Jumat, 01 Februari 2013

tiba-tiba cinta datang kepadaku part II


Minggu kedua
“Kalo lo nggak percaya dengan kehebatan Billy, lo boleh kok buktiin sendiri. Datang aja nanti ke kelas teater gue. Kelas lo kan selalu selesai duluan dari kelas gue.” Dany masih tetap berusaha meyakinkan Kiena.
            Gue boleh aja nih sok cuek di depan Dany. Tapi lama-lama jadi penasaran juga sih melihat anak-anak yang pada heboh ngomongin Billy. Apa lagi kehebohan Dany yang nyata banget di depan gue. Kyak apa sih dia, perasaan juga kalo ketemu Cuma biasa aja gitu.
            “Boleh, terus kalo gue udah lihat dia habis itu apa?”
“Maksud lo?”
“Yaaa, gimana kalo setelah lihat Billy di teater gue jadi ikutan suka sama dia.”
“Aaaah, Kiena. Lo apaan sih? Becanda kan?”
“Hahahahaha, gue bakal jadi saingan lo buat ngedapetin Billy, Dan.”
“Ah, udah deh. Gue tunggu elo di kelas. Jangan sampe nggak lihat! Rugi lo nanti.”


“Well students, go on to the next chapter. We are going to discuss about narrative text. Have you ever hear?” Suasana kelas menjadi begitu tenang seketika mendengar Bu Dewanti memberikan pertanyaan kepada mereka.
“Ya, Kienanti. Can you tell me about narrative text?”
“Yes, I can. Maybe it is about a funny story, mom.”
“Good. Then, what is the different with recount text, Danya?”
“In generic structure mom.”
“Ok, good answer.”
“Excuse me, Mom. May I go to toilet?”
“Yes, please. Kienanti.”
Lagi-lagi keduanya bersaing secara sehat di kelas untuk mengambil hati para guru dengan kepandaian masing-masing.
Sebenarnya Kiena tak sepenuhnya ingin pergi ke toilet. Dia malah naik ke lantai 2 dan menuju ke kelas Billy. Hanya ingin melihat seperti apa akitivitasnya di kelas tanpa di ketahui oleh yang bersangkutan. Suasana kelas Billy sedikit ramai karena guru yang seharusnya mengajar baru saja meninggalkan ruang kelas mereka.
Pelan-pelan Kiena melewati ruang kelas itu dan berlagak seolah hanya sekedar lewat agar tak ada yang mencurigainya. Dia mendapati Billy tengah bergerombol dengan teman-teman lelakinya di deretan bangku paling belakang. Sekilas, ada seorang siswa perempuan yang nampaknya hendak mendekatinya dengan menyodorkan sebuah buku. Entah apa maksudnya. Namun, sepertinya Billy hanya menanggapi dengan biasa-biasa saja.
Gagal deh usaha gue buat cari kejelekan Billy.
Kiena kembali ke kelas tanpa membawa hasil apapun. Meskipun Dany tidak mengetahui itu.
“Lo ke toilet lama banget sih.” Bisik Dany setelah Kiena kembali duduk di sebelahnya.
“Iya nih, gue kesasar. Hehehe…”
“Dasar lo!!!”


Bel pulang sekolah membuyarkan konsentrasi seluruh siswa. Termasuk Dany dan Kiena yang lagi-lagi membahas tentang Billy.
“Aduh Dan, bisa nggak sih sekalii aja lo nggak ngomongin Billy.”
“Yaa, Kiena. Hmmm, gue punya ide deh. Gimana kalo kita taruhan?”
“Taruhan apa maksud lo?”
“Ya taruhan. Kalo setelah lihat Billy latihan teater lo nggak ada perasaan apa-apa berarti lo menang. Tapi kalo lo jadi suka sama dia, lo kalah. Dan yang kalah harus traktir makan bakso selama seminggu. Gimana? Bagus banget nggak tuh usul gue?
“Itu sih namanya enak di elo nggak enak di gue dong!”
“Dimana bagian nggak enaknya sih? Jadi, lo takut nih bakalan suka beneran sama Billy? Hahaha.”
“Ah, norak banget sih lo. Oke! Gue mau. Tapi kalo ternyata gue nggak suka sama dia, elo dong berarti yang kalah. Dan yang kalah harus antar jemput gue ke sekolah selama seminggu. Gimana? Oke nggak tuh? Hahaha”
“Dil”
Keduanya bersalaman seperti baru saja menyetujui perjanjian renville.


Klub jurnalis lebih dulu selesai 20 menit dari klub teater. Saatnya Kiena membuktikan bahwa apa yang selalu di idolakan Dany itu tak seperti kenyataannya. Dia berjalan melewati lima ruang dari ruang jurnalisnya. Ruang itu Nampak masih gaduh. Kelas teater memang belum selesai. Jendela kelas yang memang disusun tak begitu tinggi sehingga tidak menghalangi pandangannya masuk dan melihat kegiatan yang sedang berlangsung saat itu. Nampak salah satu dari mereka berusaha melambaikan tangan kearah Kiena. Siapa lagi kalau bukan Dany.
Kiena berdiri di balik pintu dan membiarkan sebagian dari tubuhnya terlihat oleh para anggota klub teater. Dan merekapun tak merasa terganggu dengan kehadirannya disana. Tapi yang paling mengejutkan adalah, ketika giliran Billy menampilkan hasil karyanya yang entah kapan ia buat, entah ngawur atau tidak, sehingga seluruh isi ruang menjadi begitu kaget. Terlebih Kiena. Nampaknya dia memang sangat berbakat menjadi seorang actor. Suasana begitu hening ketika Billy atau yang akrab di panggil Arond mulai memetik senar gitarnya seperti waktu itu.
Tak pernah ragu untuk menggerakkan jemariku
A b c…
Dan begitu seterusnya
Tapi tiba-tiba
Jari ini terasa membeku
Apakah karena kehadiranmu
Wahai bidadari yang berselimut di balik pintu
Sudikah kau mengijinkanku melihat wajahmu
Billy beranjak dari kursi yang di kelilingi oleh para anggota teater lainnya. Entah kapan proses itu berjalan. Dengan sekejab pemilik gitar itu sudah berada di hadapan Kiena. Dan tanpa ragu mempersilakannya untuk masuk dan bergabung bersama anggota yang lain. Kiena yang masih membatu tanpa sadar telah menjatuhkan tasnya ke lantai. Ketika sadar akan kebodohan itu sesegera ia mengambil. Namun, ia terlambat karena tasnya sudah berada di tangan Billy.
“Lain kali hati-hati ya…”
Adegan singkat yang mengundang tatapan sinis para anggota cewek yang tentunya menjadi iri dan begitu cemburu kepada Kiena.
“Eh, sorry. Gue cuman mau nunggu Dany kok.” Kiena yang merasa sangat malu menarik mundur kakinya dan segera berlalu dari tatapan banyak mata yang seolah ingin mencekik lehernya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar