Jumat, 01 Februari 2013

tiba-tiba cinta datang part III


Dunia memang benar-benar sempit seperti yang orang-orang puitis katakan. Nyatanya, dunia yang di maksud memang hanya selebar kampus Runi. Namun, halaman parkirnya tak sesempit luas kampusnya. Sejauh mata memandang ada beribu motor berparkir disana (namanya juga area parkir, kalau ada banyak satwa pasti namanya ganti jadi kebun binatang deh). Untuk hal yang satu ini memang dia selalu kelihatan sangat bodoh. Di putar-putar kedua matanya seratus delapan puluh derajat, kekanan kekiri, berharap dengan cepat menemukan di mana kendaraan kesayangannya menyelip. Apalagi, waktu memang sudah mulai gelap. Coba kalau tidak menunggu hujan reda, pasti dia tidak akan selama ini mencari. Kalau sudah begini, pasti semua motor jadi kelihatan sama dimatanya. Dan nyatanya dia memang belum menemukan motor sialan itu.
“Gue lapar, ayo pulang. Jangan petak umpet sekarang yah”. Jelas-jelas yang dia cari adalah motor dan bukan manusia yang bisa di ajak bicara. Memang aneh anak ini. Namun, entah Runi atau motornya yang aneh. Tapi dengan perkataan konyol yang baru saja ia lontarkan itu, membuatnya bisa menemukan Si Motor (yang pasti sih memang sudah waktunya ketemu, secara sudah hampir 7 menit dia mondar-mandir di area parkir yang agak becek oleh air hujan barusan).
Motor sudah ketemu. Dia ambil kunci motornya di saku celana dan seharusnya bisa pulang. Dan, abracadabra. Ada apa lagi? Ternyata kunci motor tidak ada di saku celananya. Mungkin ada di saku yang satunya. Atau, coba di saku jaket. Kalau tetap tidak ada, mungkin setengah benar pasti ada di dalam tas. Ternyata tak ketemu juga. Kelalaian apa lagi yang dia buat? Tidak mungkin ketinggalan di suatu tempat karena dia ingat sekali terakir kali dia pegang kunci ketika berjalan di lorong dan karena takut hilang dia kalungkan kunci itu di leher. Yap, tepat sekali. Memang pelupa, tapi masih ada berapa persennya menyimpan daya ingat yang walaupun sangat payah.
“Lets go!!!!” Di starter motor bututnya beberapa kali. Tak ada respon. Mungkin karena baru saja kehujanan jadi kedinginan alias mogok. Di starter lagi berkali-kali dan tetap tidak ada tanda-tanda menyala. Sampai-sampai dalam keadaan hawa sedingin ini Runi berkeringat. Dia kelelahan mebangunkan motor bututnya. Dan sampai akhirnya,
“Mungkin aku perlu tengak-tengok dulu. Barang kali ada pangeran berkuda kemalaman yang dengan sudi menolong peri sial ini”. Sambil matanya jelalatan dia lihat situasi di area parkir.
“Tapi, kenapa tak ada satupun yang masuk dalam kategori sayembaraku?”
“Ah, sudahlah Runi. Apa yang sedang lo pikirkan? Lo ini nggak sedang dalam pencarian cowok keren, melainkan hunting sukarelawan yang mau membantu menghidupkan motor perjuangan lo itu”. Dalam keadaan gentingpun masih bisa-bisanya dia menghayal dan mengomeli dirinya sendiri. Lagipula, mana ada yang mau meliriknya. Kalaupun ada pasti orang itu setengah gila sama seperti Runi.
“Kakak yang berjalan kesini itu, memang sih tidak terlalu tampan. Tapi…dari pada gue nggak bisa pulang. Yaa sudahlah,
Wahai Sang Pangeran, maukah kau menolong Si Peri cantik ini?Wuzzzzz (dia pecahkan bola-bola hayalan di pikiran gilanya).
“Kakak, bisa bantu nyalakan motor nggak? Dari tadi aku coba hidupkan tapi nggak bisa juga”. (Please…ayo jawab bisa, walaupun tampang kakak tidak terlalu membuatku penasaran tapi andai kau bisa membuatnya hidup aku akan sangat berterimakasih kepadamu).
“Memangnya kenapa dengan motornya? Sini aku coba dulu”. Di starternya beberapa kali dan ternyata dia hanya membantu sampai di situ.
“Maaf ya, aku ada jam kuliah sekarang dan buru-buru. Begini saja, aku akan panggil dua orang yang sedang duduk di bangku depan itu. Ya walaupun aku tidak mengenalnya tapi kurasa mereka akan bisa membantumu”.
“Memangnya dari mana kakak bisa tahu kalau mereka dapat membantuku?”
“Sudahlah, jangan garuk-garuk kepalamu terus karena kau akan terlihat lebih bodoh. Paling tidak mereka itu sedang santai. Pasti ada waktu untuk membantumu”. Sambil buru-buru dia menghampiri kedua orang yang terlihat duduk-duduk di bangku bawah tangga itu.
“Tak rugi juga aku meminta bantuannya. Walaupun tak sepenuhnya membantu dan sekali lagi tak terlalu keren tapi masih ada kepedulian. Kalau di nilai dari mata pelajaran sosiologi mungkin waktu SMA dulu kakak itu dapat nilai…tujuh lah, hmmm tujuh seperempat? Boleh juga”.
Dan kedua lelaki menghampiri Runi seraya menanggapi permintaan bantuan dari lelaki yang tak begitu keren tadi. Di otak-atik motor Runi seolah keduanya kelihatan paham dengan permesinan. Dan ternyata, setelah di usut memang mereka adalah salah satu mahasiswa jurusan teknik. Di bongkarnya mesin-mesin yang bisa di lihat, dan dipasang kembali. Namun,memang payah motor ini. Di nyalakan sampai shubuhpun mungkin juga tidak akan menyala.
“Coba kita periksa bagian sebelah sini, mungkin ada air yang masuk kedalamnya”. Dugaannya memang 99% mendekati benar, karena secara logika air bisa saja masuk kedalam busi motornya ketika hujan deras sore tadi.
“Motor kamu sudah tua yah”, salah satu menggoda.
“Ah, terimakasih atas pujiannya. Aku sangat tersanjung, hehehe”.
“Jangan terlalu tegang karena disini tidak ada yang sedang bertegangan tinggi. Buktinya hujan baru saja mereda dan petir juga tidak terdengar menyambar-nyambar”.
“Kakak ini, jurusan teknik atau sastra sih? Kok pintar perang lidah? Aku jadi terharu, upsss maksudku, tersanjung…”
“Kamu sendiri? Coba aku tanya, mana ada di kampus ini jurusan lawak? Bahkan dari tadi kamu melawak terus”.
“Itu kan cuma basa-basi kak, biar aku nggak kelihatan malu karena di bantuin sama kakak. By the way, gimana motorku?”
“Kalau kamu mau sabar, pasti bisa kok. Tunggu saja sampai busi motormu kering. Atau kalau mau cara cepat, tiup-tiup saja sampai nafas kamu terkuras. Nah, kira-kira tengah malam nanti kamu sudah bisa menghidupkannya. Karena kelihatannya masalah bukan lagi berasal dari air yang masuk melainkan karena busi motormu yang sudah waktunya diganti. Ya, jadi ganti saja dengan yang baru. Beres kan.
“What???”
“Malam-malam begini??? Mana ada bengkel buka? Nggak lucu deh, ah!”
Runi melipat kedua tangannya didepan dada, tidak ketinggalan kerlingan mata bersinar kejengkelan di tambah kerutan dahi berlapis-lapis. Ekspresi itu di tujukan kepada dua pahlawan yang telah membantunya.Padahal yang seharusnya mereka dapati adalah ucapan terimakasih. (Atau mungkin seharusnya mereka berdua turut mengucapkan rasa bela sungkawa atas mogoknya motor Runi).
Karena keduanya merasa empati kemudian entah apa yang mereka bicarakan. Lalu salah satunya melihat ke parkiran paling ujung. Ada banyak motor memang, tapi yang di lihatnya hanya salah satu motor saja dan kemudian langsung berjalan menuju kesana. Entah apa yang dia lakukan, tidak begitu kelihatan karena memang jaraknya agak jauh dari tempat parkir motor Runi. Sepertinya dia mengambil salah satu onderdilnya atau entah apalah itu namanya.
“Kakak, apa yang kamu baru saja lakukan? Kamu mencuri ya? Atau lebih tepatnya mungkin mengutil. Memang sih, aku pengen motorku bisa jalan lagi. Tapi kan bukan dengan hasil kutilan begini. Nanti kalau ganti motornya nggak bisa jalan gimana? Biar begini aku juga punya hati lo, kasihan juga kalau tiba-tiba ketika mau pulang motornya mogok dan belum lagi…”
“Sssssst, kenapa mulutmu itu ternyata cerewet sekali! Mau pulang atau tidak terserah. Yang penting kita sudah bantu. Tenang saja lah, tidak akan ada yang di rugikan. Yang penting mulutmu itu jangan bawel. Nanti bisa-bisa orang-orang akan mengira kalau kita benar-benar mencuri”.
“Tapi kan,,,”
“Diam dan lihat saja apa yang akan kita lakukan!”
Memang sih mereka tidak kelihatan ada tampang kriminal seperti pencuri. Runi saja yang selalu berpikiran nyeleneh kepada setiap orang asing. Pasti sekarang walaupun mulutnya diam tapi di pikirannya sudah bertebaran banyak kertas yang bertuliskan unek-uneknya yang kreatif namun isinya sangat buruk. Tingkat imajinasinya memang sangat tinggi seperti di film-film kartun yang sering ia lihat. Atau mungkin semua pikirannya itu bersumber dari inspirasinya ketika menonton film kartun.
Di pandanginya setiap yang di lakukan oleh kedua orang itu. Dan ia baru paham, ternyata kedua montir hebat sedang bermaksud untuk menukar busi motornya dengan busi motor yang mereka ambil tadi. Tumben sekali dia bisa paham dengan yang mereka lakukan. Tapi tetap saja Runi tidak mengerti kenapa businya harus di tukar.Hhhhhh, ternyata masih tetap bodoh.
“Kalau dengan di tukar tempat saja businya bisa berfungsi maka sudah jelas bahwa motor kamu memang yang sudah waktunya pensiun”. Dan ternyata kedua busi itu dapat di fungsikan dengan hanya perpindahan tempat.
“Tinggal sekarang bagaimana cara kita ngomong ke Reza kalau businya udah dengan sangat sengaja kita ganti”.
“Ah, gampang. Sms saja dia. Pasti akan langsung meluncur kesini”.
Sesegera salah satu mengirm sms ke Reza, pemilik motor sekaligus korban pengutilan busi.
“Prkran blkang Bro, cpt!!!”
Belum ada satu jam Reza sudah nongol di permukaan. (Belum ada satu jam??? Apa itu maksudnya ada berhektar-hektar luasnya kampus ini? Seperti jarak Anyer Jakarta saja).
Dengan santai dia berjalan dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Apa terlalu banyak duitnya sehingga takut kalau-kalau jatuh berserakan? Atau malah karena nggak ada isinya jadi tangannya di masukkan ke saku celana biar kelihatan seperti orang berduit?
Hampir ada satu menit dia berdiri diantara kedua temannya dan juga Runi. Dan hanya berdiri saja sambil mungkin membaca situasi, atau sedang menata kata-kata yang pas untuk memulai pembicaraan. ( Kenapa, ada apa, dan atau bagaimana). Entahlah.
Akhirnya dia lontarkan juga salah satu dari kalimat tanya itu.
“Kenapa”?
“Gue pinjam busi motor lo sebentar tadi. Urusan selanjutnya, biar anak ini nanti yang seselaikan sendiri”.
Runi hanya geleng-geleng kepala sambil menatap ketiga orang asing itu dengan kebingungan. Apakah luas dunia itu benar-benar menyempit sekarang. Mati-matian dia naik turun tangga hanya untuk menghindari bertemu dengan lelaki misterius siang tadi, malah sekarang bukan hanya bertemu tapi tatap muka langsung. Lelaki itu ada tepat di depan Runi persis. Reza, ternyata dia yang di maksud lelaki misterius itu. Tapi kenapa? Apakah Runi sudah pernah mengenalnya? Ataukah mereka pernah terjebak dalam satu adegan yang tak dapat dia lupakan? Atau mungkin mereka pernah bertengkar? Atau apa???
“Sialan!!!”
“Gimana ya raut muka gue sekarang? Jangan sampai kelihatan memerah. Apalagi salah tingkah. Ya ampun, gue memandangnya dekat sekali, sangaat dekat. Gue ingin lebih lama lagi memandang lo. Ah, kenapa ini? Jantung gue main drum, jangan donk. Please, berhenti sekarang juga! Enggak banget kalau dada gue kelihatan berdegup-degup. Tenang Runi, tenang… tarik nafas dalam-dalam, daaan hembuskan. Ok, lo pasti bisa mengatasinya”.
Dalam hati Ia berteriak sangat kencang, mengomel, mengeluh dan itu sebenarnya adalah ungkapan dari sekian banyak rasa yang bercampur menjadi satu dan menggerundel karena tak kuasa untuk mengungkapkan.
Jadi, judul yang tepat dari adegan hari ini adalah “Apa Aku Jatuh Cinta?”
Mungkin…
Kalau bukan itu apa lagi sebutan yang tepat untuk sebuah perasaan yang tak karuan, menjadi setengah gila dan bahkan bisa lebih gila separuh mati karena rasanya hampir seluruh nadi berhenti beberapa detik, tercengang, gemetar semakin dahsyat di akibatkan detak jantung melabil.
Wzzzzzzz, buyar sudah semua hayalan Runi mendengar Reza yang mau berbunyi.
“Pakai aja businya. Toh, motor gue juga masih bisa jalan kan?”
“Mampus!!! Mau jawab apa gue??? Jangan-jangan, sekali berucap pita suara gue menggelendor gemetaran lagi. Jangan sampai dia tahu kalau gue lagi grogi bertatapan dengannya”.
Hmmm, kakak terimakasih yah buat pinjamannya. Besuk secepatnya pasti akan aku kembalikan kok. Jangan kawatir, hehehe.”
Apa seperti itu sikap seorang yang sedang jatuh cinta? Tapi, apa iya Runi benar-benar jatuh cinta??? Karena memang di lihat dari cerita sebelumnya dia selalu menghindar setiap akan bertemu atau bahkan hanya sekedar berpapasan saja dengan yang sering di sebut lelaki misterius alias ternyata adalah Reza, kakak tingkatnya. Lalu, apa yang membuatnya penasaran terhadap Reza? Entah suka, benci, atau malah keduanya karena memang kata orang-orang puitis antara keduanya hanya berbeda tipis. Dari temen jadi demen, atau dari lawan jadi menawan. Yang manakah Runi???
Reza yang dari jaman dahulu kala terlihat seperti seorang yang angkuh dan sombong, ternyata bisa juga dia bersikap manis di depan Runi. Atau ini hanya tipuan belaka untuk mengambil hati Runi. Mungkinkah Reza yang salah tipu karena, apa dia tidak salah lihat sampai-sampai bisa jatuh cinta dengannya. Ah, next ke ceritanya saja lah…
Sekali lagi Reza mengulangi kata-katanya, “Pakai saja…dan cepat pulang. Jangan sampai aku berubah pikiran untuk berbuat baik padamu!” Ucapnya selangkah lebih dekat lagi.
“Iya kakak-kakak, terimakasih. Aku pulang dulu yah”. Sesegera Ia tancap gas dan pergi meninggalkan mereka di area parkir.
Di sepanjang jalan pulang Ia memandangi wajahnya lewat spion motornya. Mimpi apa dia semalam sampai bisa bertemu bahkan berhadapan langsung dengan seseorang yang selalu dia sebut gila itu.
“Ah, jangan linglung begini dong Runi! Yakin yakin yakin, ini semua pasti cuma kebetulan. Fokus saja sama nyetirmu. Ingat, lo masih di jalan.”
Tiba-tiba lamunannya terpecah karena dengan dadakan Ia mengerim motornya dengan sangat kuat. Ada tukang becak yang menyelonong menyeberabg jalan tepat di depan Runi.
Huhhh, hampir saja…
Sesampai di rumah Ia langsung melempar tas ke sudut kamarnya dan membantingkan tubuhnya di atas ranjang.
Tiba-tiba, “Aduhhh, barang sialan apa ini yang mengganjal di punggung  gue?” Ternyata ada hanger di tempat tidurnya yang masih berserakan tepat di bawah punggung dipossisi ia merebahkan badan. Ternyata bukan hanya kesehariannya yang morat-marit tapi juga kamar tidurnya yang hampir tidak pernah di bereskan.
Ada nggak sih sedikit saja sepenggal cerita bagus tentangnya? Kenapa hanya yang awut-awutan yang di tulis disini? Atau memang mungkin belum waktunya untuk sampai pada bab kisah terindah?
Lagi-lagi tentang Runi, kenapa ia tak kelihatan seperti mahasiswa-mahasiswa pandai lainnya? Jelas saja, dia tak pernah menggubris mata kuliah yang setiap hari di ikutinya. Coba di tes, kalau di tanya tentang materi kuliahnya tadi siang pasti dia tidak ingat. Bukan hanya tidak ingat tapi bahkan sama sekali tidak tahu menahu karena setiap kali mengikuti perkuliahan dia hampir selalu mengantuk.
Sambil tiduran dia melirik ke arah jendela yang belum sempat di tutup. Di lihatnya ke arah luar dan tertarik untuk bergegas bangun. Memang indah pemandangan malam diluar sana. Seperti di film-film Korea, Runi bersandar di tembok jendela kamarnya dan menatapi ratusan bintang yang berkedip kepadanya. Suasana menjadi sepi, sunyi dan galau. Galau??? Apakah dia sedang galau hati?
Bintaaang,
Jangan pernah engkau tunjukkan kepadanya bahwa aku sangat mengaguminya. Kalaupun dia harus tahu, itu dengan seting yang pas. Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau mendengar apapun yang membuatku galau yang terucap dari mulutnya suatu saat nanti.
Hhhh, apa aku jatuh cinta?
Oh my GOD! Please Runi, jatuh cinta hanya akan membuatmu terlihat lemah didepannya nanti. Jangan suka jatuh cinta. The end of love is broken heart.
Peri jahat membisikan motivasi gila ke pikiran Runi. Tapi jika benar Runi sedang jatuh cinta pasti hal itu akan mengalahkan bisikan Si Peri jahat seperti di film-film.
Sudahlah, lekas tidur saja Runi. Daripada berangan yang tak jelas kemana arahnya.
Malam itu berlalu tanpa ending yang jelas. Perasaan aneh yang ia sedang rasakanpun dibawanya terpejam tidur dengan harapan keesokan harinya pasti sudah berganti hati dan pikiran baru yang tak lagi mengingat-ingat kejadian yang entah dia inginkan atau tidak hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar