Dunia memang benar-benar sempit seperti yang orang-orang puitis katakan.
Nyatanya, dunia yang di maksud memang hanya selebar kampus Runi. Namun, halaman
parkirnya tak sesempit luas kampusnya. Sejauh mata memandang ada beribu motor
berparkir disana (namanya juga area parkir, kalau ada banyak satwa pasti
namanya ganti jadi kebun binatang deh). Untuk hal yang satu ini memang dia selalu
kelihatan sangat bodoh. Di putar-putar kedua matanya seratus delapan puluh
derajat, kekanan kekiri, berharap dengan cepat menemukan di mana kendaraan
kesayangannya menyelip. Apalagi, waktu memang sudah mulai gelap. Coba kalau
tidak menunggu hujan reda, pasti dia tidak akan selama ini mencari. Kalau sudah
begini, pasti semua motor jadi kelihatan sama dimatanya. Dan nyatanya dia
memang belum menemukan motor sialan itu.
“Gue lapar, ayo pulang. Jangan petak umpet sekarang yah”. Jelas-jelas
yang dia cari adalah motor dan bukan manusia yang bisa di ajak bicara. Memang
aneh anak ini. Namun, entah Runi atau motornya yang aneh. Tapi dengan perkataan
konyol yang baru saja ia lontarkan itu, membuatnya bisa menemukan Si Motor
(yang pasti sih memang sudah waktunya ketemu, secara sudah hampir 7 menit dia
mondar-mandir di area parkir yang agak becek oleh air hujan barusan).
Motor sudah ketemu. Dia ambil kunci motornya di saku celana dan
seharusnya bisa pulang. Dan, abracadabra. Ada apa lagi? Ternyata kunci motor
tidak ada di saku celananya. Mungkin ada di saku yang satunya. Atau, coba di
saku jaket. Kalau tetap tidak ada, mungkin setengah benar pasti ada di dalam
tas. Ternyata tak ketemu juga. Kelalaian apa lagi yang dia buat? Tidak mungkin
ketinggalan di suatu tempat karena dia ingat sekali terakir kali dia pegang
kunci ketika berjalan di lorong dan karena takut hilang dia kalungkan kunci itu
di leher. Yap, tepat sekali. Memang pelupa, tapi masih ada berapa persennya
menyimpan daya ingat yang walaupun sangat payah.
“Lets go!!!!” Di starter motor bututnya beberapa kali. Tak ada respon.
Mungkin karena baru saja kehujanan jadi kedinginan alias mogok. Di starter lagi
berkali-kali dan tetap tidak ada tanda-tanda menyala. Sampai-sampai dalam
keadaan hawa sedingin ini Runi berkeringat. Dia kelelahan mebangunkan motor
bututnya. Dan sampai akhirnya,
“Mungkin aku perlu tengak-tengok dulu. Barang kali ada pangeran berkuda
kemalaman yang dengan sudi menolong peri sial ini”. Sambil matanya jelalatan
dia lihat situasi di area parkir.
“Tapi, kenapa tak ada satupun yang masuk dalam kategori sayembaraku?”
“Ah, sudahlah
Runi. Apa yang sedang lo pikirkan? Lo ini nggak sedang dalam pencarian cowok
keren, melainkan hunting sukarelawan yang mau membantu menghidupkan motor
perjuangan lo itu”. Dalam keadaan gentingpun masih bisa-bisanya dia menghayal
dan mengomeli dirinya sendiri. Lagipula, mana ada yang mau meliriknya. Kalaupun
ada pasti orang itu setengah gila sama seperti Runi.
“Kakak yang berjalan kesini itu, memang sih tidak terlalu tampan.
Tapi…dari pada gue nggak bisa pulang. Yaa sudahlah,
Wahai Sang Pangeran, maukah kau menolong Si Peri cantik ini?Wuzzzzz (dia
pecahkan bola-bola hayalan di pikiran gilanya).
“Kakak, bisa bantu nyalakan motor nggak? Dari tadi aku coba hidupkan tapi
nggak bisa juga”. (Please…ayo jawab bisa, walaupun tampang kakak tidak terlalu
membuatku penasaran tapi andai kau bisa membuatnya hidup aku akan sangat
berterimakasih kepadamu).
“Memangnya kenapa dengan motornya? Sini aku coba dulu”. Di starternya
beberapa kali dan ternyata dia hanya membantu sampai di situ.
“Maaf ya, aku ada jam kuliah sekarang dan buru-buru. Begini saja, aku
akan panggil dua orang yang sedang duduk di bangku depan itu. Ya walaupun aku
tidak mengenalnya tapi kurasa mereka akan bisa membantumu”.
“Memangnya dari mana kakak bisa tahu kalau mereka dapat membantuku?”
“Sudahlah, jangan garuk-garuk kepalamu terus karena kau akan terlihat
lebih bodoh. Paling tidak mereka itu sedang santai. Pasti ada waktu untuk membantumu”.
Sambil buru-buru dia menghampiri kedua orang yang terlihat duduk-duduk di
bangku bawah tangga itu.
“Tak rugi juga aku meminta bantuannya. Walaupun tak sepenuhnya membantu
dan sekali lagi tak terlalu keren tapi masih ada kepedulian. Kalau di nilai dari
mata pelajaran sosiologi mungkin waktu SMA dulu kakak itu dapat nilai…tujuh
lah, hmmm tujuh seperempat? Boleh juga”.
Dan kedua lelaki menghampiri Runi seraya menanggapi permintaan bantuan
dari lelaki yang tak begitu keren tadi. Di otak-atik motor Runi seolah keduanya
kelihatan paham dengan permesinan. Dan ternyata, setelah di usut memang mereka
adalah salah satu mahasiswa jurusan teknik. Di bongkarnya mesin-mesin yang bisa
di lihat, dan dipasang kembali. Namun,memang payah motor ini. Di nyalakan sampai
shubuhpun mungkin juga tidak akan menyala.
“Coba kita periksa bagian sebelah sini, mungkin ada air yang masuk
kedalamnya”. Dugaannya memang 99% mendekati benar, karena secara logika air
bisa saja masuk kedalam busi motornya ketika hujan deras sore tadi.
“Motor kamu sudah tua yah”, salah satu menggoda.
“Ah, terimakasih atas pujiannya. Aku sangat tersanjung, hehehe”.
“Jangan
terlalu tegang karena disini tidak ada yang sedang bertegangan tinggi. Buktinya
hujan baru saja mereda dan petir juga tidak terdengar menyambar-nyambar”.
“Kakak ini, jurusan teknik atau sastra sih? Kok pintar perang lidah? Aku
jadi terharu, upsss maksudku, tersanjung…”
“Kamu sendiri? Coba aku tanya, mana ada di kampus ini jurusan lawak?
Bahkan dari tadi kamu melawak terus”.
“Itu kan cuma basa-basi kak, biar aku nggak kelihatan malu karena di
bantuin sama kakak. By the way, gimana motorku?”
“Kalau kamu mau sabar, pasti bisa kok. Tunggu saja sampai busi motormu
kering. Atau kalau mau cara cepat, tiup-tiup saja sampai nafas kamu terkuras.
Nah, kira-kira tengah malam nanti kamu sudah bisa menghidupkannya. Karena
kelihatannya masalah bukan lagi berasal dari air yang masuk melainkan karena
busi motormu yang sudah waktunya diganti. Ya, jadi ganti saja dengan yang baru.
Beres kan.
“What???”
“Malam-malam begini??? Mana ada bengkel buka? Nggak lucu deh, ah!”
Runi melipat kedua tangannya didepan dada, tidak ketinggalan kerlingan
mata bersinar kejengkelan di tambah kerutan dahi berlapis-lapis. Ekspresi itu
di tujukan kepada dua pahlawan yang telah membantunya.Padahal yang seharusnya
mereka dapati adalah ucapan terimakasih. (Atau mungkin seharusnya mereka berdua
turut mengucapkan rasa bela sungkawa atas mogoknya motor Runi).
Karena keduanya merasa empati kemudian entah apa yang mereka bicarakan.
Lalu salah satunya melihat ke parkiran paling ujung. Ada banyak motor memang,
tapi yang di lihatnya hanya salah satu motor saja dan kemudian langsung
berjalan menuju kesana. Entah apa yang dia lakukan, tidak begitu kelihatan
karena memang jaraknya agak jauh dari tempat parkir motor Runi. Sepertinya dia
mengambil salah satu onderdilnya atau entah apalah itu namanya.
“Kakak, apa yang kamu baru saja lakukan? Kamu mencuri ya? Atau lebih
tepatnya mungkin mengutil. Memang sih, aku pengen motorku bisa jalan lagi. Tapi
kan bukan dengan hasil kutilan begini. Nanti kalau ganti motornya nggak bisa
jalan gimana? Biar begini aku juga punya hati lo, kasihan juga kalau tiba-tiba
ketika mau pulang motornya mogok dan belum lagi…”
“Sssssst, kenapa mulutmu itu ternyata cerewet sekali! Mau pulang atau
tidak terserah. Yang penting kita sudah bantu. Tenang saja lah, tidak akan ada
yang di rugikan. Yang penting mulutmu itu jangan bawel. Nanti bisa-bisa
orang-orang akan mengira kalau kita benar-benar mencuri”.
“Tapi kan,,,”
“Diam dan lihat saja apa yang akan kita lakukan!”
Memang sih mereka tidak kelihatan ada tampang kriminal seperti pencuri.
Runi saja yang selalu berpikiran nyeleneh kepada setiap orang asing. Pasti
sekarang walaupun mulutnya diam tapi di pikirannya sudah bertebaran banyak kertas
yang bertuliskan unek-uneknya yang kreatif namun isinya sangat buruk. Tingkat
imajinasinya memang sangat tinggi seperti di film-film kartun yang sering ia
lihat. Atau mungkin semua pikirannya itu bersumber dari inspirasinya ketika
menonton film kartun.
Di pandanginya setiap yang di lakukan oleh kedua orang itu. Dan ia baru
paham, ternyata kedua montir hebat sedang bermaksud untuk menukar busi motornya
dengan busi motor yang mereka ambil tadi. Tumben sekali dia bisa paham dengan
yang mereka lakukan. Tapi tetap saja Runi tidak mengerti kenapa businya harus
di tukar.Hhhhhh, ternyata masih tetap bodoh.
“Kalau dengan di tukar tempat saja businya bisa berfungsi maka sudah
jelas bahwa motor kamu memang yang sudah waktunya pensiun”. Dan ternyata kedua
busi itu dapat di fungsikan dengan hanya perpindahan tempat.
“Tinggal sekarang bagaimana cara kita ngomong ke Reza kalau businya udah
dengan sangat sengaja kita ganti”.
“Ah, gampang. Sms saja dia. Pasti akan langsung meluncur kesini”.
Sesegera salah satu mengirm sms ke Reza, pemilik motor sekaligus korban
pengutilan busi.
“Prkran blkang Bro, cpt!!!”
Belum ada satu jam Reza sudah nongol di permukaan. (Belum ada satu jam???
Apa itu maksudnya ada berhektar-hektar luasnya kampus ini? Seperti jarak Anyer
Jakarta saja).
Dengan santai dia berjalan dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam
saku celana. Apa terlalu banyak duitnya sehingga takut kalau-kalau jatuh
berserakan? Atau malah karena nggak ada isinya jadi tangannya di masukkan ke
saku celana biar kelihatan seperti orang berduit?
Hampir ada satu menit dia berdiri diantara kedua temannya dan juga Runi.
Dan hanya berdiri saja sambil mungkin membaca situasi, atau sedang menata
kata-kata yang pas untuk memulai pembicaraan. ( Kenapa, ada apa, dan atau
bagaimana). Entahlah.
Akhirnya dia lontarkan juga salah satu dari kalimat tanya itu.
“Kenapa”?
“Gue pinjam busi motor lo sebentar tadi. Urusan selanjutnya, biar anak
ini nanti yang seselaikan sendiri”.
Runi hanya geleng-geleng kepala sambil menatap ketiga orang asing itu dengan
kebingungan. Apakah luas dunia itu benar-benar menyempit sekarang. Mati-matian
dia naik turun tangga hanya untuk menghindari bertemu dengan lelaki misterius
siang tadi, malah sekarang bukan hanya bertemu tapi tatap muka langsung. Lelaki
itu ada tepat di depan Runi persis. Reza, ternyata dia yang di maksud lelaki
misterius itu. Tapi kenapa? Apakah Runi sudah pernah mengenalnya? Ataukah
mereka pernah terjebak dalam satu adegan yang tak dapat dia lupakan? Atau
mungkin mereka pernah bertengkar? Atau apa???
“Sialan!!!”
“Gimana ya raut muka gue sekarang? Jangan sampai kelihatan memerah. Apalagi
salah tingkah. Ya ampun, gue memandangnya dekat sekali, sangaat dekat. Gue ingin
lebih lama lagi memandang lo. Ah, kenapa ini? Jantung gue main drum, jangan
donk. Please, berhenti sekarang juga! Enggak banget kalau dada gue kelihatan
berdegup-degup. Tenang Runi, tenang… tarik nafas dalam-dalam, daaan hembuskan.
Ok, lo pasti bisa mengatasinya”.
Dalam hati Ia berteriak sangat kencang, mengomel, mengeluh dan itu
sebenarnya adalah ungkapan dari sekian banyak rasa yang bercampur menjadi satu
dan menggerundel karena tak kuasa untuk mengungkapkan.
Jadi, judul yang tepat dari adegan hari ini adalah “Apa Aku Jatuh Cinta?”
Mungkin…
Kalau bukan itu apa lagi sebutan yang tepat untuk sebuah perasaan yang
tak karuan, menjadi setengah gila dan bahkan bisa lebih gila separuh mati
karena rasanya hampir seluruh nadi berhenti beberapa detik, tercengang, gemetar
semakin dahsyat di akibatkan detak jantung melabil.
Wzzzzzzz,
buyar sudah semua hayalan Runi mendengar Reza yang mau berbunyi.
“Pakai aja
businya. Toh, motor gue juga masih bisa jalan kan?”
“Mampus!!!
Mau jawab apa gue??? Jangan-jangan, sekali berucap pita suara gue menggelendor
gemetaran lagi. Jangan sampai dia tahu kalau gue lagi grogi bertatapan
dengannya”.
Hmmm, kakak
terimakasih yah buat pinjamannya. Besuk secepatnya pasti akan aku kembalikan
kok. Jangan kawatir, hehehe.”
Apa seperti itu sikap seorang yang sedang jatuh cinta? Tapi, apa iya Runi
benar-benar jatuh cinta??? Karena memang di lihat dari cerita sebelumnya dia
selalu menghindar setiap akan bertemu atau bahkan hanya sekedar berpapasan saja
dengan yang sering di sebut lelaki misterius alias ternyata adalah Reza, kakak
tingkatnya. Lalu, apa yang membuatnya penasaran terhadap Reza? Entah suka,
benci, atau malah keduanya karena memang kata orang-orang puitis antara
keduanya hanya berbeda tipis. Dari temen jadi demen, atau dari lawan jadi
menawan. Yang manakah Runi???
Reza yang dari jaman dahulu kala terlihat seperti seorang yang angkuh dan
sombong, ternyata bisa juga dia bersikap manis di depan Runi. Atau ini hanya
tipuan belaka untuk mengambil hati Runi. Mungkinkah Reza yang salah tipu
karena, apa dia tidak salah lihat sampai-sampai bisa jatuh cinta dengannya. Ah,
next ke ceritanya saja lah…
Sekali lagi Reza mengulangi kata-katanya, “Pakai saja…dan cepat pulang.
Jangan sampai aku berubah pikiran untuk berbuat baik padamu!” Ucapnya selangkah
lebih dekat lagi.
“Iya kakak-kakak, terimakasih. Aku pulang dulu yah”. Sesegera Ia tancap
gas dan pergi meninggalkan mereka di area parkir.
Di sepanjang jalan pulang Ia memandangi wajahnya lewat spion motornya.
Mimpi apa dia semalam sampai bisa bertemu bahkan berhadapan langsung dengan
seseorang yang selalu dia sebut gila itu.
“Ah, jangan linglung begini dong Runi! Yakin yakin yakin, ini semua pasti
cuma kebetulan. Fokus saja sama nyetirmu. Ingat, lo masih di jalan.”
Tiba-tiba lamunannya terpecah karena dengan dadakan Ia mengerim motornya
dengan sangat kuat. Ada tukang becak yang menyelonong menyeberabg jalan tepat
di depan Runi.
Huhhh, hampir saja…
Sesampai di rumah Ia langsung melempar tas ke sudut kamarnya dan
membantingkan tubuhnya di atas ranjang.
Tiba-tiba, “Aduhhh, barang sialan apa ini yang mengganjal di
punggung gue?” Ternyata ada hanger di
tempat tidurnya yang masih berserakan tepat di bawah punggung dipossisi ia
merebahkan badan. Ternyata bukan hanya kesehariannya yang morat-marit tapi juga
kamar tidurnya yang hampir tidak pernah di bereskan.
Ada nggak sih sedikit saja sepenggal cerita bagus tentangnya? Kenapa
hanya yang awut-awutan yang di tulis disini? Atau memang mungkin belum waktunya
untuk sampai pada bab kisah terindah?
Lagi-lagi tentang Runi, kenapa ia tak kelihatan seperti
mahasiswa-mahasiswa pandai lainnya? Jelas saja, dia tak pernah menggubris mata
kuliah yang setiap hari di ikutinya. Coba di tes, kalau di tanya tentang materi
kuliahnya tadi siang pasti dia tidak ingat. Bukan hanya tidak ingat tapi bahkan
sama sekali tidak tahu menahu karena setiap kali mengikuti perkuliahan dia hampir
selalu mengantuk.
Sambil tiduran dia melirik ke arah jendela yang belum sempat di tutup. Di
lihatnya ke arah luar dan tertarik untuk bergegas bangun. Memang indah
pemandangan malam diluar sana. Seperti di film-film Korea, Runi bersandar di
tembok jendela kamarnya dan menatapi ratusan bintang yang berkedip kepadanya.
Suasana menjadi sepi, sunyi dan galau. Galau??? Apakah dia sedang galau hati?
Bintaaang,
Jangan pernah engkau tunjukkan
kepadanya bahwa aku sangat mengaguminya. Kalaupun dia harus tahu, itu dengan
seting yang pas. Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau mendengar apapun yang
membuatku galau yang terucap dari mulutnya suatu saat nanti.
Hhhh, apa aku jatuh cinta?
Oh my GOD!
Please Runi, jatuh cinta hanya akan membuatmu terlihat lemah didepannya nanti.
Jangan suka jatuh cinta. The end of love is broken heart.
Peri jahat
membisikan motivasi gila ke pikiran Runi. Tapi jika benar Runi sedang jatuh
cinta pasti hal itu akan mengalahkan bisikan Si Peri jahat seperti di
film-film.
Sudahlah,
lekas tidur saja Runi. Daripada berangan yang tak jelas kemana arahnya.
Malam itu
berlalu tanpa ending yang jelas. Perasaan aneh yang ia sedang rasakanpun
dibawanya terpejam tidur dengan harapan keesokan harinya pasti sudah berganti
hati dan pikiran baru yang tak lagi mengingat-ingat kejadian yang entah dia
inginkan atau tidak hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar