Minggu kedua
“Kalo lo nggak percaya dengan kehebatan Billy, lo boleh kok buktiin
sendiri. Datang aja nanti ke kelas teater gue. Kelas lo kan selalu selesai
duluan dari kelas gue.” Dany masih tetap berusaha meyakinkan Kiena.
Gue
boleh aja nih sok cuek di depan Dany. Tapi lama-lama jadi penasaran juga sih
melihat anak-anak yang pada heboh ngomongin Billy. Apa lagi kehebohan Dany yang
nyata banget di depan gue. Kyak apa sih dia, perasaan juga kalo ketemu Cuma
biasa aja gitu.
“Boleh, terus kalo gue udah lihat
dia habis itu apa?”
“Maksud lo?”
“Yaaa, gimana kalo setelah lihat Billy di teater gue jadi ikutan suka
sama dia.”
“Aaaah, Kiena. Lo apaan sih? Becanda kan?”
“Hahahahaha, gue bakal jadi saingan lo buat ngedapetin Billy, Dan.”
“Ah, udah deh. Gue tunggu elo di kelas. Jangan sampe nggak lihat! Rugi lo
nanti.”
“Well students, go on to the next chapter. We are going to discuss about
narrative text. Have you ever hear?” Suasana kelas menjadi begitu tenang
seketika mendengar Bu Dewanti memberikan pertanyaan kepada mereka.
“Ya, Kienanti. Can you tell me about narrative text?”
“Yes, I can. Maybe it is about a funny story, mom.”
“Good. Then, what is the different with recount text, Danya?”
“In generic structure mom.”
“Ok, good answer.”
“Excuse me, Mom. May I go to toilet?”
“Yes, please. Kienanti.”
Lagi-lagi keduanya bersaing secara sehat di kelas untuk mengambil hati
para guru dengan kepandaian masing-masing.
Sebenarnya Kiena tak sepenuhnya ingin pergi ke toilet. Dia malah naik ke
lantai 2 dan menuju ke kelas Billy. Hanya ingin melihat seperti apa
akitivitasnya di kelas tanpa di ketahui oleh yang bersangkutan. Suasana kelas
Billy sedikit ramai karena guru yang seharusnya mengajar baru saja meninggalkan
ruang kelas mereka.
Pelan-pelan Kiena melewati ruang kelas itu dan berlagak seolah hanya
sekedar lewat agar tak ada yang mencurigainya. Dia mendapati Billy tengah
bergerombol dengan teman-teman lelakinya di deretan bangku paling belakang.
Sekilas, ada seorang siswa perempuan yang nampaknya hendak mendekatinya dengan
menyodorkan sebuah buku. Entah apa maksudnya. Namun, sepertinya Billy hanya
menanggapi dengan biasa-biasa saja.
Gagal deh usaha gue buat cari
kejelekan Billy.
Kiena kembali ke kelas tanpa membawa hasil apapun. Meskipun Dany tidak
mengetahui itu.
“Lo ke toilet lama banget sih.” Bisik Dany setelah Kiena kembali duduk di
sebelahnya.
“Iya nih, gue kesasar. Hehehe…”
“Dasar lo!!!”
Bel pulang sekolah membuyarkan konsentrasi seluruh siswa. Termasuk Dany
dan Kiena yang lagi-lagi membahas tentang Billy.
“Aduh Dan, bisa nggak sih sekalii aja lo nggak ngomongin Billy.”
“Yaa, Kiena. Hmmm, gue punya ide deh. Gimana kalo kita taruhan?”
“Taruhan apa maksud lo?”
“Ya taruhan. Kalo setelah lihat Billy latihan teater lo nggak ada
perasaan apa-apa berarti lo menang. Tapi kalo lo jadi suka sama dia, lo kalah.
Dan yang kalah harus traktir makan bakso selama seminggu. Gimana? Bagus banget
nggak tuh usul gue?
“Itu sih namanya enak di elo nggak enak di gue dong!”
“Dimana bagian nggak enaknya sih? Jadi, lo takut nih bakalan suka beneran
sama Billy? Hahaha.”
“Ah, norak banget sih lo. Oke! Gue mau. Tapi kalo ternyata gue nggak suka
sama dia, elo dong berarti yang kalah. Dan yang kalah harus antar jemput gue ke
sekolah selama seminggu. Gimana? Oke nggak tuh? Hahaha”
“Dil”
Keduanya bersalaman seperti baru saja menyetujui perjanjian renville.
Klub jurnalis lebih dulu selesai 20 menit dari klub teater. Saatnya Kiena
membuktikan bahwa apa yang selalu di idolakan Dany itu tak seperti
kenyataannya. Dia berjalan melewati lima ruang dari ruang jurnalisnya. Ruang
itu Nampak masih gaduh. Kelas teater memang belum selesai. Jendela kelas yang
memang disusun tak begitu tinggi sehingga tidak menghalangi pandangannya masuk
dan melihat kegiatan yang sedang berlangsung saat itu. Nampak salah satu dari
mereka berusaha melambaikan tangan kearah Kiena. Siapa lagi kalau bukan Dany.
Kiena berdiri di balik pintu dan membiarkan sebagian dari tubuhnya
terlihat oleh para anggota klub teater. Dan merekapun tak merasa terganggu
dengan kehadirannya disana. Tapi yang paling mengejutkan adalah, ketika giliran
Billy menampilkan hasil karyanya yang entah kapan ia buat, entah ngawur atau
tidak, sehingga seluruh isi ruang menjadi begitu kaget. Terlebih Kiena. Nampaknya
dia memang sangat berbakat menjadi seorang actor. Suasana begitu hening ketika
Billy atau yang akrab di panggil Arond mulai memetik senar gitarnya seperti
waktu itu.
Tak pernah ragu untuk menggerakkan
jemariku
A b c…
Dan begitu seterusnya
Tapi tiba-tiba
Jari ini terasa membeku
Apakah karena kehadiranmu
Wahai bidadari yang berselimut di
balik pintu
Sudikah kau mengijinkanku melihat
wajahmu
Billy beranjak dari kursi yang di kelilingi oleh para anggota teater
lainnya. Entah kapan proses itu berjalan. Dengan sekejab pemilik gitar itu
sudah berada di hadapan Kiena. Dan tanpa ragu mempersilakannya untuk masuk dan
bergabung bersama anggota yang lain. Kiena yang masih membatu tanpa sadar telah
menjatuhkan tasnya ke lantai. Ketika sadar akan kebodohan itu sesegera ia
mengambil. Namun, ia terlambat karena tasnya sudah berada di tangan Billy.
“Lain kali hati-hati ya…”
Adegan singkat yang mengundang tatapan sinis para anggota cewek yang
tentunya menjadi iri dan begitu cemburu kepada Kiena.
“Eh, sorry. Gue cuman mau nunggu Dany kok.” Kiena yang merasa
sangat malu menarik mundur kakinya dan segera berlalu dari tatapan banyak mata
yang seolah ingin mencekik lehernya saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar