat yang jahat dan sok egois ketika
dalam hal apapun seperti tokoh antagonis di dalam sebuah cerita. Namun, apakah
itu artinya aku juga harus mengalah ketika cinta itu benar-benar datang dan aku
tenggelam di dalamnya? Bukankah, setiap kita berhak untuk merasakan jatuh
cinta? Atau memang inikah pasangan cerita yang begitu mendalam? Antara
persahabatan dan cinta…
Ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Sekolah vaforit
yang ku idam-idamkan bersama Danya dan juga Revina, sahabat dekatku ketika
masih duduk di bangku SMP dulu. Namun, itu dulu. Ketika kami masih bersahabat
erat. Dan sudah tidak ada cerita lagi ketika konflik percintaan itu datang.
Kini, aku hanya tinggal berdua dengan Danya. Revina memutuskan untuk tidak satu
sekolah lagi dengan kami. Dan melanjutkan SMA nya di sekolah lain.
“Ehm, tas baru
nih.” Kiena berdeham ketika melihat tas kinclong berwarna silver yang
terselempang di tubuh Danya.
“Iya dong. Sekolah
baru, semuanya baru lah. Dari pada punya lo, udah kucel gitu masih juga di
pakek.” Danya tak mau kalah omongan.
“Inikan kado
ulangtahun dari Rere. Gue bakal terus make sampe tas ini udah benar-benar nggak
bisa di pakek lagi.” Kiena memegangi tas itu dengan setengah mengingat
kenangan-kenangan mereka ketika masih bersama dulu.
“Udah lah Ki,
lagian juga dia yang udah mutusin buat ninggalin kita.”
“Enggak, sebelum
masalah itu datang.” Kiena tampak menyesali apa yang sudah terjadi dua tahun
yang lalu.
Dulu ketiganya
bersahabat dekat. Bahkan selalu bersama kemanapun mereka pergi. Mengikuti
ekskul yang sama, nongkrong bareng, mempunyai tempat vaforit ketika akan
menggosipkan berita terhangat, makan di kantin bersama, mempunyai kemampuan
yang hampir sama di seluruh mata pelajaran, meskipun ketiganya di pisahkan dengan
kelas yang berbeda. Sampai dengan menyukai cowok yang sama. Namun tidak untuk
Danya. Karena waktu itu dia sudah memiliki pacar terlebih dahulu ketimbang
kedua sahabatnya itu. Kienanti, Kiena dan Revina atau biasa di panggil Rere.
“Hello, lo nggak
mau masuk kelas? Udah bel tuh.” Danya menggamit lengan Kiena dan membawanya
menuju kelas.
Kali ini keduanya
dipersatukan dengan kelas yang sama juga bangku yang bersebelahan. Merangkai
kekompakan yang begitu membuat para siswa lain iri dengan kepandaian keduanya.
Namun kali ini, mereka tak mengikuti ekskul yang sama. Dany lebih memilih untuk
mengikuti ekskul teater sedangkan Kiena tertarik dengan ekskul jurnalis yang
selalu menuangkan ide-ide brilian untuk menginspirasi para pembaca dengan imajinasinya
dalam bentuk tulisan.
Seperti
siang ini, keduanya berpisah untuk mengikuti ekskul masing-masing dan akan
bertemu kembali untuk pulang bersama nanti sore.
Kiena sudah
menunggu di parkiran terlebih dahulu ketika Dany melambaikan tangannya yang
Nampak baru saja keluar dari kelas teater.
“Gimana sama
kelas baru lo Dan? Asyik nggak?” Kiena menaik-turunkan kedua alisnya kearah
Dany.
“Oke sih. Cuman
belum terlalu akrab aja satu sama lain. Lo tau nggak Ki, tadi pas perkenalan
kita pada di suruh berekspresi lepas gitu.”
“Maksudnya?”
“Jadi gini,
masing-masing itu diharuskan memperkenalkan diri dengan kemampuan yang kita
bisa. Kayak puisi, vocal, ada yang dance juga lo, ada satu yang bikin gue
berkesan Ki.”
“Apa coba?”
Ketika keduanya
tengah menaiki sepeda masing-masing dan masih asyik menceritakan pengalaman
pertamanya, orang yang dimaksud Dany lewat didepan mereka.
“Dan, apa Dan?”
“Woey, Dany…!”
Kiena terus memanggil sahabat yang ada di sebelahnya itu seketika terhenti
bercerita.
“Kiya? Belum
pulang?” Sapa seorang lelaki yang lewat didepan Dany dan Kiena.
“Ini baru mau
pulang sama teman gue.” Sambil Dany menoleh kearah Kiena.
“Duluan ya.”
Lelaki itu kemudian meninggalkan mereka berdua.
“Iya, Rond.” Dany
melambaikan tangan pada lelaki itu.
“Kiya? Sejak
kapan nama lo jadi Kiya?” Kiena kebingungan sendiri melihat sahabatnya, calon
pemain teater itu.
“Gue belum
selesai cerita nih. Jadi setiap anggota itu diharuskan mempunyai nama kecil
yang akan di pakai ketika kita lagi latihan teater. Kiya itu nama kecil gue,
bagus kan?” Dany senyum-senyum sendirian.
“Nama jelek gitu
apa bagusnya sih?” Kiena mencibir dan berusaha meledek Dany.
“Kiya itu
kepanjangan dari Kiena dan Danya. Coba, lo masih mau bilang nama lo juga
jelek?” Dany mulai mengayuh sepedanya dan keduanya berjalan menuju pulang
beriringan.
Kiena hanya manggut-manggut
mengiyakan omongan Dany.
“Kalo yang
barusan nyapa gue itu namanya Billy. Tapi kalo di teater dia di panggil Arond.
Yang tadi mau gue certain ke lo ya dia itu Ki.”
“Emangnya si
Billy atau si Aron atau siapalah itu namanya, kenapa sama dia?” Kiena masih sok
cuek.
Billy adalah
salah satu anggota klub teater yang akan menjadi teman baru Dany. Dia anak kelas
X5 sedangkan mereka, Dany dan Kiena berkelas di X2. Kocak, ramah dan senang
membawakan situasi dengan ending yang mengesankan. Itu juga salah satu yang
telah dilakukannya di kelas teater siang tadi. Bermodal gitar dan suara yang
mendukung, dia tidak menyanyikan sebuah lagu. Melainkan hanya memetik-metik
senar gitarnya agar berbunyi asal-asalan. Kemudian di tengah petikan senar
gitar itu dia menyelipkan kata-kata yang lebih terangkai menjadi sebuah syair
lagu yang berisikan nama seluruh teman barunya yang ada di klub teater sambil
menghafalnya satu per satu. Dan dengan sendirinya applause yang serempak
menyambut berakhirnya perkenalan Billy. Sejak itulah nama Billy mulai banyak di
bicarakan oleh para fans yang mengidolakannya.
Siang
itu pada jam istirahat pertama Dany dan Kiena menghabiskan waktunya untuk
mengisi perut di kantin. Tanpa di duga hampir seluruh meja yang berisikan
cewek-cewek popular di sekolah itu sedang membicarakan satu nama, yaitu Billy.
“Ki,
lo dengar nggak tuh. Masak semua lagi pada ngomongin Billy.” Dany berusaha cuek
dan menyantap bakso yang ada di depannya.
“Emangnya
kenapa Dan? Wajar kali. Namanya juga ngefans. Bentar lagi kita pasti juga bakal
kayak gitu. Gue jadi ingat sama Rere nih Dan…” Mimiknya seketika berubah
menjadi sedih mengingat sahabatnya yang tak pernah ada kabarnya sampai
sekarang.
“Ki,
sampai kapan sih lo mau ngerasa bersalah terus? Udah deh lupain Rere, ok.”
Kiena
hanya membalasnya dengan tatapan yang begitu dalam kepada sahabat satu-satunya
itu.
“Lagian
ya Ki, nggak Cuma mereka kok yang mulai ngefans sama Billy. Kayaknya gue juga
deh.” Dany merasa pipinya mulai memerah setelah mengutarakan isi hatinya pada
Kiena.
“Huuuuuu,
pantas aja lo sirik sama mereka. Udah yuk cabut, jangan sampai lo malu-maluin
gue kayak dayang-dayang itu.” Kiena menarik lengan Dany dan keduanya
meninggalkan kantin.
“Eits, sialan lo.
Emang gue cewek apaan???” Dany pura-pura marah.
“Hahahaha,
becanda kali.”
Seluruh lorong
tampak ramai ketika jam istirahat berlangsung. Dany dan Kiena duduk di taman
tak jauh dari kelasnya agar keduanya tak kesulitan masuk ke kelas ketika jam
istirahat usai nanti. Alasan lain adalah karena mereka belum menemukan tempat
vaforit yang bisa di jadikan sebagai tempat nongkrong seperti di SMP dulu.
Dari kejauhan
Nampak gerombolan anak-anak kelas X juga yang hendak masuk kelas dimana ruangan
mereka berada di lantai 2. Termasuk Billy. Dan kini langkah itu semakin dekat
dengan posisi Dany dan Kiena yang tengah berdiri hendak memasuki kelas mereka.
“Danya, nggak
masuk kelas?” Sapa Billy kepada Dany sambil tetap meneruskan langkahnya pelan.
“Eh, ini mau
masuk.” Dany menunjuk ruang kelas yang ada di depannya dengan sedikit grogi.
Dany masih terkesima
hingga setelah gerombolan itu berlalu. Dia mengelus-elus tembok kelasnya. “Aduh
Ki, kok gue jadi salting gini sih.”
“Iya gue tau.
Orang lo aja sampe hampir jatuh gara-gara nggak lihat jalan.” Kiena
menertawakan kekonyolan sahabatnya itu. “Emang, segitunya ya lo terobsesi sama
Billy?”
“Lo belum pernah
lihat dia sih Ki kalo lagi acting. Jago banget deh.” Dany masih memperkuat
argumennya.
“Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan
apa Ki?”
“Ki, apaan sih?”
“Jangan-jangan,
dia kayak gitu juga Cuma acting lagi.”
“Ah, Kiena!!! Lo
ada-ada aja. Ya beda lah.”
“Iya-iya, tapi
nggak usah kenceng gitu kali ngomongnya. Udah yuk ah masuk kelas. Lam-lama gue
timpuk lo nanti pake sepatu.
“Yeeee, Kiena…”
Minggu kedua
“Kalo lo nggak
percaya dengan kehebatan Billy, lo boleh kok buktiin sendiri. Datang aja nanti
ke kelas teater gue. Kelas lo kan selalu selesai duluan dari kelas gue.” Dany
masih tetap berusaha meyakinkan Kiena.
Gue
boleh aja nih sok cuek di depan Dany. Tapi lama-lama jadi penasaran juga sih
melihat anak-anak yang pada heboh ngomongin Billy. Apa lagi kehebohan Dany yang
nyata banget di depan gue. Kyak apa sih dia, perasaan juga kalo ketemu Cuma
biasa aja gitu.
“Boleh,
terus kalo gue udah lihat dia habis itu apa?”
“Maksud lo?”
“Yaaa, gimana
kalo setelah lihat Billy di teater gue jadi ikutan suka sama dia.”
“Aaaah, Kiena. Lo
apaan sih? Becanda kan?”
“Hahahahaha, gue
bakal jadi saingan lo buat ngedapetin Billy, Dan.”
“Ah, udah deh.
Gue tunggu elo di kelas. Jangan sampe nggak lihat! Rugi lo nanti.”
“Well students, go
on to the next chapter. We are going to discuss about narrative text. Have you
ever hear?” Suasana kelas menjadi begitu tenang seketika mendengar Bu Dewanti
memberikan pertanyaan kepada mereka.
“Ya, Kienanti.
Can you tell me about narrative text?”
“Yes, I can.
Maybe it is about a funny story, mom.”
“Good. Then, what
is the different with recount text, Danya?”
“In generic
structure mom.”
“Ok, good
answer.”
“Excuse me, Mom.
May I go to toilet?”
“Yes, please.
Kienanti.”
Lagi-lagi
keduanya bersaing secara sehat di kelas untuk mengambil hati para guru dengan
kepandaian masing-masing.
Sebenarnya Kiena
tak sepenuhnya ingin pergi ke toilet. Dia malah naik ke lantai 2 dan menuju ke
kelas Billy. Hanya ingin melihat seperti apa akitivitasnya di kelas tanpa di
ketahui oleh yang bersangkutan. Suasana kelas Billy sedikit ramai karena guru
yang seharusnya mengajar baru saja meninggalkan ruang kelas mereka.
Pelan-pelan Kiena
melewati ruang kelas itu dan berlagak seolah hanya sekedar lewat agar tak ada
yang mencurigainya. Dia mendapati Billy tengah bergerombol dengan teman-teman
lelakinya di deretan bangku paling belakang. Sekilas, ada seorang siswa
perempuan yang nampaknya hendak mendekatinya dengan menyodorkan sebuah buku.
Entah apa maksudnya. Namun, sepertinya Billy hanya menanggapi dengan
biasa-biasa saja.
Gagal deh usaha gue buat cari kejelekan Billy.
Kiena kembali ke
kelas tanpa membawa hasil apapun. Meskipun Dany tidak mengetahui itu.
“Lo ke toilet
lama banget sih.” Bisik Dany setelah Kiena kembali duduk di sebelahnya.
“Iya nih, gue
kesasar. Hehehe…”
“Dasar lo!!!”
Bel pulang
sekolah membuyarkan konsentrasi seluruh siswa. Termasuk Dany dan Kiena yang
lagi-lagi membahas tentang Billy.
“Aduh Dan, bisa
nggak sih sekalii aja lo nggak ngomongin Billy.”
“Yaa, Kiena.
Hmmm, gue punya ide deh. Gimana kalo kita taruhan?”
“Taruhan apa
maksud lo?”
“Ya taruhan. Kalo
setelah lihat Billy latihan teater lo nggak ada perasaan apa-apa berarti lo
menang. Tapi kalo lo jadi suka sama dia, lo kalah. Dan yang kalah harus traktir
makan bakso selama seminggu. Gimana? Bagus banget nggak tuh usul gue?
“Itu sih namanya
enak di elo nggak enak di gue dong!”
“Dimana bagian
nggak enaknya sih? Jadi, lo takut nih bakalan suka beneran sama Billy? Hahaha.”
“Ah, norak banget
sih lo. Oke! Gue mau. Tapi kalo ternyata gue nggak suka sama dia, elo dong
berarti yang kalah. Dan yang kalah harus antar jemput gue ke sekolah selama
seminggu. Gimana? Oke nggak tuh? Hahaha”
“Dil”
Keduanya
bersalaman seperti baru saja menyetujui perjanjian renville.
Klub jurnalis lebih
dulu selesai 20 menit dari klub teater. Saatnya Kiena membuktikan bahwa apa
yang selalu di idolakan Dany itu tak seperti kenyataannya. Dia berjalan
melewati lima ruang dari ruang jurnalisnya. Ruang itu Nampak masih gaduh. Kelas
teater memang belum selesai. Jendela kelas yang memang disusun tak begitu
tinggi sehingga tidak menghalangi pandangannya masuk dan melihat kegiatan yang
sedang berlangsung saat itu. Nampak salah satu dari mereka berusaha melambaikan
tangan kearah Kiena. Siapa lagi kalau bukan Dany.
Kiena berdiri di
balik pintu dan membiarkan sebagian dari tubuhnya terlihat oleh para anggota
klub teater. Dan merekapun tak merasa terganggu dengan kehadirannya disana.
Tapi yang paling mengejutkan adalah, ketika giliran Billy menampilkan hasil
karyanya yang entah kapan ia buat, entah ngawur atau tidak, sehingga seluruh
isi ruang menjadi begitu kaget. Terlebih Kiena. Nampaknya dia memang sangat
berbakat menjadi seorang actor. Suasana begitu hening ketika Billy atau yang
akrab di panggil Arond mulai memetik senar gitarnya seperti waktu itu.
Tak pernah ragu untuk menggerakkan jemariku
A b c…
Dan begitu seterusnya
Tapi tiba-tiba
Jari ini terasa membeku
Apakah karena kehadiranmu
Wahai bidadari yang berselimut di balik pintu
Sudikah kau mengijinkanku melihat wajahmu
Billy beranjak
dari kursi yang di kelilingi oleh para anggota teater lainnya. Entah kapan
proses itu berjalan. Dengan sekejab pemilik gitar itu sudah berada di hadapan
Kiena. Dan tanpa ragu mempersilakannya untuk masuk dan bergabung bersama
anggota yang lain. Kiena yang masih membatu tanpa sadar telah menjatuhkan
tasnya ke lantai. Ketika sadar akan kebodohan itu sesegera ia mengambil. Namun,
ia terlambat karena tasnya sudah berada di tangan Billy.
“Lain kali
hati-hati ya…”
Adegan singkat
yang mengundang tatapan sinis para anggota cewek yang tentunya menjadi iri dan
begitu cemburu kepada Kiena.
“Eh,
sorry. Gue cuman mau nunggu Dany kok.” Kiena yang merasa sangat malu menarik
mundur kakinya dan segera berlalu dari tatapan banyak mata yang seolah ingin
mencekik lehernya saja.
“Ki, sialan lo.
Belum apa-apa udah berhasil aja tuh nyuri perhatiannya Billy.” Protes Dany.
“Gue? Apa tuh
maksud lo? Gue malu banget nih gara-gara tadi.” Kiena memegangi lehernya dan kelihatan
salah tingkah dengan kehadiran Dany.
“Jadi gimana nih?
Kayaknya gue bakal dapat bakso deh selama seminggu.” Dany berjalan setengah
meninggalkan Kiena yang masih tercengang.
“Iya deh terserah
lo aja, meskipun alasannya bukan karena gue suka sama Billy. Tapi lebih pada
kasihan sama teman gue satu ini. Mau beli bakso aja pake minta-minta.” Kiena
berusaha memenangkan adu mulutnya.
“Eittt, sialan
lo.” Dany hendak berbalik kearah Kiena ketika seseorang memanggilnya dari
belakang.
“Ki!!!”
“Iya”
“Iya”
Spontan kedua
kepala yang merasa memiliki nama itu menoleh.
“Eh, sorry.
Maksud gue Kiya, Danya.” Billy merasa canggung dengan situasi tak mengenakkan.
“Ada apa Bill?
Dany menoleh kearah Kiena lalu beralih menatap Billy.
“Gue barusan di
kasih bocoran katanya bulan depan kita mau ada outdoor gabung sama anak
jurnalis.”
“Serius? Terus
kita mau perform apa?” Dany mendadak berubah mimic mendengar apa yang baru saja
Billy sampaikan.
“Kalo masalah itu
masih mau di rapatin bareng sama anak jurnalis sekalian.”
“Waaah, keren
banget tuh Bill.”
“Iya, nanti lo maukan
jadi partner gue Dan?”
“Partner apa?”
Billy hanya
melemparkan senyum kemudian berlalu meninggalkan Dany juga Kiena yang berjarak
satu jengkal dengan tempat dimana Dany berdiri.
“Ada yang nggak
bisa bobok nih nanti malam…” Kiena sengaja menabrak bahu Dany pelan.
“Eh, lo buyarin
lamunan gue aja!”
“Jangan
ketinggian. Entar sakit lo kalo jatuh.”
“Kayaknya nggak
bakal kerasa deh kalo ada Billy.”
“Dan, Billy
naksir lo tuh.”
“Iya, gue masih
kesetrum aja dari tadi. Magnetnya kerasa banget Ki.”
“Kebanyakan ngayal
lo!”
“Lo sendiri,
gimana?”
“Gimana apanya
maksud lo?”
“Kapan tuh mau
naksir cowok idaman lo?”
Kiena baru
menyadari bahwa telah lama dirinya tak merasakan yang namanya jatuh cinta.
Lagi-lagi semenjak putusnya persahabatan mereka, Kiena dan Rere. Dahulu,
mungkin itu adalah cinta pertama Kiena. Ketika sebuah ekskul mempertemukan
keduanya. Dari situ, Kiena dan Kizza mulai saling mendekatkan diri. Di usia
mereka yang masih begitu belia namun itu adalah cerita terindah yang pernah
terukir dalam album memori Kiena. Yang tak pernah terlupakan adalah ketika
Kiena pernah mengikuti lomba baca puisi dan tiba-tiba ia lupa dengan syair di
bait ketiga. Saat itu ia kebingungan melanjutkan deklamasi. Namun Kizza telah
menyelamatkannya dari demam panggung yang sedang di alami. Ia berdiri dan
berusaha menggerak-gerakkan kedua tangannya yang menggambarkan isi dari bait
penggalan puisi Kiena. Berkat Kizza, Kiena pun meraih juara satu dari sekian
banyak siswa yang mengikuti lomba baca puisi.
Mengetahui
kedekatan mereka, Rere yang diam-diam juga menyukai Kizza berusaha mengambil
hatinya dan mulai membenci Kiena. Sejak itulah Kiena tak lagi ingin jatuh
cinta. Apalagi jika ada seseorang yang ingin berusaha dekat dengannya. Ia
langusng abaikan begitu saja. Tak lebih karena ia takut kehilangan
sahabat-sahabat yang dimilikinya.
“Kienaaa!!! Gue
seneng banget nih.” Dany berteriak histeris dan memeluk erat sahabatnya.
“Lo kenpa sih?
Kesambet setannya Billy ya?”
“Iya nih, nanti
siang Billy ngajak gue pulang bareng.” Dany yang masih kegirangan tanpa sadar
begitu erat memeluk Kiena sehingga kesulitan menghirup udara segar.
“Hah, lo lupa ya?
Hari ini kan jadwal lo nganterin gue pulang? Terus gue gimana dong?!” Kiena
seketika protes mendengar pernyataan mengejutkan Dany.
“Lo bawa sepeda
gue juga nggak apa-apa kok, yah, please Ki… inikan pertama kalinya Billy ngajak
gue pulang bareng dia. Masak mau gue lewatin gitu aja???”
“Gini nih, korban
teman makan cinta.”
“Ki, dari sekian
banyak cewek yang berusaha deketin dia, baru gue lo yang dapat respon balik. Lo
harusnya senang dong sahabat lo ini bisa dapat pacar baru lagi.”
“Iya iya, blab la
bla…”
“Ki lo baik
banget, besuk gue traktir deh.”
Walaupun
kedengarannya menjengkelkan tapi di mata Kiena Dany tetaplah sahabatnya yang
begitu dia sayangi. Mungkin disinilah awal mula cerita di mulai.
“Hai, Ki…”
“Eh, iya, kamu,
Kiena maksud gue.”
“Oh, hai…”
Billy sudah berada
di parkiran ketika Dany dan Kiena hendak mengambil sepeda Dany.
“Lhoh, Kiena
gimana Dan?”
“Hmmm, Kiena biar
bawa sepeda gue aja. Nggak apa-apa kok.”
“Dia mau pulang
sendirian? Ikut kita aja sekalian. Jadikan ntar plangnya tetap bisa barengan.”
“Iya juga sih,
Ki, lo nggak apa-apa naik sepeda gue?”
“Gue langsung
pulang aja deh. Masak iya ada orang pacaran gue ikutin?”
“Hahaha, siapa
yang mau pacaran Ki? Gue cuman mau kasih liat suatu tempat aja kok ke Dany.
Yuk, kalo lo mau ikut.”
“Iya, Ki. Lo ikut
aja deh. Ntar kalo lo ilang gimana? Gue dong yang disuruh tanggung jawab sama
nyokab lo, hahaha.”
Akhirnya Kiena
menerima ajakan mereka yang dengan berat hati harus melihat sahabatnya itu
berakrab-akraban dengan Billy. Cowok yang dia ingin mengetahui kejelekannya,
namun belum pernah berhasil. Sampai sekarang. Bahkan, dia tampak semakin baik
saja. Dia berusaha tak menghiraukan dua orang didepannya dan lebih asyik
menikmati suasana jalan yang tengah di lewatinya. Ia baru sadar, belum pernah
melewati jalan ini. Jalan yang tampak lurus, rindang dengan banyak pepohonan
juga sawah membentang di kanan-kirinya. Kendaraan juga tak banyak lewat di
jalan ini. Sehingga membuatnya sangat menikmati keindahan panoramanya. Sesekali
ia berdiri dari sepeda, sambil melepaskan kedua tangannya dari setir dan
berteriak. Tempat indah itu telah membuatnya jatuh cinta.
Ternyata Billy orangnya romantis juga. Kayaknya gue udah
salah menilai dia selama ini. Eh, kenpa tiba-tiba gue jadi mikirin dia, hhh…
Kiena berhenti di
salah satu tempat yang rindang dan sebentar kemudian mengeluarkan kamera
digital dari dalam tasnya. Pemandangan didepannya Nampak begitu lepas. Sejauh
matanya memandang hanya ada hamparan sawah yang hijau. Sesekali ia menghirup
udara yang tak pernah Ia dapatkan di tengah kota yang padat akan pemukiman itu.
Kemudian duduk di bawah pohon besar dan mengeluarkan beberapa benda lagi. “The secret
of life” adalah tulisan sampul depan dari buku itu. Yang selalu di bawanya
kemanapun ia pergi. Dan ketika ia menemukan hal baru yang dinamainya dengan
sebutan “pinus”. Pinus adalah kata yang ia dapat dari Kizza yang sangat
menyukai pohon pinus. Dulu, Kizza selalu mengatakan bahwa dirinya ingin sekali
berkemah di tengah pepohonan yang menyejukkan itu. Bahkan, dia telah dengan
sengaja memberikan nama itu kepada Kiena. Hanya Kiena yang memiliki nama unik
itu. Dan hanya Kizza yang boleh memanggilnya dengan sebutan pinus. Iapun tak
keberatan untuk setiap hari membiarkan Kizza memanggilnya dengan nama pinus.
Love
Pinus…
Hijau yang sedang ada di hadapanku saat ini, sama dengan
apa yang kamu angankan dulu. Meskipun aku belum pernah merasakan hijaunya,
sejuknya, rindangnya pohon pinus yang selalu kamu sebut itu…
Namun, ini membuatku kembali mengingatmu
Dany
yang tengah asyik memperbincangkan teater dengan Billy kemudian berhenti di
tepi jalan. Dengan panorama yang tak jauh berbeda seperti apa yang di lihat
oleh mata Kiena. Kemudian keduanya baru menyadari bahwa Kiena tak ada di
belakang mereka.
“Bill,
Kiena mana?” Dany kaget melihat sahabatnya tak bersamanya.
“Lhoh,
gue kira tadi lo ngawasin dia.”
“Iya, sih. Tapi
udah enggak lagi setelah gue keasyikan ngobrol sama lo.”
“Lo
gimana sih? Kalo dia nyasar gimana? Gue yakin dia belum pernah lewat jalan
sini. Ya udah sekarang kita balik lagi aja.”
“Yuk,
agak cepat Bill. Ntar dia keburu ilang lagi.” Dany panic mencari Kiena yang
ternyata malah asyik dengan dunianya sendiri.
“Nah,
tuh. Kiena bukan Bill?”
“Kayaknya.”
Dany
dan Billy segera menemukan Kiena yang tengah duduk di tepi jalan. Masih dengan
memangku buku secretnya.
“Ki…Kiena.
Lo ngapain disini? Gue panic nyariin lo. Sorry yah, gue keasyikan ngobrol sama
Billy tadi.” Dany nyerocos mengkhawatirkan sahabatnya itu.
“Kalian
berdua ini kenapa sih? Kompak banget. Gue nggak apa-apa kok.”
“Iya
Ki. Sorry ya, harusnya tadi kita barengan aja biar lo nggak ketinggalan.” Billy
merasa bersalah karena telah meninggalkan Kiena.
“Hmmm,
gue nggak apa-apa, serius. Ini udah selesai kok.” Kiena melemparkan senyum
kegembiraan kepada dua orang yang berdiri didepannya lalu memasukkan kembali
kamera digital dan buku secretnya kedalam tas.
“Maksudnya?”
Billy tak mengerti apa yang sedang di omongkan Kiena.
“Ooooh,
gitu tuh Bill kalo jadi jurnalis. Kemana-mana selalu dapat inspirasi buat
nulis. Lo tahu nggak, Kiena ini jago banget nulis. Dulu aja waktu SMP dia juara
satu tuh lomba bikin cerpen.” Dany menjelaskan tentang Kiena secara gamblang.
“Kiena
anak jurnalis?”
“Iya,
masak lo nggak tahu sih? Dan pastinya dia juga bakal ikut dalam acara outdoor
bareng kita bulan depan.” Dany yang masih dengan bangga menjadi menejer dadakan
Kiena.
“Heh,
kalian berdua. Udah belum ngomognya?! Ngapain sih dari tadi ngomongin gue
terus? Cabut ah, yuk.”
“Eh,
kayaknya asyik nih naik sepeda lo, Dan.” Billy melirik kearah sepeda Dany yang
dipakai Kiena.
“Hah,
naik sepeda gue? Terus gue sama Kiena gimana?”
“Ki,
gue pinjam sepedanya Dany, ya. Elo pakai motor gue aja. Biar Dany boncengan
sama gue.”
Dany
terpana mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Billy.
Billy mau bonceng gue naik sepeda. Dan gue
duduk di depan??? Oh my God…
“Ki,
lo bisa kan nyetir motor?”
Kiena
hanya mengangguk heran. Pikiran itu kembali terpecah. Ada sedikit rasa iri yang
muncul dalam benak Kiena ketika melihat sahabatnya tengah asyik di mabuk cinta.
Ya, Billy. Lagi-lagi dia begitu baik dan mempesona di hadapan semua orang
termasuk dirinya.
Entah
ia menjadi begitu kesal. Dinaik-turunkan kaca helm milik Billy yang di pakainya
karena ukuran helmnya terlalu besar di kepala Kiena. Dia juga jadi kurang
konsen nyetir. Lebih baik dia di tinggal saja dari pada harus melihat orang
lain berpacaran.
Sementara
Billy dan Dany tengah asyik menikmati perbincangan mereka. Sesekali keduanya
tertawa bersamaan.
Menghindari
kebosanan, Kiena menemukan ide untuk mengeluarkan kamera digitalnya dan merekam
sepanjang perjalanannya. Sesekali ia menangkap Billy dan Dany dalam rekamannya.
Keduanya tampak narsis dan kompak.
“Gue
bikinin kalian video klip yah. Buat kenang-kenangan kalo kita pernah lewat
jalan ini bertiga, hahaha.” Kiena berteriak kegirangan seperti baru menemukan
harta karun.
Kalau di
lihat sih keduanya memang serasi. Dan cepat sekali akrab. Ketika ngobrol
berduapun juga tetap nyambung. Jadi, harusnya gue nggak ada alasan buat nggak
suka Dany dekat sama Billy.
Kiena kembali memasukkan kamera digitalnya. Namun hal itu
membuatnya kesulitan dalam mengendalikan keseimbangan. Kameranya telah berhasil
dimasukkan. Namun, karena ia terlalu berkonsentrasi mengobok-obok tasnya
sampai-sampai tak melihat ada bagian jalan yang rusak ketika di lewatinya dan
mengakibatkan motor yang di kendarai menjadi berbelok tak karuan.
Brugggg!!!
“Awww”
Kiena
terjatuh dari motor. Billy dan Dany yang berboncengan di depannya seketika
menengok ke belakang mendengar suara Kiena yang tengah mengaduh kesakitan.
“Kiii,
Kiena!!!” Lagi-lagi Dany berteriak kaget melihat sahabatnya telah tersungkur
dari atas motor. Dan sekarang terselonjor di tepi jalan.
“Ki,
mana yang sakit? Sorry yah, gara-gara gue lo jadi jatuh kayak gini. Gue anterin
pulang yah.” Dany panic bukan main.
Begitu
halnya dengan Billy. Ia hanya terdiam namun rasa bersalahnya seolah melebihi
rasa bersalah Dany.
“Dan,
gimana kalo lo naik sepada aja? Kiena biar gue yang bonceng pake motor. Nanti
kita sama-sama anter dia pulang.”
“Iya
deh, yang penting Kiena nggak kenapa-napa, Bill.”
“Eh,
nggak usah! Gue nggak apa-apa kok. Cuman lutut aja nih rada lecet. Masih bisa
kok naik motor sendiri.” Kiena berusaha menguatkan diri.
Namun
tanpa seizin Kiena, Billy langsung mengangkatnya untuk naik ke atas motor
Billy.
“Eh, lo mau
ngapain???”
“tenang aja Ki,
gue anter lo sampe rumah sama Dany. Janji!”
“Iya, Ki. Gue
ikutin kalian dari belakang yah.” Dany segera mengambil sepedanya dan mengekori
arah motor Bill melaju.
“Bill,”
“Ya”
“Sorry ya, gue
udah ngerusak acara lo sama Dany…”
“Lo tu ngomong
apa sih? Kan gue udah bilang kalau kita mau lihat lokasi ke suatu tempat.”
“Ya, tetap aja.
Gara-gara gue jatuh acaranya jadi batal.”
“Kalo gue nggak
nyuruh lo buat naikin motor gue, lo nggak bakal jatuh kan?”
“Eh, tapi motor
lo nggak kenapa-napa tuh? Coba liat lagi ntar yang sebelah kiri. Kayaknya tadi
ada yang lecet deh.”
“Iya, nanti aja.
Oya, lo anak jurnalis ya ternyata?”
“Iya”
“Baru tahu nih
gue”
“Ya itu karena lo
tahunya cuman Dany, hahaha.”
“Serius lo, gue
suka sama anak yang suka nulis. Pasti lo punya banyak cerita tuh di buku lo
yang the… apa? The spirit of life?”
“The secret of
life…eh tunggu-tunggu. Lo ngintip buku gue ya???”
“Hehehe, cuman
sempat lihat sampul depannya aja tadi. Warnanya ijo, ada gambar pohonnya satu
di pinggir. Benar nggak?”
“Nggak boleh lo
nyuri-nyuri kayak gitu.”
“Gue kan nggak
nyuri, tapi lo yang udah ngebiarin sesuatu milik lo itu terlihat di mata gue…”
Seketika keduanya
terdiam. Dan suasana menjadi canggung.
“Eeee, rumah gue
di belokan yang kedua…”
“Oh, iya”
Teras rumah yang
tak begitu luas itu sudah terbiasa menjadi lahan parkir. Dan disana motor Billy
berhenti. Begitu juga dengan Dany yang memarkir sepedanya tepat di sebelah
kanan motor Billy.
“Gue bantu Ki”
“Iya, makasih”
Billy hanya
berdiri didepan rumah ketika Dany mengantarkan Kiena masuk kedalam. Dan Kiena
hanya menoleh kearah Billy, sebentar. Kemudian membiarkan dirinya dituntun oleh
Dany memasuki rumahnya.
“Bill, masuk aja.
Gue tinggal nganter Kiena dulu ke kamar ya.” Dany berteriak kepada Billy seraya
masuk ke ruang tamu.
Billy hanya
menganggukkan kepala. Tak lama setelah keduanya masuk, ia menyusul. Dan
menunggu di ruang tamu.
Ia mengamati
seisi ruangan itu. Dan sedikit menengok ke dalam ruang keluarga. Ada beberapa
foto Kiena bersama keluarganya. Ia juga melihat ada satu foto mungil
bertuliskan nama Kienanti Prawira Dinadja saat sedang mengikuti lomba puisi
ketika dia masih berumur lima tahun. Di sisi tembok yang lain, ada foto Kiena
yang masih sangat lugu ketika dia berumur belasan tahun. Foto itu terbingkaikan
dengan unik, yang sepertinya terbuat dari kain. Di salah satu bingkainya di
tempeli satu bentuk pohon. Ia coba mengingat bentuk pohon itu. Seperti sudah
pernah melihat sebelumya. Dan ya, ia baru ingat gambar pohon itu juga yang ada
di buku yang dilihatnya berada di tangan Kiena tadi. Tidak salah lagi, pasti
bingkai itu juga buatan dari tangan Kiena.
Kreatif juga dia…
Tanpa berpikir
panjang Billy mengambil bingkai beserta foto Kiena dan segera memasukkannya ke
dalam tas. Tak lama Dany dan Kiena keluar dari kamar. Kemunculan keduanya
menimbulkan reaksi kaget pada Billy. Dan sedikit menimbulkan rasa curiga. Namun
hal itu tak berlangsung lama. Dany mempersilakan Billy untuk duduk.
“Gue ambilin
minum dulu ya. Lo duduk sini aja Ki. Tenang deh, gue udah biasa kok di rumah
lo.”
Suasana kembali
kaku ketika Dany melangkah ke dapur Kiena. Billy yang memulai obrolanpun juga
cuman sebatas basa-basi.
“Rumah lo sepi,
ya?”
“Iya, jam segini
masih pada kerja semua. Kakak gue juga masih kuliah. Maklum, nggak ada
pembantu. Ya jadi apa-apa di kerjain sendiri.” Kiena yang juga menjadi kaku.
“Ehhhhhh,
foto-foto kamu, lucu yah…”
Kiena hanya
tersenyum dengan sedikit tersipu.
“Ini minumnya,
lhoh, kok pada diem-dieman sih?” melihat tak ada reaksi dari kedua orang itu,
Dany kembali mengoceh.
“Gue hampir tiap
hari lo Bill, main kerumah Kiena. Ya gini, bantuin dia habisin stok makanan di
kulkas, hehehe.”
“Gue minum ya.
Billy berusaha menghilangkan rasa canggungnya.
“Dan, Ki, gue
pamit pulang ya. Udah kesorean nih kayaknya. Lo nggak apa-apa kan Dan pulang
sendirian?”
“Iya, nggak
apa-apa kok. Lagian rumah gue juga nggak jauh dari sini.”
“Hmmm, lihat
lokasinya lain waktu aja ya.”
“Ok, Bill. Santai
aja masih banyak waktu.”
Tak lama Billy
bersama motornya menghilang dari teras rumah Kiena. “Ki, sumpah gue pengen
pingsan!!!” Tiba-tiba Dany yang baru saja berada di teras depan sudah muncul di
hadapan Kiena dengan mimiknya yang penuh emosi kegembiraan.
“Iyaaa, gue tahu
kok.” Kiena hanya tersenyum sambil memegangi siku tangan kirinya yang lecet.
“Hmmm, tapi Ki,
kok kayaknya dia biasa-biasa aja gitu ya sama gue? Menurut lo gimana?”
“Apanya yang
gimana?”
“Ya, iya sih kita
emang deket banget pas tadi boncengan bareng. Cuman itu juga sebatas ngomongin
teater aja. Nggak lebih…”
“Masak iya baru
kenal terus dia langsung ngungkapin perasaannya sama lo.”
“Hmmm, iya juga
sih. Gue tunggu aja deh, makasih ya Kiena… lo emang sahabat gue yang paling
baik. Mana ada tuh sahabat yang mau temenin sahabatnya pacaran? Kalo bukan lo,
hahaha…”
“Udah ah, nggak
usah lebay gitu. Pulang sana gih. Tiba-tiba gue jadi bosen lihat muka lo.
Hahaha”
“Yeee Kiena…ya
udah gue pulang. Lo nggak apa-apa gue tinggal sendirian? Bonyok lo kan belum
pada pulang.”
“Sejak kapan lo
mesti nungguin mereka pulang? Dasar!!!”
“Iya deh, iyaaa
Kiena cantik gue pulang dulu yah. Daaa”
Satu hari pertama
seperti ada yang janggal di hati Kiena. Mulai dari obrolannya dengan Billy
diatas motor, buku secretnya yang tanpa dia ingin telah di ketahui oleh Billy.
Juga rasa canggung yang baru saja dia rasakan.
“Ki, tangan lo
udah nggak apa-apa tuh?” Dany berusaha membolak-balik lengan Kiena yang
sebenarnya malah membuat Kiena kesakitan.
“Kalo lo diam aja
pasti bakal cepat sembuh!” Kiena seolah menegaskan kata-katanya.
“Ah, Kiena apaan
sih? Sini gue bantuin. Oya, entar pulang sekolah ada rapat anak jurnalis sama
teater. Lo gimana?”
“Gimana apanya?
Ya gue ikutlah.”
“Tapi luka lo?
Nggak apa-apa tuh?”
“Asal lo nggak
heboh aja!”
“Class, how many
kinds of…”
Suara lantang Bu Dewanti
yang terdengar hingga keluar ruangan. Seluruh siswa sedang focus memperhatikan
penjelaskan dari beliau ketika seorang guru lewat didepan kelas mereka bersama
dengan seorang siswa laki-laki.
Keduanya sedikit
membuyarkan konsentrasi para siswa dikelas karena jendela yang di buat dengan
ukuran yang sedang juga tak terlalu tinggi itu sangat mudah di jangkau pandangan
mata dari dalam ruangan meskipun pintu telah ditutup.
Siswa laki-laki
itu menoleh kedalam kelas dan memanggil Dany dengan siulan lirih.
“Ssssssst…”
Kontak-kontakan
isyarat itu terjadi dalam waktu singkat. Billy yang sok tahu menirukan gaya Bu
Dewanti yang tengah mengajar. Danypun tertawa kecil kemudian ia menyenggol
tangan Kiena agar sahabatnya bisa ikut menyaksikan tontonan gratis ala Billy
sang idolanya. Namun tanpa sengaja tangan Dany menyentuh sikunya yang sedang di
balut dengan perban. Karena terkejut, Kiena mengaduh dengan sedikit berteriak
sehingga membuat Bu Dewanti menoleh.
“Any questions?”
Pertanyaan yang lebih ditujukan pada Dany dan Kiena. Dan keduanya hanya geleng
kepala.
Bu Dewanti
kemudian melanjutkan penjelasannya. Kiena yang berlagak marah atas kecerobohan
Dany segera meraih pensil kesayangannya. Di luar sana Billy yang tengah
beranjak dengan langkah sedikit lebih cepat mengkode kearah Dany untuk meminta
maaf pada Kiena sambil tetap berlagak menirukan aksi Bu Dewanti saat menegur
mereka berdua. Lagi-lagi Dany tertawa cekikikan melihat tingkah aneh Billy.
Tanpa sadar, Kiena melirik kearah laki-laki yang nyaris menghilang itu dan
tersenyum kecil.
Siang itu sudah
ada beberapa naskah yang terkumpul sebelum rapat dimulai. Salah satu
diantaranya adalah milik Kiena. panas terik meskipun diluar sana, namun dengan
penghuni yang berkisar duapuluh kepala diruang rapat membuat suasana menjadi
begitu riuh.
“Saya sudah
membaca keseluruhan dari naskah yang telah ada. Ada tiga naskah yang menurut
saya ada hal menarik didalamnya. Jadi saya akan beri waktu teman-teman semua
untuk membaca ketiga naskah itu kemudian pilih salah satu dari naskah yang
menurut anda itu adalah yang terbaik.” Ucap seorang yang tengah memimpin
jalannya rapat, Rolan sang ketua jurnalis.
Suasana seketika
hening karena masing-masing tertuju pada ketiga naskah yang akan menjadi
pilihan dari mereka.
Merdeka jiwaku, hening, pinus…
Pinus…pinus…
Pinus? (gambar pohon tinggi dan rindang)
Kiena???
Melihat satu
judul terakhir itu Billy tertarik untuk segera membacanya. Dengan khidmat ia
cermati isi dari cerita. Awalnya sedikit rumit baginya. Namun setelah membaca
keseluruhan, akhirnya ia paham dengan apa yang dimaksudkan si penulis
didalamnya.
“Saya lebih
tertarik dengan pinus. Isinya lebih mengarah pada cerita yang sedikit
menggunakan unsur teka-teki namun tetap tidak menyimpang dari jenis cerita
romance yang mengundang berbagai perasaan bagi kawula muda untuk
mengekspresikan apa itu cinta”. Billy sangat antusias dengan satu naskah itu.
Setelah diadakan
voting, ternyata ada dua judul naskah yang memiliki perolehan nilai seimbang.
Yaitu naskah dengan judul merdeka jiwaku dan pinus.
“Ada yang ingin
berargumen untuk memperkuat pilihan masing-masing?” Rolan memberikan kesempatan
kepada para anggota rapat.
“Bolehkah saya
mencoba untuk memainkan salah satu tokoh didalamnya?”
“Silakan Arond.”
Billy dengan
cepat berpindah tempat duduk disebelah Kiena dan memintanya untuk membacakan
penggalan puisi yang ada dalam naskahnya. Kiena yang masih kebingungan hanya
mengiyakan tangannya diseret oleh Billy dan beranjak dari kursi.
Seluruh mata
tertuju pada dua orang yang tengah berdiri berhadap-hadapan dengan jarak yang
sedikit jauh, didepan mereka semua.
Hembusan nafas Kiena terdengar pelan
Hhhhh…
Dan kubiarkan merasuk kalbu
Wahai jiwa nan hijau
Kesejukanmu merenggut sedihku
Mengeram aku dalam amarah
Meredam aku dalam lelah
Tak secuilpun tergores dibenakku
Kau
Hijaulah dalam tandus
Wahai pinus…
Billy yang dengan kreativitasnya
sendiri mencoba menjadi tokoh dalam naskah tersebut ketika si pembaca puisi
yang tak lain adalah Kiena yang melupakan bait ketiganya. Tak disangka keduanya
memainkan tokoh masing-masing dengan nyaris sempurna. Kienapun kaget Billy
mampu membawakan tokoh yang ditulisnya yang tak lain adalah gambaran dari
Kizza. Berakhirnya adegan singkat dari keduanya menghasilkan sambutan yang
sangat bagus dari para anggota dan semuanya sepakat untuk menggunakan naskah
Kiena sebagai pembuatan drama outdoor bulan depan.
“Ki, lo perfect
banget barusan. By the way itu tadi tulisan lo yang mana sih? Kok gue belm
pernah dengar?” Dany begitu bangga dengan sahabatnya. Kemudian ia juga
menghampiri Billy untuk memberikan selamat.
“Lo keren banget
Bill, seneng deh kalo sahabat-sahabat gue pada pinter-pinter gini. Jadi gue
bisa ketularan pinternya ntar. Hahaha…”
“Semoga aja gue
bisa jadi pemeran utamanya ntar, Dan.” Ucap Billy dengn sangat antusias.
“Yakin penulisnya
bakal setuju?” Kiena berlagak sok dengan naskahnya yang telah terpilih.
“Hahahahaha…”
Minggu ketiga
Ketiganya menjadi
semakin akrab dan lebih sering bertemu entah untuk mengerjakan tugas-tugas
bersama atau hanya sekedar menghabiskan waktu. Seperti siang ini mereka akan
kembali ketempat yang minggu lalu pernah ketiganya lewati.
“Lets go!!!
Huuuuuuu…”
Meskipun
kedengarannya janggal namun Kiena tetap menikmati persahabatan mereka bertiga.
Walaupun dia tahu bahwa nantinya ini akan terpecah karena pasti sebentar lagi
Billy akan menyatakan cintanya pada Dany, dan keduanya jadian. Ia juga tak
kuasa menyalahkan Dany karena bagaimanapun dia adalah sahabat terbaiknya. Tak
pernah sekalipun berprasangka buruk atau cemburu terhadapnya ketika terkadang
Billy Nampak lebih dekat dengannya. Dan ia memutuskan untuk selalu menyayangi
keduanya sebagai seorang sahabat tanpa merusaknya dengan perasaan lain.
Kiena kembali
menaiki sepeda Dany dan seperti biasa Dany dan Billy akan terlebih dahulu
meninggalkan Kiena dengan jarak yang tak begitu jauh dan masih terjangkau
pandangan mata mereka. Jalan yang begitu lurus tersebut tak mampu menghalangi
ketiganya.
Di belakang sana
Kiena Nampak terengah-engah mengayuh sepeda. Dan sesekali dia lambaikan tangan
sebagai kode bahwa ia ingin posisinya segera digantikan. Ia berhenti ditepi
jalan dan mengambil botol minum untuk segera membasahi tenggorokannya meskipun
pepohonan rindang melindunginya dari terik.
“Gue juga mau!”
Dengan paksa Billy mengambil botol minum Kiena dan ikut meminumnya.
“Jangan
dihabisin! Jalannya masih panjang tau.” Kiena berlagak mengomel. Sedang Dany
hanya tertawa melihat aksi kedua sahabatnya yang tengah berebut air minum.
“Aku aja yang
gantiin Kiena Dan…” Billy turun dari motor dan menggantikan Kiena menaiki
sepeda Dany.
“Awas kamu Bill,
sadelnya bau pantat Kiena, hahaha”
“Apaan sih Dan!”
“Hahaha”
“Nggak apa-apa,
anget kok, hahaha”
v
“Eh, gue kayak
dengar ada yang manggil aku kamu nih.” Kiena menyindir Dany yang sedang
konsentrasi menyetir.
“Jangan biarin
muka merah gue ketahuan Billy, Ki!” Dany teriak kegirangan.
“Kalian berdua?
Udah?”
“Sayangnya belum
tuh Ki. Gimana dong?”
“Tenang aja,
pasti bentar lagi. Mungkin tunggu momen yang tepat.”
“Hahaha, asal lo
juga doain Ki.”
“Iyalah,
pastinya. Secara ceweknya udah ngebet banget nih.”
“Ah, Kiena…”
“Hahaha…”
Terik siang itu
tak menghalangi ketiganya untuk menghabiskan waktu disepanjang jalan yang telah
mereka lantik untuk menjadi jalan keabadian milik mereka bertiga. Kiena yang
menikmati istirahatnya diboncengan Dany tersenyum melihat gaya Billy naik
sepeda yang hampir mirip katak loncat saja. “Dan, Billy udah lambaikan tangan
tuh.”
“Ya udah kita
berhenti dulu.”
Kiena langsung
menyodorkan botol minum yang dari tadi sudah berada ditangannya. Billy segera
mengambil dan meminumnya. Merasa begitu kepanasan sisa air minum dituangkan
diatas kepalanya.
“Eits! ah kenapa
dibuang sih?” Kiena seketika turun dari boncengan Dany dan bermaksud mengambil
botol minumnya karena takut Billy akan menghabiskan air minum tanpa sisa.
Namun, Billy malah tampak menikmatinya dan berusaha menggoda Kiena. “Balikin
nggak!”
Tanpa sengaja
Billy memegang tangan Kiena. Sentuhan itu membuat keduanya menjadi tegang.
“Nih, udah habis airnya. Hahaha…” Botol itu segera di berikan kepada Kiena dan
ia kembali menaiki sepeda.
Billy dan Dany
terpilih menjadi pasangan pemeran utama dalam acara outdoor mereka. Tak
ketinggalan Kiena sang narrator yang dengan setia mendampingi keduanya berlatih
dengan lebih intens apalagi adanya chemistry antara mereka pasti akan membuat
keduanya lebih menjiwai peran masing-masing.
Kiena juga yang
membuatkan buku diary yang akan digunakan sebagai buku secret Billy yang
memerankan tokoh Kizza. Dia juga melengkapi penggalan puisi yang akan
dideklamasikan oleh Dany atau Kayra.
Ditengah-tengah
kesibukan masing-masing, disela-sela break latihan Billy dan Dany bermaksud
menemui Kiena yang berada dilain tempat. Namun, keterbatasan waktu tak
memungkinkan keduanya. Tanpa disadari Billy merindukan sifat Kiena yang selalu
berusaha tegar didepan semua orang. Berusaha tenang meskipun didalam hatinya
sangat ingin berteriak, dan berusaha tersenyum ketika mereka sedang bersama
bertiga.
Dimana dia sekarang? Kenapa nggak muncul juga dihadapan
gue?
“Bill, kamu lihatin
apa sih?” Dany memecahkan bayangan kosong Billy.
“Kiena, kemana
sih dia? Dari tadi nggak kelihatan?”
“Oooh, diakan
lagi bikin buku diary kamu di ruang sebelah. Katanya nggak boleh ada yang
ganggu biar dia bisa dapat feel yang pas.”
Feel yang pas? Feel kalau dia cemburu liat gue sama Dany?
“Yuk ah,
anak-anak udah ngumpul lagi tuh.” Dany mengajak Billy untuk kembali latihan.
Ditengah-tengah
latihan itu, ketika Billy dan Dany memainkan adegan mereka yang paling secret
menurut Kiena. Ditengah-tengah hijaunya pohon pinus Kizza menggantungkan papan
kecil yang masing-masing sisi dihiasi oleh daun pinus dengan ditengahnya
bertuliskan kalimat indah.
Meskipun ada bait yang tertinggal, dia tetap memikatku
Di tanggal 10 mei 2010 dia terjatuh dari sepeda, pipinya
yang chubby memar
Namun senyumnya tak berubah
Senin itu dia tampil dengan rambut baru, mungkin poninya
terlihat sedikit kependekan
Membuat mukanya semakin bulat membingkai, aku tetap suka
Aku pernah diam-diam mengambil fotonya dari binder
temanku
Masih memakai seragam olahraganya, rambut di ikat
tinggi-tinggi
Membawa botol minum kesayangannya lengkap dengan sedotan
Wajahnya Nampak kucel dan berkeringat
Dia lebih mempesona
Pinus…
Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika kau sedang
terlelah?
Kayra tengah
membaca tulisan itu ketika langkah pelan Kizza membuatnya menoleh kebelakang.
“Pinus…”
Ketika adegan itu
hampir mencapai puncak pada happy ending, kedatangan Kiena yang tengah berdiri
didepan pintu membuyarkan konsentrasi Billy. Kiena yang membawa sebuah buku
dalam dekapannya, dengan rambut yang di ikat tinggi-tinggi tak beraturan dan
membiarkan beberapa helai terjatuh sehingga sedikit menghiasi wajahnya yang
lelah lusuh.
Adegan itu
terhenti. Billy terpana dengan tatapan tanpa jeda kearah Kiena.
“Pi…pinus…”
“Sorry, gue Cuma
mau ngasih buku ini.” Kiena menyodorkan buku diary tersebut kepada Roland dan
beranjak pergi. Namun spontan Billy memanggilnya, “Pinus!”
Seketika Kiena
menoleh. Namun ia memberikan tatapan tajam pada Billy. Kemudian dengan langkah
cepat pergi meninggalkan ruangan.
Berani-beraninya dia manggil gue dengan sebutan pinus!
Cuma Kizza yang boleh manggil gue kayak gitu. Gue benci sama Billy!
Kenapa Kiena marah sama gue? Padahal gue cuman manggil
dia tadi…
“Eh, ada yang mau
es krim nggak? Pengen yang dingin-gingin nih!” Dany memecah keheningan Billy
dan Kiena.
“Boleh…” Billy
menjawab singkat.
“Elo Ki?”
Kiena hanya
mengangguk. Dany segera menuju seberang jalan ketempat penjual es krim.
“3!!!”
“Hah?”
“Gue mau es krim
3!!!”
Billy dan Dany
menatap kearah Kiena secara bersamaan. “Ok.”
Halte yang biasa
ramai akan para siswa di jam-jam pulang sekolah kini mulai sepi. Hanya ada
Billy, Kiena juga dua orang siswa perempuan yang entah menunggu jemputan atau
sedang menunggu angkutan umum.
Keduanya terdiam.
Billy juga tak berani menanyakannya pada Kiena. Hanya mematung disampingnya.
“Ki…”
Kiena hanya
menoleh.
Seketika suasana
menjadi sangat hening seolah tak ada dua orang perempuan disamping mereka.
“Gue…”
Gue…”
Kiena hanya memandang
kearah Billy dengan tatapan kosong. Namun karena sikap Billy yang berubah
menjadi semakin tegang, Kiena berubah menatapnya dengan sangat lembut.
“Lo kenapa?”
“Gue…”
“Gue suka sama…”
“Dany…”
Kiena lega dengan
pernyataan yang baru saja didengarnya dari mulut Billy. “Ooh, gue juga udah
tahu kali…”. Senyum tipis menghiasi wajah Kiena seketika.
Billy yang
ketegangannya kembali meredup menjadi sangat menyesal mengatakan itu kepada
Kiena. Karena bukan itu yang sebenarnya ingin dia ucapkan.
“Ki, tadi kenapa
lo marah sama gue?” Billy kembali memulai percakapan.
“Bill, jangan
lagi panggil nama gue dengan sebutan pinus!” Kiena menjawabnya dengan sengit.
“Kenapa?”
“Karena…”
“Karena apa?”
“Karena… lo nggak
ngerti Bill…”
“Makanya gue
pengen ngerti Ki…”
“Cuma dia yang
boleh manggil gue dengan sebutan pinus.”
“Dia? Siapa?”
“Please, jangan
tanya lebih dalam lagi soal itu…” Kiena menundukkan kepalanya seperti hendak
meneteskan air mata.
Billy yang
tadinya sangat antusias mengorek keterangan dari Kiena seketika terdiam.
Lagi-lagi keduanya membisu.
Pi, berani-beraninya dia ngembarin nama panggilan kamu.
Geluduk yang sedari dulu nyaris tak terdengar akan adanya tanda hujan namun
petirnya mulai menyambar kini. Perasaan aneh yang entah sejak kapan muncul
dengan tiba-tiba mengusik memoriku tentangmu. Padahal aku sudah bertekat untuk
memendamnya dalam-dalam bersama seluruh cerita secret kita.
Pi, atau…ku buang saja semua ini bersama buku kumuh itu?
Karena mengingatmu sama halnya menamparku dengan tangan Rere. Aku telah kehilangan
satu sahabat. Apa harus ku ulangi? Setiap kali ku cegah, setiap kali pula
sebaliknya. Aku hanya ingin mengagumimu sebagai inspirator terbaikku. Sebagai
pemenuh buku secret ini yang kamu tak akan pernah tahu isi di dalamnya. Dan aku
tak ingin menggesernya dengan bayangan aneh yang akhir-akhir ini begitu
mengganggu konsentrasiku tentangmu.
v
Pinus, apa sebenarnya arti dari kata itu. Aku hanya tahu
itu adalah karangan cerita Kiena. Atau itu adalah…
Billy
meraih lembaran naskah yang ada di mejanya. Dibacanya berulang-ulang. Ini
memang cerita tentang kisah cinta seseorang. Namun, ia tak yakin dengan apa
yang tengah ditebaknya. Ia kembali membuka buku lain. Buku secret yang dibuat
oleh Kiena. Kenapa isinya sangat menyatu dengan naskah. Seperti benar-benar
nyata dan telah terkonsep sejak lama. Memang, Dany pernah mengatakan bahwa
Kiena sangat jago dalam membuat karangan cerita. Ia juga bilang Kiena tak mau
diganggu ketika ia sedang membuat isi dari buku secret, yang sekarang berada di
hadapannya.
Berulang
kali Billy memandangi buku secret itu, membukanya, membaca isinya, kemudian
menutupnya kembali. Memang ada bagian yang sedikit membuatnya janggal. Jika ini
adalah cerita tentang Kiena, disitu digambarkan bahwa dia memiliki dua orang
sahabat. Namun nyatanya sahabat dekat Kiena hanya Dany. Atau… ini mungkin
memang hanya karangan Kiena.
“Dan,”
“Hmm?”
“Kamu
temenan sama Kiena udah lama, ya?”
“Kiena
itu sahabat aku dari SMP. Dan yang paling baik menurut aku.”
“Pantesan.”
“Pantesan?
Apanya?”
“Pantesan
kayak orang kembar aja, hahaha.”
“Yaaa,
banyak orang bilang gitu. Dulu, malah kita kembar bertiga.”
“Bertiga?
Sama siapa?”
“Rere,
kita dulu sahabatan bertiga. Sampai akhirnya Rere ninggalin kita karena Kiena
dekat sama Kizza, cowok yang juga disukai Rere. Kiena berusaha jauhin Kizza
biar Rere mau kembali sama kita. Tapi semua udah terlambat. Rere nggak mau lagi
ketemu sama aku dan Kiena. Padahal, Kiena udah benar-benar menjauh dari Kizza.
“Kizza?
Nama cowok yang ada di naskah itu???”
“Iya,
sejak saat itu Kiena nggak lagi mau dekat sama cowok. Karena dia lebih takut
kehilangan sahabat.”
“Tapikan,
itu namanya dia menghakimi diri sendiri Dan. Bagaimana bisa dia menutup diri
selama ini? Mau sampai kapan dia kayak gitu?”
“Sampai
Rere balik lagi ke kita, katanya…”
“Terus,
kamu diam aja?”
“Bil,
aku udah coba dengan banyak cara. Tapi kamu tahu sendiri Kiena itu seperti apa
orangnya kan?”
“Kalau
Rere nggak akan pernah kembali? Lalu apa?”
“Yaa,
kamu tahu sendiri jawabannya.”
“Jadi
dia nggak akan membuka hatinya buat orang lain, gitu maksud kamu?”
“Mungkin,
tapi selama ini keyakinannya begitu kuat. Dia sangat yakin suatu saat nanti
entah kapan, Rere akan kembali. Setelah itu dia janji akan kembali seperti
dulu.”
“Terus,
sekarang Rere dimana?”
“Dia
sekolah di SMA 3. Satu sekolah sama Kizza juga. Tapi mereka berdua nggak
pacaran. Karena aku tahu Kizza sebenarnya juga suka sama Kiena dan dia sakit
hati karena mendadak Kiena menjauhinya waktu itu.”
“Aku
nggak bisa nebak dia itu seperti apa. Cewek angkuh, galak, sombong, ternyata…”
“Makanya
kenapa aku selalu ngajak dia kemanapun kita pergi, biar dia nggak nganggap kita
itu sahabat yang jahat dan ninggalin dia. Aku nggak mau Kiena terus-terusan
dihantui rasa bersalah. Aku sayang banget sama dia, karena dia juga begitu.”
Satu
jawaban mewakili seluruh pertanyaan Billy yang dalam beberapa waktu memenuhi
pikirannya. Sekarang dia tahu apa alasan Kiena seolah menghindar darinya. Dan
ia tak perlu mencari-cari jawaban dari teka-teki ini lagi. Memang sulit berada
di posisinya. Kiena adalah sosok perempuan yang menjunjung tinggi persahabatan
dan itu nyata.
Ki, kalau memang kamu tidak ingin kita
memulainya, maka biarkan waktu dan seluruh cerita yang telah kamu buat
mengungkap yang sebenarnya kita rasakan, atau mungkin hanya aku…
v
“Pagi
kembaaar,”
“Heh,
Arond, Billy, Kizza, kamu ngagetin aku deh.”
“Sejak
kapan gue sama Dany dapat panggilan kayak barusan?”
“Yaaa,
barusan. Emang kalian berdua tuh kembar. Kemana-mana bareng, cuma beda rumah
aja. Hahaha…”
“Hmmm
asyik juga tuh nama baru. Serasa kembar beneran sama Kiena. Secara, lo lebih
pintar dari gue.” Dany menaik turunkan alisnya kearah Kiena.
“Eh,
lo apa-apaan sih Dan? Ingat ya, hari ini hari terakhir lo sama Billy latihan.
Jadi, gue sebagai sutradara punya wewenang dong buat ngomelin lo berdua.” Kiena
yang sok galak di depan Dany dan Billy.
“Aduuh
takut nih…hahaha”
“Sejak
kapan lo jadi sutradara Ki? Bukannya cuman jadi bawahan gue sama Dany, yang
kerjaannya buatin kita naskah dan buku diary yang super khayal itu.
Kiena
seketika kaget. Bisa-bisanya Billy mengeluarkan kalimat seperti itu
dan…membuatnya tertawa mendadak.
“Heh,
kurang ajar lo ya! Awas lo! Mana diary buatan gue! Balikin!” Kiena berlagak
marah dan memukuli pundak Billy. Entah apa yang terjadi, namun rasanya dia dan
Billy telah kembali seperti semula. Kembali menjadi dua orang sahabat yang
sangat menyenangkan. Mungkin sebentar lagi dia akan benar-benar mengungkapkan
perasaannya kepada Dany. Mungkin, karena itu sikapnya begitu berubah.
Latihan
singkat itu berjalan dengan lancar. Semua anggota pulang lebih awal untuk
mempersiapkan diri besuk pagi. Mereka akan menjalani perkemahan selama tiga
hari dua malam seperti jadwal.
Seperti
anggota lainnya, Billy, Dany dan Kiena mengepak barang-barang pribadi mereka
serta perlengkapan yang diperlukan selama diperkemahan. Kiena, yang tak akan
ketinggalan dengan kamera digitalnya serta buku secret yang beberapa waktu lalu
ia inginkan untuk membuangnya. Nyatanya masih saja ada di tas Kiena sampai hari
ini.
Pi, besuk
aku berangkat kesuatu tempat yang mungkin akan sangat menyenangkan buatku. Ku
harap kamu juga begitu. Tetaplah menyertaiku lewat buku ini. Dan aku akan tetap
mengenangmu. Mungkin jika lelah datang, akan kutinggalkan semuanya ditempat
itu. Tempat dimana tak seorangpun tahu, sekalipun kamu.
Dany yang juga sibuk dengan segala perlengkapannya,
karena dia adalah orang yang paling tidak tahan merasakan dinginnya malam
diluar sana. Berbagai baju penghangat ia keluarkan dari gantungan. Segala macam
obat-obatan juga telah siap untuk diangkut. Lagi-lagi, mama yang selalu
mengingatkan dan mempersiapkan segala keberangkatannya.
“Besuk
papa nggak bisa ikut nganter Dany, sama mama saja ya.” Papa tiba-tiba datang
dan mengelus bahu Dany.
“Beres
paa, doain aja Dany sukses.” Dua jempol diacungkan kearah papa.
“Oiya,
sama Kiena juga kan? Dia siapa yang antar? Kata kamu setiap pagi papa mamanya
selalu sudah berangkat kerja.
“Di
antar kak Lody katanya ma.”
“Ya
sudah, jangan sampai besuk kamu telat bangun dan gagal berangkat.” Papa
tersenyum kepada Dany.
“Papa
apaan sih…”
Malam
itu Dany hanya terduduk disisi ranjangnya. Mengingat-ingat moment demi moment
yang dia lewati dengan Kiena, juga Billy. Mereka adalah dua orang dia ingin
untuk selalu berada disisinya. Kiena, yang selalu membuatnya tegar dibalik
kerapuhannya. Billy, laki-laki misterius yang telah berhasil merenggut hati dan
jiwanya. Dia mengambil album foto dan membukanya halaman demi halaman. Foto
terindah mereka bertiga ketika masih SMP, Kiena dan Rere. Keduanya adalah
sahabat yang energik. Kizza, seorang pendiam namun penuh kejutan. Sampai-sampai
tak banyak orang yang tahu bahwa dia sangat mengagumi Kiena. Rade, cinta
monyetnya dimasa lalu. Lucu, imut, dan dengan sifatnya yang masih lugu
membuatnya jatuh cinta monyet kala itu. Di beberapa lembar terakhir, hanya ada
dirinya, Kiena dan Billy. Satu semester telah membuat ketiganya sangat akrab
satu sama lain. Dan besuk, ketiganya akan kembali mengukir kisah remaja mereka
dengan penuh kejutan.
Kututup
lembar ukiran ini dengan membukanya kembali di hari yang lebih berwarna.
Ternyata,
Kiena sama jeleknya ketika dia sedang tertidur. Billy telah dengan bangga
mengambil kamera Kiena yang dikalungkan dilehernya kemudian mengambil gambarnya
dengan pose yang sangat menggelitik perutnya. Tak tahan untuk tidak tertawa.
Tak kalah dengan Kiena, Dany berpose dengan lebih aneh. Suhu didalam bus yang
membuatnya sangat kedinginan sehingga kostumnya sudah seperti orang Eskimo
saja. Bibirnya maju kedepan, saking beratnya rasa kantuk membuatnya tak mampu
menahan kepalanya sehingga ambruk dan tersandar dibahu Kiena.
Dengan
sadar Billy mengamati kedua sahabatnya itu bergantian. Tanpa sadar ia telah
jatuh hati kepada keduanya, Dany dan Kiena. Yang memiliki keunikan yang berbeda
namun sangat menguatkan karakter masing-masing untuk tak dapat mengelak bahwa
dirinya telah…
Ia
kembali kekursi paling belakang bersama dengan teman-teman laki-lakinya untuk
lebih bergerombol dan meramaikan isi bus. Billy akan memainkan gitarnya dan
yang lain akan bernyanyi seenaknya.
Kiena terkejut
bukan main ketika dirinya terbangun dan mendapati sekeliling bus bukanlah
seperti tempat yang disepakati untuk mereka datangi sebelumnya. Semuanya
membiarkan Kiena menjadi orang pertama yang keluar dari bus. Dia masih
terkagum, kaget, aneh dan perasaan lainnya bercampur. Baru yang lain
menyusulnya turun.
“Surprise!!!!!”
Kiena masih saja
tak mengerti. “Ini, ada apa sebenarnya?”
“Selamat penulis
scenario.” Rolan mengulurkan tangan dan menjabat tangan Kiena dengan penuh semangat.
“Ok…terus? Ini?
Apa?”
“Kamu telah
berhasil membuat naskah untuk kita mainkan. Alangkah lebih menjiwainya jika
para pemain peran juga kita beri kesempatan untuk benar-benar berperan dalam
seting yang sesuai.”
“Terus?
Hubungannya sama gue? Apa?”
“Kamu adalah
penulis scenario terhebat kami. Saya tahu, kamu sangat ingin berada disini.”
“Jadi?”
“Jadi kejutan ini
kami berikan untuk kamu, Kienanti Prawira Dinadja.”
Tak menyangka
akan mendapatkan kejutan gila, Kiena sangat antusias untuk segera memasuki
daerah hutan pinus yang terletak di Imogiri, Jawa Tengah.
“Rolan, ini benar-benar gila. Gue nggak
nyangka bakal beneran berada ditempat ini sekarang.”
“Kamu suka?”
“Banget. Makasih,
ya.”
Setidaknya Rolan
adalah laki-laki yang baik. Dia akan sangat menjaga Kiena selama diperkemahan.
Dan Billy, mau tak mau harus melepaskan kekhawatirannya. Meskipun, mungkin ia
sebenarnya tengah cemburu.
Semua anak masuk
ketenda untuk mengistirahatkan diri sejenak karena nanti malam akan ada
serangkaian acara yang menanti mereka. Kecuali Kiena, yang sudah terlepas jauh
dari tenda. Tak disangka dia benar-benar berada ditengah-tengah hutan pinus
yang selalu disebut-sebut oleh Kizza dulu. Pohonnya yang rimbun dan menjulang
tinggi serta desiran angin yang berhembus laksana music alami sama persis
seperti yang diangankannya.
Pi, kamu tahu aku sekarang berada dimana? Akhirnya aku
sampai pada sebuah tempat yang selama ini kamu impikan. Aku sangat ingin
berbagi kesenangan ini bersamamu. Tahukah kamu bahwa sedari tadi aku hanya
memandangi sekeliling tempat ini. Begitu damai rasanya meskipun tanpa sosok
misterius sepertimu. Langit disore hari yang tampak meskipun terselimuti
sebagian kabut memaksa mengarahkan pandanganku untuk terus menatap kesana. Dalam
tenang aku terdiam, dalam sunyi aku berbagi. Secret of life akan bersaksi,
entah kemana rasa ini akan terbawa. Ataukah mega didepan sana akan mengajakku
tenggelam bersamanya…
“Ada yang lihat
Kiena nggak sih? Dari tadi dia belum balik ketenda lo.” Dany cemas
mengkhawatirkan sahabatnya.
“Sebentar lagi
dia bakal kegelapan lihat jalan.”
“Iya nih, coba
kamu cari deh Bill. Sebelum perasaanku semakin nggak enak.”
Billy dan Rolan
menelusuri sekitar perkemahan. Akhirnya keduanya berpencar untuk menyingkat
waktu. Sementara Kiena masih menikmati keeksotikan matahari tenggelam diujung
sana. Hanya terdiam dan memandangi langit yang semakin lama semakin meredupkan
cahayanya. Dari kejauhan Billy melihat punggung Kiena. Ia segera berlari akan
menghampirinya dan ingin mengomeli panjang lebar. Namun, setelah berjarak lebih
dekat rupanya Rolan telah lebih dulu sampai ditempat Kiena.
“Ki, ngapain
disini? Banyak harimau.”
“Kamu
harimaunya?” kiena setengah terkejut kemudian tertawa kecil.
“Balik yuk.”
Ketiganya kembali
keperkemahan tanpa bersamaan.
“Kamu, segitu
sukanya sama tempat ini?”
“Siapa yang nggak
bakal suka, kagum, sama tempat yang…ya seperti kamu lihat. Ini sumpah, gue suka
banget.”
“Banget?”
“Hehehe, iya.”
“Ki!!! Lo kemana
aja sih? Tahu-tahu ngilang gitu aja. Nggak ngajak-ngajak gue lagi.” Dany yang
berteriak melihat Kiena datang bersama Rolan.
“Lo tahu nggak
Dan?”
“Enggak.”
“Gue baru lihat
sunset. Sumpah, keren banget.”
“Lo
mentang-mentang lihat barang bagus terus lo pikir bisa seenaknya tinggalin gue
disini? Gitu? Gue kan juga mau lihat Kiena!!!”
“Hehehe, iya
iyaaa sorry Dan…”
“Bentar, by the
way Billy mana?”
“Billy?”
“Iya Billy. Tadi
dia sama Rolan kok yang berangkat nyari lo.”
“Billy ikut nyari
gue???”
“Gue disini
semua…” Billy yang tanpa rasa bersalah membiarkan kedua sahabatnya panic
terlebih dahulu.
“Tadi kita mencar
nyari Kiena biar lebih cepat. Gue tahu Billy pasti tahu jalan. Makanya gue
tinggal aja sama Kiena.”
“Oooh, ya udah.
Tuh anak-anak pada…” Mata Dany menuju kearah teman-teman lain yang tengah
menyantap mie kuah dengan lahap karena kelaparan. Di ikuti oleh Rolan, Kiena
dan Billy mereka serentak menyerbu area api unggun.
“Tadi, ceritanya
nyari gue? Takut? Kalau dimakan harimau?”
“Lo harusnya
terimakasih sama Rolan. Kalau nggak ada dia pasti gue udah ngomelin lo
sepanjang jalan!”
“Gitu?”
Kiena sengaja
ingin membuat Billy marah. “Rolan!!!”
“Iya?”
“Makasih ya
tadi.”
Rolan
mengacungkan jempolnya tanda setuju. Dia masih sibuk menata kayu untuk tambahan
api unggun. Kiena melirik kearah Billy sambil menaikkan kedua alisnya. “Udah?”
Billy sangat
ingin marah dan mengomeli Kiena. Saking marahnya dia tak kuasa menahan tawa.
Diapun tertawa terbahak-bahak. Kiena yang tak mengerti maksud tawa Billy hanya
mengikutinya dan ikut tertawa dengan lebih keras.
“Tuh, nenek sihir
khawatir dari tadi.”
“Tapi sukakan?”
Billy yang gemas
dengan tingkah konyol Kiena memaksanya untuk meminum sisa kuah mie yang ada
dimangkuknya. “Nih, minum kuah. Biar kenyang. Biar nggak bawel!”
“Bil, apaan sih?
Dany!!! Sahabat lo butuh pertolongan!!! Ada harimau mau nerkam gue!!!”
Dany hanya
tertawa melihat aksi kedua sahabatnya. Keduanya begitu dekat. Bahkan dia tak
sekalipun terpikir bahwa Billy sebenarnya…
Rombongan yang
berjumlah tiga puluh dua orang itu menghabiskan waktunya dengan
permainan-permainan ala anak SMA umumnya. Jika ada yang kalah akan dihukum,
entah dengan bernyanyi, bermain gitar, membaca puisi bahkan ada yang mencoba merayu
salah satu perempuan satu kelas dengan Dany dan Kiena, Ligsi namanya. Menurut
gossip dari teman-teman lain, Rannan memang sudah menyukai Ligsi semenjak
keduanya dipertemukan dalam ekskul teater. Dan itu adalah hal wajar yang
umumnya dialami oleh kebanyakan remaja. Rannan yang sudah siap memulai aksinya
dengan bantuan Billy dia membacakan puisi yang dibuatnya sendiri untuk Ligsi.
…
Disaksikan desiran angin malam ini
Aku memujamu
Sejak dulu
Ligsi
Menyebut kata
terakhir, Ligsi mendongak. Sangat terkejut pastinya. Rannan yang malu-malu
berjalan mendekati Ligsi. Dan…
Semuanya berlalu.
Ligsi yang telah membuka hatinya untuk Rannan. Namun Billy belum memberanikan
diri untuk lebih membiarkan kemana hatinya akan condong. Larutnya malam tak
menghentikan ramainya perkemahan. Billy, yang tetap dengan gitarnya mencoba
memainkan isi hati yang entah dia tengah bingung atau malah ingin melarikan
diri. Tiba-tiba Kiena datang menghampirinya. “So, kapan Kizza mau tembak
Kayra?” Bisiknya.
Seketika Billy
menghentikan petikan gitarnya. Dia memandang kearah Kiena dalam-dalam. Desiran
itu muncul kembali. Padahal ,angin tak sedang mengitarinya. Bahkan hanya dingin
menusuk tulang yang terasa. Kiena yang menjadi kaku karena Billy semakin
mendekat, begitu dekat. Tepat dihadapannya sekarang.
“Pentasnya baru
besuk.” Billy merasa menang karena mampu membuat jengkel Kiena. Dia
menyaringkan suara gitarnya tepat didekat telinga Kiena yang pasti membuatnya
lebih marah lagi.
Persiapan pagi
itu telah mencapai kata sempurna. Billy, Dany dan para pemain yang lain juga
telah mempersiapkan dirinya untuk terjun dalam dunia naskah yang telah dibuat
Kiena. Mereka akan lebih mengutamakan adegan dihutan pinus karena lokasi itu
adalah seting yang tepat adegan pemeran utama Billy dan Dany.
“Ki, lo ngerasa
ada yang aneh nggak sih?”
“Apanya Dan?”
Kiena sedikit kaget ketika Dany bertanya tiba-tiba padanya.
“Gue ngerasa
kalau…”
“Kalau? Apa sih? Ngomong
apa lo?” Kiena tambah panic. Dia takut yang dimaksud Dany adalah Billy.
“Dia, ki.” Dany
menunjuk kearah seorang laki-laki yang tengah duduk bersama Billy.
“Dia kenapa?”
Kiena lebih kaget karena dia mengira Dany menunjuk kearah Billy.
“Dia…kayaknya…sama
lo. Dia suka sama lo Ki.”
“Hah, diakan hari
ini mau nembak lo!”
Dany lebih kaget
dengan pernyataan Kiena. “Nembak? Rolan mau nembak gue?”
Kiena lega karena
yang disebutnya bukanlah Billy. “Eeee, iya! Dia bakal nembak lo.” Kiena diam
sesaat. Kemudian membisikkan kata-kata ketelinga Dany. “Tapi lewat Billy.” Dan
dia tersenyum.
“Ah Kiena lo
apa-apaan sih?” Dany yang tak kuasa menahan rasa merah dipipinya langsung
meremas lengan Kiena.
“Pinus… maukah
kau…” Kiena belum sempat menyelesaikan cuplikan kalimat tersebut namun mulutnya
dusah dibungkam kuat-kuat oleh Dany sehingga Kiena menjerit kecil, membuat
Billy dan Rolan menoleh seketika.
“Kenapa Dan?”
Rolan bertanya pada Dany.
“Lagi latihan
intens sama penulis scenario!” Teriak Dany.
Billy dan Rolan
hanya mengangguk-angguk keheranan. Dan mereka melanjutkan perbincangan kembali.
“Kiena itu cewek
unik. Dia smart, meskipun kelihatan sedikit cuek. Kalau nggak dekat sama Dany
gue juga nggak bakal tahu keunikan dia. Jadi. Lo maju aja. Semoga berhasil.”
“Thanks ya Rond,
gue jadi tahu banyak tentang Kiena dari lo. Sekarang, gue optimis buat maju. Lo
juga, semangat buat penembakan yang walaupun numpang diskenario. Hahaha, nggak
nggak gue bercanda.”
Keduanya
bersalaman untuk ingin segera menjalankan rencana masing-masing. Dan adeganpun
dimulai.
Dany terlihat
cantik dengan kostum kunonya. Lebih mirip peri penghuni hutan. Suasana sangat
bersahabat pagi itu. Desiran angin pelan mengiringi step demi step adegan yang
dimainkan. Billy dengan pembawaan santai, begitu menikmati detik demi detik
tujuan yang ingin dicapainya. Sebelum memulai adegannya dengan Dany dia sempat
berbincang singkat dengan Kiena. Tiba-tiba duduk disampingnya, tanpa memandang
kearah lawan bicara. Keduanya tetap fokus pada teman-teman lain yang tengah
bermain peran.
“Seandainya ada
yang mengutarakan perasaan hatinya sama kamu hari ini, maka dia adalah orang
yang benar-benar tulus mengagumi kamu.”
Kiena hanya
menoleh pelan. Bingung, namun dia tetap menganggukkan kepalanya juga dengan
pelan.
“Kamu juga.
Jangan kecewakan perasaan sahabat…” Kiena menunjuk dadanya dengan pasti.
“Satu-satunya…”
Keduanya
tersenyum. Ada perasaan tak enak muncul kembali. Namun, Billy memilih untuk segera
pergi dari samping Kiena dan dia mempersiapkan diri untuk adegan berikutnya.
Adegan yang mungkin ditunggunya. Mungkin juga tidak.
Dan kubiarkan merasuk kalbu
Wahai jiwa nan hijau
Kesejukanmu merenggut sedihku
Mengeram aku dalam amarah
Meredam aku dalam lelah
Tak secuilpun tergores dibenakku
Kau
Hijaulah dalam tandus
Wahai pinus…
Kayra yang
melihat sosok lelaki berdiri didepannya membelakanginya. Ia ragu bahwa yang
dilihatnya adalah lelaki yang diinginkannya. Ia berlari menjauhi sosok itu dan
bersembunyi dibalik salah satu pohon pinus yang begitu besar. Sayangnya,
dibalik pohon itu tertuliskan pengakuan seseorang yang sangat mengaguminya yang
tak lain adalah lelaki yang masih berdiri disana.
Meskipun ada bait yang tertinggal, dia tetap memikatku
Di tanggal 10 mei 2010 dia terjatuh dari sepeda, pipinya
yang chubby memar
Namun senyumnya tak berubah
Senin itu dia tampil dengan rambut baru, mungkin poninya
terlihat sedikit kependekan
Membuat mukanya semakin bulat membingkai, aku tetap suka
Aku pernah diam-diam mengambil fotonya dari binder temanku
Masih memakai seragam olahraganya, rambut di ikat
tinggi-tinggi
Membawa botol minum kesayangannya lengkap dengan sedotan
Wajahnya Nampak kucel dan berkeringat
Dia lebih memesona
Pinus…
Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika kau sedang
terlelah?
Perlahan lelaki
itu membalikkan badan. Kayra yang telah yakin bahwa dia adalah seseorang yang
hadir yang dia inginkan untuk membawa hatinya. Pelan-pelan dia menampakkan diri
dari balik pohon. Keduanya berpandangan…
Dan…
Selesai…
Applause yang
begitu semangat mengakhiri adegan Billy dan Dany. Namun, rupanya adegan itu
dilanjutkan secara spontan oleh Billy. Dia mengambil gitanya, berjalan pelan
menghampiri Dany yang masih tertegun dihadapannya.
“Pinus…” Billy
menoleh kearah Kiena untuk memastikan perasaannya.
Kiena dengan
senyum melembut penuh kepastian ditujukan untuk Billy. Anggukan yang ditunggu
Billy dari Kiena juga telah ia dapatkan.
“Kayra, Kiya,
Dany, Danya Fitra Regana… Bolehkah aku mengusap keringatmu ketika kau sedang
terlelah? Tertanda Erthein Deliuska Billy.”
Dany masih tak
percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Billy didepan semua orang. Meskipun
itu adalah yang sebenarnya dia harapkan selama ini. Dia hanya mengangguk, tanpa
suara. Kali ini bukanlah adegan, bukan juga latihan. Namun, Billy benar-benar
telah menyatakan perasaannya pada Dany. Semua orang masih tersipu dengan
pengakuan romantis Billy. Sementara Kiena yang dengan senyum perihnya menelan
semua rasa pahit yang tampak jelas didepan mata. Entah kenapa rasanya begitu
nyilu. Ia coba redam dan terus meredam. Dany adalah sahabat yang baik. Dia
berhak mendapatkan yang terbaik pula. Pelan-pelan ia meninggalkan sekerumunan
itu. Mengundurkan diri secara perlahan. Sampai Billy tak dapat melihat sosoknya
lagi ketika ia tengah memeluk erat Dany.
Kiena menjauhi
perkemahan. Ia kembali mendatangi tempat indah yang baginya sangat nyaman untuk
mengadu pada pepohonan yang berdesir pelan. Terik matahari yang terhalang oleh
rindangnya daun-daun serta kabut tebal diatas sana sesekali menyoroti tubuh
Kiena.
Pi, mungkin ini saat yang tepat aku melupakan semuanya.
Aku memang harus membuka mata bahwa kamu tak pernah ada dan tak akan pernah ada
untukku. Mengingatmu, hanya akan membuat sesak dadaku. Dan aku tak mau terus
menerus terpenjara dihutan pinus ini. Aku ingin lepas, dan membiarkan hatiku
terbawa oleh desiran angin yang akan datang menghembusku. Akan kukubur namamu
atas nama cinta yang pernah singgah dan berarti tiga tahun lamanya.
Kiena begitu
berkonsentrasi dengan secret of life sampai ia tak mendengar langkah kaki
seseorang yang mendekat dari belakang.
“Kamu disini?”
Kiena kaget dan
sontak menoleh kebelakang. “Rolan?” Ia cepat-cepat menutup bukunya.
“Lucu ya?”
“Hhhh…”
“Melihat pemain
yang jatuh cinta dengan lawannya.”
“Iya…”Kiena
mengangguk pelan. “Itu hal yang wajar.”
“Lalu, bagaimana
menurut kamu dengan ketua Jurnalis yang mengagumi penulis skenarionya sendiri?”
Kiena menoleh
cepat.
“Apa itu juga
wajar?”
Kiena, kamu baru saja melepas segala kenangan tentang
pinus. Sekarang desiran angin datang untuk menghembus hatimu yang beku sekian
tahun. Bukan dia, bukan juga dia…
“Aku memang bukan
Billy, yang mampu membuat semua orang terkesima. Aku juga bukan satu dari
bagian pohon pinus disini yang membuat kamu jatuh cinta dengannya untuk
berlama-lama menikmatinya. Akau hanyalah seorang yang mampu melihatmu dari jauh
dan menunggu kesempatan itu tiba hingga detik ini.”
“Tapi…aku hanya
seorang penulis biasa. Aku bukan orang yang special.”
“Dimataku,
special itu adalah jika seseorang mampu memberikan banyak kejutan bagi orang lain.
Dan itu kamu. Kamu telah memberikan kejutan bagi kami. Semuanya Ki. Semua orang
kagum sama kamu. Termasuk aku,”
“Kamu yakin?”
“Beri aku
keyakinan itu, agar aku benar-benar yakin.”
Kiena tersenyum
pelan dan menganggukkan kepalanya.
“Jadi?”
“Iyaaa.” (karena
aku tak pernah yakin dia ada dan siapa…)
To be continue,
GUNCANGAN ITU MASIH TERASA
Babak baru
dimulai. Kedua pasang tangan itu bergandengan. Mereka saling memiliki. Kiena
tak akan merasa menjadi kambing congek lagi sekarang. Begitu juga dengan Dany,
sahabatnya kini telah ada yang menjaga. Billy, yang ikut tersenyum dalam hati
setelah rentetan kejadian yang berjalan begitu cepat sehingga mengubah
semuanya.
Pagi itu seperti
biasa Dany dan Kiena berangkat sekolah dengan sepeda masing-masing. Pagi yang
cerah.
“Nih,”
Billy segera
membuka buku secret yang mereka buat setiap minggu.
“Jangan dibuka
sekarang! Malu tahu…” Dany merebut buku dari tangan Billy dan segera menutupnya
kembali.
“Ya udah, aku
buka nanti tengah malam kalau kamu udah tidur.”
“Ya nggak usah
malam-malam banget kali.”
Billy spontan
mengacak-acak rambut Dany dan Danypun berteriak kecil. Dibelakangnya Kiena ikut
tersenyum.
“Ehmm, gue duluan
deh. Lama-lama disini, jadi gigit jari nih.” Kiena mempercepat langkahnya dan
melambaikan tangan kepada keduanya ala putri Indonesia.
“Eh eh eh…” Billy
menarik tangan Kiena.
“Kenapa? Lo mau
gue ngacir disini lihatin kalian berdua?”
Billy yang tersenyum
dengan ekspresi marah Kiena kemudian juga mengacak-acak rambut Kiena tanpa rasa
bersalah.
“Aduh Dan, pacar
siapa sih ini usil banget!”
Dany tertawa
melihat keakraban mereka berdua. “Kalau gue peratiin, kalian cocok juga tuh
pacaran.”
Kalimat yang
mengejutkan telinga Kiena juga Billy. Keduanya saling pandang. Hanya kisaran
detik.
“Gue? Pacaran
sama dia? Bisa tiap hari gue makan gombalan gitarnya.” Kiena segera membela
diri dan pergi berlalu.
v
Apakah harus
setiap bertemu seperti ini. Berpura-pura akrab untuk sahabat. Tapi sampai
kapan. Semakin sering bertemu semakin pula ingin menghindar. Ingin menyatakan
bahwa perasaan itu salah. Rasa yang setiap saat datang mengejutkan. Atau hanya
akan terus seperti ini sampai nanti.
“Na, minggu depan
anak teater mau ada pertemuan dengan SMA 4.”
“Hhhh?”
“Kamu mau ikut?”
“Jurnalis juga?”
“Enggak sih. Tapi
Billy nawarin buat ikut. Kan ada Dany juga. Nanti disana kita bisa sharing sama
anak teater dan ketemu sama anak jurnalisnya.”
“Boleh, udah lama
nggak ada kegiatan jadi lupa sama jurnalis.”
“Kalau sama
ketuanya?”
“Hah?”
“Lupa juga?”
“Rolan apaan sih?
Nggak lucu.”
Satu semester
berpacaran kedua pasangan itu nampak baik-baik saja. Terutama Dany dan Rolan.
“Na, ntar pulang
sekolah mampir kerumah ya.”
“Tumben banget,
ada apa nih.”
“Mama buat kue.
Dany sama Billy sekalian biar rame.”
“Wah, kacau tuh
kalau ada Dany. Dia pemakan segala. Hahaha…”
“Asal nggak makan
kamu aja…”
v
“Siang tante!!!”
Ketiga suara cempreng itu terdengar kencang di telinga mama Rolan.
“Wah, Rolan bawa pasukan
ya. Kebetulan tante bikin kue percobaan. Ayo sini,masuk dulu.”
“Pada langsung
masuk ke kamar gue aja.”
“Permisi tante…”
dua perempuan dan satu laki-laki itu mengikuti langkah Rolan.
Diruang tengah
mamanya telah menyiapkan kue serta minuman untuk mereka. “Rolan! Jangan
lama-lama di dalam kamarnya ya. Makanannya mama taruh meja.” Teriak mama pada
Rolan yang masih berada di dalam kamar dengan ketiga temannya.
“Udah lo semua
nggak usah sungkan.”
“Ya karena nggak
punya sungkan, gue sama Dany laper nih. Kita keluar dulu yah.” Billy tiba-tiba
menyeret tangan Dany dan mengajaknya keluar kamar.
Hanya tinggal
Rolan dan Kiena berada di kamar. Keduanya saling diam. Kiena berusaha memecah
suasana. Dia menuju ke meja belajar Rolan dan melihat-lihat komponen yang ada.
Sementara Rolan masih menyibukkan dirinya dengan membereskan baju-baju yang
terlihat sedikit berantakan.
“Na, aku sambil
beresin baju-baju aku ya. Jadi nggak enak nih di lihat sama kamu.”
“Rolan, kamu
bilang seperti itu, emang aku ini siapa kamu sih.” Kiena tersenyum.
Rolan reflek
menjatuhkan baju-baju yang dipegangnya kemudian berjalan kearah Kiena dan
memeluknya sangat erat.
“Dan, hp aku di
kamu nggak?”
“Aku dari tadi
nggak bawa kok. Di kamar Rolan kali.”
Billy berjalan
menuju ke kamar Rolan. Pintu memang sengaja tidak di tutup sehingga aktivitas
apapun di dalam kamar akan terlihat dari luar. Termasuk yang satu ini. Rolan
masih memeluk erat Kiena ketika Billy tak sengaja telah sampai di depan pintu.
Rupanya Kiena
mengetahui keberadaan Billy. Dia ingin segera melepaskan pelukan Rolan. Namun
dari luar Billy seolah tak mengijinkan.
Tetap dekap erat Ki. Dia butuh kamu…
Kiena tersenyum
kemudian Billy meninggalkannya tanpa mendapatlan hp yang ia cari.
“Rolan, keluar
yuk. Kayaknya anak-anak pada nungguin kita tuh.”
Rolan yang merasa
sangat malu karena terlalu lama memeluk perempuan yang selama ini dukaguminya.
Sementara menunggu Rolan membersihkan baju-bajunya Kiena melihat satu kotak
yang berada di laci meja belajar Rolan. Ia kaget karena menemukn fotonya ada di
dalamnya.
“Rolan?”
“Hmm?”
“Kenapa bisa ada
disini?”
“Oh, itu aku
dapat dari Billy. Karena tahu aku suka sama kamu, dia kasih foto itu buat aku
Na.”
Kapan Billy ambil foto itu?
“Billy itu bukan
Cuma baik, tapi dia juga care. Bahkan, dia juga yang mengusulkan untuk kita
camping ke hutan pinus karena tahu kamu sangat suka dengan tempat itu. Sehingga
lebih sesuai dengan cerita kamu, Na. dia juga yang berhasil kasih support aku
buat nembak kamu.”
“Na?”
“Na?”
Kiena tercengang
dengan semua pernyataan yang baru saja di dengarnya.
“Na? Kamu
kenapa?”
“Eh, iya. Billy
itu orangnya baik. Sangat baik.”
Rolan merasa
pikiran Kiena tak sedang berada disana dengannya. “Ya udah, gabung sama
anak-anak yuk.”
Keluar dari kamar
Rolan wajah Kiena tampak berbeda. Itu yang dilihat Billy. Tatapan tajam
kearahnya membuat Billy penasaran.
“Yang baru dapat
pelukan.”
“Bil, sini lo
ikut gue!” Kiena menyeret Billy menjauhi ruang tamu. Dany yang sibuk dengan
majalah yang asyik di bacanya. Rolan yang berbelok kearah dapur setelah keluar
dari kamar.
“Kenapa?”
“Apa, Ki?”
“Kenapa foto gue
ada di Rolan?”
“Ya, hal yang
wajar kalau pacar kamu punya foto kamu.”
“Kenapa lo ambil
foto gue dan lo kasih ke dia?”
“Ki, masalahnya
apa sih?”
“Masalahnya,
kenapa lo selalu ikut campur dalam hubungan gue sama Rolan. Lo itu siapa? Lo
Cuma teman gue dan nggak lebih. Jadi lo nggak seharusnya campurin urusan gue
sama dia!” Rasa amarah menguasai emosi Kiena.
Belum sempat mencicipi
kue buatan mama Rolan Ia langsung pergi ke dapur dan berpamitan.
Sudah satu minggu
Kiena dan Billy tak saling menyapa. Bahkan Rolan dan Dany tak tahu apa
masalahnya. Mereka menjadi imbas dari permusuhan kedua sahabat juga pacar
masing-masing. Segala cara dilakukan agar keadaan kembali seperti semula. Jika
mereka bisa memutar waktu, akan di hapus kejadian permusuhan ini agar tak
berdampak lebih panjang seperti sekarang. Bahkan hubungan keempatnya nyaris
merenggang.
“Sebenarnya ada
apa dengan mereka Dan?”
“Gue nggak
ngerti…”
Dany hanya
menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Kiena tak mau menemui Rolan dan
Dany jika ada Billy. Begitu juga sebaliknya. Sehingga hampir dua minggu ini Rolan
dan Dany hanya terlihat berdua. Bermaksud mencari solusi namun belum ada tanda
membuahkan hasil. Bahkan pertemuan dengan SMA Empat tak berjalan semulus yang
Rolan pikirkan. Jika Kiena ditanya, jawabnya “Tanya aja sama Billy”. Sebaliknya
Billy, “Tanya Kiena aja.”
Ada apa sebenarnya dengan diriku. Aku telah menyakiti
banyak orang. Rolan, pacarku sendiri. Dany, sahabat yang sekaligus telah ku
anggap sebagai saudaraku. Kini keduanya bingung hanya karena aku marah dengan
seseorang yang membuatku sangat benci padanya. Seperti marah pada tiga
sekaligus. Maafkan aku…
Rolan dan Dany,
Maaf aku sembunyi
dari kesalahan. Jangan anggap aku sebagai pacar dan sahabat yang egois.
Sekembali nanti aku sudah siap untuk menerima semuanya.
Lovely
Kiena
Rolan dan Dany
yang membacanya dengan rasa kecewa. Sahabat sekaligus pacar mereka harus pergi
meninggalkan dua orang yang sangat menyayanginya. Billy juga lebih sulit untuk
ditemui. Libur akhir semester menjauhkan jarak antara keempatnya. Hanya ada
cerita Rolan dan Dany selama dua pekan terakhir.
“Sampai kapan
mereka bunuh kita seperti ini?”
“Sampai
persahabatan kita hancur? Dan tidak akan ada lagi cerita?”
“Dan, sekarang
kita tinggal berdua. Jangan tinggalin gue karena gue belum siap kehilangan orang
terakhir."
“Lo pikir ini
gampang buat gue? Lebih baik gue kehilangan Billy dari pada Kiena harus pergi.
Dia sahabat terbaik gue. Dulu dia pernah merasa kehilangan karena sahabat
terbaik kita harus pergi. Bahkan sampai sekarang. Itu alasannya kenapa gue
begitu peka sama Kiena. Dia nggak mau kejadian yang sama terulang lagi antara
kita.” Air mata tak mampu terbendung membasahi pipi Dany.
“Gue mesti gimana
sekarang, Lan?”
Rolan mengelus
pundak Dany pelan. Teras yang tak begitu luas dengan rumput-rumput kecil
memenuhinya. Dua kursi tanpa penghuni dengan satu meja di tengahnya terletak di
samping kiri pintu masuk rumah Dany seolah hanya sebagai pelengkap. Di lantai
depan pintu duduk dua orang yang tengah mengalami guncangan hati yang sama
besar. Tanpa sadar Dany merebahkan kepalanya di pundak Rolan.
Adegan yang
sangat singkat. Billy datang bersama motornya dengan laju pelan hendak memasuki
halaman rumah Dany. Melihat dua orang yang tampaknya tengah menikmati suasana
entah kesedihan atau sebaliknya. Dengan cepat ia memutar balikkan motornya.
Tanpa berhenti dan mengucap apapun Billy menarik gas motornya sekencang
mungkin.
Sementara Dany
yang tak menduga kedatangan Billy sebenarnya merasa sangat senang. Namun kenapa
harus terjadi hal tak mengenakkan seperti yang baru saja terjadi. Dia pergi
begitu saja meninggalkan rasa rindunya karena tak ada kejelasan selama hampir
dua minggu. Tanpa kabar yang jelas dari Billy. Ada apa sebenarnya dibalik semua
ini. Kenapa Billy juga ikut menghilang bersamaan dengan tenggelamnya nama Kiena
sejak awal liburan kemarin. Bahkan tanpa tahu alasannya. Dany bahkan berlari
hendak menyusulnya, namun kecepatan laju motor Billy tak mungkin bisa di cegah
oleh Dany. Kakinya melemas, wajahnya pucat dan dengan pelan ia membiarkan
tubuhnya melunglai di tengah jalan depan rumahnya. Perumahan kecil itu jarang
di lewati kendaraan sehingga tanpa berpikir apapun Dany tetap berlama-lama
disana.
Laki-laki itu
mengulurkan tangannya dan mengajak Dany untuk kembali. Namun tak dihiraukannya.
Bahkan ia tak mendengarkan perkataannya.
“Percuma tetap
disini. Billy tidak akan kembali untuk sekarang.”
Tahu dany tak
menghiraukan, Rolan mengalah untuk menekuk lututnya dan ikut duduk bersama Dany
meskipun bukan tempat dan waktu yang tepat.
“Apa salah gue
Lan?”
“Menurut lo?
Gimana dengan gue?”
“Menurut gue
mereka yang salah karena dengan sengaja telah buat kita jadi seperti ini.”
“Kalau begitu lo
adalah orang yang egois.”
“Lalu bagaimana
dengan mereka? Apa sebutan yang tepat untuk mereka?”
“Kita akan lebih
egois jika memaksakan diri. Ingat Dan, cinta itu bukan untuk dipaksa. Mungkin
mereka sedang ingin memecahkan masalah yang belum bisa mereka ceritakan sama
kita.”
“Lalu apa gunanya
kita? Bukankah jika kita telah berpasangan setiap masalah akan dihadapi
bersama?”
“Nggak semuanya.”
“Terus apa?”
“Buktinya, mereka
lebih memilih untuk pergi. Bukan berarti mereka tidak mau berbagi.”
“Sampai kapan?”
“Sampai mereka
telah ingin kembali. Kamu tenang aja Dan. Billy pasti akan kembali. Tapi tidak
untuk sekarang. Orang bilang cinta itu membingungkan. Dan aku baru saja
mengalaminya.”
“Itu mah karena
lo dodol. Hahaha…”
“Itu kau bisa
ketawa. Kenapa nggak dari tadi?”
“Bodoh! Gue
ngetawain lo yang nggak lucu tuh. Dasar, bisa-bisanya Kiena jatuh cinta sama
lo.”
“Ya karena cinta
itu membingungkan. Hahaha!”
Tempat pertama
yang membuat Kiena merasa jatuh cinta dan ingin berlama-lama disana. Lagi-lagi
pinus tak benar-benar terlepas dari catatan perjalanan hidupnya. Rupanya secret
of life belum berakhir. Bahkan ini mungkin akan menjadi babak pertama penemuan
cinta yang sesungguhnya. Disini cerita itu mulai dibuat. Dihutan pinus ini.
Cerita tentang dua orang remaja yang menyatukan hatinya untuk cinta. Bahkan
sejarah itu masih melekat di benaknya. Bahwa dia, Kiena, masih mengingat tokoh
itu. Tokoh Kizza yang tadinya adalah cinta pertama bagi Kiena. Namun seiring
berjalannya waktu dia telah berusaha untuk menghapus, mengubur kenangan yang
tak akan mungkin lagi kembali. Mau tak mau, tokoh lain hadir dalam
kehidupannya. Tokoh yang sempat membuatnya benci, bahkan hingga saat ini karena
telah sering mengguncangkan hatinya dengan tiba-tiba.
Pergi!!! Pergilah rasa ini jauh-jauh dari hatiku! Aku
benci setiap kali merasakan ini. Lagi-lagi aku telah menyakiti banyak orang
yang menyayangiku. Benci karena aku tak kuasa membendungnya. Benci karena tak
mampu berbuat apa-apa. Benci akan kehilangan semuanya. Enyahlah dari dalam
diriku, wahai penyihir yang mengubahku menjadi seseorang yang jahat! Enyahlah…
Selama satu
minggu terakhir dia menulis kalimat-kalimat itu dan di tempelkannya di pohon
pinus sebanyak yang ia tulis. Jika hujan datang, kertas itu berubah melunak dan
memburamkan tulisan-tulisannya. Bahkan sampai nyaris tak dapat terbaca.
Sekalipun olehnya. Maka keesokan harinya dia akan menulis lebih banyak lagi dan
berharap tak akan ada hujan yang menghapus isi hatinya. Atau memang ini adalah
pertanda bahwa sekembali nanti dia tidak akan lagi membawa rasa sesak di
dadanya karena telah hanyut terbawa oleh derasnya tetesan air hujan.
Tiga hari terakhir
Kiena merasa ada yang aneh. Kenapa ada satu kertas yang sama sekali tidak
terbasahi oleh air hujan. Padahal kertas itu di taruhnya dalam posisi yang sama
dengan kertas-kertas yang lain meskipun di pohon yang berbeda. Bahkan
setetespun tak ada. Kertas itu masih utuh seperti kemarin ia menempelkannya.
Seharian ia coba menunggui. Tak ada hewan atau apapun yang dicurigainya.
Dipindah kepohon yang lain, juga tetap kering dan rapi. Akhirnya dia beranikan
diri untuk menungguinya malam-malam. Barang kali ada yang sedang berkemah di
hutan ini. Di pos pendakian itu tak Nampak ada rombongan yang datang. Penjaga
juga telah mengatakan tak ada yang naik beberapa hari terakhir.
“Tapi, saya ingat
seminggu yang lalu ada yang naik sendirian mbak.”
“Orangnya seperti
apa Pak?”
“Ya mana saya
ingat. Wong yang naik itu banyak dan selalu bawa tas yang besar itu lo mbak.”
Akhirnya Kiena
meminta tolong kepada penjaga pos pendakian Cemoro Sewu di Gunung Lawu, Solo
Jawa Tengah. “Tolong temani saya menunggui hutan ini nanti malam ya, Pak.”
“Wah, saya ndak
pernah naik mbak. Dingin sekali lo disata itu.”
“Saya bayar deh.
Bapak Cuma temani saya. Tidur juga tidak apa-apa. Asal saya tidak sendirian.”
“Sampean ini kok
aneh to mbak. Sudah seminggu lebih disini. Sendirian lagi. Apa ndak takut?”
“Saya punya misi
rahasia, Pak.” Kata Kiena seraya bercanda.
“Ya sudah, nanti
malam saya temani. Tapi besuk mbak harus pulang lo ya. Jangan disini lama-lama.
Cewek kok keluruyan.” Kata Si penjaga khawatir.
“Siap!
Terimakasih banyak Pak.”
Malam itu suasana
begitu sunyi. Tampaknya cuaca bersahabat dengan Kiena. Sekitar jam sebelas
malam Kiena masih melanjutkan obrolannya dengan penjaga hutan. Belum ada
tanda-tanda orang lain seperti yang dimaksud lelaki paruh baya itu.
“Pak, biasanya
bapak juga sendirian ya jaga di pos?”
“Ya iya mbak. Mau
sama siapa lagi? Ya, kadang kalau ada warga sekitar yang ikut nonton TV, baru
saya ada temannya ngobrol. Tapi sudah jam sepuluh mereka pada pulang. Takut
istri mungkin.”
“Ah, bapak bisa
saja bercanda.”
“Mbak ndak segera
tidur? Ini sudah malam. Mau nunggu apa lagi to?”
“Saya belum
ngantuk. Kalau bapak capek, istirahat dulu tidak apa-apa.”
“Ya sudah mbak,
saya tidur dekat tenda sini ya. Mbak jangan malam-malam tidurnya. Nanti
langsung masuk tenda saja. Kalau ada apa-apa saya pasti bangun.”
Kiena masih mengamati
keadaan di sekelilingnya. Hanya ada kegelapan yang menemani. Api dihadapannya
masih menganga. Mungkin, jika api sudah mulai memadam dia akan masuk ke tenda
dan pergi tidur.
Laptopnya masih
menyala. Karena tak tahan dengan rasa kantuknya Kiena pun merebahkan badan
tepat di depan laptop hanya dengan alas tikar sekedarnya.
Ia terbangun
pukul tiga pagi. Kaget karena dirinya tak mematuhi nasehat Si penjaga dan
tertidur diluar tenda. Akhirnya hampir sekujur tubuhnya merah-merah karena
serangan nyamuk hutan yang ganas. Ia membuka jaket yang menumpang menyelimuti
tubuhnya.
“Pak, ini jam
berapa ya?” Kiena berusaha membangunkan penjaga hutan dengan pelan.
“Kelihatannya
sudah pagi mbak. Coba saya nyalakan apinya lagi. Mbak itu tangannya kok
merah-merah?”
“Iya, semalam
saya ketiduran disini. Jadi tidak sempat pindah ketenda Pak. Ini jaketnya Pak,
terimakasih.”
“Lhoh, ini bukan
jaket saya mbak. Saya saja semalam tidak terbangun. Dan ini juga Cuma bawa
sarung.” Pernyataan penjaga hutan itu mengagetkan Kiena.
“Hah?? Lalu ini?”
Kiena masih memegang jaket itu tercengang tak percaya.
Ia tak lagi
mengeluarkan kata-kata. Hanya memandangi jaket itu lekat-lekat. Kalau bukan milik bapak penjaga? Jadi benar
dugaanku. Pasti ada orang lain dihutan ini. Tapi kenapa dia tidak mau bertemu
dengan kami? Tunggu tunggu, aku seperti merasa tidak asing dengan jaket ini.
“Jaket baru Dan?” “Punya Billy, gue pake kemarin…”
Mustahil dia ada
disini. Dan untuk apa? Suasana pagi petang itu menegangkan urat syaraf Kiena.
“Mbak, mbak…”
“Eh iya Pak…”
“Duduk sini biar
ndak kedinginan, apinya sudah saya nyalakan lagi.”
Kiena hanya
mengangguk seraya berjalan mendekati api unggun yang tinggal tersisa beberapa
kayu saja. Pikirannya masih tertuju pada jaket itu.
“Pak, ini
benar-benar bukan jaket saya. Lalu?”
“Mbak, saya kok
jadi takut. Tapi kalau ada orang yang mau jahatin mbak, kenapa malah ngasih
jaket? Harusnya dia ambil sesuatu atau yang lain begitu.”
“Saya tahu
orangnya, Pak. Tapi dia tidak mau menemui saya, mungkin…”
“Karena kamu
selalu sibuk untuk menghindar.” Suara yang tak begitu keras namun dengan jelas
masuk ke telinga Kiena dan membuatnya segera menoleh kearah sumber suara.
Dilihatnya
samar-samar sosok yang tengah berdiri dari balik salah satu pohon pinus tak
jauh dari Kiena.
“Billy?” Kiena
sangat kaget karena dugaannya tak meleset. Dan kini orang itu sudah berada
dihadapannya.
“Mbak Kiena kenal
dengan orang ini? Yang saya maksud kemarin itu ya, mas ini.”
“Dia… teman saya
Pak.”
“Oh, syukurlah
kalau begitu. Mas, cepat ajak temannya pulang. Mbak Kiena ini sudah dari
seminggu yang lalu disini. Saya kasihan, perempuan dihutan ini sendirian.”
“Terimakasih
sudah menjaga teman saya Pak. Pagi ini juga kami akan segera kembali.”
Kiena menatap
Billy dengan tatapan yang sangat tajam. Masih seperti sebelumnya. Namun Billy
membalasnya dengan tatapan yang lembut.
“Pakai jaket gue.
Buat sekarang lupakan masalah kita dulu. Biarkan gue ngurusin lo sekarang.
Please…”
Kiena tak berkata
apa-apa. Hampir seluruh tangannya yang merah membuat Billy sangat panic.
“Berapa lama kamu tahan donor darah disini?”
Senyum itu muncul
juga perlahan. Dan Kiena membiarkan kedua tangannya di olesi dengan lotion oleh
Billy. Telapak tangannya terasa begitu menghangatkan hati Kiena yang beku selama
ini.
“Berapa lama kita
marahan?”
“Satu bulan
duabelas hari.”
“Hah? Sampai
sedetail itukah?”
“Tapi kamu tidak
pernah peduli.” Billy masih tetap mengoleskan lotion ke tangan Kiena.
“Kamu??? Lo
barusan panggil gue, kamu?”
“Ki, izinkan aku
bicara sebentar. Setelah ini meskipun kamu tetap marah, aku tidak peduli.”
Kiena terpaku
dengan tatapan mata Billy yang penuh keseriusan.
“Aku tahu, kamu
milik Rolan dan aku punya Dany. Tapi aku tahu, kalau kamu juga tahu bahwa kita
memiliki perasaan yang sama. Perasaan yang selama ini selalu berusaha kamu
tutupi karena takut akan kehilangan Dany. Kemanapun kamu menghindar, tidak akan
bisa merubah perasaan. Bahwa kita, aku dan kamu, saling menyayangi.”
“Teman, juga bisa
saling menyayangi…”
“Ki, sampai kapan
kamu akan mengingkari? Kita saling menyanyangi bukan hanya sekedar sebagai
teman, tapi lebih. Kita sama-sama egois. Aku biarkan kamu di peluk oleh
laki-laki lain di depan kedua mataku. Dan aku harus terus berpura-pura bahwa
itu semua biasa saja. Sampai kapan? Sampai Dany dan Rolan bosan dengan kita dan
akhirnya kita bisa bersama?”
“Sampai kapanpun
kita tidak akan pernah bisa bersama, Bil. Karena kita sudah menentukan pilihan
masing-masing. Dan aku memilih Dany dan Rolan. Bukan kamu…”
“Ok. Aku sudah
mengatakan apa yang ingin kukatakan. Oya, satu lagi. Foto yang aku berikan ke
Rolan, itu bukan foto yang aku ambil di rumah kamu. Dan foto yang asli, masih
tetap tersimpan di kamarku.”
“Kamu gila?
Bagaimana kalau Dany tahu? Cepat kamu buang atau Dany akan marah sama aku dan
aku tidak akan pernah mau ketemu kamu lagi.”
“Apa setiap
keputusan itu selalu kamu yang ambil? Aku juga berhak melakukan apa yang ingin
atau tidak ingin aku lakukan. Dan aku memlilih untuk tetap mencintai kamu,
Kiena.”
Pagi itu mereka
berdua meninggalkan hutan pinus. Kiena yang masih dalam diam hanya mengikuti
kemana arah motor Billy melaju. Kabut menyelimuti di sepanjang jalan yang
mereka lewati. Dinginnya suasana pagi itu membuat kedua tangan Kiena mau tak
mau melingkarkannya pada tubuh Billy. Dan tak lama kemudian pundak Billy terasa
lebih berat karena tak kuasa menahan rasa kantuknya sehingga kepala Kiena
tersandar di bahu Billy.
Billy berhenti di
sebuah tempat. Dan Kiena masih tertidur. Ia sengaja tak membangunkannya agar
Kiena tetap bersandar di bahunya. Rasanya ia tak ingin cepat-cepat pulang.
Kedua tangan itu di pegangnya erat-erat. Sehingga membuat Kiena terbangun.
“Eh, sorry gue
ketiduran.” Kiena segera menarik tangannya namun di cegah oleh Billy.
“Ki, apa aku
boleh minta agar kamu tetap bersandar di bahuku?”
Kiena tak
menjawab. Dia melemahkan genggaman tangannya dan membiarkan Billy tetap meremas
lembut di sela-sela jemarinya. Sebentar kemudian dia memeluk erat Billy.
Billy kaget
dengan reaksi Kiena. “Ki”
Kiena segera
melepaskan pelukan itu. Dia turun dari motor dan menikmati suasana pagi hari di
tempat sejuk yang ia tak tahu itu dimana.
“Wow!!! Tempat
ini Bil.”
“Kenapa? Kamu
suka?”
“Banget.”
Tak lama kemudian
Billy ikut turun dari motornya dan menghampiri Kiena. “Tapi aku nggak suka.”
Kiena menurunkan
kedua tangannya yang tadinya ia rentangkan. “Kenapa?”
“Karena kamu
sebenarnya juga tidak suka dengan tempat ini. Aku yakin setelah ini kamu akan
menghapusnya tanpa secuilpun kenangan yang tersisa.”
“Bil, aku suka
tempat ini. Aku suka setiap tempat yang kamu tunjukkan ke aku. Aku suka
bagaimana cara kamu menyayangi aku. Aku suka karena kamu sangat menghargai aku.
Aku jatuh hati sejak pertama kali lihat kamu di parkiran waktu itu meskipun
yang kamu sapa adalah Dany. Aku suka cara kamu menyampaikan perasaan kamu,
lewat Rolan. Aku suka cara kamu buat aku cemburu, lewat Dany. Yang aku tidak
pernah suka, ketika Rere sahabat dekatku meninggalkan aku dan Dany karena dia
marah kita menyukai orang yang sama…” Mata Kiena berkaca-kaca. Dadanya mulai
sesak menahan emosi yang begitu kuat.
“Ki, itu Rere.
Bukan Dany. Aku sudah tahu semua cerita tentang kamu dari Dany. Aku juga tahu
seberapa besar Dany sayang sama kamu. Dia pernah bilang, lebih baik dia
kehilangan aku dari pada kehilangan satu-satunya sahabat dekatnya, kamu.”
“Apa setelah Dany
bilang seperti itu aku akan dengan gampangnya rebut kamu dari dia? Dany itu
cinta sama kamu, dia tulus.”
“Lalu bagaimana
dengan ketulusanku, Ki? Sudahlah, aku tahu semua ini akan percuma. Ayo pulang!”
Billy menarik tangan Kiena.
“Masih banyak
tempat indah menungguku.”
“Sama aku?”
Kiena mengangguk.
Mereka memutuskan untuk menunda kepulangan dan menjalankan rencana dadakan
Kiena. Menghabiskan hari terakhir dan berharap hari itu tak akan pernah
berakhir.
Jika ini adalah hari terakhir
Maka, aku akan berdoa
Hari ini tak akan pernah berakhir
Aku ingin terus hidup
Dihari ini
Denganmu
Meski ragu mengganggu pikiranku
Bahwa dia nyata tapi tak nyata
Bahwa dia ada tapi tak ada
Atau aku ingin
Rasa ini ikut berakhir
Bersama tenggelamnya mentari
Di sore nanti
“Iiiiih Billy
jangan jambakin rambut gue!”
“Gue atau aku,
Ki?”
“Gue, gue, gue…
nggak suka sama lo Bill!!!!!!!!!!!!!”
Billy tersenyum
mendengar pernyataan Kiena yang terlihat sangat konyol. Dibawanya kaleng fanta
itu kesana kemari dan dia berlari sekencang mungkin agar suara teriakannya tak
terdengar. Nyatanya jarak antara keduanya tak begitu jauh. Keduanya terus
berlari menjauhi tempat dimana motor Billy di parkir.
“Bill, ini kita
dimana sekarang?”
Billy hanya
geleng kepala. Dia tidak serius menanggapi pertanyaan Kiena.
“Aku serius. Kita
dimana? Masih di Solo?”
Lagi-lagi billy
hanya geleng kepala. Lalu Kiena melemparnya dengan kaleng fanta bekas sisa
minumannya.
“Auw!!!”
Billy membalasnya
dengan membuka kaleng fanta yang belum sempat diminumnya di dekat muka Kiena
sehingga air fanta itu menyembur ke seluruh wajahnya.
“Billy!!! Kurang
ajar.”
“Gue udah nggak
pakai make up dari minggu kemarin nih.”
“Nggak apa-apa.
Kelihatan kok.”
“Kelihatan
jeleknya?”
“Pinteeer!”
“Bill”
“Ya?”
“Makasih”
“Tumben bisa bilang
terimakasih. Biasanya aku Cuma dengar kamu marah-marah.”
“Itukan
biasanya.”
“Sebenarnya ini
juga masih marah.”
“Berarti yang
tadi itu pura-pura?”
“Banget”
Keduanya
mendekat. Sama-sama merasakan keindahan kebersamaan yang singkat namun sangat
bermakna.
“Ki”
“Ya”
Billy mengulurkan
kelingkingnya kepada Kiena. “Untuk sahabat”
Kiena tersenyum
penuh kebahagiaan dan melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Billy. “Sahabat
juga tetap bisa saling menjaga.”
Keindahan sore
itu berakhir seiring tenggelamnya matahari di barat sana. Butiran debu
bercampur keringat membuat sekujur tubuh mereka kucel tak berwujud. Sekembali
nanti semua akan seperti sedia kala. Mereka kembali ke pemilik masing-masing.
Dan itu adalah kesepakatan keduanya.
Jika rasa ini memang tak bisa di cegah, maka biarkan
keduanya diberi kesempatan untuk saling menjaga sebagai sahabat.
“Kalau begitu
kami permisi pulang dulu tante. Tolong sampaikan salam kami kalau Kiena sudah
kembali.”
“Sering-sering
main kesini seperti biasanya, Dan. Kemarin tante sudah telepon Budhe yang di
Solo. Katanya Kiena baik-baik saja kok.”
“Iya, malam
tante.”
Keduanya
berpamitan dan beranjak meninggalkan rumah Kiena ketika suara deru motor pelan
memasuki halaman mungil rumah itu. Jam memang masih menunjukkan pukul tujuh dan
lampu-lampu juga masih menyala benderang. Malam itu memang belum larut. Keempat
pasang mata yang saling bertemu pandang. Melihat secara bergantian.
“Dany…”
“Ki!!!!! lo
kemana aja? Gue kangen lo Ki. hampir setiap hari gue kerumah lo sama Rolan.”
Kedua sahabat itu
berpelukan. Nampak keharuan begitu mendalam menghiasi wajah mereka. Dany yang
tak hentinya memanggil nama Kiena meskipun dia telah berada dalam dekapannya.
“Dan, gue minta
maaf…”
“Enggak Ki, gue
yang seharusnya minta…”
“Sssssst! Udah.
Sekarang gue nggak akan kabur-kabur lagi. Dan gue udah siap di omelin sama lo
berdua.”
“Oiya egois
banget kalau gue meluk lo lama-lama. Ada yang lebih kangen dari gue Ki.”
“Gimana? Sudah
siap dengan omelan kita?” Rolan mengelus setengah mengacak-acak rambut Kiena
yang sebenarnya sudah terlihat seperti rambut singa.
Keduanya
berpelukan. Kiena mengacungkan jempolnya kepada Billy dan tersenyum.
“By the way, kok
kalian bisa barengan sih? Atau jangan-jangan kabur-kaburannya berdua? Hayo
ngaku?”
“Sudahlah Ki,
mereka sudah pulang. Lo nggak kangen sama Billy?”
“Yang harusnya
kangen itukan tante. Sini nak, peluk mama Nak.”
“Mama…”
“Kemarin lusa
mama telepon Budhe katanya kamu lagi keluar.”
“Maafin Kiena ya
Ma.”
“Ayo semua pada
masuk dulu tante buatkan minum.”
Suasana kembali
mencair. Meskipun ada sedikit ketegangan yang sempat terjadi beberapa detik
dengan kedatangan Kiena bersama Billy. Kini Billy mengerti kenapa Kiena begitu
menyayangi Dany. Bahkan kecurigaan Dany terhadapnyapun hilang dalam sekejap
setelah melihat sahabat setianya, Kiena akhirnya kembali. Dia baru sadar batapa
dalam persahabatan keduanya. Bahkan dia tidak menanyakan apapun padanya. Hanya
Kiena, hanya dia yang di khawatirkan. Maka kini Billy tak perlu mengkhawatirkan
apapun. Keputusan yang mereka ambil sudah tepat. Memang keduanya harus kembali
kepada pemilik hati masing-masing. Begitulah seharusnya tanpa ada yang
tersakiti. Meskipun jauh didalam hatinya memberontak. Namun melihat Kiena yang
begitu kuat menjalani, harusnya dia bisa jauh lebih dari itu.
Kedamaian
persahabatan mereka telah kembali. Kedua pasang kekasih itu akan memulai kembali
ukiran kisah keempatnya. Tak ada rasa cemburu. Mereka adalah satu. Meskipun ada
hati yang mengikat di antara hati yang lain.
Hati ini telah kembali. Kedalam hati yang sesungguhnya
tempat dimana dia ada. Sedangkan hati yang kumau, malah terlihat dengan jelas
setiap detiknya dimataku. Dia tak pernah pergi kemana-mana. Hanya saja hati itu
juga telah memasuki hati lain yang sepantasnya. Mungkin memang begini harusnya.
Sakit, bukan karena pacar, bukan juga karena sahabat. Tapi sakit, karena kami
selalu bersama namun tak mampu untuk saling memiliki. Sakit, karena masih saja
merasakan hal yang aneh ketika berada didekatnya. Mungkin hati ini bukan untuk
di jauhkan. Mungkin hati ini ada namun tak nyata. Atau mungkin juga, hati ini
yang salah karena tak mampu mengungkapnya adanya…
“Ki, ikut gue.”
“Kemana?”
“Udah ikut aja.”
Tanpa basa-basi
Dany menyeret tangan Kiena dan membawanya pergi ke suatu tempat dimana sudah
ada Billy dan Rolan yang menunggu disana.
“Mulai sekarang,
tempat ini menjadi tempat eksekutif kita berempat. Dan setiap harinya tanpa
diminta kita akan berkumpul disini untuk menghabiskan waktu bersama.”
“Setuju”
“Setuju”
“Ayo Ki bilang
setuju!”
“Okelah. Setuju,
setuju, dan setuju. Terus, sekarang kita mau ngapain disini?”
“Main petak
umpet.”
“Yang benar aja
dong! Kenapa nggak sekalian main kelereng?”
“Kelereng? Boleh
juga tuh.”
“Rolan!!!
Apa-apaan sih?” Kiena protes dengan tanggapan serius Rolan.
“Kita kan sudah
lama nggak main seperti kanak-kanak. Apa salahnya sekarang kita coba?” Ide yang
lebih gila dari Billy.
“Oh no! enggak.
Gue nggak ikutan.”
“Kiena!!! Nggak
boleh ada yang menolak ajakan apapun dari kita berempat.”
“Peraturan dari
mana lagi tuh?”
“Dari gue,
barusan.”
“Yuk ah! Seru
kali Ki.”
Tanpa sabar Billy
menarik tangan Kiena dan mengajaknya duduk bersila membentuk lingkaran dan
ditengahnya telah disiapkan empat kelereng yang akan mulai mereka mainkan.
“Bill, perasaan
Kiena tuh Cuma sama kamu aja deh mau nurut.” Kalimat yang membuat telinga Billy
dan Kiena sedikit panas.
“Yaaa, ya itu
karena…”
“Gue ogah dengar
omelan dia lama-lama Dan. Pacar lo tuh. Bawelnya super. Cuma lo doang tuh yang
mau jadi pacarnya dia pasti. Gue yakin!” Kiena segera menyerobot dengan
pernyataan yang membuat Dany dan Rolan percaya saja.
“Gue nggak
seperti itu. Gue suka di omelin Billy lama-lama. Itu artinya dia perhatian sama
gue, Ki.”
Itu artinya aku peduli sama kamu, Ki…
“Dan, jagain
sepeda gue ya. Pengen beli minum didepan. Haus banget, bangett. Pada mau kan?”
“Ya kalau lo
langsung beli empat pasti nggak ada yang nolak.” Lagi-lagi Billy menyerobot.
“Mau sama aku,
Ki?” Rolan menawarkan dirinya untuk menemani Kiena.
“Alah, Cuma depan
itu Lan. Nggak usah.”
Adegan dimulai.
Kiena dengan santainya ingin segera menuju ke seberang jalan sana untuk
cepat-cepat mendapatkan minuman yang dia inginkan. Ketika baru melangkahkan
kaki ia tak melihat ada sepeda motor yang melaju dengan kencang dari arah
utara. Dia sibuk melihat kearah selatan karena biasanya kendaraan banyak yang
datang dari arah sana. Dengan cepat Billy menarik tangan Kiena dan tanpa
sengaja badan Kiena terjatuh kedalam pelukan Billy karena terlalu kencangnya
tarikan tangan Billy.
Dany dan Rolan
yang tengah duduk di halte ikut histeris. Namun keduanya tak menyadari ada
degupan yang begitu kencang antara kedua pasang bola mata yang kini masih
saling pandang. Begitu menyadari rasa aneh itu, Kiena dengan cepat menendang
kaki Billy.
“Cari kesempatan
ya! Kurang ajar banget sih. Ini lagi, kenapa pakai pegang-pegang tanga segala!
Dany!!!!! Pacar lo, ihhhhh!!!!!”
“Harusnya gue
biarin aja lo ditabrak motor. Nih, pikir pakai otak.” Sambil Billy
memukul-mukul kening Kiena dengan jarinya. “Jangan ditarukh dengkul!”
Dany dan Rolan
tertawa melihat adegan konyol kedua sahabatnya itu meskipun tadi sempat cemas
karena Kiena hampir saja terserempet motor jika Billy tak dengan cepat
menariknya. Sedang Kiena, yang berusaha menyembunyikan rasa kakunya segera
pergi menyeberang.
“Buk, teh
botolnya empat. Yang paling dingin ya, Pak. Kalau perlu yang sudah beku.”
“Ya mana ada mbak
teh botol yang sampai beku? Mbak ini ada-ada saja.”
Kiena malu
sendiri dengan pernyataannya maskipun hanya kepada tukang penjual minuman.
Mereka duduk berderet
di halte sambil menikmati teh botol dalam genggamannya masing-masing. Sedikit
hening. Mungkin karena terlalu menikmati terik matahari pada jam dua siang yang
membuat keeling wajah keempatnya.
Sementara Kiena
menikmatinya dengan sangat. Hingga dia tak menyadari sedotan yang ada
dimulutnya hampir saja patah jika Billy tak mengagetkan lamunannya. Dan
pragggggggg!!!!!
“Hihhhhhhh, mau
lo apa sih?”
“Heh?”
“Dany!!!!! Bawa
jauh-jauh pacar lo dari gue! Gue marah, marah, marah!”
Baru saja Billy
akan memberikan minumannya untuk Kiena. Tapi rupanya Rolan telah lebih dulu
mengulurkan tangannya dan memberikan minumannya untuk Kiena.
“Sudah, jangan
teriak-teriak Ki. Kenapa sih kalian berdua ini dari tadi ribut saja? Aku sama
Dany sampai iri lo.”
Yang benar saja. Percekcokan seperti itu apa menariknya
sih? Bahkan aku lelah setiap hari harus bertengkar dengan Billy. Aku lelah
karena setiap kali pula jantung ini berasa aneh. Kenapa bukan kamu Rolan?
Kenapa bukan kamu yang membuat jantungku selalu berdetak lebih kencang?
Ki, kenapa aku mulai cemburu jika kamu dekat dengan
Billy? Padahal aku tahu ini salah. Harusnya aku tidak boleh merasakan hal ini.
Kita berempat adalah sahabat, dan akan selamanya menjadi sahabat. Maaf aku
menjadi sedikit menjauhkanmu dengan Billy. Agar kita baik-baik saja.
Ki, soryy gue udah tahu semuanya. Bagaimana bisa gue
marah sama lo? Tapi untuk sekarang gue emang kecewa karena ternyata semua
diluar dugaan. Kenapa gue nggak pernah respon dengan cerita-cerita yang ada di
dalam buku secret lo dari dulu. Karena semuanya tergambar jelas disitu. Rere,
gue, Kizza, dan semua cerita tentang Billy.
Gue harus apa? Gimana? Lo sahabat terbaik gue, selamanya. Tapi sekali
lagi gue minta maaf. Sekarang ganti gue yang pergi dari kalian. Billy nggal
tahu apa-apa soal ini. Sekembali nanti harapan yang pasti adalah bisa ketemu lo
suatu saat nanti dan kita akan tetap sahabat selamanya.
Love,
dany
“Ma! Mama! Mama!”
“Kiena, ini masih
pagi. Kenapa teriak-teriak?”
“Ada apa sih, Ki?
Kakak masih ngantuk. Jangan berisik!” Bahkan Nanda kakak Kiena rela keluar
kamar karena mendengar teriakan yang begitu kencangnya sepagi ini di kamar
sebelah alias kamar adiknya sendiri.
“Sorry, Kak.”
“Hhhh.” Nanda
yang hanya mengeluarkan separuh tubuhnya dari balik pintu kemudiana kembali
melanjutkan mimpi terpenggalnya diranjang.
“Ma, minggu
kemarin pas Kiena masih di Solo ada yang masuk ke kamar Kiena nggak selain
mama, kak Nanda atau Papa?”
“Memangnya kenapa?
Ada yang hilang?”
“Enggak sih. Aduh
mama tinggal jawab aja, ada atau enggak Ma?”
“Ada kok. Dany,
tapi kan dia sudah biasa masuk kamar kamu. Memangnya ada apa Na?”
“Eh, Dany?” Kiena
sangat kaget mendengarnya.
“Iya, Dany.
Biasanya juga dia masuk kamar kamu kan?”
Tanpa
menghiraukan lagi omongan Mama, Kiena beranjak masuk ke kamar dan segera
menelepon Dany.
Tuuuuuuuuttttt
Tuuuuuuuuutttt
Tuuuuuuuuutttt
Ayo Dan angkat
teleponnya. Dan please gue mohon angkat teleponnya. Usaha Kiena rupanya
sia-sia. Dia kemudia coba menelepon ke rumah Dany.
“Halo.”
“Halo, pagi
tante. Ini Kiena, Dany ada tante?”
“Oh, Kiena. Dany
kan lagi keluar kota. Dia tidak bilang Kiena ya?”
“Eeee, enggak
tante. Mungkin Dany lupa. Keluar kota kemana tante?”
“Dia ke Bandung.
Ada saudaranya disana.”
“Saya boleh minta
alamatnya tante?”
“Iya, sebentar ya
Kiena.”
Tanpa persiapan
dan berpikir panjang Kiena langsung pergi ke Bandung hanya dengan modal alamat
yang di berikan oleh Mama Dany.
Selama dua hari
di Bandung usahanya tak membuahkan hasil. Bahkan dia sudah menemukan alamat itu
tapi hasilnya nihil. Saudaranya bilang bahwa Dany tidak ada disana. Atau
mungkin mereka bohong karena sengaja tidak ingin ada yang mengetahui keberadaan
Dany. Ah, Dany tidak seperti itu. Atau jangan-jangan Dany berbohong pada
Mamanya. Jadi dimana sebenarnya dia. Kiena pulang tanpa membawa hasil.
Seminggu dirumah
ia tak menemukan jawaban itu. Jika dia bertanya lagi pada Mama Dany, Kiena
takut keluarga Dany akan menghawatirkannya karena sebenarnya Dany tidak berada
di Bandung.
Jadi, apakah kebersamaan selama hari-hari terakhir adalah
yang terakhir pula pertemuannya dengan Dany? Apakah untuk yang kedua kalinya
dia kehilangan sahabat? Dan, gue benar-benar minta maaf. Padahal gue sudah
berusaha untuk tidak memiliki perasaan apapun dengan Billy. Namun rupanya sulit
untuk mengingkari semua itu meskipun sudah sedemikian rupa gue sembunyikan dari
lo dan Rolan. Atau mungkin sebenarnya kalian berdua sudah mengetahuinya? Dan,
gue selalu berharap lo akan kembali. Kembali menjadi sahabat gue. Sampai
kapanpun.gue tahu ini salah. Bahkan, lo sama sekali tidak menaruh rasa curiga
ketika gue sama Billy. Apa gue ini sahabat yng jahat, Dan?
Berakhirnya ujian
nasional, berakhir pula cerita antara mereka berempat. Rolan memutuskan untuk
berpisah dengan Kiena secara baik-baik. Namun keduanya masih sering
berkomunikasi. Terkadang, jika liburan semester datang Rolan masih menyempatkan
diri untuk pulang kerumah dan datang kerumah Kiena. Rolan melanjutkan kuliahnya
di Surabaya. Sedangkan Kiena di Solo. Tak ada kabar tentang Billy. Terlebih
Dany.
“Belum ada kabar
dari Dany?”
Kiena hanya
menggeleng. Dia selalu menggeleng ketika semua orang menanyakan keberadaan Dany
padanya. Terkadang dia merasa marah. Dulu dia adalah sahabat dekatnya yang
kemanapun pergi selalu berdua. Dimana ada Dany disitu pasti ada Kiena.
Begitulah kurang lebih. Namun tidak untuk satu tahun terakhir.
“Kalau Billy?”
Kiena tak
menjawab. Rolan sudah tahu apa jawabannya. Kedua orang itu ganti menghilang.
“Aku tidak bisa
menyalahkan siapapun, Ki. Bagaimanapun juga kalian sudah berusaha untuk tetap
mempertahankan persahabatan. Aku melihat itu semua waktu itu. Kalian menyukai
orang yang sama. Mungkin memang Dany sempat merasakan kebahagiannya bersama
Billy. Tapi dari yang aku lihat, Billy tidak benar-benar rela melihat
kebersamaan kita.”
“Lan, dimanapun
mereka sekarang aku selalu berharap keduanya baik-baik saja.”
“Pasti”
“Gimana kuliah
kamu? Aman?”
“Yaaa, aku dapat
kenalan perempuan cantik. Dia mirip kamu, Ki. Bukan wajahnya, tapi sifatnya.
Kalau aku boleh jujuur, kebih cantik dia sih. Hahaha”
“Ya kenapa
enggak, Lan? Mulai sekarang kita harus move on. Bukan berarti melupakan kedua
sahabat dan kenangan yang telah kita jalani. Bukan begitu?”
“Setuju. Kamu
sendiri?”
“Hhhh, aku
sekarang lebih menyibukkan diri. Kakak ponakanku tawarin aku kerja di tempat
temannya. Ya yang pasti nggak jauh-hauj dari hobi aku dulu.”
“Nulis?”
“Apa lagi? Cuma
itu yang aku bisa.”
“Tapi berkat
tulisan kamu semuanya menjadi lebih baik waktu itu.”
“Bagaikan hidup
di negeri dongeng? Tapi sekaranglah hidup yang sebenarnya.”
Ya, hidup sebenarnya adalah tanpa Dany dan Billy. Karena
mungkin aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Maka dari itu
mereka pergi dariku. Aku ini apa? Siapa? Aku hanyalah seseorang yang selalu membohongi
semua orang. Dan setelah sadar. Semua orang didekatku perlahan akan pergi
meninggalkanku. Kuharap, kalian masih mau memberiku maaf…
“Ki, hari ini ada
jadwal kumpul sama Mas Redian, jangan sampai lupa ya.”
“Beres mbak
Karin, di tempat biasa kan?”
“Kayaknya,
soalnya nanti aku juga mau nyusul. Ada perlu sama dia sebentar.”
“Ah, lama juga
nggak apa-apa kok. Kalau aku lihat mbak Karin sama Mas Dian cocok juga lo.”
“Udah deh, kamu
anak kecil nggak usah ikut-ikutan. Oiya, katanya nanti dia mau bahas tulisan
kamu sama kenalin partner baru. Katanya sih ganteng. Boleh tuh Ki. Dari pada
kamu mikirin Billy Billy yang kata kamu nggak jelas keberadaannya itu.”
“Apa sih Mbak? Oya
Budhe bilang nanti mau pulang sore katanya. Jadi nggak usah di jemput.”
“Hmmm, ya sudah.
Aku tinggal dulu ya, Ki.”
v
“Sore, Mas.”
“Iya, gimana nih
kabarnya kamu mau gabung dengan kami?”
“Ah, itukan juga
karena Mas Dian yang minta saya. Eh, ngomong-ngomong kita Cuma berdua saja
nih?”
“Enggak, nanti
juga ada pertemuan dengan rekan-rekan yang lain. Cuma, yaaa belum pada datang.
Oiya Del, saya masih penasaran kenapa kamu lebih memilih tulisan rekan saya
kemarin dari pada yang lain? Terus terang saya memang kagum dengan hasil
karyanya. Cuma saya ingin lebih memastikan kalau saya benar-benar kagum dengan
tulisannya, bukan penulisnya.”
“Maksud Mas
Dian?”
“Ah, lupakan
saja. Sebentar lagi orangnya juga datang.”
“Oooh, yaa
menurut saya tulisan itu memang layak untuk memenuhi halaman majalah yang akan
terbit bulan depan. Karena, selain isinya yang unik, juga alur cerita yang
sedikit sulit untuk ditebak (sama persis dengan penulisnya).”
“Apa kamu bilang,
Del?”
“Oh, enggak Mas. Mas
Dian sudah memilih tulisan yang tepat.”
“Iya, Del.
Mudah-mudahan Si penulis juga setuju.”
“Pastinya, Mas.”
Sementara obrolan
itu berlanjut, Kiena datang bersama kedua rekan kerjanya. Mereka sengaja tidak mengadakan
rapat ditempat kerja karena ingin mencari suasana baru. Kafe yang mulai rame
dengan para pengunjung itu memang sering dijadikan sebagai tempat untuk
bersantai. Bahkan juga tempat bertemunya kembali dua cerita lama, seperti sore
ini.
“Sore Mas, nggak
telat kan?” Sapa dua orang yang datang bersama Kiena. Mereka memang tidak
terlambat, hanya saja Mas Redian yang selalu datang lebih awal.
“Iya, ini aku
kenalkan sekalian calon, calon rekan baru kita, Delius. Delius ini Maya, Praja,
dan ini Kiena.”
Betapa kaget Si
pemilik nama terakhir melihat seseorang bernama Delius yang tengah
diperkenalkan padanya.
Billy?
Kedua tangan itu
bersalaman, setelah satu tahun lebih saling menghilangkan diri tanpa jejak.
“Delius”
“Kiena”
“Ini penulis
hebat yang aku ceritakan tadi, yang tulisannya sudah kamu baca. Bagaimana
orangnya, Del?”
“Hmmm, diluar
dugaan Mas.”
“Maksud kamu?”
“Yaaa, ternyata
lebih unik dari yang saya bayangkan sebelumnya.”
“Mulai sekarang
kita semua adalah rekan kerja, jadi Delius kamu jangan sungkan untuk bertanya
apapun pada mereka. Oya, kamu harus lebih mendekati Kiena karena nantinya
partner kamu adalah Si penulis hebat ini.”
“Apa Mas? Saya?”
Kiena kaget dengan apa yang baru saja Mas Redian katakana.
“Iya, kamu Ki.
Siapa lagi? Penulis yang aku maksud? Nantinya dia akan menjadi sumber ide dalam
kamu menulis.”
“Wah, saya sangat
tersanjung juga minder Mas.”
“Semoga kalian
berdua bisa menjadi partner kerja yang solid.”
“Pasti Mas.
Terimakasih atas kesempatannya.”
“Oya, pada
nikmati makanannya dulu. Saya mau telepon orang sebentar.”
Sementara rekan
yang lain menikmati beberapa menu dimeja makan, Kiena mencoba untuk terus
menghindari laki-laki yang bernama Delius atau yang tidak lain adalah Billy.
“May, aku ke
toilet dulu ya.”
“Oke Ki, jangan
lama-lama nanti keburu habis.”
Kiena cepat-cepat
meninggalkan meja makan. Dia mengusap-usap wajahnya dengan air hingga beberapa
kali sampai membasahi sebagian kerah lehernya. Dia pandangi cermin lekat-lekat.
Untuk kesekian kali, aku memang berharap bisa bertemu kembali
dengan Billy. Namun kenapa, setelah nama itu berada didepanku sekarang aku seolah
tak sanggup untuk menghadapinya. Dia benar-benar nyata dihadapanku. Enggak
Kiena, kamu harus bisa. Apapun yang terjadi dengan kalian berdua, itu adalah
masa lalu. Kamu harus professional.
Kiena menarik
nafas berkali-kali. Menunggu dirinya tenang kemudian kembali bersama dengan
yang lain dimeja makan. Ketika keluar dari toilet, dengan sengaja ada yang
menarik lengannya begitu kencang. Kiena kaget dan sontak menoleh. Dia hampir
memukul orang itu kalau saja Kiena tidak melihat bahwa yang melakukannya adalah
Billy.
“Billy?”
“Aku datang!!!!!”
Teriakan yang
kencang itu membuat Kiena menyumbat kedua telinganya dalam-dalam. Ternyata
Billy lebih tenang dari padanya.
“Iya, ngapain sih
kamu nongol disini??? Nambahin kerjaan aku pasti.”
“Hmmm, begini ya
rupanya Sang penulis yang hebat itu. Sombong dan tidak lagi mengenal sahabatnya
dimasa lalu. Yakin nggak mau kenal aku lagi?”
“Billy!!! Ih,
jangan dekat-dekat! Iya oke, mulai sekarang kita partner dan itu juga karena
terpaksa. Mas Dian yang minta, oke. Aku harus apa?”
“Oooo jadi
sebenarnya kamu tidak setuju dengan usul Mas Redian? Okeee.”
Lagi-lagi Billy
dengan sengaja menarik lengan Kiena dan membawanya kembali bersama rekan-rekan
yang lain.
Adegan itu
disaksikan juga oleh Mas Redian. “Wah wah, rupanya sudah sejauh ini ya usaha
kalian untuk menjadi partner?”
“Eh, enggak, Mas.
Bukan begiu, tapi…”
“Oh iya Mas, saya
mau menyampaikan sesuatu. Ini, dari Kiena, Mas. Katanya…”
Kiena ketakutan
karena apa yang dikatakannya pada Billy tadi benar-benar akan disampaikan
kepada Mas Dian. “Auw, aduhhh! Aduhhh!”
“Kamu kenapa Ki?
Sakit?”
“Iya ini Mas
sepertinya.”
“Oh, itu pasti
Cuma sakit biasa, Mas. Nanti, Kiena juga pasti sembuh.”
“Oh, begitu. Kamu
mau ngomong apa tadi, Del?”
“Begini, Mas
Dian. Kiena baru saja menyampaikan sesuatu kepada saya. Hanya saja dia bilang,
tidak enak jika harus menyampaikannya sendiri kepada Mas Dian. Lalu, bolehkan
saya sebagai perwakilan Kiena?”
“Pasti, Del.
Sampaikan saja, mungkin itu adalah ide yang bagus.”
“Kiena bilang,
Kiena bilaaang kalau diaaa, dia tidak ingin…”
Dengan kencang
Kiena menginjak kaki Billy. “auwww!”
“Tidak ingin apa
Del?”
“Dia tidak ingin
berpisah dari saya, Mas. Meskipun baru pertama kali bertemu, tapi dia sudah
jath hati dengan saya. Bukan begitu, Kiena?”
“Benar Ki?”
“Hah???”
“Kiena?”
“Eh, i iya, Mas
Dian.” Kata itu berat sekali keluar dari mulut Kiena namun dia terpaksa
mengiyakan permainan konyol Billy.
“Waaah, rupanya
aku kalah saingan ini. Belum apa-apa saja Kiena sudah memilih kamu. Hebat kamu
Del. Padahal, selama bergabung disini saya belum pernah melihat Kiena bersama
dengan laki-laki, kecuali saya.”
“Ah, Mas Dian
tenang saja. Kiena akan aman dengan saya. Kalau saya macam-macam, pasti Kiena
sendiri yang akan melaporkannya pada Mas Dian. Mana saya berani Mas. Hehehe.”
“Bagus lah,
semoga kalian lebih dekat lagi agar menjadi partner kerja yang bisa aku
handalkan.”
v
“Heh, tahu dari
mana kamu kalau aku kerja disini?”
“Aku nggak tahu
kamu kerja disini.”
“Bohong!”
“Terserah kamu!”
Billy tetap melahap es krim yang dibelinya bersama Kiena pulang dari pertemuan
tadi.
“Harusnya kamu
itu berterimakasih karena aku telah menyelamatkan hati kamu dari Mas Dian.”
“Menyelamatkan
apanya??? Yang ada kamu itu malah bikin masalah baru!”
“Mas Dian itu
suka sama kamu. Aku tahu karena dia yang memperlihatkan tulisan kamu ke aku.
Siapa yang tidak tahu dengan ‘Pinus of
Love’? tulisan hati Si penulis sendiri karena dia tidak mampu mengungkapkan
perasaan hati yang sebenarnya, hingga semua orang yang dia sayangi pergi
meninggalkan dia.”
Kiena berhenti
menikmati es krimnya. “Kamu nggak tahu apa-apa soal perasaan aku, Bill.”
“Aku memang tidak
tahu apa-apa tentang kamu Ki. Tapi aku selalu jujur dengan apa yang aku
rasakan.”
“Jangan bahas
masalah ini!”
“Kenapa? Karena
kamu takut menerima kenyataan bahwa kamu telah kehilangan sahabat-sahabat yang
dari dulu kamu banggakan? Ingat Ki, Dany sudah memutuskan untuk pergi dari
kamu. Apa lagi yang kamu cari?”
“Dia tidak pernah
pergi. Tapi dia pasti akan kembali.”
“Kapan? Sampai
kamu akan lebih kehilangan orang yang kamu sayangi lagi?”
“Bill, bisa nggak
kamu tidak membahas ini lagi? Aku minta.”
Billy yang selalu
bisa mencairkan suasana. Dia memandang kearah Kiena lekat-lekat. Hampir tidak
berkedip. Semakin lama semakin dekat. Membuat Kiena menjadi sedikit terganggu
dan mempercepat debaran jantung didadanya.
“Eh, kamu mau
apa?”
“Mau ikut aku
nostalgia SMA?”
Kiena masih
mematung karena tatapan Billy. Tanpa sadar lagi-lagi jemari itu telah memasuki
sela-sela jarinya dan dengan cepat menyeretnya untuk pergi memulai cerita baru.
Malam itu terasa
menjadi lebih panjang. Solo, yang dulu pernah mengukir kenangan antara
keduanya. Di hutan pinus Cemoro Sewu, Gunung Lawu, juga disepanjang jalan yang
entah dimana persisnya. Mereka kembali ketempat itu. Mengulang cerita yang dulu
sempat terpenggal.
“Dulu aku pernah
ketempat ini, sore itu suasana langit masih melekat dimemoriku.”
“Aku juga pernah,
minum fanta bersama seseorang. Sampai seharian bau keringat.”
“Tapi aku tidak
melihat keringatnya waktu itu.”
“Iiiih, Billy!!!
Kamu selalu membuyarkan konsentrasiku.”
“Konsentrasi apa?
Mau melanjutkan cerita lagi?”
“Cerita apa?”
“Kamu tidak
menulis cerita tentang kita?”
“Itu cerita
kita…”
“Hah?”
“Eh, maksudku.
Ah, sudahlah. Lupakan saja.”
“Kalau itu cerita
tentang kita, kenapa kita sudah bersatu dalam tulisan kamu?”
“Sok tahu.”
“Tadi kamu bilang
itu cerita tentang kita. Nyatanya, belum.”
“Yaa, kan tidak
semua cerita itu harus sesuai dengan aslinya.”
“Tapi akan lebih
bagus jika apa adanya.”
“Itukan menurut
kamu.”
“Iya, dan
menurutku lagi kamu sangat berharap bisa bertemu denganku seperti sekarang
ini.”
“Billy!”
“Iya juga nggak
apa-apa kok Ki.”
“Pulang yuk, tadi
aku nggak pamit mau pulang malam. Pasti Mbak Karin khawatir.”
“Teman kamu?”
“Anaknya Budhe,
aku tinggal sama Budhe. Oiya, kamu kuliah disini juga? Dimana?”
“Aku satu kampus
sama kamu.”
“No no no, nggak mungkin. Aku nggak pernah lihat kamu.”
“Tapi aku selalu
lihat kamu.”
“Bill, aku
serius.”
“Aku juga serius
Kiena, Kienanti Prawira Dinadja, mahasiswa sastra yang selalu menyibukkan
dirinya dengan tulisan-tulisan yang tidak jelas. Apa lagi?”
“Bill, jangan
bilang kalau selama ini kamu tahu aku.”
“Iya, aku tahu
kamu. Aku ikutin kamu Ki. Cuma, memang baru kali ini aku bisa dapat alasan yang
tepat agar bisa ketemu kamu langsung tanpa dikira mengekor.”
“Billy?”
“Aku juga tahu
betul apa yang dikatakan Mas Dian itu memang benar. Kamu hampir tidak pernah
bersama dengan laki-laki. Kalaupun iya, pasti dia adalah Si kutu buku yang
biasanya sama kamu waktu di kampus.”
“Haris maksud
kamu?”
“Siapa lagi?”
“Billy, apa saja
yang kamu tahu tentang aku selama ini? Kamu curang. Kamu dekat sama aku, tapi,
tapi kamu tidak pernah menemuiku.”
“Aku tahu Ki.
Kalau kamu masih menunggu.”
“Menunggu?”
“Menunggu
seseorang hadir kembali dalam kehidupan kamu.”
“Billy cukup!
Stop kata aku!”
“Ki, jangan malu
karena kamu masih mengharapkan aku ada. Sekarang aku ada disini, Ki. Didepan
kamu.”
“Lalu apa?
Kenapa?”
“Lalu aku akan
ajak kamu menikmati kerasnya kehidupan dunia yang selama ini tertunda.”
“Sok puitis.”
“Dari seseorang
aku belajar. Bahwa tidak semua yang kita inginkan akan tercapai. Mungkin,
karena memang belum waktunya. Tapi jika aku boleh menambahkan, semua yang kita
inginkan itu tergantung dari bagaimana upaya kita untuk menjadikan itu nyata.”
“Sebesar
harapanku menemukan kembali Dany disini bersamaku.”
“Setelah itu,
apa?”
“Ehhhhh?”
“Setelah itu?
Pulang!”
“Hhhh, ini anak
dari dulu sampai sekarang…”
“Kenapa?”
“Sama saja.”
“Ayo pulang!
Delius!”
Kiena
menarik-narik tangan Billy dan mengajaknya untuk segera pulang. Kamu masih tetap sama, Ki. Mungkin itu yang
membuatku enggan pergi.
v
“Majalah kita
akan segera terbit. Bagaimana dengan persiapan kamu, Ki?”
“Kalau untuk
cerpen yang kemarin itu sudah siap , Mas. Sekarang saya mulai dengan cerita
baru.”
“Iya, bagus.
Nanti kamu bisa ajak Delius untuk pergi ke tempat-tempat yang mungkin bisa melancarkan
imajinasi kamu untuk menulis.”
“Beres, Mas. Saya
pasti laksanakan dengan senang hati mengawal Kiena.”
Lagi-lagi kalimat
Billy memperkeruh suasana hati Kiena. Dia sangat tidak nyaman akan itu. Takut
mimiknya seketika berubah dan semua orang akan mengetahuinya.
Selesai rapat
Kiena dan rekan-rekan yang lain kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Termasuk Kiena. Dia sedang mencari konsep untuk bahan menulisnya. Dan yang
pasti, Billy berada satu ruangan dengannya.
“Bill, stop
mengeluarkan suara-suara aneh diruangan ini!”
“Kenapa Ki? Aku
kan juga ingin bantu kamu cari insprasi.”
“Inspirasi apa?
Yang ada kamu selalu buyarkan konsentrasiku, ngerti???”
“Kamu tahu, suara
itu jika kita dengarkan dengan seksama maka dia akan terdengar seperti alunan
music yang sangat menenangkan hati. Kamu saja yang belum mencobanya.”
Di tengah
keheningan Kiena dalam mencari konsep, ada saja hal kecil yang dilakukan Billy
sehingga membuatnya sangat terganggu. Bahkan kadang dia bertingkah sangat aneh
didepan Kiena. Dia mengetuk-ngetuk bullpen yang dipegangnya ke meja sehingga
menimbulkan bunyi yang terdengar sampai ke telinga Kiena. Sesekali dia akan
berdiri dan mekukan gerakan yang sama sekali belum pernah dilakukan oleh orang
lain seperti yang selama ini Kiena jumpai.
Kiena tahu dulu
waktu SMA Billy adalah anggota teater. Tapi apa harus seperti tingkah anak
teater. Bahkan menurutnya sangat berlebihan. Billy menari-nari dengan gerakan
seenaknya. Kesana-kemari, berjalan ala pragawati. Mau tak mau Kiena akan
tertawa melihat tingkah konyolnya.
“Billy stop!”
“Oke. Sekarang
kamu sudah tertawa, dan aku biarkan kamu melanjutkan kerjaanmu dengan senyum
disitu. Di bibir kamu, Ki. Jadiapapun yang akan kamu tulis nantinya pasti akan
membuat kamu tersenyum bangga.”
Bisa juga orang
aneh ini mempermainkan perasaan Kiena sehingga hatinya terbawa.
“Makasih,
Delius…”
Akhirnya berhenti
juga Billy menjalankan aksinya. Dia membiarkan Kiena tenggelam dalam inspirasi
yang pastinya mulai muncul perlahan.
Tulislah cerita baru tentang kita, Ki. Maka itu akan
lebih indah…
Tulisan-tulisanku tak pernah lepas darimu. Kenapa?
Sekarang kamu malah muncul dengan segala daya tarik yang tetap membuatku
mengarah kepadamu. Satu tahun memang waktu yang singkat. Nyatanya, seperti baru
kemarin kita mengukir indah kenangan di masa SMA. Meskipun sebenarnya itu
salah.
“Bill,”
“Ya?”
“Aku nggak bisa…”
“Nggak bisa apa?”
“Aku nggak bisa…”
“Nggak bisa
kenapa Ki? Nggak konsentrasi nulis?”
“Tulisanku nggak
apa-apa.”
“Tapi?”
“Tapi aku nggak
bisa…”
“Ki, bukan nggak
bisa, tapi belum bisa. Beda artinya. Di balik kegagalan, TUHAN punya rencana
lain yang lebih indah.”
“Tapi aku nggak
lagi bahas masalah tulisan.”
“Lalu apa?”
“Aku sudah coba
berkali-kali tapi tetap nggak bisa.”
“Ki…lebih baik
melakukan kesalahan terlebih dahulu agar kita bisa belajar dari kesalahan itu.
Kalau kamu selalu benar, kapan salahnya? Kapan belajarnya? Kalau tidak belajar,
kapan bisanya? Jangan selalu benar, tapi ketika memilih hal terpenting malah
salah. Itu lebih fatal.”
“Kalau begitu,
menurut kamu apa aku yang salah?”
“Enggak juga.
Hanya saja, kalau memang waktunya belum tepat mau bagaimana lagi?”
“Tumben…”
“Tumben apanya?”
“Tumben bisa
serius.”
“Karena aku tahu
kamu juga serius,Ki.”
Keduanya
tersenyum dengan dialog pendek namun penuh makna. Sama-sama tahu apa yang
sebenarnya di bicarakan. Sangat membantu Kiena dalam melanjutkan kisah baru
yang akan di publikasikan sebentar lagi. Dia tahu betul semuanya tentang Billy.
Dan dia juga tahu bahwa Billy telah mengetahui semua itu.
Hari yang
melelahkan. Namun kenapa rasa itu tak cukup menguatkan ketika pertama kali
keduanya berada dalam satu ruangan. Serasa waktu berjalan begitu cepat, seolah
apa yang di tulisnya berada tepat di hadapannya.
Bill, jangan pergi lagi. Maka aku akan bersedia untuk
mengukir semua kisah tentang kita, disini. Melihatmu saja, semuanya tergambar
jelas untuk aku dengan cepat memasuki dunia ceritaku.
Hari yang
singkat. Sore itu Maya dan Praja berkemas terlebih dahulu karena mereka ada
urusan diluar pekerjaan.
“Ki, kita
buru-buru. Kamu ada Delius nggak apa-apa kan?”
“Beres! Kalian
pulang duluan. Kiena lagi asyik nggak mau di ganggu tuh sepertinya.” Billy yang
menyerobot dengan jawaban seenaknya.
“Lhoh, aku di
tinggal nih ceritanya?”
“Sorry ya Ki.
Hari ini aja kok…” keduanya melambaikan tangan dan pergi berlalu.
Sementara Mas
Redian yang juga beranjak pulang berbelok ke ruangan Kiena dan Billy terlebih
dahulu.
“Wah wah,
benar-benar kompak kalian berdua ini.”
“Eh, Mas Dian.
Ini sebentar lagi mau pulang kok Mas. Cuma lagi tanggung.”
“Nggak apa-apa.
Cuma jangan malam-malam pulangnya ya Ki. Aku lebih sayang dengan kesehatan
kamu. Dari pada Sang cerpenis sakit, aku juga yang repot.”
“Beres Mas.”
“Oiya, Delius
sudah pulang?”
“Masih ke toilet
tadi.”
“Ya sudah aku
tinggak dulu Ki.”
“Oke Mas.”
Mas Redian hendak
pergi meninggalkan ruangan Kiena seketika mengingat sesuatu dan menghentikan
langkahnya kemudian berbalik lagi berjalan menuju ke meja Kiena.
“Oiya, aku sampai
lupa. Tadi ada yang cari kamu waktu jam makan siang. Karena kamunya tidak ada
di tempat, ya aku suruh datang lagi besuk.”
“Cari aku? Siapa
Mas?”
“Hmmm namanya
siapa tadi ya?” Mas Redian berusaha mengingat nama orang itu.
“Perempuan,
seumuran kamu. Namanya…eeeee, Kia atau siapa ya tadi?”
“Kia? K I A
ejaannya?”
“Aku nggak tahu
persis. Dia juga langsung pergi setelah aku bilang kalau kamu masih keluar.
Teman kamu mungkin.”
Kiena
memutar-mutar kedua bola matanya. Dan mencari memori dengan inisial K I A. di
mana letak nama itu. Bahkan sedikitpun dia tidak bisa mengingat.
Billy telah
kembali dari toilet ketika Mas Redian baru saja meninggalkan ruangan mereka.
“Ada yang baru
kesini ya?” Billy mengembang-kempiskan lubang hidungnya layaknya anjing
pelacak.
“Ada bau parfum
lain di dalam sini.”
“Mas Dian.”
Kiena hanya
menjawab singkat. Pikirannya masih tertuju pada inisial K I A yang dikatakan
Mas Redian baru saja.
“Oooo, pamit dulu
ceritanya. Rajin banget.”
Billy berusaha
menarik perhatian Kiena namun rupanya tak berhasil. Kemudian ia mendekatinya. Menyenggol
sikunya dengan kencang.
“Heh, mikirin Mas
Dian ya?”
“Apaan sih
Bill??? Kamu tahu Kia nggak?”
“Kia? Apa itu?”
“Hmmm, aku salah
orang. Kamu kan nggak ngerti apa-apa.”
“Sialan! Maksud
aku Kia apa? Nama benda, hewan, orang atau alamat? Atau apa?”
“Kata Mas Dian
tadi ada yang cari aku namanya Kia. Tapi Kia siapa? Aku nggak punya teman
namanya aneh seperti itu.”
Kiena masih
mengingat-ingat nama itu sambil memegangi dagunya dan matanya tertuju pada
langit-langit diatas seolah jawaban itu ada disana.
“Kamu yakin? Aku
yang bukan temannya saja tahu siapa pemilik nama itu.”
“Jangan ngawur
kamu!”
“Bagaimana kalau
aku benar-benar tahu siapa dia?”
“Oke, aku berani
traktir kamu makan malam, mala mini juga. Tapi kalau enggak, berarti kamu yang
ganti traktir aku.”
“Traktir apanya?
Baru sehari bekerja disini sudah disambut dengan pilihan yang payah.”
“Nggak setuju? Ya
udah.”
“Setuju. Karena
aku benar-benar tahu siapa dia. Aku juga jadi ragu kamu sahabat yang baik.”
“Maksud kamu
apa???”
“Bisa-bisanya
kamu sama sekali tidak ingat dengan Kiya, K I Y A. sahabat yang selama ini kamu
banggakan.”
“Maksud kamu?
Dany?”
“Siapa lagi, Ki?”
“Tapi kenapa dia
menyebutkan dengan nama Kiya?”
“Karena aku adalah
Billy, Arond, Kizza. Dan Danya Fitra Regana atau Dany, Kiya, Kayra.”
“Dany??? Jadi
yang tadi cari aku kesini adalah dany? Aku nggak percaya Biil itu benar-benar
dia.”
“Baru ingat kan
sekarang?”
“Besuk dia kesini
lagi. Mudah-mudahan dia benar-benar Dany.” Mata Kiena berkaca-kaca dalam
sekejap. Merasakan sedikit keharuan yang terasa begitu menyesakkan. Semoga dia
memang Dany yang di tunggu selama ini.
v
Jika memang takdir yang telah membuat keduanya bertemu,
maka hari itu adalah getaran terhebat yang pernah terasa. Tersudut oleh
belenggu sorotan mata yang begitu kuat manusuk relung. Masih melekat jelas di
memori, bagaimana merubah mimic wajah yang di tata sedemikian rupa agar tak ada
yang menyadari betapa berdebarnya dada ini bertatap mata kala itu. Cengiran
andalan yang selalu menyipitkan mata sehingga tak seorangpun tahu itu adalah
bagian dari senjata. Namun, ada yang salah dengan pertemuan itu, karena masih
ada yang ketiga disana. Padahal rasa ini terlanjur terjun kedalamnya dan betapa
indah menjalani detik demi detik bersama. Bukan salah siapapun, hanya waktu
yang belum bersahabat. Dan kini pilihan itu jatuh kepada hati lain. Maka, hati
ini akan mundur. Bukan untuk lari. Namun, mempersiapkan hati agar, jika nanti hati
itu kembali, maka persatukan keduanya. Rasa ini bukan pergi. Rasa ini hanya
tertunda. Untuk memberi kejutan yang lebih dari yang bisa terbayangkan.
Aku, menunggumu di episode lain…
“Ini, buat minggu
depan kan Ki?”
“Iya, Mas. Masih
belum ketata sih. Tapi pasti saya perbaiki lagi kok.”
“Menurut aku
seperti ini saja sudah menarik. Apalagi jika sudah selesai nanti.”
“Tapi, Mas. Kalau
menurut saya, mungkin akan lebih menarik lagi jika ditambahkan dengan konflik
yang nyata.”
“Iya iya. Ide
kamu aku terima. Tolong kamu jelaskan lagi Del.”
“Jadi begini Mas,
Kiena bisa menambahkan konflik yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
Misalnya, dia menyukai seseorang namun sampai sekarang belum mempunyai
keberanian untuk mengungkapkannya. Berarti masalah bukan datang dari pihak
lain, melainkan perasaannya sendiri.”
“Boleh juga. Ki,
coba kamu sharing dengan Delius soal ini. Nanti kamu tulis dilanjutan
ceritanya.”
“Tapi Mas, apa
semuanya harus dari Delius? Saya juga ingin mengeksplorasi pemikiran saya
sendiri.” Sanggah Kiena protes.
“Selama ini kan
kamu selalu memikirkan semuanya sendiri Ki. Tidak ada salahnya kalau kamu mencoba
untuk membuatnya berdua. Delius hanya sekadar pemberi ide tambahan. Penulisnya
tetap kamu.”
Tidak adakah alasan lain yang membuatku bisa sedikit jauh
darinya…
“Bisa saya
bertemu dengan Kienanti?”
“Dengan siapa
Mbak?”
“Saya Gana”
“Silahkan
ditunggu sebentar.”
Siang itu langit
begitu mencerahkan isi bumi. Meskipun tidak untuk Kiena. Kali ini, kejutan
besar tidak terduga datang melebarkan senyumnya.
“Orangnya
dimana?”
“Di ruang
tunggu.”
“Oke. Thanks ya.”
Kiena menuju
ruang tunggu tak jauh dari meja resepsionis. Tampak dari belakang seorang
wanita sebayanya tengah duduk sambil membolak-balik majalah yang ada di meja.
Rambutnya terurai indah dengan penjepit poni mungil di samping kanan.
“Selamat siang…”
Kiena menyapa wanita itu. Betapa terkejutnya melihat wajah yang tak asing kini
berada tepat berdiri didepannya.
“Mbak Kienanti
Prawira Dinadja, saya penggemar tulisan anda.”
“Ooooh, Dany.
Suara Kiena melemah. Nyaris hilang ketika Dany segera memeluknya.
Bahkan pelukan
itu tak mampu menghentikan isakan tangis Kiena. Dia hanya terdiam dalam pelukan
hangat Dany. Sahabat yang selama ini dinantinya, dirindukannya. Akhirnya, kini
dia kembali. Dengan sejuta senyum yang merekah. Langit kembali mencerahkan hati
Kiena.
“Gue tahu itu
tulisan lo Ki. Gue mau minta maaf…”
Kiena masih tetap
terdiam. Sepatah katapun tak mampu terucap dari mulutnya. Tetesan air mata
terus mengalir membasahi pipi.
“Sejak kapan
sahabat gue cengeng seperti ini? Mbak Kienanti? Saya boleh minta
tandatangannya?” Usaha Dany untuk membuat Kiena agar mau mengeluarkan suaranya.
Suasana haru
masih tetap menyelimuti wajah dan perasaan Si penulis.
Apapun yang akan terjadi nanti, sekarang kamu sudah
kembali, Dan. Satu per satu orang yang aku cintai kini bersamaku lagi.
“Dan, gue mau
minta maaf sama lo. Pasti lo pergi karena baca tulisan gue kan?”
“Tulisan apa Ki?”
“Mama yang
bilang. Kalau lo pernah masuk kamar gue dan…”
“Iya, gue memang
sudah tahu semuanya waktu itu.” Jawaban Dany sinis.
“Karena itu kan
lo marah, kecewa sama gue?”
Dany melepaskan
genggaman tangannya pada Kiena. Mundur selangkah kemudian membalikkan badan membelakangi
Kiena yang masih berdiri dengan penuh harap menunggu jawaban maaf dari Dany.
“Dan, gue sudah
berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu kenapa gue lebih memilih
diam. Agar lo nggak pergi ninggalin gue.”
“Tapi nyatanya?
Gue tahunya bukan dari lo Ki. Gue malah tahu sendiri, dari buku secret yang
selama ini lo tulis. Gue baru sadar bahwa isinya itu tentang gue, lo sama
Billy.” Kenapa Ki?”
“Dany, gue
benar-benar minta maaf. Gue salah. Jangan pergi lagi ya…” Kiena meraih tangan
Dany namun dihempaskannya.
“Ki, semua sudah
terlambat. Gue sudah mutusin untuk nggak sama Billy lagi.”
“Tapi Dan. Lo
masih bisa lanjutin hubungan kalian lagi.”
“Hubungan apa?
Billy dimana aja, gue sekarang nggak tahu.”
“Billy ada disini
Dan.”
“Maksud lo?”
“Billy ada
disini. Di tempat kerja gue. Di kantor ini.” Kiena menegaskan.
“Apa? Bahkan dia
sudah satu kantor sama lo? Jadi kalian sudah sejauh ini?” Nada Dany semakin
meninggi.
“Dan, maksud gue…”
“Iya, gue ada
disini Dany.”
“Billy???”
Billy yang
tiba-tiba muncul entah dari mana arahnya langsung memasuki ruang tunggu dan
sekarang tengah berdiri diantara dua sahabat.
“Tadinya gue
datang kesini mau minta maaf karena kesalahan gue setahun yang lalu Ki. Tapi
ternyata sampai sekarang lo tetap nyakitin hati gue. Seperti saat ini.”
Air mata kembali
mengalir di pipi Kiena. Ia sangat ingin menjelaskan semua yang salah dimata
Dany. Namun rupanya mulut terdiam membisu. Kaku, sedih dan perasaan lain yang bercampur
menjadi satu. Tubuhnya lemas, ia duduk dengan setengah membantingkan badannya
ke kursi.
Dany yang masih
terus memojokkan Kiena membuat Billy angkat bicara.
“Kalau kamu
datang kesini untuk menyakiti hati Kiena, lebih baik kamu pergi jauh-jauh, Dan.”
“Ooo, jadi
seperti ini kalian berdua sekarang? Ki, kenapa sih lo nggak mau ngaku? Bilang
sama gue yang sebenarnya! Ayo bilang!”
Kiena yang tak
henti dengan isak tangisnya mulai membuka suara untuk mengungkapkan seluruh isi
hantinya, meskipun kedengarannya sedikit tidak jelas.
“Iya, gue ngaku.
Gue jatuh cinta sama Billy sejak pertama kali kita ketemu di parkiran empat
tahun yang lalu. Gue merasa aneh setiap kali ketemu sama dia dihari-hari
selanjutnya. Tapi, tapi gue tahu lo juga tertarik sama Billy, Dan. Nggak
mungkin gue rusak semua itu. Bahkan, gue jadian sama Roland, berharap bisa lupa
dengan Billy. Nyatanya gue lebih jatuh cinta di setiap kebersamaan hari-hari
kita berempat.”
“Good. Lo punya
perasaan seperti itu tapi baru minta maaf sekarang? Telat, Ki!”
“Dan, tolong
maafin gue. Gue lakukan semua ini agar persahabatan kita nggak hancur seperti
kita kehilangan Rere dulu.”
“Lo samain gue
sama Rere? Jadi lo pikir gue sahabat yang jahat seperti Rere? Gitu!”
“Dan, stop
pojokin Kiena!”
“Bill, please
jangan ikut campur masalah kita.”
“Kamu minta aku
untuk nggak ikut campur sementara orang
yang kalian biacarakan itu ada disini. Kamu egois, Ki.”
“Bill, untuk kali
ini tolong jangan tambah masalah gue…”
“Well, kompak
banget sekarang. Gue jadi merasa seperti kambing congek disini. Gue nyesel
karena sudah datang untuk melihat adegan kemesraan kalian!” Dany meraih tasnya
dan beranjak pergi ketika Kiena segera berlari berusaha menghalangi langkah
Dany.
“Dan, tolong
jangan pergi. Gue nggak ada perasaan apa-apa sama Billy.”
“Apa lo bilang
Ki? Nggak ada perasaan sama Billy?”
Kiena hanya
mengangguk.
“Coba lo bilang
sekali lagi dihadapan Billy!” Dany menunjuk kearah Billy yang juga masih
berdiri tak jauh dari keduanya.
Ini adalah yang terberat buat gue. Tapi ini buat lo, Dan…
“Bill, untuk
kesekian kali gue minta lo jauhin gue…”
“Enggak, Ki. Apa
yang jadi permasalahannya?”
“Gue lebih milih
persahabatan gue sama Dany. Gue nggak mau kehilangan Dany lagi.”
“Kamu nggak akan
kehilangan dia lagi, Ki.”
“Lo juga nggak
akan lagi kehilangan laki-laki yang selama ini lo cintai, Ki.”
“Maksud kalian?”
“Kita nggak akan
pergi lagi,”
“Karena aku ingin
kamu Ki.”
“Dan gue ingin
kalian berdua, Ki.”
Kiena tak
mengerti dengan apa yang mereka berdua katakan. Biily dan Dany kemudian
mendekat.
“Ki, selama ini
gue nggak pernah pergi dari lo. Kita selalu ada sama lo.”
“Kita?”
“Iya, gue sama
Billy.”
“Kita bertiga itu
satu kampus, Ki. Cuma kamu yang nggak tahu itu.”
“Lo nggak pernah
sendiri Ki. Memang setelah baca buku secret lo, gue sempat kecewa. Tapi itu
dulu. Nggak lebih setelah gue dengar sendiri pernyataan dari Billy.”
“Pernyataan?
Apa?”
Dany menatap
kerarah Billy bermaksud menyuruhnya untuk mengatakan sendiri apa yang dikatakan
Dany.
“Pernyataan bahwa
sebenarnya aku suka usil sama kamu. Aku suka lihat kamu marah-marah. Dari situ
aku tahu, aku jatuh cinta sama Si penulis scenario.”
Kiena lebih,
bahkan semakin kaget dengan pernyataan yang serta merta terus terucap dari dua
mulut itu.
“Jadi?”
“Jadi, gue tahu
kalian berdua itu sama-sama nakal dari dulu. Suka tapi dipendam sendiri.” Dany
memulai guyonannya.
“Dan, gue…”
“Ki…, atas nama
persahabatan kita yang terjalin mulai dari beberapa tahun lamanya, maukah lo
terima perasaan Billy buat gue?”
Billy Sang actor
hanya tersenyum.
“Jadi lo selama
ini bohongin gue? Lo semua curang! Gue marah!”
Kiena melarikan
diri berusaha untuk menghindari rasa malu karena pipinya mulai menghangat.
Aku tak pernah mengerti, kenapa dalam persahabatan selalu
berakhir dengan perpisahan ketika keduanya mengagumi hati yang sama. Tak lebih
dengan setiap kesempatan yang pernah ku alami. Meskipun akhirnya, tak ada salah
satu dari kami yang memilikinya. Dan, kami dengan sendirinya memutuskan
persahabatan indah itu. Bukan maksudku, namun, kini terjadi lagi. Dan entah
akan ber ending dengan bagaimana.
Kini aku tahu, bagaimana endingnya…
Tak semua sahabat itu seperti yang kutuliskan diatas. Tak
semua cerita pula akan berakhir sama. Mungkin Kizza memang bukan untukku. Namun
rupanya TUHAN megirimkanku Kizza lain dalam diri Billy, meskipun kita
dipertemukan di lain episode.
Pinus, kamu akan tetap menjadi bagian dari kenangan dalam
cerita cintaku. Cinta, bukan rasa itu yang salah. Hanya dia sedang menunggu
waktu yang tepat untuk kejutan yang istimewa.
“Ki, sebelum kita
masuk, gue ingin lo lihat siapa yang sedang berdiri disana.”
Dany menunjuk
kearah empat orang yang tengah berdiri dibawah pohon besar di dekat pintu
gerbang kampus. Tiga laki-laki dan satu perempuan, yang kini berjalan semakin
mendekat. Semakin dekat, semakin masing-masing wajah terlihat dengan jelas. Dan
sekarang lebih jelas. Kiena sangat yakin bahwa yang dia tidak sedang salah
melihat.
Dua orang
laki-laki dan perempuan yang bergandengan tangan. Serta dua orang laki-laki
lagi.
“Rere???”
Nama pertama kali
yang disebut Kiena.
“Iya, ini gue
Ki.”
Tak ada kalimat
lain yang menyertainya lagi. Keduanya berpelukan. Erat, sangat erat.
“Ki, gue sama
Kizza…”
Kiena langsung
menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kizza, dia datang dengan Rere. Sahabat
sekaligus seseorang dimasa lalunya. Namun itu dulu. Karena kini, Billy telah
menjadi masa depan Kiena.
Tak disangka,
rupanya Dany menjalin hubungan dengan Roland. Keenam remaja itu kemudian saling
bergandengan.
Kini aku juga tahu, mereka semuanya tidak pernah pergi.
Selalu ada dihatiku. Dan, persahabatan sampai kapanpun akan selalu kujunjung
tinggi.
Apa sudah kuceritakan padamu bahwa persahabatan tidak
pernah menghalangi kita untuk merasakan jatuh cinta. Aku sudah membuktikannya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar